Kapal meluncur dengan kecepatan konstan melintasi samudra, sementara siluet pelabuhan perlahan memudar di kejauhan, seolah-olah menyembunyikan diri di balik cakrawala. Sedangkan beberapa penumpang mulai bergerak ke dek, mencari tempat untuk beristirahat.
Rome bersandar di haluan, merenung sambil menikmati hembusan angin laut yang lembut menyapu wajahnya. Sesekali, Ia melemparkan pandangan singkat kepada para kru kapal yang sibuk bergerak kesana-kemari dengan urusan masing-masing.
Di sampingnya, ada seorang gadis kecil bernama Mei yang menundukkan kepalanya, Ia berupaya keras untuk memulai obrolan dan berkenalan dengan sosok bodyguard-nya.
"..."
Namun, mulutnya seakan terkunci rapat, tidak selaras dengan apa yang ingin dikatakan di dalam hatinya. Gadis itu memang pemalu, selalu gugup saat bertemu orang asing pada pertemuan pertamanya. Meski begitu, dia terus berupaya untuk berubah setiap harinya.
Mei sesekali mencuri pandang kearah sang pemuda dengan hati-hati, mengutuk dirinya sendiri karena tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sejenak, dia berhenti berusaha, memilih untuk menikmati keindahan hamparan laut yang luas, dan menarik napas udara segar sebanyak mungkin.
Saat merenung, Rome tiba-tiba teringat oleh sesuatu. Dengan cepat, ia memeriksa barang kirimannya yang Ia letakkan di dalam tas. Menemukan barang itu masih utuh di dalamnya, Rome menghela nafas lega.
Rome menyadari bahwa sang gadis kecil masih terdiam, memandangi hamparan laut. Terlintas dalam pikirannya bahwa gadis itu mungkin merasa takut padanya tanpa Ia sadari. Dengan keinginan untuk berinteraksi, ia meraih dan menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.
"Hei, ngomong-ngomong... dimana tepatnya kamu tinggal?"
Gadis itu sedikit terkejut saat Rome menyentuh pundaknya dan mengajaknya berbicara. "K-kekaisaran Yin, tepatnya di ibukota," jawabnya dengan gugup, lalu melirik malu-malu ke arah pemuda itu.
Rome sudah lama tidak mengunjungi wilayah tersebut, sehingga ia lupa beberapa detail tentang Lung Xin. "Aku melihat kamu tidak membawa barang bawaan. Apa tertinggal?" tanyanya, mencoba mencairkan suasana.
Mei menggeleng pelan, "s-saya memang tidak membawa barang apapun ke Vediach..."
Hal ini membuatnya bingung. Mengapa seorang gadis kecil melakukan perjalanan ke negeri yang jauh tanpa membawa barang sedikit pun? Mengapa dia bisa tertinggal dari rombongannya, dan apakah rombongannya sebegitu cerobohnya sehingga meninggalkan gadis kecil ini?
Rome merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan asal-usul gadis di sisinya itu, namun setidaknya dia bersama dengannya sekarang. "Oh ya, kalau boleh tahu apa sebenarnya tujuanmu ke Vediach?" tanyanya dengan sopan.
Mei diam sejenak, terlihat bingung, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Rome, "I-itu... ah, membeli rempah-rempah... ya, membeli rempah-rempah! Saya sudah biasa berpergian kesana kemari untuk hal itu!"
"T-tetapi sayangnya saya tak mendapatkan apapun kali ini karena ulah b-beberapa orang yang mengejar saya..."
Gelagat aneh gadis itu membuat Rome menaikkan sebelah alisnya, "Begitu ya? Apakah keluargamu membuka sebuah klinik atau restoran semacam itu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
"O-orang tua saya memiliki bisnis makanan di ibukota, jadi setiap sebulan sekali saya ikut rombongan pedagang yang berpergian mencari rempah-rempah langka," jelas Mei dengan canggung.
"Jadi kamu berpergian seorang diri mengikuti rombongan pedagang itu?"
Gadis itu mengangguk yakin, dan tersenyum gugup, "i-itu benar..."
Rome dibuat kagum dengan gadis itu. Meskipun masih anak-anak, dia berani melakukan perjalanan jauh untuk membantu orang tuanya. Selain itu, tampaknya dia juga cerdas, terlihat dari ketangkasannya meminta pertolongannya saat Ia dikejar.
Mencurigai gadis itu rasanya tidak pantas setelah mendengar penjelasannya. Rome berusaha untuk tidak membentuk pemikiran negatif tentangnya, namun tetap waspada untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan saat mereka berdua sampai di Lung Xin.
"A-anu... Kalau saya boleh tahu kakak pergi ke Lung Xin untuk apa?..." tanya Mei sedikit gugup,
"Hm? Oh, aku ingin mengantarkan sebuah barang pada seseorang disana, kenapa?"
Mei menggeleng kecil, "T-tidak ada apa-apa... Saya hanya penasaran..." Gadis kecil itu kemudian memalingkan pandangannya ke arah lautan, memberikan jeda pada pembicaraan mereka.
Pasang laut masih terasa tenang selama ini, membuat Rome dan Mei merasa nyaman. Sang pemuda kemudian menoleh ke arah gadis kecil di sampingnya, melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mei... Kamu tak usah sungkan kepadaku, kita bisa buang formalitas itu dan sedikit mengakrabkan diri, bagaimana?" ucap Rome dengan tersenyum kecil,
Gadis itu menoleh, dan diam sesaat, tak lama kemudian ikut tersenyum, "baiklah, a-aku akan mencobanya... Maaf jika aku merepotkanmu"
"Santai saja, itu lebih baik..."
Percakapan kembali terjeda, mereka berdua memberikan ruang untuk ketenangan masing-masing. Tanpa disadari oleh Rome, Mei mencoba untuk menjadi lebih terbuka dengannya, meskipun sangat sulit bagi gadis itu melakukannya.
...>>>...
Beberapa waktu berlalu, matahari perlahan terbenam seiring perjalanan mereka berdua yang terus berlanjut. Para awak kapal berganti shift mereka masing-masing, sementara para penumpang mulai beristirahat di kabin-kabin kosong yang telah disediakan oleh kapten kapal.
Tak luput pula Rome dan Mei yang berjalan menyusuri dek kapal. Rome terlibat dalam percakapan dengan beberapa awak kapal mengenai perjalanan laut mereka. Ia mengetahui bahwa rute yang diambil kali ini tidak seperti biasanya, karena cuaca terhalang oleh badai.
Sementara Mei mengikuti alur pembicaraan dengan diam mendengar, tidak lama setelah Rome berbincang, ia mengajak gadis di sampingnya memasuki sebuah kabin yang tersedia tak jauh dari mereka berdua.
"Mewah juga kapal ini..." ucap Mei masih terperangah dengan tampilan dalam dari kapal yang mereka tumpangi,
Rome tertawa kecil melihat tingkah lucu gadis itu, "apa kamu tak pernah menaiki kapal eksklusif sebelumnya? Ini memang tipe kapal terbaik yang dimiliki kerajaan Loxis"
Mei membalas dengan anggukan kecil, "p-pernah... Tetapi mau bagaimana pun aku masih kagum melihat arsitekturnya... Tidak semewah kapal Kekaisaran pribadiku tapi patut aku akui bahwa ini memang mewah"
"Kapal kekaisaran... Pribadi mu?"
"Iya... Ah! M-maksudku kapal elit dari Lung Xin! Y-yah itu maksudku, kapalnya memang tak semewah yang aku jumpai di Lung Xin haha...ha..." Gadis itu entah kenapa gugup seketika
Rome mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh gadis tersebut, "jadi... Kapal dari Lung Xin lebih mewah daripada yang kita naiki ini?"
"I-itu benar, tapi mungkin itu preferensiku saja, dan mungkin juga k-karena budaya kita yang berbeda"
Rome sedikit tertarik dengan kata-kata Mei sebelumnya, tetapi Ia kemudian memutuskan untuk menghiraukannya, lantas merapikan tempat tidur kecil di ruangan tersebut.
"Kamu tidur disini, aku akan menyiapkan alas untukku" ucapnya sembari meraih sebuah matras dari dalam tas yang di bawanya,
Wajah gadis itu terlihat kaget, "k-kenapa bukan kakak saja yang tidur disana? A-aku bisa tidur bersandar di bawah kok..."
"..."
"Apa yang kamu ucapkan? Seorang pria dewasa membiarkan anak kecil tidur di lantai sedangkan dirinya sendiri tidur nyenyak di kasur empuk?... terdengar tidak pantas untukku"
Wajah Mei memerah malu, Ia kemudian menundukkan kepalanya dengan cepat, "m-maaf..."
"Aku akan keluar menyusuri kapal sebentar, kamu tidak keberatan kan jika aku meninggalkanmu sendirian di kabin ini?"
"Tidak masalah kok, s-setidaknya aku bisa beristirahat disini" ucap Mei dengan tersenyum simpul,
"Hn, aku akan segera kembali " Rome kemudian melangkah keluar dari kabin dan menutup pintu kabinnya, meninggalkan Mei seorang diri disana,
"..."
Gadis itu melihat sejenak ke arah pintu ruangannya, sebelum membaringkan tubuh mungilnya di kasur yang empuk. Dibarengi dengan helaan nafas panjang, ia menatap atap kabin itu dengan tatapan letih.
Mei kemudian merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku dan pegal. Ia bisa melepaskan kelelahannya sejenak setelah berlari dari pengejarannya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, tetapi tatapan sayu yang dimilikinya menandakan bahwa ia sedang murung.
