Ch 16 : Kabur Dari Kejaran

DUMM!...

DUMM!...

DUMM!...

...

"itu sepertinya bukan pertanda baik..."

Suara bergema dengan getaran samar terdengar dari kejauhan, seolah langkah raksasa mendekati. Rome dengan cepat memberikan tepukan ringan pada bahu Mei, memperingatkannya untuk segera meninggalkan desa ini.

Mei seketika tersadar, kemudian mempercepat langkahnya sembari membopong tubuh Rome, "apa yang sebenarnya terjadi di desa ini!?"

"Kita bisa cari tahu soal itu nanti saat kita keluar dari sini, yang penting kita harus kabur terlebih dahulu"

Mei melangkah tegar menuju kereta kuda yang terparkir agak jauh, mengabaikan rasa ketakutannya. Suara langkah raksasa disertai auman mengerikan yang menusuk telinga, membuat Rome melirik ke belakang dengan perlahan. Terkejut melihat apa yang terjadi di belakangnya.

Sebuah makhluk humanoid besar muncul dengan kapak raksasa tergenggam erat di tangannya. Matanya berkilat ungu, gigi-giginya yang tajam terlihat bersama dengan tetesan air liur yang mengalir. Kulitnya pucat abu-abu, tubuhnya gendut, dan banyak luka sayatan yang menganga menyeramkan tersebar di seluruh tubuhnya.

GRROAARR!!!

Mei mulai berlari spontan, sementara Rome dengan sigap mengimbangi kecepatan gadis itu saat Ia dibopong olehnya. Di belakang mereka, para mayat hidup mulai mengikuti makhluk raksasa, semakin mendekati Mei dan Rome. Bahkan lebih buruk, mereka tampak sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

"G-gawat! Mereka cepat!" Teriak Mei sedikit ketakutan melihat hal tersebut,

...

"Mei, kita tidak akan sempat... Kita harus menghadangnya"

"A-apa? Kakak kan kelelahan, aku belum tentu bisa menang sendirian melawan mereka yang sebanyak itu"

Rome kemudian sedikit mendorong gadis itu agar Ia bisa berdiri sendiri, "Aku rasa aku sudah pulih... Setidaknya aku bisa sedikit membantumu menghadapi gerombolan itu," ujarnya sambil mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.

GRAARR!!

Sang raksasa tiba-tiba memutar kapaknya dengan tajam sebelum menghunusnya dan meluncur menuju Rome dan Mei. Mei merasa sedikit bimbang menghadapi keputusan yang tiba-tiba dari Rome, dia khawatir jika Rome tidak mampu bertarung, dan mereka berakhir terjebak di desa ini.

"Aku tahu kamu berpikir negatif saat ini Mei... Singkirkan itu sejenak, dan hadapi dengan keberanianmu"

Gadis itu melirik kearah pemuda disampingnya, Ia mengigit bibir bawahnya sebelum mengangguk perlahan. "Baiklah... Aku hanya ingin kakak tidak memaksakan diri..."

Rome tersenyum lembut, sebelum menyiapkan pedang besarnya ke depan. "Meski kita bisa kabur... Aku punya firasat kalau pria besar itu akan merepotkan, lebih baik kita membuatnya mundur saat ini ketimbang nanti di perjalanan"

Mei mengangguk merespon, Ia lalu mengumpulkan energi Qi yang terpusat pada kedua telapak tangannya, "sebenarnya makhluk apa mereka itu?... Mereka tidak seperti monster di Lung Xin pada umumnya"

"Undead... Dan yang besar itu... aku bisa asumsikan bahwa dia adalah mutant... Mereka sering kali muncul tepatnya di benua Vediach dan Uriye, dan jika mereka akan menyerang, mereka pasti akan terlihat bersama"

"... Apa yang kira-kira membuat mereka sampai ke sini?"

"ini juga yang membuatku heran sebenarnya"

"Jadi mereka bukan Jiangshi ya?... Kupikir mereka salah satunya"

"Apa itu?..."

"Ah, seperti Vampir tapi mereka berjalan dengan melompat-lompat..."

Rome tidak bisa merespon hal itu, jadi ia langsung mengambil posisi bertarung dengan pedang yang sudah Ia pegang erat ke depan. Mendadak, salah satu mayat hidup muncul di depan mereka, dan dengan cepat mengayunkan cakarnya menuju Mei.

Sebelum Rome bisa menepis dengan pedangnya, Mei tiba-tiba memukul langsung ke dada mayat hidup tersebut dengan Qi yang telah terkumpul di kedua tangannya. Serangan itu pun membuat mayat hidup tersebut mundur seketika, lalu menabrak rekan-rekannya yang lain.

...

Rome terperangah sejenak, "W-woah... Kamu bisa menggunakannya seperti itu ya?" Ia lalu mengayunkan pedangnya dengan cepat, menghadang beberapa mayat hidup yang ingin menggigitnya. "kamu juga bisa bela diri?

Mei mengangguk mengiyakan, "kebetulan guru ku juga seorang praktisioner... Jadi aku beruntung bisa belajar darinya"

"Kurasa tidak ada hal yang tidak bisa kamu lakukan saat ini, Mei" canda Rome sembari menghadang beberapa gerombolan mayat hidup selanjutnya.

Sementara Mei dengan anggun menyerang titik-titik vital mereka kemudian menghempaskan mereka ke udara sebelum membuat mereka mundur agak jauh. "Tentunya ada hal yang tidak bisa kulakukan kak, aku juga manusia" jawabnya dengan bercanda.

GRROAARR!!!!

Sang mutan seolah dihiraukan kesal, Ia mulai melesat menyerang kapak besarnya yang Ia ayunkan kepada dua manusia dihadapannya,

"Awas!"

BLARR!!

Rome berhasil menghalangi Mei dari jarak serangan sang mutant, sehingga kapak besar sang mutant menancap di tanah dengan suara berdentam. "baiklah, kita beri pria besar ini sedikit pelajaran!" seru Rome sambil menebas cepat wajah mutant itu dengan pedangnya.

GRROAARR!!

Sang mutant terdesak ke belakang, mencoba menghindari serangan-serangan bertubi-tubi dari Rome. Namun, Rome tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Dengan lincahnya, ia terus menyerang dengan kecepatan dan ketepatan yang memaksa sang mutant bertahan dengan susah payah.

Mei, yang berada di belakang, mencoba mencari celah untuk membantu. Ia mengambil kesempatan ketika mutant itu menahan serangan dari Rome. Dengan Qi yang Ia sudah siapkan, ia melepaskan energi terpusat yang tepat mengenai sisi tubuh mutant tersebut, menyebabkan rasa sakit yang membuyarkan konsentrasi sang mutant.

"Bagus Mei!"

Ketika sang mutant telah terdistraksi, Rome melihat kesempatan emas. Dengan serangan yang tajam dan mantap, ia memotong bersih sebelah kaki lawannya yang terjatuh ke tanah.

GRROAR!!!

Mutant itu meraung kesakitan, Ia sesekali mengayunkan kapaknya pada Rome dengan acak. Sementara Mei melihat hal itu mengarahkan pandangannya pada gerombolan mayat hidup yang masih tersisa, "mereka pasti akan bangkit lagi, jadi..."

Gadis itu kemudian mengarahkan kedua tangannya kedepan, "Buddha palm breakthrough!!"

BAM!!

Mei melepaskan sebuah cahaya terang berbentuk telapak tangan raksasa, yang menghempaskan seluruh musuhnya, memancarkan mereka jauh dari posisinya.

Rome tersenyum miring saat Mei melakukan aksinya, Ia kemudian menatap sang mutant yang masih tersungkur di tanah mencoba untuk meraihnya, tetapi mutant tersebut terus mencoba melawan dengan gigi dan kuku miliknya, memperlihatkan kekuatan yang luar biasa meskipun kaki sebelahnya telah putus.

"Kenapa dia tidak beregenerasi?"

"Dari yang aku tahu... Mutant memang rentan terhadap serangan berkelanjutan karena proses regenerasinya yang jauh lebih lambat dibandingkan dengan Undead biasa... Tapi kelemahan itu terbayar dengan kekuatan dan daya tahan tubuh yang luar biasa, kamu bisa lihat sendiri" jelas Rome, sambil menancapkan pedangnya pada sang mutant yang masih menggeliat, menghentikan gerakannya seketika.

UUurrgh...

...

"sudah cukup, ayo kita pergi dari sini mumpung Ia tak sadarkan diri sementara" Rome kemudian cepat-cepat menyarungkan pedangnya kembali.

Mei mengangguk paham, dengan sigap ia kembali membopong Rome dan memulai langkah menjauh. Tak berapa lama setelah mereka berjalan, mereka tiba-tiba dihadapkan oleh sosok sang kusir yang menjemput dengan kereta kuda. "Mari tuan, nona! Kita segera pergi dari sini!" serunya.

"Dengan senang hati, terima kasih tuan!" ucap Mei seraya bergegas menaiki kereta kuda, lalu perlahan menyandarkan Rome di tempat duduk. Setelah semuanya siap, sang kusir memacu kuda-kudanya dengan kecepatan penuh untuk menjauh dari desa tersebut.

....

Mei perlahan menyadari sesuatu yang nyeri di area bahunya, Ia sedikit terkejut setelah melihat luka cakaran di sana. "A-aw... Sepertinya salah satu dari mereka melukaiku..."

"Sebaiknya nona mengikatnya dengan perban steril, penting untuk menghindari pendarahan dalam, sayangnya saya tak membawa bekal perobatan tersebut" sahut sang kusir dari depan yang mendengar gumaman Mei.

"Ah, sepertinya kakak saya punya, kak Rome aku minta perbannya ya?" Ia lalu dengan cekatan mengambil sebuah perban yang ada di tas Rome, kemudian mengikatkannya pada luka di bahunya.

"Ada apa Mei? Kamu terluka?" Rome sedikit bingung dengan aksi gadis itu, Ia kemudian melihatnya memperban sebelah bahunya. "Tunggu, aku punya obat oles dari dokter wanita yang merawatku di kapal" Rome lantas mengambil sebuah kaleng berisi obat yang Ia maksud.

"Kamu pakai ini dulu seharusnya... ini, buka dulu perbannya" Mei menuruti apa kata Rome, Ia kemudian melepaskan perbannya setengah, lalu mengoleskan obat pemberian dari Rome itu ke bahunya.

Akhirnya, mereka berhasil keluar sepenuhnya dari desa yang dipenuhi mayat hidup tadi, dan suasana lega pun menyelimuti mereka. Melihat hijaunya padang rumput membuat Mei bersyukur telah meninggalkan desa terkutuk itu.

...

"Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lung Xin sejak aku meninggalkannya..." bisiknya. "Semoga saja tidak ada hal-hal seperti ini lagi diperjalanan kita nanti..."

"Hn, kamu benar..."

...

"Lihat, gerbang perbatasan sudah terlihat"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!