Ch 18 : Menginap

Tepat ketika kereta kuda memasuki jantung kota dari tanah kekaisaran Zheng yang dikenal sebagai Liu Yen, suasana seketika berubah menjadi gemuruh. Di tengah keramaian, di mana penduduk berlalu-lalang dengan sibuknya,

kedai-kedai menjajakan beragam barang dagangan sementara pedagang berusaha menarik perhatian pelanggan potensial. Di sisi lain, penghibur jalanan mempesona penonton dengan kepiawaian mereka, menambah warna dan kehidupan pada lorong-lorong yang dipenuhi riuh rendah.

Para pejalan kaki berjalan santai, berdesakan di trotoar. Suasana ramai dipadukan dengan tawa ceria dari para pengunjung yang menikmati malam mereka di kota yang ramai ini.

Bangunan-bangunan di kota ini bermandikan gemerlap yang memukau, melampaui keindahan kota pelabuhan Guangyin di Hei Nan. Lampu-lampu dan lentera-lentera menari-nari memancarkan cahaya, menerangi jalanan dengan cahaya hangat yang menyelimuti, menciptakan suasana yang tetap hidup meskipun malam telah tiba.

Tak ada satu pun sudut kota yang tergelapkan, semua terang benderang seperti siang hari, menyinari setiap langkah yang diambil dengan keindahan yang memukau.

Rome memandangi gemerlap kota dengan tatapan yang hening, menikmati sensasi menemukan keindahan baru tiap detiknya. Perbedaan struktur wilayah yang begitu mencolok membangkitkan keingintahuan dalam dirinya,

Mendorongnya untuk menyelami lebih dalam tentang misteri yang mengelilingi Lung Xin. Dalam keheningan malam yang dipenuhi cahaya itu, Rome seperti merasa tertantang untuk menjelajahi lebih jauh,

Tanpa sengaja, Rome menemukan restoran-restoran khas berjejer yang menguar aroma menggugah selera, memikat siapapun yang melintas untuk merasakan kelezatan hidangan mereka.

Sensasi lapar yang menghampirinya sejak tadi membuatnya sedikit tergugah, dan dengan pandangan yang berputar, ia membiarkan mata menelusuri sekitar, mencari potensi tempat yang cocok untuk memuaskan rasa laparnya.

Tak lama kemudian, kereta kuda akhirnya berhenti di sebuah pemberhentian jalan, sang kusir memalingkan pandangannya ke belakang, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kita telah mencapai tujuan, tuan muda dan nona kecil," ujarnya sambil memberi anjuran,

"Saya sarankan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya." Suaranya penuh dengan kehangatan dan kebijaksanaan, memberikan kesan bahwa keamanan dan kenyamanan penumpang adalah prioritas utamanya.

Mei tersenyum membalas, "terima kasih banyak tuan kusir, kami benar-benar tertolong selama perjalanan"

"Itu benar, saya juga berterima kasih karena tuan, ini silahkan" Rome memberikan beberapa jumlah pho pada pria paruh baya itu,

"..."

"Ada apa tuan?"

Sang kusir terkejut melihat uang ekstra yang diberikan oleh penumpangnya. "Ini... Sepertinya terlalu banyak, tuan muda," ujarnya dengan nada terkejut, "Saya biasanya mematok tarif standar seperti kusir kereta kuda lainnya." Suaranya penuh dengan kebingungan dan sedikit keheranan atas kemurahan hati penumpangnya.

"Itu tanda terima kasih, dan anda tidak boleh menolaknya" ucap Rome dengan tersenyum jahil

Sang kusir tersenyum lembut, "Tuan muda dan nona kecil lah yang telah menghalangi serangan monster terhadap kereta kuda saya... Tetapi saya sangat menghargai, dan saya juga berterima kasih pada kalian berdua." Suaranya penuh dengan rasa terima kasih dan penghargaan atas bantuan yang tak terduga dari penumpangnya.

"Berarti kita sama-sama berterima kasih" Rome kemudian turun dari bagasi penumpang yang diikuti Mei dari belakangnya,

"Hati-hati di jalan ya, nona kecil juga, jangan sampai hilang ya di keramaian~" canda sang kusir seraya tertawa,

"Saya sudah besar!" Mei menggembungkan pipinya dengan ekspresi sedikit kesal, menanggapi candaan sang kusir. Rome yang berada di sebelahnya, hanya bisa tertawa melihat ekspresi lucu yang ditampilkan oleh Mei.

"Tapi nona masih terlihat seperti anak kecil, lihat saja tinggi badanmu... pendek kan?" goda sang kusir sambil menarik tali kereta dengan

Mei mendengus kesal, namun tak bisa menahan senyumnya. "Dengar ya tuan, tinggi badan tidak mengukur kedewasaan seseorang"

"Hahahaha, apakah begitu?" Tawa hangat sang kusir, "Entah mengapa melihatmu membuatku rindu akan putri kecilku di rumah... Baiklah, tuan muda, nona kecil, sampai jumpa jika ada kesempatan," ucapnya sambil mulai menarik tali ikatan kudanya.

"Hm, sampai jumpa"

"Sampai jumpa! Semoga kita bertemu lagi tuan kusir!"

Sang kusir mengangkat jempol sebagai salam perpisahan sebelum menggerakkan kudanya menjauh dengan mantap. Ditinggalkan olehnya, kedua pemuda-pemudi itu terdiam dalam keheningan yang menyentuh di tengah-tengah keriuhan kota yang tak henti bergerak. Suasana seakan memperkuat rasa kekosongan yang melingkupi mereka setelah perpisahan dengan sang kusir yang ramah itu.

....

"Jadi... Kita mau kemana kak?"

Rome menopangkan dagunya dengan serius, mempertimbangkan pilihan-pilihan yang tersedia untuknya. Dalam kegelapan yang merayap, ia merasa enggan mengambil risiko perjalanan di malam hari, terutama menuju daerah yang dikenal rawan akan aksi perampokan dan pembunuhan. Isi kepalanya didominasi oleh pertimbangan yang sedikit berat,

Namun, setelah dipertimbangkan, Rome menyadari bahwa terus berhenti hanya akan memperpanjang perjalanan Mei pulang ke rumahnya. Kebingungan menghampiri pikirannya. Tiba-tiba, dengan tepukan ringan di pundaknya, Rome menoleh dan menemukan Mei tampaknya memiliki saran untuknya.

"Bagaimana jika kita menginap terlebih dahulu?" usul Mei, suaranya penuh kekhawatiran. "Aku ingat betul, desa Shangzou itu sangat berbahaya, terutama jika kita berangkat pada malam hari. Penerangan sangat minim, dan aku takut akan banyaknya perangkap yang dipasang di sana." Rome bisa melihat kedua matanya memancarkan kekhawatiran,

Mei lalu mendongak menatap Rome, "tapi jika kakak ingin pergi sekarang itu tidak masalah, aku siap..."

Rome menyadari bahwa dirinya sendiri juga sangat lelah. Kebiasaan buruknya selalu memaksakan tubuhnya untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat telah membuatnya kelelahan.

Jika ditanya apakah Ia ingin pergi sekarang atau tidak? Ia pasti menjawabnya tidak. Pingsan di tengah jalan di tempat yang berbahaya tentunya bukanlah pilihan yang Ia inginkan, terlebih lagi ia bertanggung jawab atas keselamatan Mei.

"Baiklah... Kita menginap dulu semalam, aku juga sudah lelah... Tubuhku serasa hampir lepas semua" ucapnya seraya meregangkan otot-ototnya yang pegal, serta menurunkan pedangnya dari punggungnya,

Mei mengagguk merespon, "baguslah kalau begitu, aku tadi melihat sebuah penginapan tidak jauh dari sini, sebaiknya kita kesana"

"Tidak terlalu mewah kan?..."

Mei tertawa mendengarnya, "kurasa tidak, ayo kak"

Dengan lembut, gadis itu menarik lengan Rome dan bersama-sama mereka melangkah menuju penginapan, melewati deretan bangunan yang diterangi oleh lampu-lampu lentera yang bersinar terang.

Ketika mereka tiba di tempat tujuan, terlihat tak sedikit orang yang keluar masuk dari bangunan itu, kebanyakan dari mereka adalah pasangan pria dan wanita yang menikmati malam bersama.

Saat mereka memasuki bangunan, Rome secara tidak sengaja melihat sebuah papan yang terpampang di dinding, menampilkan berbagai pilihan kamar serta menu makanan dan minuman.

Matanya tertarik pada logo hati yang tertera di salah satu sudut, memancing rasa penasarannya. Dengan perasaan ingin tahu yang memuncak, ia kemudian membaca deskripsi penginapan tersebut dengan seksama.

"M-mei... Kamu yakin ini penginapan yang... Normal?" Ia sudah sedikit gugup setelah entah apa yang dibacanya tadi,

Mei memiringkan kepalanya bingung, "normal?... Memang penginapan ada yang tidak normal?"

"..."

'ya tuhan... gadis ini...' ucapnya dalam hati,

Para pengunjung di dalam entah kenapa mulai memperhatikan mereka dengan tatapan aneh, membuat Rome agak gelisah sehingga ia sedikit menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Sementara itu, Mei sama sekali tidak terganggu oleh perhatian mereka dan dengan langkah mantap, ia menuju meja resepsionis untuk memesan sebuah kamar.

"Anu... Permisi, apakah ada kamar yang tersisa nyonya?"

Resepsionis wanita itu menghentikan pekerjaannya lalu menoleh pada Mei, dan tersenyum. "ah, masih banyak nona manis, untuk satu malam?"

"Iya, satu kamar untuk saya dan pria yang disana"

Resepsionis kemudian melirik kearah Rome yang menutupi wajahnya, sebelum menatap Mei kembali. "Eh... nona... boleh aku tahu berapa umurmu?"

"Empat belas tahun, kenapa nyonya?"

"E-eh? Empat belas?..." tanya sang resepsionis wanita itu dengan nada sedikit tidak percaya,

"Itu benar" sahut Mei seraya mengangguk singkat.

Resepsionis wanita itu masih terlihat ragu, gugup ketika ia mengambil sebuah kunci kamar dengan nomor 71. "S-silahkan..." Wanita itu kemudian menyerahkan kunci tersebut pada Mei,

"untuk menginap semalam, Anda perlu membayar 300 pho..." ujarnya dengan suara yang sedikit tersendat. Tatapannya penuh keraguan namun tetap mencoba untuk menjalankan tugasnya.

"Baik Nyonya" Mei menengok kebelakang, mengisyaratkan Rome untuk membayar,

Rome menghela nafas rendah, Ia kemudian melangkah ke meja kasir untuk membayar seraya mengambil beberapa pho dari kantungnya. "Begini nyonya?"

Resepsionis itu mengangguk gugup, wajahnya mencerminkan ketidaknyamanan yang jelas saat tangannya gemetar menyentuh beberapa pho yang dipegang oleh Rome. "Benar, tuan," ucapnya, suaranya bergetar. "Anu... Bolehkah saya memberi saran... bukankah sebaiknya anda membeli sebuah proteksi terlebih dahulu sebelum melakukannya?"

"..."

Rome mengerti betul maksud tersirat dari sang resepsionis, dan dengan sedikit helaan nafas, ia memutuskan untuk mengklarifikasi situasi. Ia melirik ke arah Mei yang menatapnya dengan polos sejenak sebelum kembali memandang sang resepsionis.

"Nyonya, kami tidak bermaksud seperti itu," ujarnya dengan suara lembut, "Kami hanya ingin menginap. Lagipula... Ini adik saya." ujarnya, mencoba untuk menjelaskan situasi dengan sopan dan bijaksana.

"Ah, b-begitu ya?... Maafkan saya sudah berpikiran yang tidak-tidak" resepsionis wanita itu tertawa gugup, lalu bernafas lega. "Kalau begitu silahkan, kamar anda ada di lantai dua"

Rome mengangguk, Ia lalu menyeret Mei yang masih berwajah polos menuju kamar mereka di lantai dua.

...

"Apa yang dimaksud dengan nyonya resepsionis tadi kak?" Mei dengan polosnya bertanya,

Setelah menemukan kamar mereka yang bernomor 71, Mei mengambil kunci dan membuka pintunya. Mereka kemudian memasuki kamar itu dan dengan seksama melihat isi ruangan. Rome melirik ke arah Mei dengan tatapan lelah yang mengisyaratkan bahwa Ia sangat ingin tidur.

"... Kamu tahu Mei?... Sebenarnya ada sebuah penginapan yang memang dikhususkan untuk pasangan kekasih..."

Mei memiringkan kepalanya masih bingung, "bukannya sama saja dengan penginapan yang biasanya?"

Rome merasa sedikit kesal melihat betapa polosnya Mei, namun juga mengerti bahwa gadis itu mungkin tidak tahu maksud dari situasi tersebut. Dengan sedikit helaan napas kasar, ia mencoba menjelaskan dengan jelas,

"Begini, penginapan ini sebenarnya dikhususkan untuk pasangan yang ingin... berhubungan intim... Kamu mengerti kan?" Suaranya terdengar agak tegang, mencoba menuturkan kenyataan yang sedikit canggung dengan cara yang jelas dan langsung.

"..."

"J-jadi k-kita..."

Wajah Mei memerah secara tiba-tiba saat mendengar penjelasan dari Rome. Dia tidak menyadari bahwa ada penginapan dengan konsep seperti itu,

Ia merasa sedikit bodoh karena telah memilih tempat semacam itu untuk menginap bersama seorang pria yang belum lama dikenalnya. Rasa malu dan kebingungan menyelimuti dirinya, menciptakan suasana yang canggung di antara mereka.

"M-maafkan aku kak..." Ia menutupi wajahnya yang merah pekat dengan kedua tangannya, menyembunyikan rasa malunya yang sudah tak terbendung.

"Tidak apa... Setidaknya lain kali kamu bisa memilih dengan teliti..."

Sudah berapa kali Rome menghela nafasnya? Ia pun tak peduli, Ia sangat lelah, Ia hanya ingin segera tidur. Ia melihat kasur berukuran besar untuk dua orang dihadapannya, ransel dipunggungnya Ia jatuhkan sembarangan, kemudian Ia berbaring di kasur tersebut.

Mei dengan wajah masih memerah menutup pintu kamarnya lalu Ia kunci dengan hati-hati, Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan pikiran-pikiran kotor yang memenuhi kepalanya. Tak sengaja melihat Rome yang telah berbaring di kasur membuat rasa malunya kembali muncul,

"K-kak?..."

"..."

Tak ada jawaban, Rome telah tertidur pulas di kasur itu. "Padahal kita belum makan malam..."

"Mungkin memang dia sudah benar-benar lelah..." ucapnya seraya tersenyum lembut, "baiklah, sebaiknya aku juga tidur..."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!