Sudah beberapa waktu berlalu, pertarungan masih terus berlanjut. Rome yang entah bagaimana masih melawan para makhluk jahanam yang terus bangkit meskipun tubuh mereka terpotong kecil-kecil, regenerasi mereka dirasa sangat merepotkan bagi Rome, karena cepatnya tubuh mereka bersatu kembali dalam waktu tak kurang dari empat detik.
"Menyingkir dariku!" teriaknya kesal saat salah satu dari mayat hidup tersebut mencengkram kuat pergelangan kakinya,
Rome kemudian menusuk kearah organ vital mayat hidup tersebut beberapa kali, yang akhirnya Ia bisa lolos. Tetapi kerumunan mayat hidup masih terus berusaha untuk mengejarnya, Ia melakukan taktik Hit and Run untuk mengelabui mereka.
Setidaknya itu membuat pergerakan mereka melambat sesaat, meskipun beberapa waktu kemudian mereka bergerak kembali dengan kecepatan mereka yang mengerikan. Rome berpikir keras antara berbalik ke kereta kuda atau bersembunyi di kediaman desa.
Ditengah-tengah kejar mengejar mereka, Rome yang tak sempat fokus beberapa saat, berbelok kearah jalanan sempit. Ia mengutuk beberapa kali setelah berhadapan dengan tembok yang memblokir jalan dihadapannya, para mayat hidup pun langsung menghadangnya untuk tidak kabur.
Alhasil, Ia terkepung dari dua arah tanpa jalan keluar. Rome mencoba untuk tenang, sembari membabat beberapa dari mayat hidup yang menyerang kearahnya, Ia beberapa kali mengamati sekitar, mencari celah untuk bisa keluar dari kepungan tersebut.
'sial...'
Tapi naas, Ia tak menemukan satu pun celah untuk bisa keluar, dinding tembok disana juga terlalu tinggi untuk Ia panjat serta lompati. Ia tak percaya kalau Ia akan mati konyol seperti ini, rasa lelah kembali menghantuinya, pandangannya kabur, serta pegangannya pada pedang yang Ia percaya mulai melonggar.
Kakinya yang lemas membuatnya terjatuh di lututnya, dengan nafas tersengal-sengal, dia bergumam pada dirinya sendiri, "Ini harus jadi lelucon terbesar yang pernah aku alami." Matanya melintas dari satu mayat hidup ke yang lain,
mencari celah untuk meloloskan diri dari situasi kacau ini. Dia meraba-raba saku celananya, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya, tapi yang dia temukan hanyalah kantong kosong.
Rome pun tertawa kecut, "benar-benar situasi yang buruk untukku..." Ia perlahan merangkak mundur meskipun Ia tahu tidak ada hal yang bisa Ia lakukan sekarang. Geraman dan erangan terdengar ke telinganya, para mayat hidup itu mendekatinya dengan tatapan bengis.
"Mungkin inilah memang akhirnya..." Kerumunan mayat hidup tersebut pun menyerangnya,
GREOARR!! GGRROO!! GRRAAAA!! GGRHRG!!
...
Drapp!!
"Sea Wave Breakthrough!!"
ZUOORRR! BLARR!!!
Rome mendengar sebuah suara seorang gadis, sebelum terkejut saat melihat beberapa volume air menerjang para mayat hidup yang hampir menyerangnya. Ombak air mini tersebut menyeret mereka keluar dari jalan sempit tersebut seraya menenggelamkan mereka agar tak bisa bernafas.
"Sihir?... Tapi siapa?..." Matanya memandang ke depan, dimana ombak mini tersebut menggerus para mayat hidup tersebut dengan kejam.
...
Rome menyarungkan pedangnya kembali, kemudian dengan cepat kabur dari sana setelah Ia merasa ombak tersebut mulai menyebar luas. Ia berlari menjauh, memaksakan tubuhnya yang kelelahan ke titik maksimal, dengan sesekali melihat kebelakang untuk memastikan.
Ditengah-tengah pelariannya menuju kereta kuda, Ia tak sengaja melihat sosok bersurai ungu berdiri diatas salah satu rumah, yang Ia bisa simpulkan adalah perapal sihir air dahsyat sebelumnya, dan yang membuatnya lebih terkejut adalah, Ia mengenalinya.
"Mei!?" Gadis yang dipanggil pun menoleh kearahnya, kemudian tersenyum sumringah, Sementara Rome terperangah. "Dia merapal dari atas sana?..."
Selang beberapa lama kemudian, gadis itu melompat turun dari atap rumah yang dipijakinya, menghampiri Rome, "kakak baik-baik saja? Syukurlah, aku tepat waktu" ucapnya ceria, tak merasa bahwa faktanya Ia telah menyelamatkan Rome dari maut.
Rome, meskipun lelah, tidak bisa menahan senyumnya saat melihat tindakan gadis itu. Ia meraih pelan rambut ungu sang gadis sambil tertawa kecil. "Kamu benar-benar menyelamatkanku hari ini, Mei. Aku sangat berterima kasih."
Mei tersenyum malu-malu, "A-ah, tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan sejak tadi."
Rome mengangguk, "Tapi itu sangat membantuku. Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, intinya kamu sungguh hebat, Mei."
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan polos, "sungguh, tidak perlu berterima kasih kak. Aku sudah senang bisa membantu..." katanya dengan senyum lembut, membuat Rome menghela nafasnya sesaat.
"..."
"Jadi... Apa itu tadi?"
"Hm? Apanya?" Mei bertanya balik,
"Yang tadi, sihir air itu... Itu kamu kan?"
Mei pun mengerti apa yang dimaksud oleh Rome, Ia mengagguk mengiyakan. "Yap, itu benar"
"Aku lihat kamu sangat ahli mengendalikan aliran mana milikmu, ombak air itu terlihat sangat mematikan, kamu tahu?" Rome benar-benar tak percaya bahwa gadis pemalu dihadapannya mampu melakukan sesuatu hal yang luar biasa seperti tadi.
Mei menggeleng pelan, "lebih tepatnya Qi, aku mengendalikan Qi dalam diriku untuk menghasilkan fenomena imajinatif yang disebut sihir Tao," jelasnya sambil menunjukkan gerakan tangan yang halus.
"Ini bukan sekadar kekuatan supranatural, tapi lebih seperti mengarahkan aliran energi yang ada di dalam tubuh kita untuk menciptakan efek yang diinginkan. Misalnya, dengan fokus dan meditasi, aku bisa memanipulasi elemen alam atau bahkan mempengaruhi keadaan pikiran orang lain."
Ia lalu tersenyum, "Ini seperti seni atau keterampilan yang dapat dipelajari dan dikuasai dengan latihan dan pemahaman yang tepat, sedikit mirip dengan sihir yang dilakukan oleh orang-orang Vediach sih, tapi juga berbeda" Lanjutnya.
Mendengar kata Tao sangat asing di telinga Rome, Ia berasumsi bahwa itu adalah ilmu tradisional dari Lung Xin, "sangat praktis, tapi juga rumit... Apa kamu sudah berlatih sejak dini?"
"Iya, aku dituntut berlatih untuk menjadi pewari- m-maksudku untuk bertarung bila keadaan terdesak seperti ini..."
Rome pikir Ia salah mendengar kalimat dari Mei, tapi Ia kemudian hiraukan. "Aku sedikit tertarik dengan Tao yang kamu bicarakan itu, menurutku lebih praktis dari pada menggunakan mana dari luar tubuh kita untuk menggunakan sihir, bukan begitu?"
"Itu ada benarnya, Tao memang lebih mementingkan fleksibilitas dan efektivitas... meskipun begitu, Tao juga sulit untuk dipelajari"
"Yah... Tidak ada yang instan dalam kehidupan ini, itu wajar sih..." Mei mengangguk setuju, menyadari bahwa kemampuan sihir Tao memang membutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk dikuasai.
"Meskipun butuh waktu dan usaha," ucap Mei menjeda kalimatnya sambil tersenyum, Ia menatap langit keatas. "tapi proses belajar dan berkembang juga bagian dari kesenangan dalam mempelajari suatu hal, bukan?"
Rome melirik gadis disampingnya seraya tertawa kecil, kemudian memberinya sentuhan lembut pada kepalanya. "Lihat dirimu, masih kecil sudah pandai. Ini pertama kalinya aku bertemu anak yang cerdas sepertimu"
Seketika muncul rona tipis di wajah Mei setelah mendengar itu, "t-terima kasih..."
"..."
Mei baru menyadari, bahwa Rome berjalan dengan menyeret, Ia pun merutuki dirinya dalam hati yang tak mengetahui kondisi Rome lebih awal. "ya ampun kak Rome, aku lupa kakak kelelahan, sini kubantu" Ia dengan segera membantu membopong tubuh Rome agar tak terjatuh,
"Ini bukan apa-apa, tapi terima kasih..."
"Hampir sampai... Pak kusir sedang menungg-"
DUMM!...
DUMM!...
...
...
"A-apa itu?..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments