Keheningan mengisi area ruang makan dengan tiga anggota keluarga yang menyantap makanan mereka. Beberapa pelayan berdiri di belakang mereka. Adapun kepala pelayan Jason bersama Elena juga berdiri tak jauh dari Louis sebagai kepala keluarga.
Tidak seperti biasanya Elena akan merasa bosan jika berdiam seperti ini, tapi karena pekerjaan yang dijalaninya, mengharuskannya untuk berdiri sampai anggota keluarga itu selesai dengan sarapannya. Ternyata seperti ini rasanya menjadi pelayan. Menunggu dan melayani para raja dan ratu di kediaman ini. Padahal dulu dirinya adalah salah satu dari ratu disana.
"Bibi, ayo makan dengan kami. Kau juga belum makan, kan?" pinta Noah membuat Elena menggeleng cepat. Rosemary dan Louis menghentikan gerakannya.
"Kau belum makan, Elena?" tanya Rosemary.
"Aku—"
"Kenapa kau begitu ceroboh?! Jika terjadi sesuatu padamu itu akan berpengaruh pada Noah!" hardik Louis. "Jika kau pingsan saat mengantar jemput Noah, bagaimana?"
Para pelayan hanya menunduk. Perbedaan ini begitu terasa, bukan?
"Daddy, jangan memarahi bibi. Dia datang sangat pagi tadi dan tidak sempat—"
"Maafkan saya, Sir. Saya akan menjaga Noah dengan baik," potong Elena sembari menundukkan kepala.
"Bawa dia sarapan, Jason," perintah Louis tegas.
"Baik, Sir." Elena hanya menurut saat Jason membawanya pergi.
"Daddy, jangan kasar pada bibi Elena! Dia tidak bisa makan terlalu pagi. Itu sebabnya belum makan apapun."
Naoh mengetahuinya karena Elena selalu sarapan di sekolah setelah datang. Wanita itu bilang perutnya akan sakit jika makan terlalu pagi dan akan mengeluarkan isi perutnya jika dipaksa.
Louis, pun, bukan tidak mengetahuinya. Selama bersama dulu, Elena memang memiliki kebiasaan melewatkan sarapan pagi, namun sejak menikah, wanita itu mulai mengubah kebiasaannya sedikit demi sedikit atas perintahnya karena tidak ingin wanita itu memiliki kebiasaan buruk yang berakibat pada kesehatannya.
Noah meletakkan sendoknya dan hendak turun dari kursi.
"Mau kemana?" tanya Louis tajam.
"Menemani bibi!"
"Noah!"
"Sudahlah, Louis." Rosemary menenangkan. "Ini juga salahmu menyuruh Elena datang sangat pagi sedangkan yang lain saja masih tidur."
"Ck!" Louis tidak bisa menyangkal.
-
-
-
Elena menyuap makanannya dengan cepat tanpa ekspresi di wajahnya, sedangkan Jason menunggunya di luar ruangan. Hanya ada dirinya disini dengan semangkuk sereal dan susu. Ada satu hal lagi— air matanya yang menyusup keluar tanpa aba-aba.
Untungnya ia hanya sendirian. Makan tanpa suara sambil menyeka air matanya sebelum menetes jatuh. Tidak menyenangkan rasanya jika ada yang melihat dirinya sedang lemah sekarang, padahal ia harus segera pergi mengantar Noah ke sekolah.
Kenapa juga ia harus seperti ini. Padahal ia sudah terbiasa dengan makian atau kebencian orang lain, namun berbeda setiap kali hal itu dilontarkan oleh Louis. Asal tahu saja bahwa hatinya sakit dan terluka setiap Louis mengatainya.
Lemah? Memangnya kapan ia bilang dirinya kuat. Terkadang ekspetasi orang lain membuat kita menjadi serba salah. Apalagi kacamata setiap orang berbeda-beda.
"Bibi."
Elena semakin mempercepat gerakannya dan merapikan penampilannya setelah meneguk habis segelas air, kemudian berjalan keluar.
"Sudah selesai? Ayo pergi." Menggandeng tangan Noah dengan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau habis menangis?" tanya Noah menahannya dan memperhatikan wajahnya.
"Tidak. Untuk apa menangis? Aku belum terbiasa dengan debu dapur," kilahnya.
"Maafkan daddy, Bibi. Dia memang kasar. Terkadang dia juga seperti itu padaku, tapi dia melakukannya karena peduli," ralatnya cepat di bagian akhir.
"Aku tahu."
Keduanya berpapasan dengan Louis yang hendak berangkat juga. Mereka bertatapan sejenak hingga Elena memalingkan wajahnya dan menarik Noah bersamanya.
