"ahh... bosan..."
"mengapa cuaca juga panas akhir-akhir ini?..."
...
"aku benci hari-hari seperti ini..."
Ucap seorang pemuda yang bersandar di padang rerumputan, terik panas matahari terasa menyengat, tetapi pemuda itu masih rela bersandar di sana sembari angin yang sesekali menerpa wajahnya.
Pemuda itu terasa sangat bosan, hari ini kebetulan ia tidak menerima permintaan dari guild, dan hasilnya? Ia sama sekali tak melakukan kegiatan apa pun dan memilih untuk bersantai di padang rumput dekat kota.
"hidup rasanya begini-begini saja ya?... kenapa coba aku tak sekaya wali kota... dan memiliki harem seperti ksatria besar Zudram... tapi diingat-diingat pak tua itu terlihat jelek... kenapa gadis-gadis seksi selalu menempel kepadanya ya?... keparat..."
Pemuda itu terus bergumam dan mengutuk sesekali, sembari surai jabrik abu-abunya bergerak mengikuti angin.
Langit hari ini sangat cerah dan terlihat biru sampai-sampai ia tak bisa melepas pandangannya dari kanvas indah buatan tuhan tersebut.
Dan entah mengapa ia mendadak merasa nostalgia, rindu akan hari-hari di masa kecil di panti asuhannya, suasana cerah nan asri ini meningkatkan memori-memori yang sedikit terlupakan olehnya, membuatnya tak kuasa untuk tersenyum kecil dalam diam.
"June... Lynda..."
Tak apa... Kamu tak usah khawatir... Anggap saja Kami mengorbankan nyawa untuk seorang sahabat terbaik kami...
Ia memejamkan matanya sejenak, merenungi kenangan yang membawa senyum manis ke wajahnya. "Kita selalu bersama... melewati hari-hari sulit di panti itu dengan kebahagiaan," gumamnya lirih.
Namun, dalam kehangatan nostalgia, juga muncul rasa kehilangan. Tetesan air mata yang tak terduga menyelinap di pipinya, meresapi kenangan manis dan getir yang pernah mereka bagikan. tapi dia bersyukur akan ikatan batin yang tak bisa dilupakan, meskipun waktu telah merenggutnya.
"Mereka pergi terlalu cepat, meninggalkanku sendiri di dunia yang terus berubah..." bisiknya, mengingat betul kenangan-kenangan itu dalam hatinya.
...
Tak lama kemudian pemuda itu perlahan beranjak duduk, lalu mengusap air matanya kasar
'sial, malah kepikiran yang tidak-tidak...'
Ia perlahan bangkit, seraya membopong pedang besarnya yang tergeletak di tanah,
"kira-kira tuan Belfort ada di rumah tidak ya?... lebih baik aku kesana untuk memastikan"
Dan pemuda bersurai jabrik abu-abu itu pun beranjak pergi dari lokasi tak lupa meletakkan pedang besarnya pada sarung dipunggungnya, menuju kota—
...>>>...
Sesampainya di sana, terlihat Kota sangat padat seperti biasanya, banyak pedagang dan pendatang baru saling melakukan jual beli, dan adapun juga para penghibur jalanan melakukan aksinya untuk sepeser uang dari pejalan kaki yang lewat.
Sedangkan pemuda itu berjalan menuju tujuannya untuk menuju kekediaman tuan Belfort yang ia maksud sebelumnya, berniat untuk mencari pekerjaan sampingan.
Pemuda itu melangkah dengan hati-hati melewati hiruk pikuk kota, matanya terus memantau setiap sudut yang mungkin mengarahkannya pada kesempatan yang bisa ia ambil, di tengah jalan yang dipenuhi warna-warni tenda dan aroma rempah, memberikan sentuhan hidup pada kesibukan kota.
Tiba di depan kediaman tuan Belfort, sebuah bangunan megah dengan detail arsitektur klasik yang memesona, pemuda itu menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu. Saat pintu terbuka, seorang pelayan tua yang bersikap ramah menyambutnya.
"permisi paman, apa tuan Belfort ada?"
"beliau sedang merapikan koleksinya, pergi ke ruang tunggu, tuan Belfort akan segera menyambut Anda," kata pelayan tua itu dengan senyum hangat.
Pemuda itu mengangguk paham lalu duduk di tempat yang pelayan itu sediakan sembari memeriksa sekeliling ruangan yang penuh dengan barang-barang antik dan lukisan indah.
Tak lama kemudian, Belfort, seorang pria tua berwibawa, kemudian menyambutnya dengan ramah. "Rome? Apa yang membawamu ke sini, anak muda?"
Rome "Uxas" Regist, 21 tahun
"Mencari pekerjaan tuan. Saya siap melakukan apapun yang tuan butuhkan hari ini"
Belfort tertawa kecil, "sepertinya hari ini guild tidak memberimu pekerjaan ya?"
Pemuda yang dipanggil Rome tersebut tersenyum gugup sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, "sayangnya begitu tuan, bosan melanda, dan uang tak kunjung datang, kemarilah saya akhirnya"
"hmm... begitu ya?... Kebetulan, sebenarnya ada sesuatu yang bisa kamu lakukan hari ini, tapi lebih baik kita bicarakan sambil minum teh terlebih dulu."
...
Mereka duduk di ruang tamu yang elegan, sementara pembicaraan berjalan, Rome menyadari bahwa cucu semata wayang Tuan Belfort sedang mencari party untuk membasmi para Imp yang meneror desa perbatasan setempat.
"jadi begitulah, Tessa sedang kesulitan untuk mencari seseorang yang mau membantunya membasmi para Imp itu... jika kau tidak keberatan aku akan memberimu 4500 austral setelahnya"
Dengan sumringah setelah pak tua itu membicarakan imbalannya, Rome dengan segera menerima tawaran pekerjaan tersebut.
Ia kemudian perlahan berdiri dari sofa empuk milik tuan rumah "tentu tuan, itu bisa saya lakukan, nona Tessa benar? Saya akan segera kesana untuk memberitahunya"
Belfort tersenyum senang saat mendengar jawaban dari pemuda itu, "bagus, sebaiknya kau membawa persiapan sebelum menemui cucuku"
"tentu, jadi... Dimana lokasi nona Tessa saat ini?"
"dia tadi pagi mengatakan kalau dia menunggu seseorang yang mau membantunya di perempatan jalan balai kota seperti akhir-akhir ini"
"baik, terima kasih sekali lagi tuan Belfort, maaf selalu merepotkan anda." Rome kemudian sedikit menunduk hormat pada pemilik rumah didepannya
"apa yang kamu bicarakan? jika kita tidak bertemu di hari itu... Aku pasti tidak hidup sampai sekarang," ucap pria tua itu sembari tertawa kecil
Seraya Belfort beranjak dari sofanya, orang tua itu menyadari sesuatu pada punggung Rome "kau tahu?... aku selalu penasaran dengan pedang yang kamu bawa itu anak muda, penampilannya sedikit unik, buatan timur bukan begitu?"
Rome yang paham apa yang dimaksud sang pemilik rumah, mengeluarkan pedang besarnya itu dari sarungnya "benar tuan, ini imbalan dari permintaan salah satu klien saya dua tahun lalu"
Sebagai kolektor barang berharga, pria tua itu mengamati pedang dari Rome tersebut dengan antusias serta menganalisis dan menebak bahan dari pedang tersebut,
"ini... Logam yang sangat tangguh... tak kusangka kualitasnya lebih bagus dari baja yang biasanya dipakai para penempa di sini, dan sepertinya kamu merawatnya dengan baik" pria itu perlahan tersenyum kecil entah kenapa
"dimana tepatnya kamu mendapatkan pedang ini?"
"kalau tidak salah... Daerah bersalju bernama Yukimi di kepulauan Yamato tuan"
"Yukimi ya?... Tapi kulihat kamu selalu memakai pedang ini sejak pertama kali kita bertemu, apa kamu lebih suka pedang buatan timur, anak muda?"
"tidak juga, saya sudah menyukainya sejak lama, jadi saya selalu memilih pedang ini dari yang lain" pria tua itu lalu mengangguk paham mendengar jawaban dari Rome.
...
"ah, maafkan aku menahanmu disini Rome, seperti inilah jadinya jika seorang kolektor melihat sesuatu yang menarik baginya" ucap pria tua itu yang tersadar, seraya tertawa kecil
Rome memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya sembari ikut tertawa kecil, "tidak apa, kalau begitu saya akan berangkat tuan, permisi" pemuda itu menunduk hormat sekali lagi sebelum beranjak dari ruang tamu
"jaga dirimu baik-baik, dan sekalian juga jaga cucuku ya!"
"serahkan padaku tuan" Rome kemudian beranjak keluar dari mansion megah milik Belfort, menuju apartemen murahnya di jantung kota untuk bersiap-siap.
...>>>...
Setelah sekiranya ia siap dengan perlengkapan bertempurnya, Rome yang tak mau membuang waktu, langsung menuju balai kota untuk menemui cucu Belfort, seraya ia sesekali bertegur sapa dengan para tetangganya di tengah jalan,
Ia sedikit beruntung karena warga yang menghuni di wilayah pusat kota sangat ramah, hal itu jugalah yang sedikit menambah rasa semangatnya untuk tetap hidup walaupun hidupnya... berantakan.
Sesampainya di balai kota, ia mulai mencari sesosok gadis yang berciri-ciri bersurai merah, cucu dari tuan Belfort, sembari ia menanyai para pejalan kaki yang lewat, serta memanggil namanya sedikit keras
Sampai seorang gadis yang duduk bersandar di salah satu kursi panjang balai kota menoleh kearahnya,
"nona Tessa, benar?"
Tessa Danamark, 17 tahun
"... ah iya itu aku... Ada apa ya?"
Rome tersenyum kecil, akhirnya ia menemukannya, "saya utusan tuan Belfort, katanya nona mencari seseorang untuk membantu membasmi para Imp di desa perbatasan, benar?"
Gadis itu tiba-tiba tersenyum sumringah, "iya benar sekali, jadi kamu bersedia?... Terima kasih banyak, Aku akan sangat terbantu sekali"
"tidak masalah, jadi... Bisa nona beritahu saya apa yang terjadi di sana?"
Gadis bersurai merah itu mengangguk "bagaimana jika kita melakukan briefing sembari berjalan menuju kesana?"
"ide bagus, kalau begitu pimpin jalannya"
Mereka berdua kemudian berjalan menuju lokasi, dengan senyum kecil di wajah Rome, mereka melangkah bersama menuju desa perbatasan. Gadis itu, Tessa, memulai ceritanya dengan penuh antusias.
"Situasinya semakin genting di desa itu. Para Imp ini terus meresahkan penduduk. Mereka merampok dan menyerang tanpa ampun. Kepala desa memohon bantuan, dan Kakek sepertinya menemukan orang yang tepat untuk membantuku mengakhiri teror ini," ujar Tessa seraya melangkah dengan hati-hati.
Rome mendengarkan dengan serius, kemudian tertawa kecil, "jangan berasumsi terlebih dahulu nona, saya belum melakukan apapun"
"lalu? bagaimana kondisi desa itu sekarang?" tanyanya.
Tessa menghela nafas, "Mereka hidup dalam ketakutan, beberapa penduduk bahkan telah meninggalkan rumah mereka, dan pergi entah kemana. Kita perlu menyingkirkan para Imp segera dan mengembalikan kondisi desa itu semula"
"sungguh, aku baru dengar hal ini... Sejak kapan ini terjadi? Dan bagaimana nona tahu soal ini?"
Gadis itu tersenyum kecil, "sebut saja informan Kakekku yang memberitahuku"
"..."
"... jika seperti itu bukankah aneh ksatria kerajaan tak menyelesaikan kasus ini segera? Mereka seharusnya bisa mengatasinya dengan cepat bukan?"
Tessa menatap Rome dengan raut wajah yang penuh keprihatinan. "Sayangnya, ksatria kerajaan terlalu sibuk dengan ancaman dari luar. Desa perbatasan ini mungkin dianggap terlalu kecil untuk mendapatkan perhatian mereka."
"alasan yang klise... para bedebah itu seharusnya bekerja selayaknya gaji yang diberikan kepada mereka..."
Tessa sedikit kaget mendengar ucapan pemuda disampingnya itu, "... b-begitu ya?... ngomong-ngomong kamu tak usah terlalu formal denganku, err..."
"Rome..."
"a-ah iya, Rome..."
...
"Rome?... ah, jadi kamu yang selalu dibicarakan oleh Kakek, pahlawan muda yang menolongnya saat ia hampir jatuh dalam jurang?"
Dengan cepat Tessa menunduk, ia sangat berterima kasih karena kakeknya selamat hari itu, "terima kasih banyak sudah menolong Kakekku, mungkin rasa terima kasih pun tidak cukup dibandingkan apa yang telah kamu lakukan Rome"
Pemuda itu seketika merasa tidak enak karena Tessa yang tiba-tiba saja menunduk kearahnya. "sudah sudah, tuan Belfort juga telah membantuku banyak selama ini, jadi kamu tak perlu berterima kasih lagi padaku"
"Meskipun begitu aku harus berterima kasih padamu Rome" ucap Tessa yang mengangkat kepalanya seraya tersenyum, membuat Rome menghela nafasnya,
Ia lalu memperhatikan sejenak gadis itu. "yang kudengar dari tuan Belfort, tak ada seorang pun yang mau membantumu menghabisi para Imp itu, padahal dengan imbalan yang diberikan tuan Belfort sepertinya itu hal yang tidak wajar..."
"Apa kemungkinan alasannya sama karena sibuk dengan ancaman dari luar?" lanjutnya, dengan sedikit nada sarkastik.
Tessa tersenyum kecut, "aku... Tidak sepenuhnya tahu soal itu, tapi aku yakin mereka sedang sibuk dengan ancaman luar dari kerajaan lain pada Loxis" ujarnya, suaranya bergetar namun penuh tekad.
Rome mengerutkan kening, mencoba memahami kompleksitas situasi yang ia hadapi saat ini. "..."
"lalu, kenapa kamu sendiri yakin bisa mengatasi masalah ini?" tanyanya skeptis.
Tessa tersenyum lebih lebar kali ini, wajahnya memancarkan keyakinan. "Karena aku yakin aku bisa, sesimpel itu, bukankah sia-sia jadinya latihanku selama ini jika tidak kugunakan dengan benar?"
Rome merenung sejenak, mencerna kata-kata Tessa. Setelah beberapa saat, ia menatap gadis itu dengan serius. "Aku perlu tahu lebih banyak tentang kemampuanmu. maaf saja tapi takkan ada pertarungan yang dimenangkan dengan keyakinan semata," ucapnya datar.
Tessa mengangguk, memahami kebutuhan Rome untuk mendapatkan kejelasan. "Aku diberkahi dengan kemampuan manipulasi tumbuhan yang terpatri dalam diriku. Latihan memberiku kendali, dan aku yakin bisa menghadapi para Imp dengan kekuatan ini, tak lupa juga dengan bantuanmu tentu saja" jelasnya mantap.
Rome sedikit terkejut mendengar informasi yang ia dengar "manipulasi... Tumbuhan?... Aku tahu itu bukan sihir normal... jadi kamu keturunan darah khusus?"
"ya, bisa dibilang seperti itu"
"tapi seingatku tuan Belfort pernah berkata ia tidak bisa melakukan sihir?... Dan katanya arus saraf dari mananya rusak saat ia masih anak-anak"
"aku mewarisinya dari darah ibuku, bukan dari darah ayah"
"jadi begitu..."
Rome menimbang-nimbang informasi itu dalam benaknya sejenak. "menarik... kemampuanmu akan membuat operasi ini jadi semakin mudah bukan begitu?" gadis itu mengangguk serta tersenyum kecil,
"yap, kamu benar sekali"
"..."
Tessa kemudian menatap mata Rome penuh kejujuran. "Ada hal yang harus kamu tahu Rome, aku lebih memilih untuk bertarung demi melindungi, itulah yang diajarkan oleh orang tua serta kakekku" ucapnya tegas.
"bagus untukmu... tapi kamu harus ingat ini... Dunia tidak sebaik yang kamu pikirkan, terkadang melindungi juga berarti harus menghadapi sisi gelap dunia... menurutmu kamu bisa?"
"tak apa, aku yakin bisa melewati semuanya" gadis itu tersenyum tipis, merasakan sedikit dukungan dari Rome.
...
Sesampainya di desa, suasana tiba-tiba memunculkan sarat ketegangan, mereka berdua pun tak membuang waktu lebih lama dan mulai merencanakan strategi untuk menghadapi para Imp,
Rome memandang sekeliling desa yang sunyi, sosok para Imp mungkin bersembunyi di setiap sudut. "Bagaimana kita memulai?" tanyanya.
Tessa mengeluarkan peta desa. "Kita harus menyusuri area yang sering menjadi target para Imp itu. Kita bisa memulai dari sana dan bekerja menuju inti masalahnya."
Dengan peta desa sebagai panduan, mereka melangkah dengan hati-hati ke jalanan sempit desa. Kabut tipis mulai menyelimuti sekitar, menciptakan aura misterius di udara.
Saat mereka mencapai pertigaan, Tessa merasa adanya kehadiran yang mengintai. Rome yang waspada segera menarik pedangnya, siap untuk menghadapi ancaman yang mungkin muncul. Tessa memandang sekelilingnya dengan mata tajam, mencoba mendeteksi keberadaan musuh.
Tanpa aba-aba, serangan tiba-tiba terjadi. Para Imp muncul dari bayang-bayang, memenuhi udara dengan suara desingan besi. Rome dan Tessa bergerak bersama, saling melindungi satu sama lain dalam pertempuran sengit.
Dalam sorot mata yang penuh determinasi, mereka mulai melihat sosok dari penyerang,
...
'oi oi... bukankah yang meneror desa para Imp?... Apa-apaan ini?'
"Tessa... Bukankah makhluk-makhluk ini terlalu besar untuk disebut Imp?"
Sedangkan gadis yang diajak berbicara tersebut terdiam serta membelalakkan matanya terkejut,
"Tessa?..."
...
'sial...'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Riezki Arifinsyah
ceritanya mirip ERAGON
2024-11-21
0