Ch 07 : Perjalanan Menuju Lung Xin 3

Rome memandangi langit yang biru, sementara Darius melaju dengan lincah di tengah rerumputan yang berdesir. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, serta membawa aroma liar di sepanjang jalan.

Kembali memasuki area perbukitan, mereka melintasi jalanan berbatu dengan pohon-pohon pinus menjulang di sekitarnya. Terik matahari tak terlalu panas menyala, tertutupi oleh rindangnya pepohonan.

Pemandangan hamparan perbukitan hijau membuka cakrawala di depannya, Rome menarik nafas dalam-dalam, menghirup semua udara segar yang ia bisa terima. Dengan derap langkah mantap, mereka melewati jalanan setapak yang mengarah ke sela-sela bukit.

Sesekali dedaunan berdesir menyertai langkah mereka dalam irama alam, tak luput terdengar suara gemericik air sungai yang mengalir dengan lembut. Dengan senyum di wajahnya, dia merenung, menikmati keindahan panorama yang terhampar di hadapannya.

Tidak salah jika Rome mengubah rute perjalanannya, meskipun akan banyak jalanan sempit yang ia akan lewati, rute ini akan membawanya lebih cepat ke pelabuhan, ditambah dengan pemandangan indah ini yang bisa mengusir kebosanannya.

"Sejuk... Bukankah begitu Darius?"

Darius meringkik pelan menanggapi ucapan penunggangnya. Melanjutkan perjalanan menelusuri jalur yang jarang dilalui ini, Semakin jauh mereka menjelajah, semakin dalam mereka merasakan keajaiban alam yang menyelimuti.

Dalam diam, pikiran Rome dipenuhi nostalgia-nostalgia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, Tanaman-tanaman hijau terlihat masih memeluk tepian jalan, Ia merasa seakan terhubung erat dengan alam.

...

"Ybaogan... Daratan dingin dan kejam yang berada di pucuk selatan Uriye, disana selalu menghasilkan pejuang-pejuang tangguh berkualitas dan juga loyal... Tetapi entah kenapa mereka membelot, dan berakhir menjadi bandit di Vediach..."

Dahi Rome perlahan mengkerut, Ia mengelus dagunya perlahan seraya menganalisa informasi yang Ia dapatkan dari para bandit yang dikalahkannya, motif para bandit itu pun mungkin tidak sepele seperti membelot pada kerajaan yang Ia kira.

Mungkin, mungkin saja ada sesuatu yang terjadi disana, Ia belum bisa berspekulasi, karena memang Ia tak mendapatkan satu pun gosip dari benua Uriye selang beberapa tahun ini,

Rome kemudian menghela nafasnya berat, 'peduli setan aku dengan wilayah dingin itu, yang aku khawatirkan jika mereka mengungsi secara ilegal di Vediach... Para barbar itu pasti bertingkah seenaknya, menganggu rute perdagangan dan berakhir merusak ekonomi negeri ini...'

"Aku sudah menghabisi sekitar 40 an jadi... keparat, 142 orang itu sangat banyak..."

...

Kau benar-benar seorang Pahlawan

...

"..."

'Pak tua itu terlalu melebih-lebihkan...'

"Sial, sejak kapan aku menjadi lembut seperti ini?..." Rome tak kuasa untuk menahan senyum lebarnya, Ia teringat ucapan Kakek tua yang ia selamatkan, sudah lama sekali sejak Ia tak mendengar pujian tulus dari seseorang.

Ia melirik sekilas karung berisi pemberian dari sang Kakek tua, penasaran, Ia lalu membuka dan melihat isi di dalamnya, "Ini... Banyak..." dan terlihatlah beberapa bahan makanan yang cukup membuat pemuda itu melebarkan matanya sesaat.

"... Syukurlah, Setidaknya ada tambahan makanan saat berlayar nanti" Rome mengambil sepotong roti gandum, yang kemudian Ia bagi dengan kudanya.

Darius pun meraih lalu mengunyah potongan roti tersebut, tak lama kemudian meringkik girang, derap langkahnya tiba-tiba semakin cepat dan lincah melewati jalanan sempit rute tersebut, membuat Rome sedikit terkejut.

"W-woah... Darius, ada apa denganmu?"

Darius terlihat begitu hidup, seolah-olah roti yang baru saja dimakannya memberinya kekuatan baru, sedangkan Rome mencoba mengikuti ritme yang tak terduga dari kuda tunggangannya tersebut.

Mereka melangkah lebih dalam ke perbukitan, menjelajahi setiap sudut yang sebelumnya terlewatkan. Tak lama kemudian, jalanan yang sempit dan berliku sekarang pun perlahan mulai terasa lapang dan luas.

Rome menggenggam erat tali pengikat Darius, kudanya itu berlari dengan sangat cepat, membuatnya harus berpegangan kuat-kuat. Tak lupa juga Ia memegangi perlengkapan serta persediaannya agar tak terjatuh di jalan,

Pemuda itu memandang jauh ke depan, masih berharap agar Ia tak terlambat untuk berlayar, sedangkan Darius merespon setiap geseran dan kemauan penunggangnya seraya berusaha untuk berlari sekuat tenaga.

Sudah 30 menitan sang kuda berlari, tetapi Darius masih memaksa kaki-kaki kuatnya untuk terus berpacu, sayangnya tanda-tanda kelelahan mulai terlihat pada wajah kuda tersebut,

Tak lama kemudian mereka pun akhirnya memasuki lembah yang membentang, bisa dipastikan setelah ini gerbang pelabuhan akan terlihat dari kejauhan. Rome kemudian menyadari jika tunggangannya sedikit menurunkan kecepatan berlarinya,

Pemuda itu menghela nafasnya berat, "Ayolah kawan, jika kau terus meminta untuk makanan, persediaanku akan habis sebelum berlayar, kau tahu?"

Darius seperti mengerti apa yang diucapkan penunggangnya, semakin memperlambat derap langkahnya dan mendengus kesal, Ia sekarang benar-benar mulai berjalan dan tidak berlari.

"..."

Perempatan siku pun muncul di dahi sang pemuda, 'Kuda ini...'

"Baiklah baiklah, kau menang" Rome berdecak kesal, Ia kemudian meraih beberapa potong roti gandum yang ada di dalam karung, seraya membagikannya kepada Darius supaya tak berhenti dalam perjalanan.

Sang kuda tentu saja meringkik girang, mengunyah roti-roti itu dengan lahap, Rome melihat itu sejenak terbengong tetapi kemudian perlahan tertawa karena melihat tingkah tunggangannya nya itu.

"Sudah?... Ayo, kita lanjutkan perjalanan"

Darius meringkik sebelum kembali memacu tapal-tapal kuatnya untuk berlari, Rome dapat merasakan energi penuh semangat dari kuda nya itu, Ia kembali mengeratkan pegangannya pada tunggangannya tersebut.

Langkah Darius bertambah cepat disaat mereka melewati lembah yang membentang luas tersebut, di mana cahaya matahari membuat perbukitan terlihat seperti mengalir dengan emas cair, Rome kembali memandang ke depan, menunggu siluet dari pelabuhan.

...

Selang beberapa lama kemudian, pemuda itu akhirnya bisa samar-samar melihat pelabuhan Loxis, aroma laut yang asin pun menyambut mereka dari kejauhan. dengan rambutnya yang ditiup angin, Ia tersenyum melihat kapal-kapal yang bersiap untuk berlayar, suara-suara gemuruh ombak dan riuh rendah aktivitas pelabuhan ikut turut serta.

Mendekati gerbang pelabuhan, Rome mendapati ada beberapa penjaga yang bertugas disana, biasanya hanya satu atau setidaknya dua orang. Ini membuatnya sedikit bingung, tapi Ia mencoba untuk tak terlalu memperdulikan hal itu.

Belum beberapa langkah Ia dan kuda nya akan memasuki pelabuhan, tiba-tiba saja Rome dihadang, dibarengi dengan tombak-tombak tajam yang mengarah pada Darius.

"Tolong surat izin dan tanda kewarganegaraannya"

"Ada apa ini tuan? Seingat saya beberapa minggu yang lalu tidak ada persyaratan semacam ini untuk memasuki pelabuhan?" tanya Rome dengan tenang, tapi sebenarnya Ia panik karena tak membawa apa yang diminta oleh penjaga tersebut.

Prajurit penjaga itu mengangguk pelan, "Kebijakan baru dari pemerintahan Loxis, dan telah diberlakukan empat hari yang lalu, wajib memberikan surat izin berlayar dan tanda kewarganegaraan..."

"Saya... Tak mendengar hal apapun tentang ini... Memangnya ada apa kalau saya boleh tahu?"

"Beberapa bulan terakhir, jumlah imigran gelap Vediach meningkat. Tak luput juga pada Loxis, banyak kasus-kasus masalah yang meresahkan warga lokal, kami hanya mengikuti perintah untuk meminimalisir hal-hal tersebut, tuan"

Rome meneguk ludahnya kasar, Ia benar-benar baru tahu soal ini, dan sialnya lagi Ia tak membawa barang yang diminta oleh penjaga dihadapannya itu. Jika Ia kembali ke ibukota, itu akan memakan waktu yang lama,

"Saya warga lokal, dan saya juga penduduk asli ibukota, apa... saya tidak boleh masuk?"

"Maaf, kebijakan adalah kebijakan, saya tak bisa melanggar peraturan pemerintah"

"Tapi saya tak membawa semua itu, anda mengerti bukan kalau perjalanan pelabuhan ke ibukota memakan waktu dua jam lebih? Saya bisa terlambat pada jadwal pelayaran siang hari ini..."

Penjaga itu menggeleng, "tetap tidak bisa Tuan, maafkan saya"

"..."

Pemuda itu pun kemudian mendecak kesal, 'dasar bedebah terkutuk barbar sialan pengerat tanah bajingan botak berjanggut zakar sapi empedu aya-'

"Rome? Kau kah itu?"

Pemuda itu tersadar dari sumpah serapahnya, dan menoleh dengan spontan saat namanya dipanggil. Ia mendapati salah satu prajurit penjaga yang tadi mengobrol dengan salah seorang pengunjung mulai menghampirinya,

"... Ya, saya Rome... Anda siapa ya?" Ia sedikit familiar dengan wajah dan suara penjaga tersebut,

"Lama tak jumpa kawan! kau mau pergi kemana?" Penjaga itu tiba-tiba menepuk punggung Rome dengan ceria.

"..."

Rome yang masih bingung dengan siapa penjaga itu tak lama kemudian teringat, "Cole?... Sial, aku tak tahu kalau kau bertugas disini, bagaimana kabarmu?" Ia lalu antusias turun dari punggung Darius.

"Aku sehat, kau sendiri? Kulihat kau membawa beberapa persiapan disana" para penjaga yang lain mulai menjauh dari mereka setelah mengetahui bahwa mereka berdua saling kenal, mereka pun akhirnya menyerahkan Rome pada rekannya tersebut.

"Aku juga sehat, dan ya, aku ada urusan di Lung Xin, ternyata selama ini kau bekerja menjadi prajurit kerajaan rupanya"

Penjaga bernama Cole tersebut tertawa kecil, "begitulah, jerih payahku selama ini terkabulkan, akhirnya aku bisa menjadi seorang ksatria Loxis walaupun masih berpangkat bawah"

"Itu keren Cole, selamat atas pencapaianmu kawan! aku turut senang!" Rome merangkul leher kawan lamanya itu bercanda, seraya tertawa bersamanya.

"Lung Xin ya?... ngomong-ngomong bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan sekarang?"

"..."

Rome menggaruk pipinya yang tak gatal, "Aku... bekerja serabutan sekarang, menerima permintaan dari seseorang, semacam itu" ucapnya gugup,

Sedangkan Cole menyadari pedang besar yang terletak jelas pada punggungnya, "bekerja serabutan? Perlu membawa senjata ya?" Ia mengelus dagunya mencoba menerka apa profesi sebenarnya kawan lamanya itu.

"Tunggu-tunggu, Aku bisa menebak. dengan kata lain... Kau adalah prajurit bayaran, benar bukan?" Cole menyeringai saat jawabannya benar,

Rome menghela nafasnya panjang, "itu... benar..."

"Woah... Jadi kau menghajar seseorang dan dibayar?"

"Kau bisa bilang begitu... "

"..."

"Hei, ngomong-ngomong... apa kau bisa membiarkanku lewat? Aku benar-benar terburu-buru, dan kebetulan aku tidak membawa apapun tentang surat izin berlayar itu... Jadi... Tolonglah, Apa kau tak bisa membantuku, Cole?" Bisik Rome,

Cole sedikit was-was mendengar perkataan Rome, Ia sebenarnya belum pernah membiarkan satu orang pun masuk tanpa surat izin selama peraturan pemerintah Loxis diberlakukan, tapi disisi lain, Ia merasa tidak enak jika menolak permintaan tolong dari kawan lamanya itu.

"Begini saja, sebagai gantinya aku akan membayar mu setelah urusanku di sana selesai, bagaimana?"

Tak berpikir lama, wajah Cole berubah sumringah, "tentu saja kawan! setidaknya ada sebuah perantara di antara kita, bukan begitu?"

