Tampak Ghani baru saja kembali setelah melakukan perjalanan jiwa ke dunia lain.
"Jadi level keahlianku baru maksimal setelah bisa menguasai kekuatan spiritual," kata Ghani berpikir.
Tanpa buang waktu, Ghani segera membuat racikan obat baru yang lebih baik dari sebelumnya.
Setelah selesai, Ghani langsung menemui Tuan Arman dan kelompoknya.
"Apa kali ini obatnya memiliki efek samping yang aneh-aneh lagi?" tanya Tuan Arman curiga.
"Tenang saja. Aku sudah membuat obat yang lebih baik dari sebelumnya," tegas Ghani.
Tuan Arman memutuskan untuk mencobanya agar bisa lebih yakin dengan obat tersebut.
Posisi mereka saat ini sedang berada di bawah atau di kaki gunung yang jauh dari kota.
Di gunung itulah terdapat tempat rahasia di mana eksperimen gelap itu dilakukan.
Namun, Tuan Arman dan timnya menuai kesulitan ketika ingin pergi ke tempat itu.
Mereka dihalangi oleh seorang anggota sekte sesat yang telah berhasil menjadi manusia super.
Untung saja tidak ada korban jiwa dari pihak Tuan Arman, meskipun banyak juga yang terluka.
"Coba Anda pukul batu besar itu," kata Ghani pada Tuan Arman yang telah meminum obatnya.
"Rasanya tidak ada yang berubah," kata Tuan Arman heran. "Tapi, aku akan tetap memukul batu itu."
Tuan Arman segera bersiap di depan batu besar itu dan mengepalkan tangannya.
"Terima ini!" ujarnya seraya melayangkan tinjunya.
Namun, batu itu sudah hancur dari sebelum tangannya menyentuh permukaannya.
"A-apa ini?" ujar Tuan Arman terkejut.
Dia baru merasakan adanya kekuatan yang meluap-luap memenuhi tubuhnya.
"Bagaimana?" tanya Ghani tampak bangga.
"Haha! Sekarang, aku tidak akan kesulitan melawan orang dari sekte sesat itu," jawab Tuan Arman.
Kemudian, dipilihlah sepuluh orang, termasuk Rio dan Ghani untuk melanjutkan misi.
Sisanya diperintahkan untuk kembali dan membawa anggota tim yang terluka agar bisa segera dirawat.
"Apa kalian masih belum menyerah?" kata orang misterius bertopeng hitam mencegat mereka.
"Siapa itu?" tanya Ghani penasaran.
"Dialah yang tadi menghalangi kita," jawab Rio.
Baru saja mereka memasuki area hutan, sosok tersebut sudah muncul.
"Serahkan dia padaku," kata Tuan Arman terlihat memiliki dendam. "Kalian duluan saja."
"Baiklah, Tuan," jawab Rio segera mengisyaratkan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Aku dan Rangga akan membantunya," ucap Yuda.
Sekarang hanya tinggal tersisa tujuh orang saja untuk meneruskan misi, tapi itu tidak masalah.
Berkat obat dari Ghani, kekuatan mereka harusnya sepuluh kali lipat lebih kuat.
Selain itu, Tuan Arman dan dua orang lainnya pasti akan segera menyusul.
Misi mereka saat ini adalah mengamankan ilmuwan gila yang melakukan eksperimen di sana.
Namun, mereka mendapat hadangan dari monster manusia hasil eksperimen.
"Mereka pasti sengaja dilepas oleh mereka," kata Rio mulai waspada.
"Orang-orang ini beneran menjadi monster," ujar Ghani tak percaya.
Ghani, Rio, dan lima rekannya mulai bertarung dengan puluhan monster itu.
Mereka menggunakan keterampilan bertarung mereka dan senjata yang mereka bawa untuk melawan monster-monster itu.
Masing-masing dari mereka memiliki keahlian khusus yang memungkinkan mereka untuk melawan dengan efektif sekarang.
Terlihat Rio mengayunkan pedang katana miliknya dengan ganas, memotong monster-monster itu dengan satu gerakan.
"Apa tidak masalah menghabisi mereka?" tanya Ghani ragu.
"Kita tak punya pilihan saat ini," jawab Rio.
"Kurasa kau benar," pikir Ghani.
"Ya. Tenang saja, aku lihat monster-monster ini tadinya adalah pengikut sekte sesat," ungkap Rio.
"Jika kita membiarkan mereka keluar dari gunung, mereka bisa melukai orang tak bersalah," kata Iqbal, salah satu rekan mereka.
Ghani yang sekarang memiliki kecepatan dan ketangkasan yang hebat, segera maju dan tampak melompat-lompat di sekitar monster-monster itu.
Kemudian, ia menggunakan pedang pisau ganda dan menghancurkan mereka satu per satu dengan serangan bertubi-tubi.
Iqbal, seorang ahli teknologi, menggunakan perangkat canggih yang ia rancang sendiri untuk menghancurkan monster-monster itu dengan serangan energi.
Sementara itu, Lina, seorang pemikir cerdas dan analitis, memberikan arahan dari belakang, mencari kelemahan-kelemahan pada monster-monster dan memberikan strategi untuk mengalahkannya.
Setelah pertempuran yang sengit, mereka akhirnya berhasil mengalahkan semua monster itu.
"Jadi di gua itu mereka melakukan penelitiannya," kata Ghani ketika mereka telah tiba di tujuan.
"Ya, di sanalah ilmuwan itu melakukan eksperimen untuk menjadikan manusia jadi monster," jawab Rio.
"Mengerikan," sahut Ghani sambil menggelengkan kepala. "Tapi apa yang mendorong mereka untuk melakukan hal seperti itu?"
Rio mengedarkan pandangan ke sekeliling gua yang gelap dan dingin. "Sepertinya mereka terobsesi dengan kekuatan dan dominasi," jawabnya. "Mereka percaya bahwa dengan mengubah manusia menjadi monster, mereka dapat menciptakan pasukan yang tak terkalahkan."
"Namun apa tujuannya?" tanya Ghani. "Apakah mereka ingin menguasai dunia?"
"Mereka adalah pemuja hari kiamat," lanjut Rio. "Jadi, mereka pasti ingin menciptakan kekacauan."
Ghani menarik napas dalam-dalam. "Yang pasti, kita harus menghentikan mereka sekarang," kata Ghani dengan tegas. "Mereka akan menyebabkan banyak kerusakan dan penderitaan."
Rio setuju. "Kita harus menghentikan eksperimen ini dan mengembalikan manusia yang telah diubah menjadi monster menjadi manusia biasa kembali."
Mereka harus menangkap ilmuwan gila bernama Albert itu dan menyerahkannya ke otoritas yang berwenang, Ivan Vladimir.
Meski begitu, tempat itu sudah kosong ketika mereka tiba di sana.
"Bagaimana ini?" tanya Ghani bingung.
"Kita kembali saja," kata Tuan Arman.
Mereka sudah tahu bahwa tempat persembunyian sekte sesat itu pasti ada banyak.
"Mereka pasti sudah pergi ketika kita dihalangi oleh orang bertopeng di bawah tadi," simpul Rio.
"Apa Paman berhasil mengalahkannya?" tanya Ghani penasaran.
"Dia berhasil kabur," jawab Tuan Arman dengan nada sangat kesal.
Namun, ia senang karena obat dari Ghani benar-benar berguna.
Akan tetapi, obat tersebut memiliki durasi dalam meningkatkan kekuatan seseorang.
Ghani masih membutuhkan beberapa bahan penting agar bisa membuat menyempurnakan obatnya.
Setiba di rumah, Ghani kembali mendapat sambutan hangat dari istrinya.
"S-Sayang, pelan-pelan," tegur Melissa.
Ghani sangat bersemangat dan makin kuat belakang ini sehingga Melissa kewalahan.
"Sayang, aku sangat rindu padamu," kata Ghani.
"Kita hanya sehari tak bertemu," ucap Melissa heran.
"Kamu benar," jawan Ghani yang malah makin semangat di tempat tidur.
Melissa tidak tahu bahwa jiwa Ghani telah melakukan perjalanan ke dunia lain.
Bagi Ghani, ia telah seratus tahun lamanya tak melihat istrinya tersebut.
Ghani telah menghabiskan waktu selama seratus tahun di dunia lain.
"Terima kasih, Sayang," kata Ghani seraya mengecup keningnya.
Melissa tampak telah tertidur dengan senyum puas di bibirnya.
Sambil membiarkan istrinya tidur dengan memeluknya, Ghani mengakses sistem.
"Keahlian bela diri dan membuat obat telah maksimal," kata Ghani.
"Tapi apa gunanya keahlian akting ini selain untuk bermain film?" ucapnya bingung melihat daftar keahlian yang dimiliki.
[Keahlian ini akan berguna ketika Host sedang menyamar atau menyusup ke tempat musuh]
"Benar juga," jawab Ghani setuju.
Sekarang Ghani mulai memikirkan cara untuk mendapatkan bahan-bahan obatnya.
"Mungin nama-nama tanamannya berbeda dengan nama di dunia itu sehingga aku sulit menemukannya," pikir Ghani.
Ia pun memutuskan untuk tidur dan memikirkan solusinya nanti saja.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments