Setelah bersabar selama sebulan, akhirnya Ghani dapat mengakuisisi 100% saham dari perusahaan Sky Walker Entertainment.
[Saldo : 10.000.000.000.000 Rupiah]
"Sistem, apa ini?" tanya Ghani terkejut melihat jumlah saldonya tidak berkurang.
[Keuntungan dari pendapatan perusahaan akan dihitung dan ditambahkan ke saldo Rekening Anda]
Ghani panik bukan main, ia pun segera mengeluarkan lebih banyak dana untuk perbaikan perusahaan dan hal lainnya agar bisa lebih boros.
Namun, itu justru membuat kinerja para karyawannya menjadi semakin lebih baik dan sangat bersemangat.
"Setelah perusahaan ini diambil alih oleh Pak Ghani, semuanya menjadi lebih baik," ungkap Ivan, salah satu karyawannya.
"Kamu benar," jawab rekannya. "Pak Ghani sangat baik dan dermawan. Ia menaikan gaji kita dan memperbaiki seluruh fasilitas di kantor. Selain itu, dia juga memberikan banyak kesempatan pengembangan karir kepada karyawan-karyawan di perusahaan ini."
"Iya, betul sekali," sahut Ivan. "Sejak menjadi pimpinan, Pak Ghani selalu mendengarkan dan menghargai pendapat karyawan. Dia juga selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada kita semua. Atmosfer kerja di perusahaan ini jauh lebih positif dan menyenangkan setelah dia mengambil alih."
"Selain itu, Pak Ghani juga sangat peduli terhadap kesejahteraan karyawan," tambah rekannya. "Dia menyediakan program kesehatan dan asuransi kesehatan yang baik bagi kita. Hal ini tidak hanya membuat kita merasa dihargai, tetapi juga meningkatkan produktivitas kerja kami."
Ivan mengangguk setuju. "Betul sekali. Sejak Pak Ghani memimpin, perusahaan ini tidak hanya fokus pada keuntungan semata, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan dan perkembangan karyawan. Ini membuat kita semua semakin bersyukur dan termotivasi untuk bekerja dengan baik."
Ghani yang diam-diam mendengarkan dari balik pintu hanya bisa menepuk jidat.
"Kenapa kalian malah bekerja dengan baik? Aku hanya ingin bangkrut saat ini," keluh hati Ghani.
Jika perusahaan bangkrut, Ghani akan bisa keluar uang lebih banyak.
Ghani pun segera pergi ke ruang kantor pribadinya dan memanggil Melissa.
"Sayang, apa kita berhasil mendapat perusahaan itu?" tanya Ghani ketika Melissa datang.
"Ya, Sayang. Tapi aku heran, kenapa kamu ingin membeli perusahaan game yang akan bangkrut itu?" tanya Melissa heran.
"Sayang, aku melihat potensi dengan perkembangan teknologi dan internet saat ini," jawab Ghani asal bicara.
"Hmm... oke! Aku percaya sama kamu," jawab Melissa percaya dengan ucapan Ghani.
"Terima kasih, Sayang," ucap Ghani seraya menarik Melissa ke pangkuannya.
"J-jangan, Sayang. Kita sedang di tempat kerja," ucap Melissa menahan Ghani.
"Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa izinku," kata Ghani membujuknya.
Meski sudah lebih dari sebulan sejak pernikahan mereka, tapi semangat Ghani masih berkobar.
Beberapa saat kemudian, Melissa tampak bantu merapikan dasi Ghani.
Melissa, sebagai asisten ketika di perusahaan dan istri saat di rumah, memang selalu bisa diandalkan.
"Sekarang sudah waktunya pertemuan dengan Pak Erik yang ingin menjual perusahaan gamenya pada kita," kata Melissa penuh perhatian.
Ghani mengangguk setuju sambil memegang tangan Melissa yang sedang membenarkan dasinya. "Iya, aku sudah siap. Ini kesempatan besar bagi kita untuk mengembangkan bisnis kita lebih jauh. Semoga pertemuan kali ini berjalan lancar dan kita bisa mencapai kesepakatan yang menguntungkan."
Melissa tersenyum memberikan semangat. "Aku yakin kita bisa melakukannya. Kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Selama ini kita telah bekerja keras bersama untuk mengembangkan perusahaan ini, dan sekarang saatnya untuk memanfaatkan peluang ini."