Cole kemudian membuat gestur memperbolehkan Rome untuk masuk ke dalam pelabuhan, "Kau boleh masuk, tenang saja, aku akan urus semuanya"

Rome mengangguk paham, lalu segera menaiki punggung Darius, "aku berutang padamu kawan, terima kasih"

"Tak masalah, jaga dirimu baik-baik disana!" Rome kemudian melesat dengan tunggangannya meninggalkan gerbang utama kemudian memasuk wilayah pelabuhan.

...

Tiba di pelabuhan, Rome merasakan aroma laut yang segar semakin tercium kuat dan bercampur dengan bau rempah-rempah dari pasar di dekatnya. Ia bisa melihat orang-orang beraktivitas, menyiapkan perbekalan untuk perjalanan laut mereka masing-masing atau sekedar berjualan.

Ia juga mendapati banyak turis dan pendatang asing datang ke Vediach untuk berdagang saat berjalan lebih dalam ke pelabuhan, dan kebanyakan dari mereka datang dari benua Lung Xin dan Maghdad, tak luput pelaut-pelaut lokal yang sibuk mempersiapkan perahu dan dagangan mereka, memberikan pemandangan yang hidup di sekelilingnya.

Tak menunggu lama, Rome membawa Darius menuju tempat pemberhentian tunggangan, Ia lalu memasuki salah satu kandang seraya turun dari punggung sang kuda. Setelah memastikan barang bawaannya, Ia kemudian mengikatkan tali Darius pada sebuah tiang.

"Sampai disini dulu kawan besar, terima kasih banyak sudah membawaku sampai kemari..." Rome mengelusi lembut kepala kuda nya itu, entah kenapa Ia merasakan ikatan khusus antara dirinya dan sang kuda yang telah menemaninya melintasi perjalanan.

Meskipun sebentar, perjalanan terasa lebih panjang dan menyenangkan disaat mereka bersama, terdengar klise tapi itu kenyataan yang dirasakan oleh Rome.

Darius memasang wajah sedih, Ia menanggapi dengan mata yang penuh kepercayaan, seperti memahami setiap kata yang diucapkan oleh penunggangnya itu. Ia beberapa kali mendengus pada Rome seolah tak mau penunggangnya itu pergi,

Rome yang tak paham dengan apa yang dimaksud kuda tersebut hanya bisa tersenyum lembut, Ia mengelus kepalanya terakhir kali sebelum berpisah, "Hei... Sampai jumpa dilain waktu... Jangan repotkan paman Gus kau mengerti?" Dengan begitu Rome melangkah keluar dari kandang dengan barang bawaannya.

Ia berjalan menuju keramaian, bertujuan menghampiri petugas pelabuhan untuk memesan sebuah pelayaran, dengan lihai Rome melewati kerumunan orang yang berlalu lalang, tanpa menghiraukan suara-suara berisik dari sekitarnya.

Sampai di sebuah pondok kecil, Ia mendapati tempat pembelian tiket itu sedang sepi, Ia pun langsung menghampiri salah satu petugas yang berjaga disana,

Rome melihat daftar tarif kapal setiap rute perjalanan yang terpampang jelas di samping jendela pembelian tiket, "Jadwal pelayaran siang?"

Petugas itu menyadari Rome, kemudian mengangguk mengerti, "Untuk tujuan kemana tuan?"

"Lung Xin"

"keberangkatan dimulai 12 menit lagi, anda mau memesan?"

"Ya, untuk satu orang" ucapnya singkat

"Tolong tunggu sebentar" petugas itu dengan cekatan mempersiapkan tiket milik Rome yang kemudian Ia berikan padanya, "kapal berada di dok ke 4, terima kasih"

Rome memberikan sejumlah uang austral kepada sang petugas, lalu meraih tiketnya dan mulai berjalan menjauh dari sana. Rome melangkah dengan mantap, berusaha menemukan kapal yang akan membawanya ke Lung Xin.

Ia sesekali mendengar suara gemuruh ombak dan desiran angin laut yang menyatu, untungnya hal tersebut membuatnya sedikit rileks ditengah keramaian yang mengganggunya.

Tak lama berjalan, Ia akhirnya menemukan kapal yang Ia cari-cari, dan terlihat disana banyak sekali orang yang berbondong-bondong memasuki kapal, Ia pun tak luput memasuki antrian.

...

Satu per satu memasuki kapal, Rome menunggu gilirannya, tetapi sebelum Ia melangkah kedepan,

Brukk!

