"Kita diserang"
STABB!
Sebuah anak panah melesat hampir mengenai kepala Mei, tetapi untungnya anak panah itu menancap ke sebuah karung beras milik sang kusir. Sementara Mei terkejut, Rome dengan cekatan menarik pedang besar dari sarungnya dan melakukan posisi siaga.
Ia memutar pandangannya pada sekeliling, kemudian perlahan turun dari kereta kuda dengan senjatanya yang terhunus. Ia bisa melihat samar-samar sekelibat bayangan mengintai mereka dari sela-sela rumah, mata tajamnya melirik kearah belakangnya sesekali, memastikan tidak ada yang menyerang kereta kudanya.
"A-apa ini rumor misterius yang ramai dibicarakan itu?" Ujar sang kusir ketakutan,
Mei menolak untuk mempercayainya, tetapi jika rumor itu memang ternyata benar, mereka benar-benar dalam bahaya. Rome kemudian sengaja melempar beberapa batu ke berbagai arah, memancing sosok-sosok penyerang yang masih bersembunyi yang entah dari mana.
"Apa tuan pernah melihatnya sebelumnya?" Sang kusir menoleh kearah Mei, Ia meneguk ludahnya kasar, lalu menggelengkan kepalanya,
"B-belum... Sejauh ini belum... Saya hanya mendengar rumornya saja dari para rekan-rekan saya... T-tetapi saya bisa simpulkan dari berita-berita yang ada di Lung Xin akhir-akhir ini... K-keberadaan mereka mungkin benar-benar ada..."
Syuut...
Beberapa anak panah tiba-tiba kembali melesat mengarah kearah kereta kuda, tetapi hampir sejengkal anak panah itu mengenai kereta kuda, Rome dengan lincah menepisnya hingga terpental dan rusak, pemuda itu kemudian memicingkan matanya sesaat beberapa anak panah muncul lagi dari balik kediaman-kediaman desa.
'Brengsek... Mereka mengincar tranportasi kami, cerdik juga'
Dengan lihai Ia menepis kembali beberapa anak panah yang melaluinya, menatap tajam sosok-sosok yang melepaskan anak panah dari kejauhan. Ia menunggu serangan mereka selanjutnya dengan pedangnya yang siap menebas apapun.
Sekelompok orang berjubah lusuh perlahan keluar dari persembunyian, yang membuat Rome mengeratkan pegangan pada pedangnya. Ia tak tahu pasti apa motif mereka untuk menyerang, Ia juga tak bisa melihat jelas wajah-wajah para penyerang tersebut, Ia berasumsi bahwa mereka adalah penduduk lokal desa ini.
"Kami tak berniat untuk berbuat buruk! Kami hanya ingin melewati desa ini untuk menuju perbatasan! Jadi tolong biarkan kami pergi tuan-tuan juga nyonya-nyonya!" Rome mencoba untuk berbicara pada mereka, ingin mengetahui apakah mereka benar-benar berniat memusuhi atau tidak.
Rome mengangkat kedua tangannya sebagai tanda untuk menekankan bahwa dia tidak berniat buruk, "kami benar-benar tak ada niatan jahat!"
"..."
Tak ada jawaban sedikit pun, mereka seakan menatap kosong kearah Rome dibalik tudung-tudung mereka. Secara tiba-tiba, salah satu dari mereka tiba-tiba bergerak dengan kaku dan aneh, sebelum melesat kearah Rome dengan empat kaki layaknya hewan buas.
Mendekati Rome sosok itu lalu melompat, kemudian menunjukkan kukunya yang runcing yang Ia arahkan pada pemuda tersebut. Rome sedikit terkejut setelah melihat wajah sosok itu yang buruk rupa dari tudungnya yang sedikit terbuka, kulit-kulitnya terkelupas, dan juga gigi-giginya terlihat tajam tak beraturan.
'Undead!?'
Wusshh!
TRANG!!
Rome dengan segera mengayunkan pedangnya menghindari serangan sosok buruk rupa tersebut, dan membuatnya terpental agak jauh. "Mereka bukan manusia!?" teriaknya sedikit panik, Ia dengan sigap memasang postur bertarung, sembari mengamati sosok-sosok bertudung lainnya.
Mei dari kejauhan sedikit bimbang, Ia ingin membantu Rome tapi Ia juga harus melindungi sang kusir dari bahaya, yang Ia hanya bisa lakukan sekarang adalah menonton. "Apa mereka itu? Jiangshi?"
"S-sepertinya bukan, nona... J-jiangshi berjalan melompat-lompat, b-bukan bergerak dengan empat kaki..." Sahut sang kusir yang masih ketakutan,
Beberapa makhluk buruk rupa itu tiba-tiba melesat menuju Rome dengan ganas, menggeram dan mengeluarkan cakar-cakar mereka yang tajam. Mereka meluncur di udara dengan kecepatan yang menakjubkan, memotong jarak pada Rome.
Serangan pertama berhasil dihalau dengan cepat, Rome memotong salah satu makhluk itu yang terbelah menjadi dua karena sabetan pedangnya, Ia lanjutkan dengan beberapa tebasan kuat sembari menghindari cakar-cakar tajam milik mereka. Akhirnya, sedikit demi sedikit Ia berhasil membuat makhluk-makhluk itu mundur,
"Tuan muda itu ahli bertarung... Kalau boleh tahu darimana asalnya? Dia mengingatkanku dengan Yu Wei, komandan pasukan elit Hei Nan..."
Mei sedikit tersenyum saat sang kusir memuji Rome, " kebetulan dia orang asing, dari benua Vediach... Saya menyewanya sebagai pengawal pribadi saya..."
"Begitu... Prajurit bayaran ya?..."
Rome terus menerus didesak oleh sekumpulan mayat hidup tersebut, tetapi Ia dengan lihai menyerang titik-titik tertentu yang sekiranya fatal bagi Undead sejauh yang Ia ketahui. Ia menggunakan beberapa gerakan bela diri yang efektif untuk mengungguli keganasan mereka,
Tanpa disadari, para mayat hidup tersebut bangkit tak selang beberapa lama setelah mengenai serangan- serangan fatal milik Rome. Pemuda itu pun mendecih kesal melihatnya, Ia lupa akan satu hal, jika Ia berhadapan dengan mayat hidup, mereka pasti akan bangkit dan menyerangnya kembali.
"Horizontal : Tsukigami!!"
Dengan gerakan lincah, dia terus menebaskan pedangnya, memotong melalui kerumunan mayat hidup yang mencoba menyerangnya. Setiap tebasan dilakukan dengan presisi yang mematikan, membentuk lingkaran bayangan seperti bulan sabit di udara.
Para mayat hidup itu pun terbelah seketika, namun begitu, mereka terus mengejar Rome meskipun tubuh mereka telah terpotong. Melihat ke sekeliling, dia menyadari bahwa situasinya semakin sulit, dengan mayat-mayat hidup terus berdatangan dari setiap sudut. Dengan mantap, dia memusatkan perhatiannya pada pertempuran yang ada di depannya, mencari celah di antara gerombolan musuh.
Dengan napas terengah-engah, dia dengan mahir masih terus mengayunkan pedangnya, menghindari setiap serangan yang datang sambil berusaha untuk mencari peluang untuk melawan balik. Namun, semakin lama pertempuran berlangsung, semakin terasa kelelahan menghampirinya.
'ini gawat...' pikirnya, pandanganya sedikit kabur karena kelelahan,
"Kak Rome..." Mei melihat pemuda itu dengan tatapan khawatir, bagaimana tidak? Ia dengan sekuat tenaga melawan para mayat hidup itu sendirian, menggiring mereka menjauhi kereta kuda yang Mei tumpangi.
"Ini sudah tak tertolong... Sebaiknya kita memanggilnya dan kabur dari sini nona!"
Mei menoleh, Ia paham dengan apa yang diucapkan oleh sang kusir, tetapi bingung bagaimana caranya Ia bisa menyeret pemuda itu kemari sedangkan para mayat hidup itu dengan ganas mengerumuninya.
Dalam keadaan yang semakin genting, Rome merasa adrenalinnya memuncak. Dengan perhitungan cepat, dia mengukur jarak dan kekuatan setiap serangan, memastikan tidak ada ruang bagi kesalahan. Meskipun tubuhnya mulai terasa lelah, Ia harus tetap bergerak bagaimanapun caranya.
Rome mengambil langkah mundur, memberikan dirinya sedikit ruang untuk bernapas dan merencanakan serangan balik, Ia memperhatikan dengan teliti pola gerakan para mayat hidup tersebut.
Drapp!!
Ketika kesempatan akhirnya muncul, dia melancarkan serangan balik yang terkoordinasi, memotong dengan cepat dan efisien untuk mengurangi jumlah musuh di sekitarnya. Tanpa basa basi Ia kemudian berlari menghindar sejenak dari para kerumunan mayat hidup.
Rome berusaha untuk tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Dia menggunakan setiap kesempatan untuk bertahan hidup, memanfaatkan keahliannya dalam pertempuran itu sebaik-baiknya, "lorong-lorong desa terlalu sempit... Aku tak akan bisa kabur jika terkepung disana, apa aku lebih baik kembali ke kereta kuda ya?..."
Para mayat hidup menghampirinya dengan gesit, seakan tak mau Rome lepas dari pandangan mereka. Sementara Rome sendiri dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, Ia terus menghindari serangan mereka sambil mencari peluang untuk mengakhiri pertempuran ini ditengah-tengah larinya.
...
Mei sudah tidak tahan, Ia akan membantu Rome meskipun itu berbahaya, Ia pun perlahan turun dari kereta kuda. "Apa yang kamu lakukan nona!? Kamu bisa terbunuh jika kesana!"
"Jika seperti ini terus, Ia bisa mati... Harus ada yang membantunya!" ujarnya, sebelum melesat berlari kearah Rome.
"HEII!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments