Sinar cahaya memaksa masuk disela-sela lubang yang ada di kabin, menandakan pagi telah tiba, sejenak sosok pemuda yang berbaring di kasur sedikit menyerngit di tengah-tengah mimpi indahnya, tak lama kemudian Ia sedikit menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
Matanya perlahan terbuka, cahaya yang tadinya remang-remang perlahan menyinari seluruh ruangan tersebut, dengan setiap serat tubuhnya yang masih terasa lelah, pemuda itu mengulurkan lengannya ke arah cahaya yang menyelinap masuk melalui celah-celah kabin.
Semangatnya yang tadinya terpendam mulai merebak seiring dengan cahaya yang membanjiri ruangan itu. Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, ia bangkit dari tempat tidurnya, cahaya matahari menyapu setiap sudut, memberikan rasa kehangatan dan kelembutan.
Rome menghela nafas dalam-dalam, merasakan kesegaran semilir udara laut yang memasuki paru-parunya. Dengan gerakan lambat, Ia menoleh kearah salah seorang penghuni ruangan tersebut, kemudian tersenyum lembut.
'dia membiarkanku tidur di kasur... gadis ini...'
Sudah tiga hari mereka berlayar, tanpa Rome sadari hubungan mereka berdua semakin erat layaknya adik kakak sungguhan. Entah kenapa rasa tanggung jawab membuatnya semakin protektif dengan gadis kecil yang tertidur pulas di bawahnya.
Dilihatnya gadis itu sangat imut dan manis saat Ia tertidur lelap, Rome masih tersenyum lembut tanpa sadar membelai surai ungunya. Dipikir-pikir, Ia tak pernah merasakan menjadi seorang kakak, lagipula Ia juga seorang anak tunggal dari orang tua yang Ia tak pernah kenal, dan rata-rata anak-anak yang ada di pantinya dulu sebaya dengannya.
Selang beberapa lama Ia membelai surai milik Mei, Ia lalu berinisiatif untuk membangunkan gadis kecil itu,
"Hei, Mei... bangun...."
"..."
Ia beberapa kali menepuk pelan pipi Mei berusaha untuk membangunkannya tetapi juga tak ingin membuatnya tidak nyaman, tak lama kemudian perlahan kedua mata gadis itu terbuka, dan Ia mendapati Rome yang sedang tersenyum padanya.
"Selamat pagi kak..." Gadis itu membalas senyuman Rome sebelum menggeliat merilekskan otot-otot tubuhnya yang pegal,
"Kenapa tidak membangunkanku tadi malam, Mei?... Setidaknya kamu bisa tidur di kasur"
Gadis itu menggeleng kepalanya pelan, sembari mengusap matanya "kakak masih sakit kan?... aku tak mau luka kakak semakin memburuk..."
Rome tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu. Mei benar-benar menempel padanya. Luka-lukanya sebenarnya sudah tertutup sejak kemarin, berkat perawatan dari sosok ahli medis yang menyelamatkannya dari kehilangan banyak darah beberapa hari yang lalu.
"Aku sudah perlahan membaik... Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi kenapa kamu tidur dibawah itu yang membuatku tidak mengerti"
Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan posisi duduk, Ia kemudian menoleh kearah Rome, "aku tak tega, mau bagaimana lagi"
"Kamu ini-" gadis itu membuat Rome menghela nafas berat, "tetapi syukurlah, di hari-hari sebelumnya tidak ada satupun halangan, kita akan sampai pada tujuan dengan lancar kalau begini"
Ya, memang, beberapa hari yang lalu Rome tidak menemukan satupun sosok mencurigakan yang mencoba menyerang mereka berdua. Bisa dipastikan bahwa jika tetap seperti ini, mereka bisa sampai pada Lung Xin dengan lancar.
Entah kenapa wajah Mei berubah muram, dan Rome bisa melihat perubahan tersebut dengan jelas. Ia penasaran dengan apa yang ada di pikiran gadis kecil itu. Rome mencoba untuk menghiburnya dengan meletakkan tangannya di kepala gadis itu, kemudian dengan lembut mengelusnya.
"Ada apa Mei?... kamu terlihat sedih..."
Gadis itu sedikit kaget dengan sentuhan di kepalanya, "tidak, tidak ada apa-apa... Aku hanya sedang kepikiran"
Rome mencoba membaca ekspresi gadis itu dengan memandang wajahnya lebih lama, tapi nihil. Dia masih bingung tentang apa yang membuat Mei tiba-tiba menjadi muram. "Baiklah kalau begitu..."
"..."
Suatu hal terlintas di benak Rome, Ia pun kembali tersenyum lembut kearah Mei, "hei, bagaimana kalau kita sarapan?" Ajakan itu terucap dengan penuh kehangatan,
Mei merespons dengan cepat, mengangguk setuju atas ajakan Rome. Mereka pun beranjak keluar dari kabin menuju ruang makan kapal, langkah mereka seiring mengikuti irama ombak yang lembut. Suasana di atas kapal begitu tenang, menyelimuti mereka dengan kehangatan samudera yang biru.
Tak lama kemudian mereka berdua akhirnya sampai di ruang makan kapal, aroma makanan yang menggugah selera menyambut kedatangan Mei dan Rome. Lampu-lampu gemerlap menambah kesan magis di dalam ruangan yang elegan.
Mereka melangkah menghampiri jejeran makanan yang disediakan, siap untuk menikmati hidangan lezat, aroma makanan yang sedap menguar, memikat indra mereka sebelum mereka memilih. Rome kemudian tersenyum simpul, sembari melirik Mei yang matanya berbinar,
"Apa kamu ingin wonton seperti kemarin?..."
Mei menoleh sejenak, kemudian memasang wajah bingung, "mungkin aku akan mengambil beberapa lumpia daging, siomai dan ikan kukus sembari menyantap sup wonton, kalau kakak?"
Mata Rome sedikit melebar sebelum tertawa kecil, "bukankah itu terlalu banyak untuk sarapan, Mei? Aku tau hidangan-hidangan ini didominasi oleh makanan Lung Xin... tetapi sebaiknya kamu jangan berlebihan, bukankah begitu?"
Gadis itu sontak pipinya memerah, "m-maaf... Aku tiba-tiba rindu masakan rumah..."
"Tapi itu terserahmu, aku hanya tidak ingin kamu sakit perut karena terlalu banyak makan di pagi hari"
"Aku mengerti, aku akan mengambil secukupnya" gadis itu kemudian dengan cekatan mengambil piring dan mengambil hidangan-hidangan favoritnya yang tersedia.
Rome mencoba untuk memilih hidangan yang sekiranya Ia suka, hidangan yang disediakan benar-benar didominasi oleh hidangan-hidangan Lung Xin, jadi Ia sedikit bingung karena tak pernah satupun mencoba makanan khas tanah kelahiran Mei tersebut.
Pada akhirnya Ia memilih beberapa makanan, seperti ayam potong gong bao serta nasi haiman yang tersedia disana, melihat Mei sudah mengambil sarapannya, mereka berdua pun menuju meja yang disediakan di sekitar tak lupa juga dengan segelas penuh air serta minuman manis.
Duduklah akhirnya mereka, meletakkan hidangan yang telah mereka ambil di meja makan, dan sesekali melihat para penumpang lainnya yang juga menikmati sarapan mereka masing-masing, Mei tak menunggu lama meraih sumpit lalu menyatukan kedua tangannya.
"Selamat makan"
Rome sedikit familiar dengan gerakan yang dibuat oleh gadis didepannya itu, Ia jadi mengingat saat dimana ia berlatih di Yamato, orang-orang selalu melakukan hal itu sebelum mereka makan, ia pun juga terbiasa dulu sebelum melupakan tradisi yang dilakukan oleh guru serta teman-teman seperguruannya tersebut.
Tetapi Mei bukan penduduk Yamato, Ia jadi penasaran apa budaya Lung Xin dan Yamato hampir sama? sambil memikirkannya Ia meraih sebuah sendok yang ada di meja lalu mulai mengambil sesuap nasi yang kemudian Ia lahap.
Mei dengan lahap menyantap makanannya, tetapi tidak lupa mempertahankan keanggunannya sebagai gadis yang membuat Rome berpikir itu sedikit lucu, keduanya menikmati sarapan mereka dengan santai ditemani semilir angin laut yang menerpa.
...
Mei dan Rome terdiam sejenak, menikmati suara deburan ombak yang mengiringi sarapan mereka. Rome menghela nafas dalam, membiarkan dirinya tenggelam dalam kedamaian pagi itu. "Kamu terlihat senang, apa kamu menyukai hidangannya?" ucapnya sambil tersenyum pada Mei.
Sambil mengunyah dengan lahap, Mei memandang Rome dengan senyum tipis. "Kakak tahu, ini mungkin adalah sarapan paling nikmat yang pernah aku miliki, aku juga benar-benar rindu rasa ini" ujarnya sambil mengangkat sebuah siomai dengan sumpitnya.
"Perasaan kamu makan menu yang sama kemarin-kemarin, apa bedanya?" ucap Rome dengan sedikit menaikkan sebelah alisnya,
Gadis itu meneguk beberapa air sebelum menggeleng pelan, "bukan seperti itu, momen seperti ini yang aku inginkan dari dulu... Kakak tahu, orang tua ku sibuk mengurus restoran, jadi mereka mulai jarang menemaniku sarapan maupun makan malam sejak aku menginjak usia sepuluh tahun, jadi makan dengan kakak saat ini entah kenapa membuatku senang"
Rome tertawa ringan. "Benar juga. Terkadang aku penasaran betapa senangnya untuk menikmati momen seperti ini, aku juga tinggal sendirian... Jadi aku tak mengerti rasanya untuk makan bersama di rumah" Dia menatap ke arah laut yang tenang, merasakan sentuhan angin pagi yang lembut di wajahnya.
Mei menatapnya dengan bingung, "Hm? Jadi Kakak punya rumah sendiri?"
"Hn, begitulah..."
"Lalu kakak tak pernah pulang ke rumah keluarga kakak?"
"..."
Rome mengacak-acak surai Mei sembari tersenyum simpul, "Sayangnya, aku tak punya keluarga, kamu tahu, aku seorang yatim piatu..." ujarnya sambil mencoba menambahkan sedikit candaan untuk mengurangi kesan serius pembicaraannya.
"B-begitu ya?..."
Mei menatapnya dengan penuh simpati, menyadari betapa pentingnya dukungan dan kehangatan dari sosok keluarga. Setidaknya Ia tak pernah merasakan sendirian dan hampa tanpa keluarga yang mendukungnya, hal ini membuatnya sedikit sedih memikirkan betapa beruntungnya Ia dibandingkan dengan Rome.
"Tapi aku bersyukur memiliki beberapa teman yang selalu memperdulikanku di Loxis, meskipun mereka menyebalkan" tambah Rome sambil mencoba menyelipkan sedikit keceriaan, perlahan mengarahkan pandangannya ke sekeliling, menyoroti keramaian di sekitar mereka.
Mei tersenyum hangat setelah mendengar ujaran dari Rome, Ia kagum dengan bagaimana pria itu menyikapi kehidupannya dengan bijak meskipun Mei tahu, itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan pada umumnya.
Mereka kemudian melanjutkan sarapan mereka sampai habis dibarengi dengan obrolan serta candaan ringan yang menghilangkan kebosanan mereka.
Selesai menyantap habis makanan mereka, Rome membereskan beberapa alat makan agar pelayan tidak kerepotan membersihkan meja yang mereka pakai, pemuda pemudi itu kemudian berjalan kearah pembatas untuk melihat lautan yang terpampang jelas.
"Ahh~ kenyangnya~" gadis kecil itu tersenyum sumringah setelah menghabiskan makanannya, Ia lalu memandang langit biru yang terbentang luas,
Sedangkan Rome menyenderkan tangannya di salah satu pembatas besi, Ia kemudian mengarahkan pandangannya mengikuti jalur yang dilalui kapal, dan dari kejauhan Ia sudah bisa melihat siluet dari daratan, yang ia bisa asumsikan itu adalah pelabuhan Lung Xin.
Sudut bibirnya pun naik, Ia kemudian melirik kearah gadis kecil disampingnya, "lihat, kita sudah sampai..."
"Hm?" Gadis itu pun menoleh bingung, lalu ia arahkan pandangannya searah dengan Rome, "wah, benar!"
"Kalau begitu, ayo berkemas" Mei mengangguk spontan sebelum mereka bergegas kembali ke kabin mereka untuk mengemasi barang-barang agar tidak tertinggal saat mereka turun dari kapal nanti.
Sesampainya di kabin, mereka dengan cekatan saling bahu-membahu, membagi tugas dengan efisien. Rome mengumpulkan makanan yang tersisa dan perlengkapan lainnya sementara Mei merapikan barang-barang kecil milik Rome.
Di antara kesibukan mereka, obrolan kecil menemani. Seperti Rome yang bercerita tentang kenangan-kenangan manis masa kecilnya, menggambarkan momen-momen bahagia bersama teman-teman di panti asuhan tempat ia dibesarkan. Sedangkan Mei mendengarkan dengan penuh perhatian, tersenyum di antara cerita-cerita tersebut,
...>>>...
Beberapa lama kemudian, bunyi kapal yang nyaring terdengar, menandakan bahwa kapal telah sampai di tujuan. Mereka telah selesai mengemas, keduanya menatap sekeliling kabin yang telah kosong sebelum meninggalkan kabin untuk turun dari kapal.
Rome dan Mei bergabung dengan penumpang lainnya di dek kapal, yang sedang asyik berbincang dan mengantri untuk turun, sesekali Mei tersenyum ramah kepada beberapa orang yang melewati mereka. Sesaat setelah jangkar kapal diturunkan, tak lama kemudian jalan penghubung kapal dengan pelabuhan terbuka.
Masing-masing penumpang turun dari kapal dengan berurutan, tak luput juga dengan Rome beserta Mei, mereka melangkah turun dari kapal,
"Akhirnya, aku pulang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments