Ch 19 : Mimpi Buruk

"Aku dimana?..."

...

"Oh iya... Aku tertidur setelah membantu bunda Isaiah mengangkat perkakas di gudang..." Aku mendongak melihat awan yang berjalan teratur, tanganku bergerak ke atas mencoba menggapainya.

...

Sinar matahari seolah menyapaku, serta udara di sekitarku mencoba untuk membuatku merasa nyaman, "Langit begitu cerah..."

Derap langkah kudengar tak jauh dariku, suara cekikikan anak kecil mengiringi. Aku melirik kesana, dan melihat dua bocah laki-laki dan perempuan melihatku dengan ceria, aku pun ikut tersenyum kepada mereka entah kenapa.

"Sedang apa kamu disini, Rome?"

"Pasti membolos pelajaran Ibu Josephine kan? Ngaku kamu" bocah laki-laki itu menjahiliku dengan kata-katanya, dibarengi dengan tawa kecil milik sang gadis,

Aku pun bangkit dari rerumputan yang kutiduri, merasa sedikit kesal mendengar tuduhan itu, "seperti kamu tidak sering membolos saja... Coba tunjukkan nilai-nilai pelajaranmu yang bagus, baru aku terima ejekan itu" ucapku sembari menyeringai,

Wajah bocah itu berubah masam, "apa kamu bilang, Rome!? Sini kamu" bocah itu memiting tubuhku main-main,

"Lihat, kamu saja tidak tahu cara melakukan submission" sang gadis melihat kami tertawa terbahak-bahak karena posisi lucu kami,

Kami bertiga kemudian tertawa bersamaan, bocah laki-laki itu perlahan melepas piringannya padaku. Aku pun mulai bangkit dari rerumputan, "bagamana kalian tahu aku disini?"

Gadis itu tersenyum lembut, "entahlah, insting mungkin?"

"Jangan remehkan aku ya, aku bisa tahu dengan mudah dimana bocah pendiam sepertimu membolos." ujar sang bocah laki-laki dengan arogannya,

Aku tertawa kecil mendengarnya, "pasti bunda Isaiah yang memberi tahu kalian kan?"

"A-apa. kok kamu bisa tahu?" Si bocah laki-laki langsung tertunduk malu, sementara sang gadis tertawa gugup.

Aku lalu membersihkan celanaku dari tanah yang menempel, "sudahlah, itu tidak penting." kemudian aku menatap mereka. "Bukankah lebih baik kita kembali? Pasti bunda Isaiah mencari kita, June, Lynda"

"Iya ayo, oh iya, ngomong-ngomong aku sudah membersihkan ruang ibadah tadi, jadi aku nanti tidak akan dimarahi, kalau kamu June?" gadis itu melirik kearah bocah laki-laki disampingnya, sepertinya mencoba untuk menakut-nakutinya

"Tunggu, kamu sudah membersihkan ruang ibadah kenapa kamu tidak mengajakku Lynda?" Wajahnya mulai terlihat panik, membuatku menahan tawa. "Aahh... Aku pasti nanti dimarahi"

"Kenapa June? Rindu dengan rotan bunda Isaiah?~" ejekku,

"Berisik kamu Rome! lagipula ini jadwal kita hari ini, kamu juga pasti kena"

Aku masih santai, tak menghiraukan ancamannya. "Eits, aku tadi sudah membantu bunda Isaiah memindahkan perkakas ke gudang ya"

"A-apa?... Oi... Kalian bercanda kan?..."

"Itulah, kenapa tidak dari tadi membantuku, jadi Hera yang menggantikanmu, kamu malah pergi memetik buah mangga punya tuan Rommel" ujar Lynda dengan bercanda,

Bocah laki-laki itu menunduk kesal, mengutuk kelakuannya sendiri yang konyol. Ia kemudian menghela nafasnya panjang, "baiklah, aku akan bertanggung jawab... Laki-laki harus berani bertanggung jawab jika Ia salah"

Aku tertawa kecil mendengarnya, "kalau begitu, ayo kita kembali ini sudah sore" June dan Lynda mengangguk bersamaan, lalu kami bertiga kembali ke gereja panti asuhan.