"Bibi, maafkan daddy ya." Noah mengulang sekali lagi. Ia tahu Elena berbohong saat berkata tidak. Pasti karena ucapan ayahnya tadi, kan?
"Aku yang akan minta maaf. Benar kata daddymu. Jika terjadi sesuatu, kau akan terkena dampak juga."
"Itu tidak benar. Jangan dengarkan dia. Daddy memang kasar."
Elena terkekeh pelan. Padahal Noah baru mengatakan jika ayahnya kasar karena peduli, tapi sekarang melarangnya agar tidak mendengarkan.
"Kau sedang menghiburku, ya?" Elena tersenyum jahil, membuat Noah memerah malu.
"Tidak." Bocah itu kemudian mengembalikan ekspresi wajah datarnya seperti biasa. "Fokus saja pada jalan, Bibi."
"Cih!" cibir Elena. Noah tetaplah Noah. Anak dengan kepribadian yang mirip sang ayah.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah Noah. Elena tidak menduga jika sudah ada Jeff yang menunggunya disana. Setelah Noah masuk ke area sekolah, Jeff segera menghampirinya.
"Kenapa tidak pernah mengangkat telponku, Elena?" Pria itu terlihat kesal. "Lihat pakaianmu sekarang? Ini pakaian pelayan, Elena," cerca Jeff tidak berhenti.
Elena hanya acuh dengan mengangkat kedua pundaknya.
"Kau makan dengan baik, kan? Pria itu tidak menyakitimu—"
"Bisa berhenti tidak? Sejak kapan kau jadi cerewet."
"Aku mengkhawatirkanmu, Elena ...."
"Aku baik-baik saja, Jeff!" Elena jengah. Jeff akhirnya hanya menghela nafas kasar.
"Besok rapat pemegang saham. Kau akan datang?"
Elena melirik kecil padanya. "Kau saja yang pergi," katanya malas.
"Alasan apa lagi yang harus kuberikan kali ini?"
Rapat pemegang saham yang tidak pernah dihadiri lagi oleh Elena sejak memutuskan keluar dari keluarga Joyce. Sayangnya Elena tidak bisa melepas nama Joyce sembarangan tanpa persetujuan keluarganya meski ia mengangkat kaki dari rumah.
"Terserah kau saja. Aku tidak peduli," jawabnya lagi. "Aku mau makan daging, kemudian berkeliling sambil menunggu Noah pulangc."
Setelah mendengar ucapan Jeff yang mengingatkannya itu, Elena tak berniat memikirkannya. Ia pernah bilang bahwa ia sendirian disini. Itu karena Elena sudah melepas keluarganya dan memilih menjalani hidupnya sendiri.
Bukan tanpa alasan. Suatu hal membuat ia harus melepaskannya. Ia sudah berjanji untuk berubah dan meninggalkan dirinya yang dulu. Maka ia memulai dari hal terdekat yaitu, keluarga.
Namun bukan berarti ia telah lepas sepenuhnya. Marga yang masih tersemat di belakang namanya saja sudah menunjukkan bahwa dirinya masih terikat dengan keluarga itu.
"Aku mengerti perasaanmu, Elena. Tapi aku tak bisa mewakilimu terus. Para direksi akan bertanya-tanya."
"Bilang saja aku sibuk." Elena sudah menutup pintu mobilnya. Jeff segera masuk dan duduk di sebelahnya.
"Kita sudah mengatakan itu berkali-kali."
Elena langsung tersenyum paksa. "Kalau begitu katakan saja aku kabur dari rumah karena orang tuaku sudah membuatku bercerai." Kemudian senyum itu menghilang.
"Bagaimana mungkin—" Jeff menahan diri. "Akan ku pikirkan alasan lain." Pasrah.
Elena tersenyum menang sembari melajukan mobilnya. Lihatlah sendiri bagaimana masalah datang satu persatu dalam hidupnya. Biar ia beritahukan sesuatu. Setelah itu, nilailah sendiri bagaimana seorang Elena Joyce.
Bagaimana rasanya saat harus mengakhiri hubungan yang belum selesai? Itu sangat menyakitkan, bukan? Tidak ada yang bisa ia lakukan jika Louis yang ingin berhenti. Akan sulit untuk menahan dan mempertahankan jika salah satu sudah tak menginginkan.
Lebih menyakitkan lagi saat mengetahui bahwa keluarganya ikut andil dalam rencana ini. Namun ia tak ingin membenci siapapun dalam hidupnya. Itu sebabnya menjauh lebih baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Hera Puspita
masih byk teka teki 🤔🤔
2024-07-15
0
dewi
oooo.... org tuanya dalang perpisahan mereka
2023-12-23
1
dewi
ibunya ini seberapa suka apa benci yaa elena??..
2023-12-23
0