Dia hanya orang baru yang membuatku ingin selalu bersamanya.
— Noah Halbert
.
.
Datar, kosong dan tanpa emosi - emosi yang jelas. Sudah lama sekali Noah merasakan perasaan-perasaan itu. Kali ini pun ia hanya duduk di bangku kelas menunggu guru masuk, sementara anak-anak lain sibuk bermain dan bercanda dengan teman sekelasnya.
Tidak ada yang pernah mendekati Noah yang pendiam. Selama tiga tahun di sekolah dasar, belum sekalipun Noah memiliki teman. Kepribadiannya menjadi salah satu sebab hal tersebut terjadi, namun hal itu bukan masalah baginya. Sebagai pewaris, menjadi besar adalah tujuannya.
Tetapi, semua perasaan itu meluap sejak ia mengenal Elena. Perlakukan dan sikap lembutnya membuat Noah yang tidak memiliki sosok ibu merasakan perasaan berbeda saat bersamanya. Wanita itu selalu menganggapnya seperti anak kecil yang membuatnya melupakan tujuan awalnya. Ia mulai terlena.
Berawal dari Elena yang memasukkan satu sendok sayur hijau ke dalam piringnya sambil tersenyum bersahabat. Hari itu saat Elena masih bekerja di kantin sekolahnya.
Tidak bisa ... daddy mungkin tidak menyukainya, batinnya.
Mengingat ayahnya tidak suka wanita yang cerewet. Semua kriteria Elena tidak termasuk dalam selera ayahnya, kecuali wajah menawannya, mungkin. Akhirnya ia berhenti memikirkannya sejak saat itu. Mungkin juga karena sifat wanita itu membuatnya nyaman berada di dekat Elena
"Baiklah! Kita semua akan ke aula hari ini. Jangan lupa bunga kalian." Seorang guru wanita mengingatkan semua murid di kelasnya. Ada sekeranjang bunga tulip yang di bawanya.
"Ini bunga tulip," katanya mulai memberikan masing-masing murid. "Bunga tulip melambangkan keindahan dan kesuburan yang memiliki makna sebagai simbol cinta dan penghargaan kepada ibu. Jadi, berikan bunga ini sebagai tanda kasih sayang dan terima kasih kita."
Noah mengerutkan kening. Benar juga, ia melupakan agenda hari ini. Hari ibu internasional atau Mother's Day. Semua murid akan diminta memberikan bunga pada ibu mereka yang berkumpul di aula sekolah.
Noah menatap bunga itu lama. Ia tidak membutuhkan bunga itu sama sekali. Makna itu juga tidak berguna karena nyatanya ia tak memiliki perasaan itu. Ibunya sudah pergi sejak ia kecil. Dimana kasih sayang yang disebutkan itu?
Saat semua teman kelasnya sudah berlari keluar. Guru di kelasnya mendekatinya yang belum beranjak.
"Kau tidak pergi, Noah?" Guru itu tersenyum kepadanya.
"Aku tidak punya ibu," datarnya.
Eh? Gurunya terdiam.
"Maaf, Noah. Aku pikir dia ibumu." Kebetulan ia masih beberapa bulan datang sehingga tidak mengetahui informasi ini.
"Ibuku?" Gurunya mengangguk.
"Apa dia kakak perempuanmu? Kalian cukup mirip." Mengalihkan pembicaraan. Noah bilang tidak memiliki ibu, berarti yang datang tadi orang lain, kan?
"Aku tidak punya kakak." Sekali lagi guru itu kebingungan. Lalu siapa yang menunggu di aula?
Ditengah kebingungannya, Noah beranjak dari kursinya. "Aku akan ke aula."
"Ah, baik! Kita pergi bersama-sama." Mengejar langkah Noah yang terburu-buru.
Benar saja. Sudah ada yang menunggunya di dalam sana. Wanita itu melambai-lambaikan tangannya senang pada Noah.
"Bibi ...."
"Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu bungamu, tahu!" gerutu Elena.
"Bunga?" Noah cukup linglung.
"Hm, berikan bungamu padaku, ya!"
Bunga— benar bunga. Ia tidak membawanya. Bagaimana ini? Baru kali ini ia merasa panik.
"Untung saja ibu membawanya. Ini milikmu." Noah menjadi lega setelah menerima bunga dari gurunya.
"Thanks."
"Sure!" Guru itu merasa senang mendengar satu kata itu dari mulut Noah yang selalu dingin.
"Untuk, Bibi." Memberikan dengan wajah datar pada Elena yang langsung memekik girang.
"Ahh ... senang sekali mendapat bunga dari Noahku sayang." Memeluk bocah itu hingga semburat merah muncul di pipi Noah.
