Meski Melissa mengajak Ghani pergi ke sebuah hotel, tapi tidak terjadi hal apapun pada akhirnya.
"Gadis itu ternyata sengaja ingin mengujiku saja," keluh hati Ghani yang merasa sedikit kecewa.
Sepulang dari hotel, Ghani segera memeriksa saldo rekeningnya melalui layar sistem, untuk menghitung berapa banyak uang yang sudah ia keluarkan.
[Saldo Rekening : 5.000.000.000.000 Rupiah]
"Hah? Kenapa jumlah saldonya semakin bertambah?" ujar Ghani heran.
Sistem semakin mendesak agar Ghani segera belanja besar-besaran untuk mengurangi jumlahnya.
Setelah bertanya tentang beberapa hal kepada sistem, Ghani terlihat mulai berkeringat dingin.
Dalam satu minggu, Ghani harus segera mengurangi jumlah uang sistem sampai 500.000.000 rupiah.
Jika seminggu telah berlalu dengan saldonya masih berjumlah 6.000.000.000.000 rupiah, ia akan mati.
Sistem menegaskan bahwa meskipun jumlahnya cuma lebih sedikit, nyawa Ghani tetap terancam.
Selain itu, Ghani tidak boleh dengan sengaja membuang-buang uangnya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin membeli rumah yang besar dan mahal!" ujar Ghani.
Dia bosan tinggal di tempat kosan kecil dan biaya sewanya lumayan mahal itu.
Untuk sekarang sih sudah bukan masalah bagi Ghani, semahal apapun pasti bisa dibayar.
Namun, untuk apa tetap tinggal di situ jika bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik.
Ghani segera menghubungi Melissa untuk membantunya mencarikan rumah.
Dengan jumlah uang triliunan di rekeningnya, Ghani yakin bisa mendapat rumah yang sangat bagus.
Setelah kemudian melihat berbagai iklan rumah di internet, Ghani segera memberikan daftar kriteria rumah yang ia inginkan kepada Melissa.
Ghani ingin rumah yang luas dengan minimal 5 kamar tidur dan 4 kamar mandi.
Ia juga ingin rumah dengan taman yang indah dan kolam renang pribadi.
Melissa yang merupakan putri dari seorang agen properti profesional, mengira bahwa predikat Ghani mungkin salah satu putra orang terkaya di dunia.
"Aku pernah mendengar bahwa seorang pewaris dari keluarga kaya biasanya didorong untuk merasakan tentang kehidupan kalangan bawah," pikir Melissa.
Melissa berpikir bahwa orang tua Ghani saat ini hanyalah orang bawahan dari keluarga aslinya.
Ia dengan senang hati menerima tugas untuk mencari rumah yang sesuai dengan kriteria Ghani.
Dalam waktu singkat, Melissa menyusun daftar properti yang sesuai dengan kriteria Ghani.
Ia menemukan beberapa rumah mewah yang memiliki desain yang impresif, lokasi strategis, dan fitur lengkap sesuai dengan keinginan Ghani.
Beberapa rumah memiliki desain modern dengan interior yang mewah dan perabotan eksklusif, sementara yang lain menawarkan arsitektur klasik dengan perabotan antik yang indah.
Ghani sangat senang dengan pilihan-pilihan yang disediakan oleh Melissa.
Ia melihat foto-foto dan deskripsi setiap rumah dengan antusiasme.
Setelah mempertimbangkan dengan matang, Ghani akhirnya memilih sebuah rumah termegah yang memiliki pemandangan yang indah serta fasilitas yang lengkap.
Ghani dan Melissa mengatur jadwal untuk melihat langsung rumah pilihan Ghani.
Mereka terkesima saat melihat rumah itu dari dekat. Rumah itu memenuhi semua harapan Ghani dan ia sangat puas dengan pilihannya.
"Berapa harga yang Anda inginkan, Pak Ahmad?" tanya Melissa.
"Saya menghabiskan dana sebesar 300 miliar untuk membangun rumah ini," kata Pak Ahmad.
"Mungkin saya akan melepasnya jika Anda berani menebus dengan harga 250 miliar," lanjutnya.
"Apa?" ujar Ghani tersentak kaget.
Pak Ahmad tampak berkeringat, "Kalau begitu, 230 miliar saja!" ucapnya makin mengurangi harganya.
Ghani kembali bereaksi terkejut dan akhirnya Pak Ahmad memberi harga 200 miliar.
"Pak Ahmad, saya sangat menyukai rumah ini. Jadi, saya akan membayarnya seharga 350 miliar!" ujar Ghani terlihat senang.
"Eh?" Pak Ahmad dan Melissa tampak bingung dan tak berkata apapun.
Akhirnya, Ghani meminta Melissa untuk mengurus semua prosedur pembelian rumah termasuk perizinan dan transfer uang.
Dalam waktu yang singkat, rumah tersebut resmi menjadi milik Ghani.
"Sudah pasti dia adalah pewaris keluarga kaya!" pikir Melissa semakin yakin.
Setelah membeli rumah dengan harga 350 miliar, Ghani tiba-tiba menginginkan kendaraan.
"Melissa, apa kau tahu di mana tempat yang bagus untuk membeli mobil?" tanya Ghani.
Melissa menjawab, "Tentu saja, Sayang. aku dapat mengatur untuk kita mengunjungi beberapa dealer mobil terkemuka di kota ini."
Tampak Melissa semakin lembut dan perhatian kepada Ghani sekarang.
Dia tak segan untuk duduk di pangkuan Ghani ketika mengobrol di sofa rumah yang baru dibeli.
