Ch 17 : Perbatasan Wilayah Zheng

"Syukurlah mereka tak mengejar kita..."

Dengan hati yang berdebar, Mei berbicara dengan antusias, sesekali memandang ke belakang dengan was-was. Bayangan gerombolan mayat hidup yang dilawannya sebelumnya masih menghantui pikirannya. Beruntung, mereka sudah tak terlihat sejak ia dan Rome meninggalkan desa.

...

Sementara kereta kuda mereka hampir mencapai gerbang perbatasan, Mei dan Rome memperhatikan dengan kagum ornamen-ornamen naga dan bunga orchid yang menghiasi struktur itu, mencerminkan kekhasan daerah tersebut. Di sekeliling gerbang, prajurit-prajurit berjaga dengan ketat. Membuat Rome merasakan sebuah deja vu yang tiba-tiba muncul di pikirannya saat memandang gerbang itu.

Kereta kuda melaju masuk ke dalam area penjagaan, berhenti dengan halus. Sang kusir turun dari kursi pemanduannya, menyapa seorang prajurit penjaga untuk meminta izin masuk. Sementara itu, Mei dengan hati-hati mengintip dari balik tirai kereta kuda, tertarik untuk melihat keluar.

"Memang wilayah Zheng penjagaannya seketat ini ya?..." gumamnya pelan, "prajurit-prajurit itu terlihat memakai zirah dan persenjataan lengkap..."

"Apa yang kamu maksud?... Memang sebelumnya tidak seperti ini?" sahut Rome yang mendengarnya.

Mei terkejut lalu spontan menoleh kearah Rome, "ah, iya..."

"Bagaimana kondisinya dulu?"

"Sebelumnya, aku sering datang ke sini bersama ibuku untuk urusan-urusannya... Penjagaannya tidak seketat ini dulu, dan gerbang selalu terbuka untuk pengunjung... Apakah mungkin aku sudah terlalu lama meninggalkan Lung Xin ya? Sehingga aku tidak mengetahui apa yang terjadi akhir-akhir ini," jelas Mei, merenungkan perubahan yang terjadi di wilayah Zheng.

Rome mengangguk seraya tersenyum kecil, "Tentu saja. Kamu bilang kamu sudah berada di luar Lung Xin selama berbulan-bulan, kan? Pastinya banyak hal yang terjadi," ujarnya, menanggapi pernyataan Mei dengan penuh pengertian.

Mei ikut tertawa kecil, "Ya... Aku berharap setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi di Lung Xin," ujarnya sambil menghela napas, menjeda kata-katanya. "Tapi melihat desa yang dipenuhi mayat hidup itu... kurasa memang ada yang tidak beres dengan tanah airku ini..." Suaranya terdengar penuh kekhawatiran,

"..."

Wajah Rome berubah serius. "Aku pikir bukan hanya pada Lung Xin, Mei... Banyak hal besar yang terjadi di berbagai benua..." katanya dalam nada yang dipenuhi pertimbangan. "Aku tidak tahu apa yang menjadi penyebab dari rentetan masalah yang melanda setiap benua saat ini, tetapi pasti ada seseorang atau sekelompok orang yang berperan sebagai maestro, mengendalikan semua ini..."

Mei merenung sejenak, memikirkan apa yang dikatakan oleh Rome. "Itu... menyeramkan," gumamnya pelan. "Sesaat jika beberapa kejadian buruk muncul, sekumpulan orang itu mengendalikan semuanya dengan rapi dan sempurna tanpa sepengetahuan siapapun... Membayangkannya saja sudah membuatku merinding..." Suaranya terdengar penuh dengan kecemasan,

"Ini sebenarnya hanya sekadar teori gila dari pikiranku, tapi dari situasi yang telah aku alami dan informasi yang aku dapat... Besar kemungkinan teori ini bisa menjadi kenyataan." Sorot matanya perlahan terlihat kosong ditengah-tengah percakapan.

"Kenapa ya ada orang-orang yang tega melakukan semua hal itu?..." Tanya Mei dengan polosnya,

"hm, pastinya ada sesuatu yang mereka inginkan dibalik ke kekacauan yang mereka buat..."

...

Sementara Rome dan Mei berbincang di dalam kereta kuda, sang kusir berbicara dengan salah satu penjaga gerbang disana.

"Permisi tuan, saya seorang pengantar penumpang dari Hei Nan, saya membawa dua orang penumpang lebih tepatnya. Apakah kami boleh masuk?" ujar sang kusir kepada sang penjaga,

Penjaga itu menatap dengan sinis pada sang kusir sekilas, sebelum Ia melirik kearah kereta kudanya, "saya harus mengeceknya terlebih dahulu, agar sesuai dengan prosedur keamanan kami"

Sang kusir mengangguk hormat, mengerti bahwa aturan keamanan harus dijunjung tinggi. Ia juga menghiraukan tatapan penjaga itu, dan mencoba untuk berpikir positif. "silahkan tuan, saya rasa saya tidak membawa barang-barang mencurigakan kok"

"Hn" sang penjaga lalu melangkah ke arah kereta kuda yang membawa penumpang tersebut. Dia memeriksa dengan cermat setiap sudut kereta, matanya terfokus pada setiap detail. Sang kusir menahan napasnya, sementara dua penumpangnya duduk dengan tenang.

Dengan sabar, ia menunggu penjaga melakukan inspeksi pada kereta kuda yang dipandunya.

Rome dan Mei yang duduk di belakang, tanpa sengaja bertatapan dengan penjaga tersebut, dan terlihat jelas wajah sang penjaga berubah kesal. "Ada orang asing rupanya..." desisnya, sebelum akhirnya dengan tiba-tiba ia mengintrogasi mereka berdua, "Apa tujuanmu ke wilayah kekaisaran Zheng ini?" Tanyanya mengancam,

Mei menelan ludahnya dengan gugup, namun sebelum ia bisa menjawab, Rome berbicara terlebih dahulu. "saya jasa pengiriman, tuan," kata Rome dengan tegas, "Saya diberi bayaran untuk mengantarkan barang oleh klien saya."

"Dari mana asalmu?"

"Vediach tuan..."

Si penjaga mendengus pelan, sebelum melihat Rome dengan tatapan sinisnya. "Jangan lakukan hal-hal aneh selama disini, kau mengerti?"

Rome sedikit bingung dengan pertanyaan sang penjaga, tetapi ia berusaha untuk tetap sopan. "saya mengerti," ujarnya dengan ramah, "Saya akan sebisanya mematuhi aturan yang berlaku di sini dan tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang."

"Hn, dan gunakan senjata itu dengan benar, selalu tetap ikuti undang-undang di Kekaisaran Zheng," ujar sang penjaga, melirik sesekali kearah pedang yang tersarung di punggung Rome.

Rome mengangguk paham, "baik..."

Si penjaga kemudian mengarahkan pandangannya pada Mei, "lalu kamu? dari mana asalmu?"

"E-eh? A-anu, s-saya berasal dari wilayah Yin tuan, saya menemani pria ini untuk mengantarkan barang pada kliennya"

"Begitu..." Setelah melihat Mei agak lama, si penjaga merasa Ia sedikit familiar dengan gadis itu, yang membuatnya menyerngitkan dahinya. "Entah kenapa wajahmu... Terlihat familiar..."

"Apa... Tuan mengenali saya?"

"..."

Si penjaga pun akhirnya mengingat persis wajah Mei, "Tunggu, bukannya kamu anak kedua dari permaisuri Cha En? Keturunan kaisar Yin generasi ke 14 itu?"

Rome membelalakkan matanya sedikit terkejut setelah mendengar kalimat sang penjaga. Tapi Ia mencoba untuk mendengarnya langsung dari sang gadis yang juga terlihat terkejut.

"B-bukan tuan! saya hanyalah anak dari pemilik restoran di sana, mungkin yang anda maksud adalah putri Lian En?" ujar Mei membenarkan, Ia begitu terkejut saat Ia disebut sebagai putri sang kaisar itu.

"Eh? Begitu ya? Kupikir wajahmu sangat mirip dengan sang putri kaisar itu"

Mei hanya tertawa gugup seraya menggeleng sedikit canggung, "b-bukan, tuan salah orang..." penjaga pun manggut-manggut, sementara Rome melirik kearahnya dengan tatapan meragukan.