"Terima kasih ibu guru sudah menjaga Noah-ku," kata Elena pada gurunya.
Biasanya ia tidak suka jika dianggap anak kecil, tapi kali ini berbeda. Ia malu, namun juga senang. Meski beberapa kali Noah menyangkal jika Elena hanya teman, namun tak bohong jika hati kecilnya terkadang melihat Elena sebagai ibu.
"Bagaimana Bibi tahu?" Padahal ia tidak memberitahu apapun pada Elena.
"Memangnya apa yang tidak ku tahu?"
Ya, seharusnya ia tahu jika Elena selalu ada untuknya selama dua tahun ini. Sekarang ia merasa iri pada putra Elena yang memiliki ibu sepertinya. Jika wanita ini bersama putranya lagi, bukankah ia akan ditinggalkan? Tanpa sadar Noah memeluk leher Elena cukup kuat seolah wanita itu bisa pergi kapan saja.
"Bibi ... tetaplah bersamaku," imbuhnya seperti berbisik. "Jangan pergi meski bertemu anak bibi."
Elena tertegun seraya membalas pelukannya. Memangnya kapan ia ingin pergi? Jika ia menang di persidangan saat itu, Noah pasti bersamanya sejak dulu. Hatinya begitu sesak mengetahui Noah mengalami ini setiap tahunnya. Seharusnya ia mengumpulkan keberanian sejak lama, bukan datang sekarang.
"Aku tidak akan kemana-mana."
Hari ini di lewati dengan bahagia oleh Noah maupun Elena yang sama-sama mendambakan sosok berharga dalam hidup mereka.
-
-
-
Waktu sekolah sudah berakhir. Elena membawa Noah ke restoran dimana sudah ada yang menunggu mereka.
"Hai, Noahh!" sorak Joella dan Edith. Akhirnya Elena bersedia mempertemukan mereka dengan Noah setelah kejadian tak baik beberapa hari yang lalu.
"Siapa lagi mereka?" Jika dilihat-lihat, keduanya akan sangat cerewet seperti Elena.
"Mereka—"
"Astaga ... Elena tidak memberitahumu ya? Kami temannya," interupsi Joella. Tidak lucu, kan, jika Elena tidak mengakui mereka. "Aku Joella dan ini Edith."
"Teman? Bibi bilang tidak punya teman," kata Noah mendongak pada Elena yang berwajah malas pada keduanya.
Lihat? Benarkan kata mereka? Elena tidak mengakui padahal mereka selalu bersama saat kuliah dulu!
"Mereka masih tahap seleksi. Belum ada yang sebaik Noah." Mengelus kepala bocah itu.
"Apa-apaan—" Ediht tidak terima, namun Joella menutup mulutnya dengan tangan.
"Kami sudah lama tidak bersama, jadi Elena meragukan kami." Tertawa canggung.
"Hei, Noah. Kau sangat mirip dengan ayahmu," ujar Edith tiba-tiba, membuat Elena dan Joella spontan menatapnya.
"Kau mengenal ayahku?" tanya Noah.
"Tentu saja—" Edith tidak mampu menyelesaikan ucapannya karena terganggu dengan sorot tajam Elena. "Memangnya siapa yang tidak mengenalnya. Ayahmu, kan, pengusaha besar," lanjut Edith pelan. Elena kembali melanjutkan makannya dengan santai.
"Intinya kami senang bertemu denganmu. Teman Elena teman kami juga!" tegas Joella.
Keduanya terus mengajak bicara dan terkadang melontarkan pertanyaan yang membuat Noah tanpa sadar larut dalam percakapannya. Hanya Elena yang banyak diam sejak tadi meski telinganya banyak mendengarkan.
Mungkin karena perhatiannya hanya tertuju pada ponselnya. Belum ada notifikasi pesan dari Louis yang akan memarahinya karena terlambat membawa Noah pulang. Sejak kejadian waktu itu Louis semakin dingin terhadapnya. Terkadang ia seperti angin lalu di hadapan pria itu, bahkan menatapnya saja tidak.
Ternyata hatinya masih selemah ini. Sebenarnya mengapa juga ia harus memikirkannya. Tujuannya adalah Noah dan setelah kesepakatan berakhir ia akan pergi. Seharusnya ia menekan perasaannya.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Yuk gess, follow ig aku: ...
...arosee23 ...
...yang mau liat visual atau ilustrasi ada di ig juga ya☺...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Andry Lenny
terlalu byk kesalahpahaman....
2024-03-20
0
Patrick Khan
.lanjut kak
2023-12-16
0
@nkM@k
sabar ya elena /Cry/
2023-12-16
0