Mereka segera berangkat menuju kantor Pak Erik. Selama perjalanan, Melissa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang latar belakang perusahaan yang ingin mereka beli.
Ghani tampak mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail yang diberikan.
"Aku harus terlihat meyakinkan," gumam Ghani yang berpura-pura serius.
Setiba di kantor Pak Erik, mereka disambut dengan cukup ramah.
Pertemuan dimulai dengan diskusi panjang tentang rencana dan strategi bisnis di masa depan.
Ghani dan Melissa menjelaskan visi mereka untuk perusahaan game mereka dan sejauh mana mereka ingin mengembangkannya.
"Saya terkesan dengan visi Anda. Tapi, resikonya sangat besar," kata Pak Erik.
Kemudian, ia mulai menjelaskan mengenai nilai dan potensi perusahaan gamenya serta alasan mengapa ia memutuskan untuk menjualnya.
Ghani dan Melissa sangat serius mengikuti setiap pembicaraan, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan memberikan penjelasan yang jelas.
Mereka berusaha memaksimalkan kesempatan ini untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang perusahaan yang ingin mereka akuisisi.
Singkatnya, dana yang harus dikeluarkan untuk membiayai pembuatan game di perusahaan Pak Erik sangat besar.
Selain itu, tidak ada jaminan bahwa gamenya tersebut akan laku di pasaran.
Normalnya, Ghani seharusnya mempertimbangkan ulang tentang keinginannya untuk membeli perusahaan tersebut.
Namun, Ghani sepakat untuk mengakuisisi perusahaan tersebut tanpa ragu.
"Sayang, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu," kata Melissa ketika mereka sudah meninggalkan kantor Pak Erik.
"Tenang saja, meskipun kekhawatiran Pak Erik benar -benar terjadi dan kita akhirnya bangkrut, aku tidak akan kekurangan uang," jawab Ghani dengan santai.
Melissa tampak menggigit bibirnya sendiri ketika melihat ekspresi kepercayaan diri suaminya.
"S-Sayang, aku sedang menyetir," tegur Ghani ketika Melissa tiba-tiba berbuat nakal dan iseng.
"Kita langsung pulang saja, Sayang," pinta Melissa.
Belum juga tengah hari, tapi mereka sudah mau melakukannya lagi.
"Oke!" jawab Ghani yang paham dengan maksud istrinya mengajak pulang.
Beberapa saat kemudian ketika mereka sudah tiba di rumah, tampak Ghani baru keluar dari kamarnya.
"Apa semua pasangan muda yang baru menikah seperti ini?" ucap Ghani sedikit heran.
Usia Ghani sekitar 20 tahunan dan Melissa satu tahun lebih muda darinya.
Tampak Ghani melihat jam di tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 4 petang.
"Sudah waktunya menjemput Kirana pulang dari sekolah," kata Ghani mulai bersiap.
Singkat cerita, Ghani sudah tiba di depan sekolahnya dan Kirana langsung masuk ke mobilnya.
"Kakak, kamu sedikit terlambat hari ini," keluh Kirana.
"Maaf, kakak habis mengunjungi perusahaan developer game Pak Erik," jawab Ghani.
Padahal, pertemuan itu terjadi pukul 12 siang tadi.
Ghani pun segera melajukan mobilnya dan mereka akhirnya tiba di rumah.
"Apa ibu pergi ke tempat bibi lagi?" tanya Ghani tak melihatnya.
"Iya kayaknya," jawab Kirana.
Rumah bibi mereka tidak jauh dari rumah itu dan biasanya bibinya memang menjaga ibu mereka.
"Berkat Bibi, aku tidak terlalu khawatir ketika di sekolah," ungkap Kirana.
"Nanti aku akan beri hadiah padanya," kata Ghani, melihat peluang untuk keluarkan uangnya.
Melihat situasinya aman, Ghani langsung ikut masuk ke kamarnya Kirana.
"Kak, kapan kita bisa memberitahu semua orang kalau kita sudah menikah diam-diam?" tanya Kirana.
"Sabarlah, Kirana. Setidaknya, sampai kamu lulus sekolah dulu," jawab Ghani.
Tanpa membuang-buang waktu, mereka segera naik ke tempat tidur sebelum ibu dan bibinya kembali.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Lari Ada Wibu
mantap thor.
2023-12-19
0