Noah sudah menelusuri lorong lantai atas ruangan ayahnya berada dimana sebelumnya telah di tunggu oleh Lucas, asisten pribadi Louis di loby perusahaan.
"Selamat, Boy." Sambutan bangga Louis langsung menyapanya begitu bertemu.
"Thanks, Dad."
"Tunggu sebentar."
Ternyata ayahnya tidak sendiri, melainkan bersama seorang wanita yang diketahui sebagai rekan bisnis Louis. Jadi Noah duduk menunggu sambil melihat ayahnya bekerja. Noah hanya diam memperhatikan tanpa bicara satu kata pun.
"Putra anda sangat tampan, Mr. Halbert."
"Thank you," jawab Louis tanpa ekspresi.
Tidak perlu waktu lama sampai Noah menyadari jika tatapan wanita yang bersama ayahnya itu menunjukkan kekaguman. Raut sinis seketika tergambar di wajah anak laki-laki itu. Ini memang bukan pertama kali, tapi Noah sangat terganggu dengan semua kehadiran seseorang yang berniat menggoda ayahnya meski ayahnya sekalipun tidak merespon.
"Apa masih lama?" Noah tidak peduli meski wanita itu tersinggung, "waktunya hampir habis, Dad."
Louis sedikit kebingungan awalnya. Apa mereka pernah menyebut masalah waktu? Louis hanya berjanji membawa Noah jalan-jalan setelah pulang sekolah. Tapi Louis langsung peka setelah menyadari maksud putranya.
"Kalau begitu sampai disini saja."
"Baiklah. Kita bisa membahasnya lagi." Wanita itu tersenyum paksa.
"Memangnya belum selesai?" tanya Noah, tidak suka jika ayahnya harus bertemu wanita itu lagi.
"Tentu saja belum, anak manis," jawab wanita itu.
"Aku bukan anak manis!" ketus Noah. Ia benar-benar tidak suka!
Wanita itu jadi salah tingkah. Rupanya rumor tentang putra Louis benar adanya. Tidak heran jika Louis Halbert masih menyendiri hingga sekarang.
"Kalau begitu saya undur diri, Mr. Halbert." Louis hanya menjawab dengan anggukan kecil.
Noah menatap sinis ayahnya yang sedang tersenyum. Louis ikut duduk di sebelah Noah.
"Siapa yang dulu bertanya kenapa aku tidak menikah lagi? Bagaimana ya menjawabnya." Louis sok berpikir.
"Aku tidak mau punya ibu seperti dia!" Maksudnya wanita yang barusan.
"Memangnya siapa yang mau menikahinya?"
"Pokoknya tidak mau yang seperti dia!" Ada banyak wanita dari berbagai profesi dan kalangan yang sudah terang-terangan mencari perhatian ayahnya. Noah sudah muak melihat wanita yang seperti menjual diri pada pria kaya seperti itu. Tidak ada yang bisa disebut tulus!
"Baiklah, terserah kau saja. Aku akan menyendiri seumur hidupku."
"Tentu saja tidak boleh. Jika aku dewasa siapa yang akan menemani Daddy?"
"Memangnya kau mau pergi kemana bicara begitu?"
"Tidak kemana-mana."
"Kalau begitu tidak ada masalah, kan. Ayo pergi." Louis beranjak seraya menarik tangan Noah.
"Tidak jadi. Aku mau makan kue saja."
"Kue?" Sejak kapan Noah menyukai kue?
"Apa maksudmu biskuit?" tanya Louis memastikan.
"Cake, Daddy ... bukan biskuit!"
"Aku baru tahu kau suka makanan manis." Apalagi itu sejenis cake. Namun Louis tidak banyak bertanya.
**
Ternyata Noah serius dengan keinginannya untuk memakan kue. Louis sampai mengerutkan kening melihat Noah yang memakannya dengan lahap.
Louis yakin jika Noah tidak menyukai makanan manis sejenis cake seperti ini sebelumnya. Sepertinya ada yang mengubah anak ini.
"Aku tidak tahu ada toko kue disini."
Tempat ini memang tidak besar dan mencolok. Meski dibangun di pinggir jalan, Louis tetap tidak menyadarinya, padahal ia sering melewati tempat ini jika mengantar Noah ke sekolah.
"Aku sering mampir disini setelah pulang sekolah. Tidak apa-apa, kan?" Jaraknya juga tidak jauh. Hanya beberapa meter dari sekolah.
"Hm. Jangan terlalu sering. Tidak baik untuk pencernaanmu nanti."
"Tenang saja."
Bibi Elena juga bilang begitu, jadi tidak terlalu sering membawaku kesini kok dan setelah makan, dia akan memberiku satu botol air untuk diminum sampai habis, batin Noah.
"Siapa yang membawamu kesini?" tanya Louis tiba-tiba, membuat Noah menghentikan suapannya.
"Maksud, Daddy?"
"Siapa yang membuatmu mau memakan makanan yang paling tidak kau suka? Bukan hanya itu, kau juga menyuruh grandma mu menanam banyak bunga di halaman belakang."
Apa ini? Kenapa ayahnya jadi menginterogasinya. Tapi tidak heran sih mengapa ayahnya sampai bertanya begitu. Namun bagaimana harus menjawabnya?
"Aku— aku hanya ingin saja."
"Benarkah hanya ingin saja? Bukan karena seseorang?"
"Bukan!" jawabnya cepat.
Bagaimana ini? Mustahil jika Louis tidak mengetahui apapun, kan. Ayahnya pasti sedang mengujinya, tapi bagaimana jika ayahnya itu marah dan melarang bertemu Elena lagi. Meski wanita itu sedikit menyebalkan, namun ia merasa nyaman dengannya.
"Daddy, dia wanita baik."
"Wanita?" Louis menyeringai.
Noah sedikit gelagapan. Ia terjebak!
"Akhirnya kau mengatakannya juga." Bersedekap dada dan menyilangkan kakinya dengan angkuh.
"Maaf, Dad." Noah menunduk.
"Hebat sekali dia membuatmu begini."
Wanita itu membuat Noah menunduk dan meminta maaf, bahkan menunjukkan ekspresinya terang-terangan. Noah tidak seperti itu dulunya. Bocah itu hampir sama sepertinya. Dingin, angkuh dan penuh intimidasi. Tapi sekarang terlihat seperti anak kecil sungguhan.
"Jangan bilang kau mau menjadikannya ibumu. Makanya kau menolak banyak orang."
"Tidak. Bukan begitu!" geleng Noah cepat, "kami hanya berteman saja, Dad. Lagipula dia cukup kekanakan," gumamnya di kalimat akhir.
Mana mungkin wanita seperti anak kecil itu menjadi ibunya.
"Baiklah."
Eh?
"Kalian boleh berteman, tapi dia harus menjaga batasan mengerti?" peringat Louis.
"Jangan khawatir, Dad. Dia masih tau tempat."
"Good boy. Sekarang pulanglah duluan. Aku akan kembali ke kantor."
"Thank you, Dad!"
-
-
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Zila Aziz
Girlfriend ku ibu ku haha
2024-04-05
0
Rifa Endro
dia mantanmu , tuan lois
2024-03-03
2
dewi
dia itu ibu dari anakmu tuan...
2023-12-23
1