Mei yang menyadari tatapan dari Rome mulai tidak nyaman, "K-kenapa... Kakak melihatku seperti itu?"

"Tidak, tidak ada apa-apa... Aku hanya sedikit kaget"

"Baiklah, aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata penjaga itu sambil mengangguk. Dengan teliti, ia memastikan bahwa kereta kuda tidak membawa barang-barang yang berpotensi membahayakan. Dengan cermat, ia menggeledah beberapa kotak kayu dan perlengkapan milik Rome.

Sang kusir yang sudah menunggu lama mulai menghampiri prajurit penjaga tersebut, "bagaimana tuan?"

Usai penggeledahannya, sang penjaga pun turun dari kereta kuda, "kalian bersih, tidak ada hal aneh yang kulihat"

Sang kusir akhirnya bisa bernafas lega, "Syukurlah, jadi... Apa kami sudah boleh masuk?"

"Ada satu hal yang kau butuhkan sebenarnya, surat izin masuk ke wilayah Zheng, kau membawanya?" Jelas sang penjaga. Sementara Rome yang mendengar persyaratan dari penjaga tersebut kembali merasa dejavu.

"Hah?... t-tunggu-tunggu, saya belum pernah mendengar hal ini, saya mengantar penumpang kemari dua minggu lalu lo, dan saya tidak mendapati harus membawa surat izin itu."

"Sudah menjadi prosedur utama untuk pengunjung maupun pedagang jika melintasi Kekaisaran Zheng, jika tidak ada... Silahkan kembali" ujar sang penjaga dengan tegas.

"Yang benar saja!... Saya sudah sejauh ini lalu anda suruh saya kembali!?" bentak sang kusir tak terima,

"Apapun alasanmu jika kau tak punya surat izin itu, kaisar tetap tidak memperbolehkanmu masuk!"

"Anda tidak tahu hal apa yang saya lewati sebelum menuju kemari!"

Rome menghela nafas panjang saat mendengar perdebatan antara kedua pria paruh baya tersebut. Dengan langkah mantap, ia mengambil sebuah amplop surat dari dalam tasnya, kemudian turun dari kendaraan. Rome lalu berjalan mendekati sang penjaga dan kusir yang tengah terlibat dalam perdebatan.

Untungnya, ia ingat bahwa kliennya telah memberikannya sebuah amplop bersegel mewah sebelum berangkat menuju Lung Xin. Yang Isinya adalah surat izin resmi untuk memasuki kawasan Kekaisaran Zheng. Dengan lega, Rome membuka amplop tersebut dan memberikannya pada sang penjaga.

"Apa seperti ini, tuan?"

"Apa ini?" Penjaga itu mulai menginspeksi amplop tersebut, tak lama kemudian matanya membelalak terkejut. "I-ini... Ini segel resmi dari keluarga bangsawan!" desisnya dengan sedikit menaikkan volumenya. "Darimana kau dapatkan ini!?" Keheranan dan kebingungan terpancar jelas dari wajahnya.

'b-bangsawan!?... Jadi wanita itu bangsawan!?...'

Rome, yang awalnya terkejut saat mengetahui bahwa kliennya ternyata seorang bangsawan Lung Xin, dengan cepat kembali tenang dan berpura-pura mengetahui hal tersebut. "Tentu saja dari klien saya," katanya mantap. "Jadi, bagaimana? Apakah kami diizinkan masuk?" Lanjutnya dengan sopan, berharap untuk segera melanjutkan perjalanan mereka.

Penjaga itu seolah merubah sikapnya menjadi lebih ramah. "T-tentu saja! Silahkan," ucapnya sambil mengizinkan mereka memasuki wilayah kekaisaran Zheng. Ia dengan cepat memberitahu rekannya untuk membuka gerbang, menunjukkan bahwa mereka diterima dengan baik.

Sang kusir terbengong melihat aksi dari Rome, "kenapa kamu tidak bilang dari tadi, tuan muda?..."

"..."

"Saya lupa..."

Sang kusir menghela nafasnya panjang, "Tetapi syukurlah kita diizinkan, mari tuan muda" sang kusir pun kembali ke kereta kuda untuk melanjutkan perjalanan, dengan diikuti Rome dari belakangnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!