Matanya kemudian sedikit berkaca-kaca, mengingat hal-hal yang telah Ia lalui dalam hidupnya. Merasa letih dan stres, mengakibatkan dirinya perlahan merasa mengantuk. Tetapi sayangnya ia belum ingin tidur.
Mei mengusap lembut air matanya. Dia baru sadar bahwa dia sangat haus, tak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain menunggu Rome kembali ke kabin mereka. Dan sialnya, dia sendiri tidak membawa barang bawaan apa pun.
'Ini semua sebab pangeran bodoh itu... Memang tak tahu diri... Aku sangat membencinya!' tubuh gadis itu kemudian meringkuk, mencoba untuk menghangatkan tubuhnya di malam yang dingin.
Ia mengeratkan kepalan tangannya, giginya bergemeletuk menahan dingin, 'dingin... Aku juga haus... Aku tidak suka ini... Aku ingin cepat-cepat pulang...' Ia hanya bisa mendesah lemah menunggu Rome kembali.
...
Tempat para kru kapal sedang ramai, mereka beristirahat dan bersenda gurau bersama. Rome yang kebetulan lewat di sekitar situ pun berbincang dengan salah satu dari mereka.
Dengan lihai, Rome menggali informasi-informasi penting dari mereka yang dapat diambilnya. Dan kepiawaiannya dalam bersosialisasi membuatnya semakin mudah melakukannya.
Beberapa informasi yang sudah dihimpun oleh Rome dari para kru kapal antara lain adalah, bahwa benua Uriye, tepatnya pada kerajaan Ybaogan sedang mengalami masa kekacauan. Raja mereka telah lengser dari tahta, dan rumor beredar bahwa ada pihak yang sengaja menciptakan perpecahan di antara mereka, yang mengakibatkan terjadinya perang saudara yang besar-besaran.
Kemudian, di benua Yamato, ras Oni perlahan-lahan mulai menguasai setengah wilayah Keshogunan Kawahara. Membuat ras manusia dan yokai di sana berjuang mati-matian untuk melindungi daerah Keshogunan tersebut.
Dan satu lagi, di benua Maghdad, terdapat banyak Ghoul yang berkeliaran dan menculik anak-anak serta wanita. Meskipun tidak diketahui apa yang menyebabkan peningkatan populasi dari para Ghoul tersebut, Kesultanan Al-Fajjah berkomitmen untuk melakukan penghapusan massal terhadap makhluk-makhluk predator tersebut.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada dunia akhir-akhir ini,' pikirnya
Dengan begitu, Rome berterima kasih kepada para kru kapal sebelum melangkah menjauh dari mereka. Ia melanjutkan penelusurannya dengan tujuan memastikan bahwa tidak ada pengejar Mei yang berhasil menyusup.
Lorong yang dilewati oleh Rome mulai sepi, para penumpang tidur di kabin masing-masing, hanya cahaya rembulan dan suara ombak laut yang menemaninya. Rome melirik kabin-kabin yang dilewatinya dengan perasaan yang tidak enak. Meski begitu, ia tetap melangkah tenang menelusuri lorong tersebut.
Syuuutt!
Sebuah belati tiba-tiba melesat ke arahnya. Dalam kegelapan yang agak menyelimuti, Rome tidak menyadarinya sebelum bilah pisau itu terpantul cahaya bulan. Setelah melihat kilatan logam yang mengarah padanya, dengan sigap ia meliukkan tubuhnya menghindari belati misterius tersebut.
Disaat belati itu tertancap secara acak di dinding kapal. Pemuda itu seketika bersiaga, menarik pedangnya dari sarung kemudian mencoba mencari sosok yang ingin mencelakainya.
Tapi sebelum ia menyadari lokasi pelaku, tendangan keras dari belakang mengarah tepat pada punggungnya. Rome terlempar agak jauh, tetapi untungnya ia bisa mengontrol tubuhnya, mengurangi efek hantaman pada dinding yang ditabraknya.
Sosok itu akhirnya terlihat, dari postur tubuhnya sudah jelas dia adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, Ia memakai sebuah jubah hitam bertudung dengan setengah wajahnya yang Rome bisa lihat dengan samar-samar.
"Apa mau mu?" mata Rome memicing tajam, menyiapkan kuda-kuda bertarungnya,
"... Serahkan gadis yang ikut bersamamu... Ada dimana dia sekarang?" Cetus pria itu sembari menarik sebuah pedang dari sarung di pinggangnya,
"Aku tidak suka nada bicaramu keparat... Kenapa kau tidak cari saja dengan mata kepalamu sendiri?" Rome kemudian melesat tanpa aba-aba, menyerang pria berjubah dihadapannya dengan tebasan kuat dari pedang besarnya,
Trrang!
Tetapi, pria berjubah itu berhasil menahan tebasan Rome dengan terampil, "tak masalah jika kau tak mau bicara... akan aku pastikan kau akan membuka mulutmu nanti"
"Hn, mari kita lihat siapa yang lebih dulu berada enam kaki di bawah"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments