"Kau saja yang bangunkan dia."
"Tidak. Kau saja!"
Dua pelayan bagian keberhasilan saling mendorong masuk, sedangkan Elena masih terlelap di bawah selimut dengan nyaman.
"Cepatlah sebelum Sir. Louis memarahi kita!" ujar salah satu pelayan lagi.
"Kenapa kalian sangat takut padanya? Dia seperti kita," ucap pelayan bagian kebun.
"Kau baru melihatnya! Kau tidak mengenalnya." Ia sudah mengenal Elena sejak wanita itu masih menjadi nyonya besar.
"Memangnya dia siapa? Dia hanya pengasuh tuan muda, kan?"
"Iya! Meski begitu kita tetap jauh dibawahnya!" Pelayan kebersihan menjelaskan.
"Kenapa?"
"Astaga ... lain kali perhatikan wajahnya baik-baik! Dia—"
"Dia ibu kandung tuan muda!" potong pelayan kebersihan yang satunya lagi.
"What?!"
"Stt ...! Tutup mulutmu." Menutup mulut pelayan kebun yang memekik.
"Jangan sampai tuan muda mengetahui ini atau kita akan berakhir!" Mereka memperingati.
Jadi wanita yang menjadi perbincangan kemarin adalah ibu kandung dari Noah? Wanita yang tidak boleh disebut namanya sebagai ibu di depan maupun belakang Noah.
Pantas saja mereka berkumpul di depan kamar Elena tanpa berani mengetuk meski posisi mereka sebenarnya sama. Bahkan jika wanita itu bukan ibu kandung Noah, posisi Elena masih lebih tinggi dari mereka.
Ibarat orang kaya yang sedang bosan dan mencoba menjadi pelayan. Bukan hanya itu, Elena terkenal tidak begitu ramah pada para pekerja mansion karena perbedaan posisi mereka selama menjadi istri Louis. Ya itu bukan hal aneh sebenarnya. Kebanyakan golongan atas memang seperti itu meski tidak semuanya.
"Kenapa kalian masih berkumpul disini?"
"Sir. Jason."
"Keluarga Halbert bukan bahan pembicaraan kalian. Tutup mata dan telinga kalian selama bekerja," tegas Jason. Para pelayan mengangguk patuh dan bergegas pergi menuju tempat masing-masing.
Jason mengangkat tangan kirinya yang dilingkari jam dimana waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Memang terlalu pagi untuk seukuran Elena yang selalu dilayani, tapi wanita itu harus yang harus melayani mulai sekarang. Tugas tetaplah tugas.
"Nona Elena ..." Mengetuk pintu kamarnya. "Sudah waktunya bek—" Ceklek! Pintu sudah terbuka dengan wajah bantal Elena.
"Maaf, Paman. Aku lupa. Aku akan segera mandi dan bersiap." Masih setengah sadar.
"Silahkan pergi sarapan terlebih dulu sebelum bekerja, Nona. Sarapan anda sudah ada di meja."
"Dimana semua orang?" Elena tidak mendengarkan dengan jelas.
"Sudah pergi ke mansion utama."
"Apa? Apa aku terlambat?!"
"Ah tidak! Anda hanya mengurus tuan muda jadi tidak perlu terburu-buru. Tuan muda juga belum bangun." Elena menghela nafas lega.
-
-
-
"Dimana wanita itu?" tanya Louis dengan pakaian santainya bersama majalah pagi.
"Saya memintanya sarapan sebelum kemari, Tuan."
"Hm. Pastikan dia mulai disini sebelum pekerja yang lain." Artinya Louis ingin Elena datang lebih pagi lagi dari yang lainnya.
Jason tak ada pilihan selain menuruti perintah. "Baik, Sir."
"Selamat pagi." Sapaan ceria mengalihkan keduanya. Elena datang dengan memakai baju pengasuh yang disiapkan Jason atas perintah Louis.
"Dasar pemalas," cibir Louis dingin, kemudian melanjutkan kegiatannya membaca majalah. Diam-diam Louis mengerjit karena penampilan Elena.
"Aku tahu aku terlambat. Aku kan tidak tahu jika sepagi itu." Elena tanpa sadar mendudukkan diri di sofa depan Louis.
"Sedang apa kau?"
Elena buru-buru berdiri lagi begitu menyadarinya.
"Maaf, Sir." Sedikit cemberut. "Aku akan menemui Noah sekarang." Hendak melangkah pergi.
"Dia belum bangun. Pergi siapkan kopi untukku."
"Kopi? Itu bukan tugasku—"
"Kau membantah majikanmu?"