Sosok gadis kecil menabraknya dari samping secara tiba-tiba, membuat keduanya terjatuh di tanah,

"Hei! Buka matamu saat berjalan!" seru Rome kesal pada gadis kecil itu, Ia kemudian perlahan bangkit seraya mengambil kembali barang-barang bawaannya.

"M-maaf tuan! Saya benar-benar minta maaf!" Gadis kecil itu kemudian menunduk malu,

Rome akhirnya bisa melihat penampakan sang gadis tersebut, Ia berparas cantik jelita bersurai ungu dengan gaya rambut sanggul kembar, gadis itu juga mengenakan gaun anggun layaknya tuan putri dari negeri asing.

Rome berdecak kesal seraya membenarkan posisi pedangnya, "sudahlah, ada apa denganmu? kenapa kau berlari tadi?"

"A-anu... Saya terpisah dengan rombongan saya, kemungkinan juga rombongan saya sudah berangkat lebih awal..."

"Hah?... Lalu bagaimana kau akan berangkat? Dan kemana kau akan pergi?"

Gadis itu mendongak melihat Rome, pandangannya terlihat polos, "Lung Xin tuan... Saya... Sebenarnya dikejar oleh seseorang..." Ia kemudian menatap sedikit takut pada pemuda itu.

"Saya melihat tuan membawa senjata, saya bisa anggap tuan seorang ksatria?... A-anu... B-bisakah... tuan menemaniku selama perjalanan?..."

Mendengar hal itu membuat Rome mengangkat sebelah alisnya, "kau ingin menyewaku?..."

Gadis itu dengan tanggap mengangguk, "b-benar! jika tuan berkenan... Tapi tolong pertimbangkan, s-saya akan bayar berapapun yang tuan mau sesampainya disana!..." Matanya sedikit berkaca-kaca saat berbicara.

Rome merenung sejenak sebelum memberikan jawaban. Ia melirik sekeliling, menyadari bahwa jika perkataan gadis itu benar, dia harus memastikan tidak ada yang bersikap aneh di sekitar mereka. Pandangannya kembali tertuju pada sang gadis.

Melihat wajah polos dan matanya yang berkaca-kaca, dia merasa agak tidak nyaman. Meskipun terdengar kejam, dia tetap harus berhati-hati terhadap gadis kecil itu. Tidak ada yang tahu sejauh mana keahliannya dalam berbohong.

'lagipula tujuan kita sama...'

"Baiklah, mendekat dan kemarikan tiketmu" gadis itu tersenyum sumringah mendengar Rome menyetujui permintaannya, Ia berjalan mendekat kearah Rome yang berada di antrian, dan memberikan tiketnya.

Sambil berjalan mengantri dengan gadis kecil berada di sampingnya, Rome memperhatikan bahwa gadis itu terlihat gugup dari gerak-geriknya. Ia mencoba membaca ekspresi wajahnya, mencari tahu apakah ada sesuatu yang membuatnya khawatir.

"..."

"siapa namamu?..."

Gadis itu melonjak kaget sesaat, Ia kemudian menoleh dan tersenyum kikuk kearah Rome, "M-mei Xiaohu..."

Mei Xiaohu, 14 Tahun

"Mei... Xiaohu?..."

'nama macam apa itu?...' pikir Rome dalam hati

"B-benar tuan..."

"Ah, kau warga Lung Xin ya?... Pantas saja aku merasa aneh dengan pakaianmu... Ngomong-ngomong kau bisa panggil aku Rome, senang bertemu denganmu, Mei" Ia mengulurkan tangannya seraya tersenyum lembut.

Gadis itu kemudian mengangguk malu, dan meraih tangan sang pemuda, "senang bertemu denganmu... Rome"

Begitu mereka menaiki kapal, Rome merasakan getaran kayu di bawah kakinya seiring dengan riak-riak ombak. Kapten kapal menyambutnya dengan senyuman ramah, dan awak kapal yang sibuk bergerak ke sana kemari memberikan kesan bahwa kapal telah siap berlayar.

Rome mengajak Mei menjelajahi dek kapal, sebelum mencari tempat untuk mereka beristirahat, dengan sesekali Ia menoleh kearah lautan indah yang membentang.

Tak lama setelah itu, jangkar kapal perlahan diangkat dan layar pun dikibarkan, dan kapal yang mereka naiki perlahan mulai membelah laut biru menuju horizon yang tak terbatas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!