...

"Kenapa gelap sekali?" Setelah memasuki gereja, aku tak bisa melihat apapun, hitam pekat, padahal ini masih sore.

"Bunda Isaiah? Teman-teman?..." Tak ada jawaban sedikit pun, hanya suara angin yang bisa kudengar,

"..."

Tiba-tiba saja panah melesat dari dalam sana, aku tidak tahu kalau panah itu menembus kepala June dibelakangku, sontak setelah aku mendengar suara aku terkejut berpaling cepat-cepat,

"JUNE!?"

Kulihat June sudah tergeletak di lantai bersimbah darah, aku lirik Lynda yang berada dibelakangku sejak tadi. Tapi tak ada, Ia tidak ada disana, membuatku semakin bingung,

"Kenapa ini!?... Lynda!? Dimana kamu!!?" Aku beberapa kali mengusap mataku,

"..."

Aku mencari keberadaan gadis itu, tapi entah kenapa tempat ini sangat gelap, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit? Aku... Tidak bisa melihat.

"..."

"Rome!!"

Suara serak khas orang dewasa membuyarkan lamunanku, tiba-tiba aku bisa melihat dengan jelas, gereja panti asuhan kami terbakar dan rusak parah. Aku membelalakkan kedua mataku, pria yang tadi memanggilku memakai zirah layaknya seorang ksatria, Ia dengan cekatan langsung menggendongku.

"A-apa ini!? L-lepaskan!! June dan Lynda masih di dalam sana!!"

"Tidak ada waktu! Mereka... Tidak akan terselamatkan"

"Apa kau bilang!?"

Terkejut, aku memalingkan pandangan ke arah gereja yang rusak dan terbakar, mataku melebar setelah melihat beberapa bandit bertubuh kekar melakukan perbuatan tak senonoh pada Bunda Isaiah. Beberapa di antara mereka bahkan memaksa Lynda membuka pakaiannya, menyisakan rasa tak terkendali dan kecewa yang menghantuiku.

!!??

"A-APA YANG KALIAN LAKUKAN BAJINGANN!!!??" aku mencoba meloloskan diri dari dekapan sang ksatria, tapi tubuku terlalu kecil, dan ksatria itu terlalu kuat,

"LEPASKAN AKU!! APA YANG MEREKA LAKUKAN!!??"

"Aku sendirian!! Aku tidak bisa melawannya sekaligus!! Maafkan aku Rome!!" Suara pria itu seperti terisak dalam helmnya, tapi aku tak peduli, aku masih mencoba untuk melepaskan diri.

"HEI!! HENTIKAN!!!"

"HEII!!!"

"T-TOLONG BERHENTI!!..."

"H-hentikan..."

...

...

"Hentikan!!"

Rome tiba-tiba terbangun dari tidurnya, keringat bercucuran di pelipisnya, nafasnya juga tak beraturan, Ia mencengkram selimut yang Ia pakai seraya memegangi kepalanya yang sakit.

"..."

Mei yang mendengar teriakan dari Rome dengan cekatan menghampirinya di kasur, "k-kakak kenapa!?"

Pemuda itu melemparkan pandangan singkat pada Mei, dan dalam wajahnya tergambar kesedihan mendalam yang tak luput dari pemahaman gadis itu. Rome kemudian memalingkan pandangannya ke luar jendela, di mana pagi telah tiba dengan tenangnya. Dalam keheningan itu, dia menyadari bahwa dia hanya mengalami mimpi buruk seperti yang sering terjadi padanya.

"Maaf... Aku mengagetkanmu ya? aku hanya mengalami mimpi buruk..."

Mei kembali setelah membeli makanan, namun dikagetkan oleh teriakan Rome. Pastinya jantungnya berdegup kencang, terkejut karena perilaku yang tak biasa dari pemuda itu. Sejenak, ia meraih tangan Rome dengan lembut, mencoba menenangkan gelisahnya dengan mengelusinya perlahan.