"Maaf, aku pergi sekarang." Elena menurut saja. "Tapi, aku tidak bisa membuatnya."
Louis meliriknya tajam. "Kalau begitu belajarlah dari pelayan."
"Baiklah," cicitnya.
"Awasi dia, Jason."
"Baik, Sir."
Dan sinilah ia sekarang. Elena memperhatikan dengan malas bagaimana Jason membuat kopi untuk Louis. Padahal Jason hanya diminta untuk mengawasi, namun ia tidak tega melihat Elena kesulitan. Itu sebabnya Jason turun tangan.
"Paman, aku ingin bertanya." Kebetulan hanya mereka berdua di dapur utama ini. Para koki masih bersiap.
"Silahkan, Nona."
"Kau masih saja memanggilku nona."
"Itu lebih nyaman untuk saya."
"Baiklah, terserah paman saja." Elena terlalu malas untuk memperdebatkannya.
"Apa yang mau anda tanyakan?"
Elena berpikir sejenak. "Apa Louis berniat menikah lagi?"
Pergerakan tangan Jason terhenti. "Saya belum mendengar berita apapun, Nona. Tuan muda sepertinya juga tidak suka tuan besar membawa seseorang."
Jujur Elena sedikit senang mendengarnya. Ia menyukai tindakan Noah itu.
"Apa saya boleh bertanya juga?" Mungkin terdengar lancang.
"Tentu."
"Kenapa anda merendahkan diri seperti ini?" Padahal Elena adalah wanita yang selalu menaikkan dagunya.
"Ternyata terlihat seperti itu ya ..." Pantas saja Jeff selalu kesal.
"Menurutku tidak seperti itu, Paman. Merawat Noah bukan hal yang rendah. Begini yang dilakukan seorang ibu kan, Paman? Bahkan rela membersihkan kotoran anaknya walau sedang makan." Walau ia belum pernah melakukannya sekalipun. "Aku ingin menebus delapan tahun yang kulewatkan. Aku tidak ingin meninggalkan penyesalan apapun jika aku mati."
"Saya mengerti, Nona." Namun Jason sedikit terganggu dengan kalimat terakhir Elena.
"Sekarang biar aku membuatnya juga." Mengambil cangkir baru.
"Silahkan."
Jason memperhatikan Elena yang telaten dan teliti. Setelah diamati lebih dalam seperti ini, Elena sudah berubah cukup banyak dari segi sikap dan kepribadian. Elena bersedia memasuki dapur dan melayani orang saja sudah termasuk pencapaian, apalagi sekarang memakai baju khusus pengasuh yang jauh dari selere fashionnya.
Pria tua itu merasakan iba setiap kali menatap mata kecoklatan Elena yang terlihat sangat tulus meski masih banyak emosi yang belum Jason mengerti.
Mengenai kejadian memalukan delapan tahun lalu tak sedikitpun ia berani menyinggung. Entah mengapa ia merasa ada banyak hal yang belum terjawab. Dirinya seperti yakin jika Elena tidak seburuk itu.
"Nona ... saya akan mendoakan yang terbaik untuk anda."
Elena tersenyum mendengarnya. "Thank you, Paman. Aku sudah bertekad jadi ibu yang baik."
Di sisi lain Louis mendengarkan dengan baik tanpa di sengaja. Keduanya pergi terlalu lama sehingga Louis menyusulnya ke dapur. Pembicaraan mereka membuat Louis mengepalkan tangannya. Kenapa Elena bersikap seperti itu? Apa wanita itu sedang menyesal atau punya maksud lain atas permintaannya tentang Noah.
Sungguh, sulit bagi Louis memaafkan dan menerima Elena di rumah ini kembali jika bukan karena Noah. Kejadian itu akan teringat lagi dengan jelas dimana perbuatan Elena begitu mengecewakan dan menghancurkan perasaannya. Wanita itu bahkan tidak berniat menjelaskan seolah membenarkan.
Aku janji akan berubah!
"Cih! Omong kosong!" Janji bodoh yang ia percaya.
###
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Fika Chu
/Facepalm//Facepalm/blm sdr kl hr ni dy jd pelayannn
2025-02-17
0
Alexandra Juliana
Aku curiga Elena di jebak..Tp dia tdk membela atau menjelaskannya krn menurutnya percuma saja klo suaminya ttp tdk akan percaya apalagi Lois melihat dgn mata kepalanya sendiri
2024-03-19
1
Alexandra Juliana
Apakah Elena mengidap suatu penyakit yg berbahaya? Kenapa dia bicara ttng kematian?
2024-03-19
0