Ch 13 : Hati Gundah Mei

Mendengar informasi yang dibicarakan oleh para nelayan itu, Rome merasa Ia harus berhati-hati jika berpergian di antara wilayah Lung Xin. Ia juga harus menjaga Mei sampai ke rumahnya, meskipun sedikit membuatnya repot tapi itu harus Ia lakukan, karena Ia sudah terlanjur menerima permintaan dari gadis itu sebelumnya.

Tak lama mereka berkeliling, mereka menemukan sebuah pangkalan kereta kuda di sudut jalan utama kota tersebut, Mei yang pertama kali menyadarinya. Gadis itu kemudian mengajak Rome untuk menaiki transportasi tersebut agar mereka bisa sampai lebih cepat ke wilayah kekaisaran Zheng.

"Tunggu Mei, sebelum kita pergi, aku mendengar dari percakapan beberapa orang sekitar kalau warga Lung Xin rata-rata tidak menerima mata uang asing? Apa itu benar?"

Mei mengangguk spontan, "aku hampir lupa, itu benar kak, sebaiknya kita tukarkan austral kakak ke tempat penukaran mata uang di sekitar" Ia memutar pandangannya mencari tempat penukaran uang, "Lung Xin memang ketat akan orisinalitas, para pedagang lokal tidak mau menerima uang asing"

"Begitu ya?... Untung saja kedai minuman tadi menerima austral ku" tanggap Rome sembari ikut mencari keberadaan tempat penukaran uang.

"Hanya disini para turis bisa leluasa berbelanja tanpa menukarkan uang, Guangyin memang dibuat untuk perdagangan internasional, jadi tidak heran jika mereka mau-mau saja menerima uang kakak..."

"Menarik..." Rome manggut-manggut dengan menopang dagunya, "hal itu juga akan melancarkan ekonomi Hei Nan bukan begitu?"

"Tepat sekali" selang lama mencari, Mei akhirnya menemukan tempat untuk penukaran mata uang di beberapa blok dari mereka, "kalau begitu ayo"

Mereka berdua kemudian menuju tempat tersebut, menukarkan beberapa austral milik Rome dengan mata uang Lung Xin bernama pho. Setelah menyelesaikan penukaran, mereka lalu keluar dari bangunan kemudian langsung menuju pangkalan kereta kuda.

Rome, dengan senyum puas di wajahnya, menatap kantongnya yang kini berisi beberapa pho, mata uang Lung Xin yang baru saja dia dapatkan. Sementara itu, Mei, yang ekspresi nya tampak lebih redup, memperhatikan sekitar dengan tatapan yang sulit diartikan.

"..."

Sejak meninggalkan tempat penukaran mata uang, raut wajah Mei terlihat muram kembali, Rome menyadarinya sekilas, gadis itu menatap kosong tanah yang dipijakinya sembari berjalan berdampingan dengan Rome. "Ada yang salah, Mei?" tanya Rome dengan nada cemas.

Mei menggeleng pelan, tapi matanya masih terlihat kosong. "Ah, tidak apa-apa. Hanya sedikit penat saja," jawabnya seraya mencoba tersenyum, meski terlihat terpaksa.

Rome mengikuti langkahnya dengan hati yang berat. "Kalau begitu, apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantumu merasa lebih baik?" tawarnya, mencoba menghibur.

Mei menggeleng lagi, tapi kali ini dengan senyum yang lebih tulus. "Terima kasih kak. Kakak sudah banyak membantu. Hanya saja, kadang-kadang pikiranku melayang ke tempat-tempat yang jauh, dan itu membuatku sedikit tersesat dalam pikiran sendiri."

Rome mengangguk paham sebelum menghela nafas halus. "Aku mengerti. Jika kamu perlu bercerita atau sekadar ingin sesuatu, bilang saja," ujarnya, berusaha memberikan dukungan.

"... Akan kuusahakan"

...

Setibanya di pangkalan kereta kuda, mereka segera mencari kereta kuda yang akan membawa mereka ke tujuan berikutnya dengan tanpa menarik terlalu banyak perhatian. Setelah menemukan yang mereka cari, mereka pun lekas naik ke atas kereta kuda tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju Kekaisaran Zheng.

Mereka berdua duduk berdampingan, sekilas Rome melirik kearah gadis kecil disampingnya. Ekspresinya masih sama, sementara gadis itu masih menatap kosong, Ia menarik nafasnya, mencoba menemukan cara yang tepat untuk bertanya pada gadis kecil itu tanpa membuatnya tidak nyaman.

"..."

"Dari tadi aku melihatmu murung... kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?... apa aku boleh tahu penyebabnya?..."

Gadis itu terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan cara untuk mengungkapkan apa yang ada di isi hatinya. Dengan suara yang kecil, dia menjawab, "aku... Tidak bisa menjelaskannya pada kakak..."

"Memang, aku hanya bersamamu untuk sementara, tapi tidak rugi jika kamu sedikit terbuka padaku, bukan begitu?" tanggap Rome dengan nada lembut, "aku bisa membantumu meringankan pikiran-pikiranmu itu jika kamu mau, Mei..." tambahnya.

"..."

Gadis itu kemudian menatapnya lesu sembari menghela nafasnya, "apa... Kakak pernah dijodohkan dengan seseorang?..."

Rome merasa bingung dengan pertanyaan itu. "Eehh... Sejauh ini tidak pernah sih, apa ini tentang perjodohan?..."

"Seperti itulah..." ucap Mei pelan,

"Apa yang membuatmu khawatir? Apa kamu dijodohkan oleh orang tua mu?..."

Gadis itu dengan mengiyakan, "antara membangkang pada orang tua... Atau memilih pasangan hidup yang tidak kusukai... Itu pilihan yang berat bukan?"

Rome diam sejenak, berusaha untuk mencerna apa yang dibicarakan oleh gadis disampingnya itu, "jika kamu tidak suka... Kamu bisa menolaknya, ada waktunya dimana kamu harus memilih untuk jalan hidupmu sendiri..."

"... Aku tidak ingin dijodohkan... Aku tahu ini egois, tapi rasanya juga tidak pantas jika aku menolaknya..."

"Mei... sesuatu hal yang dipaksakan itu tidak akan baik... Apalagi itu menyangkut masa depanmu, kamu itu masih muda... Perjalanan mu masih panjang, apa kamu ingin mimpimu menjadi pelaut itu sirna begitu saja?"

Gadis itu melebarkan matanya sekilas, kemudian menggeleng pelan. "tidak... Aku tidak mau..."

"Maka dari itu..."

"Pikiranku selalu terbayang yang tidak-tidak tanpa aku sadari... Aku hanya ingin orang tua ku mengerti lebih baik tentang diriku, tetapi mereka selalu saja memaksakan kehendak mereka kepada anak-anaknya..." Mei mengeratkan gigi-giginya kesal,

Rome yang menatapnya sedikit prihatin, "entah apa yang orang tua mu inginkan, kamu tetap punya pilihan untuk menolak... Kalau menurutku, setiap anak adalah titipan dari tuhan... Tetapi kebanyakan kasus orang tua, mereka selalu memaksa anak untuk menjadi aset pribadi mereka di masa mendatang... Dan itu tidak pantas"

Mei diam mendengarkan, sedikit terhenyak akan kalimat dari pemuda itu. "Sedikit kurang ajar memang... Tetapi kamu juga manusia, ada hak-hak milikmu yang patut dihormati oleh orang tuamu"

Rome kemudian tersenyum simpul, sembari mengelus lembut kepala Mei, "intinya aku hanya memberimu saran, itu masa depanmu... Sebaiknya kamu mengerti apa yang terbaik bagi dirimu, mengerti kan?"

"..."

"Terima kasih banyak kak..." Mei sekarang merasa Ia sudah mengerti apa yang harus Ia lakukan kedepannya, pipinya sedikit merona saat kepalanya dengan lembut dielus oleh pemuda disampingnya.

Tak selang beberapa lama, Rome menarik kembali tangannya dari kepala gadis itu. Melihat ekspresi wajahnya perlahan sedikit lebih baik, Ia akhirnya bisa tenang.

Mereka berdua tersenyum satu sama lain, pikiran Rome entah kenapa terasa sedikit lebih ringan setelah berbagi uneg-unegnya. Meskipun dunia terasa tidak adil kadang-kadang, Ia yakin bahwa ada hal baik saat saling mendukung satu sama lain, seperti yang Ia lakukan saat ini.

Perjalanan dengan kereta kuda pun berlanjut, meskipun terasa sedikit berdebu di jalan yang mereka lalui. Mereka berdua duduk dengan tenang, sesekali bertukar pandang untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Rome sesekali membuka kantongnya untuk memeriksa barang milik kliennya baik-baik saja.

Kereta kuda melintasi jalanan yang berbatu dan sedikit bergoyang. Mei hampir kehilangan keseimbangan, tetapi dengan cepat menegakkan dirinya. Mereka berdua saling tertawa disaat mereka hampir jatuh dari kereta kuda. Sadar akan suara gaduh dibelakang, kusir dengan spontan meminta maaf kepada mereka berdua.

...

Beberapa saat kemudian, kereta kuda itu akhirnya memasuki sebuah desa kecil, yang menandakan halangan terakhir di wilayah Kekaisaran Hei Nan, sebelum menuju ke perbatasan Kekaisaran Zheng.

"Anu... Apa biasanya desa ini sepi seperti ini tuan?" Mei menyadari betapa kosongnya desa yang mereka lewati itu, seperti ditinggalkan oleh para pemilik rumah disana,

"..."

"... Saya sebenarnya juga bingung... Desa ini terkenal akan biji kopinya... selalu ramai akan berbagai ras untuk jual beli, saya terakhir lewat sini satu minggu yang lalu, jadi... pemandangan ini terasa aneh bagi saya..."

Selama melewati desa kecil itu, Rome merasa tidak nyaman, hawa tak mengenakkan berkeliaran di desa itu, Ia bisa merasakannya dengan jelas, dan nalurinya tak pernah salah. Ia pun dengan sigap mengawasi sekitar dengan seksama,

Mei paham dengan gerak gerik dari Rome, lalu mengikutinya dengan cara yang sama,

...

!!

"K-kak Rome..."

"Kita terkepung"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!