"Mobil seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Melissa serius.
Ghani memikirkan sejenak dan berkata, "Aku lebih suka mobil yang mewah dan sporty. Anggaranku sekitar 10 miliar. Tapi jangan beritahu siapa pun tentang anggaran ini, ya."
Melissa mengangguk mengerti, "Baiklah, Sayang. Aku akan memastikan untuk menjaga kerahasiaan anggaran kamu. Dalam anggaran tersebut, aku bisa mencari beberapa pilihan mobil yang cocok. Apakah ada merek atau model tertentu yang kamu sukai?"
Ghani berpikir sejenak dan menjawab, "Aku suka merek mobil Eleganzia. Dan untuk modelnya, aku lebih condong pada sedan atau SUV yang dapat memberikan kenyamanan dan performa yang baik."
Melissa mencatat preferensi Ghani dan berkata, "Baiklah, aku akan menjadwalkan kunjungan ke dealer Eleganzia dan mencari beberapa model sedan dan SUV yang sesuai dengan keinginanmu."
"Apakah kamu punya preferensi warna atau fitur tambahan yang ingin kamu cari?" tanyanya lagi.
Ghani tersenyum dan menjawab, "Untuk warna, aku suka hitam atau perak. Dan jika ada fitur tambahan seperti sistem navigasi dan sunroof, itu akan menjadi plus."
Melissa menyimpan semua informasi itu dan berkata, "Aku akan memastikan untuk mencari mobil dengan warna, fitur, dan harga yang sesuai dengan keinginanmu."
Ghani mengangguk puas, "Terima kasih banyak, Melissa."
Melissa tersenyum dan menjawab, "Tidak masalah, tapi apa kamu akan membelikan untukku juga?"
Ghani tersenyum. "Boleh, tapi apa aku boleh memastikan sesuatu terlebih dahulu?"
"Memastikan apa?" tanya Melissa penasaran.
"Apa sekarang kamu sudah mengakui bahwa aku layak untukmu?" tanya Ghani.
Melissa tidak menjawab, tapi ia segera mendaratkan ciuman di bibir Ghani.
Ghani tersenyum senang, menegaskan bahwa ciuman itu adalah bukti bahwa Melissa sudah mengakui bahwa dia layak untuknya.
Satu minggu kemudian, target Ghani menghabiskan uang sebanyak 500 miliar telah tercapai.
Namun, sekarang ia sedang diusir oleh adiknya ketika menjenguk ibunya ke rumah sakit.
"Untuk apa kamu ke sini? Apa ingin pinjam uang lagi?" tanya Kirana, adiknya.
"Tidak, Kiran. Aku ke sini untuk menjenguk ibu dan ingin membantu membayar biaya perawatannya," jawab Ghani.
"Halah! Palingan kau habis melakukan sebuah pekerjaan yang kotor!" ujar Kiran kesal.
Sama seperti ayah mereka, Ghani pernah kedapatan mencuri dan untungnya dipergoki oleh adiknya.
Jadi, adiknya tersebut segera menyuruh Ghani mengembalikan barang curiannya.
Hidup dalam kemiskinan memang membuat Ghani sempat ingin mengambil jalan yang salah.
"Lihat ini!" kata Ghani seraya menunjukkan saldo rekening miliknya pada Kirana.
"Ada banyak angka 0 (nol) di situ," kata Kirana terkejut.
"Benar! Sekarang kita tidak akan kekurangan uang lagi untuk biaya rumah sakit!" jawab Ghani.
"Kak, mungkinkah kamu sudah menemukan orang tua kandungmu dan mereka ternyata adalah orang kaya?" tanya Kirana masih terkejut.
Fakta bahwa Ghani hanya anak angkat terungkap ketika ayah mereka masuk penjara.
Di pengadilan, ayah mereka memaki-maki dan menyalahkan Ghani serta ibunya Kirana.
"Semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak memaksa untuk memungut anak pembawa sial itu!" ujar ayah mereka waktu itu.
Dari sinilah semua masalah mulai terjadi, ibu mereka jatuh sakit, Ghani menjadi tidak akur dengan Kirana, dan masih banyak masalah lainnya.
"Ini untukmu," kata Ghani seraya memberikan sesuatu pada Kirana.
"Apa ini?" tanya Kirana penasaran, sekarang suasana antara mereka sudah lebih mencair.
"Buka saja," kata Ghani sambil tersenyum.
Kirana tampak terharu ketika ia sudah membuka dan melihat hadiah yang diberikan kakaknya tersebut.
"Sekarang kamu bisa sekolah lagi dan tak perlu memikirkan masalah ibu," kata Ghani.
Karena terlalu senang, Kirana langsung merangkul dan mencium pipi Ghani.
Setelah itu, Kirana langsung menarik tangan Ghani untuk masuk ke ruangan ibu mereka dirawat.
Namun, wajah Ghani terlihat bengong karena merasakan perasaan rumit di hatinya.
Kirana adalah adiknya, tapi Ghani merasakan perasaan bukan sebagai saudara.
Setelah tahu bahwa mereka bukan saudara kandung, Ghani semakin merasakan perasaan yang sangat rumit di dalam hatinya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Diah Susanti
setelah aq scroll ulang sampai 2X, diatas targetnya di tulis 500jt
2024-08-12
0
Abbie Jard
bodoh apa tolol MC nya.udah di tawar tawar malah di naikin lagi harga nya
2024-08-08
0
Abbie Jard
wkwkwk dasar nya aja MC nya bodoh.mau aja di kerjain sama melisa🤣🤣
2024-08-08
0