"Tidak apa... Ini, maaf lancang mengambil uang kakak tadi, tapi sebaiknya kita sarapan pagi-pagi agar bisa berangkat lebih cepat" Mei memberikan sebuah plastik berisi beberapa kotak, dari baunya membuat perut Rome bersuara kencang.

Rome tersenyum simpul, "terima kasih, Mei..." Lalu membuka salah satu kotak tersebut, dan terlihat disana adalah dimsum, sosis dan pangsit kering, "ini... Apa?"

"Itu pelengkap, aku tadi juga membeli nasi goreng dengan kuah ayam... Tapi tenang saja, ini semua murah kok, Aku harap kakak suka" Mei membuka kotak yang lainnya berisi nasi goreng dengan plastik yang berisi kuah,

Rome bisa mencium aroma khas yang kuat, dan Ia tidak bisa menghalangi rasa laparnya, "nasi?"

Mei mengangguk mengiyakan, "benar, itu bahan pokok kami orang timur"

"Ah, ayo kita makan kalau begitu" ujar Rome mengambil sebuah sumpit di dalam plastik bersiap untuk makan.

"Mari makan"

...>>>...

Setelah menikmati sarapan dan mempersiapkan diri, mereka keluar dari hotel dengan langkah yang penuh semangat. Diiringi oleh keramaian pagi yang mulai meramaikan jalan, mereka berjalan melewati deretan toko dan warung, serta dikelilingi oleh keragaman wajah-wajah dari penduduk lokal yang mulai beraktivitas.

Rome menyanggul pedang besarnya di bahunya, wajahnya sedikit muram, mencoba untuk melupakan mimpi buruk yang dialaminya selama tidur. "Sepertinya... Setiap gambaran mimpi itu tidak sama dengan kejadian di masa lalu..." ia bergumam,

'Seperti imajinasi yang dibuat-buat...' pikirnya,

Situasi di antara mereka menjadi sedikit canggung, dengan Rome yang terdiam sejak tadi, membuat Mei merasa ragu untuk memulai percakapan. Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan langkah-langkah yang terdengar jelas di jalanan yang ramai, tetapi atmosfer antara mereka terasa hening.

Mei mencoba untuk menemukan sesuatu untuk dibicarakan, tapi keheningan yang menyelimuti mereka membuatnya semakin enggan untuk memecahkannya.

Ia melirik ke arah Rome, mencoba membaca ekspresi di wajahnya, mencari tanda-tanda apa yang sedang dipikirkannya. Tapi Rome tetap terdiam, membuat Mei semakin bertanya-tanya.

Tak berselang lama setelah mereka melangkah, mata Rome tak sengaja menangkap sorotan ramai yang berkumpul di kejauhan menarik perhatiannya. "Apa yang sedang terjadi di sana?" gumamnya tiba-tiba, sambil melempar pandangan ke arah Mei, mencari tanggapan dari gadis itu.

Mei sedikit terkejut oleh pertanyaan tiba-tiba dari Rome, namun segera memalingkan pandangannya ke arah kerumunan itu, menyadari apa yang sedang terjadi di sana. "Itu seorang pendongeng," jelasnya pada Rome, suaranya sedikit ceria menangkap perhatian temannya,

"dia sedang menceritakan sebuah cerita rakyat atau legenda, dan orang-orang memberinya bayaran sebagai gantinya." Ia menatap Rome dengan mata berbinar, "Kakak mau mendengarnya?"

"..."

'dongeng ya?... Boleh juga'

Rome memandang ke kerumunan dengan ekspresi yang berubah, pikirannya hanya ingin melupakan mimpi buruk yang masih menghantuinya. "Hmm, ide yang bagus," gumamnya, sembari tersenyum pada Mei.

"Boleh, ayo kita kesana," tambahnya antusias, langkah mereka kemudian mengarah ke arah kerumunan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!