ATARES JOE VERNANDEZ atau biasa dipanggil ares pria tampan yang memiliki senyum indah itu ,tk lain dan tk bukan adalah saudara kembar zeya mereka hanya terpaut jarak 10menit saja
"Kangen gue sama lo" lirih zeya
"Gue juga kangen buanget banget sama lo" timpal ares
Ares memeluk saudara kembarnya itu dengan erat begitupun dengan zeya. Setelah sekian lamanya akhirnya dua manusia itu bisa berkumpul lagi.
"Gimana kabar lo?" Tanya ares setelah pelukan mereka berakhir
"Gue baik kok. Kenapa lo gak ngabarin gue kalau mau pulang?" Tanya zeya
"Kalau gue ngasii tahu lo bukan suprize dong namanya" jawab ares
"Dasar. Ayo masuk gue juga baru pulang" ajak zeya nampak sekali dari wajah gadis itu ia terlihat bahagia
Ares mengangguk lalu tersenyum "baik nuna" ucapnya lalu mengusap kepala zeya gemas
Ares dan zeya bersama-sama memasuki rumah. Ares memandang sekitar 6bulan lamanya pemuda berwajah tampan itu tk pernah pulang karna sang ayah selalu melarangnya alasanya hanya satu 'nanti kamu gak pokus sekolah kalau pulang terus' begitu lah kira-kira yang selalu diucapkan Arlan. Padahal sang papah tk mau jika sang anak kesayangnya itu sampai tidak pokus pada study nya malah pokus ke anak yang ia anggab sumber kesialaan itu.
Ares bersekolah diKorea dari ia kelas 1 SMP pemuda yang selalu menyadang gelar 'monster' karna kejeniusnya yang tidak ada tandinganya itu selalu membuat papahnya bangga. Saat baru memasuki bangku kelas 7 ares dipindahkan oleh papahnya pemuda itu sempat menolak karna tk mau jauh dari zeya namun apalaah daya dia hanyalah anak kecil dimata ayahnya sehingga mau tak mau ia harus menuruti permintaan dari sang papah untuk melanjutkan sekolah dikorea selatan hingga ia meduduki bangku kelas 3 SMA. Ia pulang jika ada kesempatan seperti hari ini
Kedua saudara itu bergandengan tangan dengan sangat erat layaknya sepasang kekasih yang takmau lagi terpisahkan mereka begitu bahagia bahkan zeya lupa dengan sikap ketusnya dulu sangking bahagia nya.
"Aress?" Panggil seorang
Kedua remaja itu berbalik dan nampak lah seorang pria paru baya tengah duduk disofa ruang tamu mereka. Arlan papah kedua remaja itu lah yang memanggil ares, pemuda itu melepaskan gegaman tanganya dan zeya lalu berjalan menghampiri Arlan dan langsung memeluknya.
"Kenapa ga ngabarin papa? Papah kan bisa jemput kamu" ucap arlan setelah melepaskan pelukkan nya pada anak kesayangnya itu
Zeya hanya bisa diam menatap kehangatan kedua orang didepannya itu tanpa berniat ikut serta dalam pelukan juga obrolan manis didepan sana
Ares mengeleng pelan "ares gakmau ngerepotin papah lagipula ares juga udah gede"
"Kamu memang anak satu-satunya yang bisa diandalkan ares papah bangga sama kamu" arlan menepuk pelan pundak sang putra
"Tidak seperti dia bisanya cuma menyusahkan orangtua saja" arlan menatap zeya dengan tatapan bencinya
Zeya tk menjawab gadis itu masih tetap diam
"Papah gk boleh bicara kayak gitu zeya juga anak papah" ucap ares
Arlan yang tk mau ribut pun memutuskan untuk mengajak ares naik kelantai atas menuju kamar sang putra.
"Gue emang gak ada gunanya dirumah ini" lirih zeya lalu menghapus bulir bening yang sendari tadi ia tahan dimatanya lalu memutuskan untuk masuk kekamar miliknya.
**
Dikamar bercat biru tua seorang pemuda tengah duduk santai diatas balkon kamar miliknya sesekali bergumam.
"zeya udah makan belum ya?"
"Gue tanyain aja deh"
"Siapa tau belum kan bisa gue ajak keluar makan bareng"
Excel berbicara sendiri didalam kamarnya. Pemuda berkaos putih dengan celana hitam selutut itupun akhirnya memutuskan untuk menelpon zeya
Berdering tapi tk dijawab
"Tumben gk diangkat"
"Apa dia tidur ya?"
"Masa iya" excel melirik jam dinding didalam kamarnya
"Masih jam 6 gak mungkin kalau tuh bocah tidur" ucap excel
Dret dret..
Hp pemuda itu berdering nampak dari dalam layar tertulis nama 'Singa galak' dengan wajah super duper bahagia excel menerima panggilan telpon tersebut yang tk lain berasal dari zeya sang pujaan hatinya eaa.
"Heh! lo dari mana aja sih gue telponin gk lo angkat" tanya excel
"Sorry gue habis mandi tadi" jawab zeyaa
"Buset magrib baru mandi gk takut masuk angin lo?" Tanya excel
"Biasanya juga gue jam segini baru mandi ege. Ada apa sih lo nelpon gue?" Kini giliran zeya yang bertanya
"Lo udah makan belum?" Tanya excel
"Belum sih. kenapa lo mau ajak gue makan?" Tanya zeya
"Ya ayok kalau lo mau gue sih okeoke aja" jawab excel
"Oke gas kuyy"
***
"Cakep amat mau kemana lo?" Tanya ares heran melihat zeya yang tengah sibuk memakai sepatunya.
"Keluar" jawabnya tanpa menoleh
"Dirumah aja, gue dirumah masa lo keluar"
Zeya melirik sekilas "emang gue peduli?"
"Tapi ka--"
"Bacot" potong zeya lalu pergi tanpa permisi
"Gk izin sama papah dulu?" ares sedikit mengeraskan suara nya karna Zeya sudah mulai menyalakan motornya didalam garasi
"Izin gak izin sama aja gue tetep gk dipeduliin" setelah mengatakan itu zeya memakai helm full facenya lalu mengeluarkan motornya dari garasi
"Jangan pulang larut malam" pesan ares
Zeya hanya menjawab dengan ancungan jempol saja setelahnya gadis itu melesat meningalkan halaman rumah mewah itu. Setelah zeya pergi ares masuk kembali kedalam rumahnya
-
-
Seorang gadis berhenti diarea pusat kulineran dijalan xx gadis ber rambut panjang terurai itu melangkah dengan langkah santai menuju pedangang langgananya. Zeya memakai baju berwarna hitam polos lengan pendek dengan celana jeans berwarna abu-abu sobek-sobek dipadukan dengan jaket kulit berwarna hitam miliknya menambah kesan kebadgrilannya menatap sekeliling tempat. Tatapanya berhenti disalah satu bangku yang sudah ada seorang yang menungunya
Excel pemuda dengan hodie hitam dipadukan dengan celana jeans hitam sobek-sobek itu melambaikan tanganya kearah zeya.
"Sorry lama" ucap zeya lalu ikut duduk dikursi didepan excel
"Santai aja kali kayak sama siapa aja lagian lo juga udah sering telat" ledek excel
"Sialan lu"
"Hahaha"
"Yaudah pesen sono" ucap zeya
"Tenang udah gue pesenin kok" jawab excel santai
Sambil menunggu Zeya melepas jaketnya dan menyisakan kaos hitam polos lengan pedek miliknya. Excel menatap wajah gadis yang sudah lama menepati hatinya itu.
"Gue emang gk salah suka sama dia" batin excel
"Cantik" pujinya didalam hati
"Cel lo udah coba game ini? "
"Cel?"
"Excell??" Zeya mengoyangkan bahu excel yang sendari tadi diam menatapnya
"Ah iya apa?"
"Lo bilang apa tadi?" Tanya excel sadar
"Lo kenapa sih?"
"Gue gapapa. Lo tadi bilang apa?" Tanya excel
"Ini lo udah pernah main game ini belum cobain deh seru buanget gue udah sampe level 4 susah tapi menantang tauk" jelas zeya antusias menujukan game zombie diponselnya
"Oh ya? Yaudah ntar gue coba" ucap excel
"Siap" jawab zeya lalu lanjut bermain game diponselnnya
"Lo emang beda zee ga salah kalau semua orang suka lo termasuk gue" batin excel masih tetap memadangi wajah zeya
Tiba-tiba
"Waduhh mas excel sampek gak kedip gitu ngelihat mbak zeya" ucap pak lek tukang bakso langanan mereka
Excel yang menyadari hal itupun mengubah posisinya "bisa aja pak lek ini tapi saya gak ngelihatin dia tapi ngelihatin itu jalanan rame bener jam segini" elaknya
Pria paru baya itu hanya tersenyum mendengar penjelasaan excel ia tahu kalau pemuda tampan yang selalu membantu mempromosikan daganganya itu menyukai gadis didepannya itu.
"Monggo diunjuk riyen" ucap pak lek itu
"Makasih paklek" ucap zeya
"Engeh mbak zeya" jawabnya
"Ojo sue-sue mas nk mendem selak diembat uong loh, bahaya " setelah mengatakan itu paklek penjual bakso itu tersenyum kearah excel lalu kembali menuju dagangnya
"Apa yang dipedam paklek?" Tanya zeya
"Oh itu ubi mbak zeya kemaren saya dikasih tau mas excel kalau ada ubi dirumahnya" bohong paklek
"Oh"
"Kenapa lo mau ubi juga?" Tanya excel ke zeya
Zeya mengeleng "males bakar sendiri kalau lo bakarin gue mau" ucap zeya lalu menyegir
"Dasar" excel mecubit pipi zeya gemas
"Aduh sakit ege"
"Lo gemesin"
"Dasar kadal lu"
Setelah itu kedua nya pun pokus pada makanan masing-masing. Hingga suara keributan membuat mereka berdua menoleh memberhentikan aktifitas makan mereka sejenak menatap kearah kerumunan didepan sana
"Ada apaan tuh?" Tanya excel
"I don't no"
" sok inggris lu" cibir excel
Zeya pun menyengir "lihat aja yuk penasaran gue" ajaknya
"disini aja. palingan juga emak-emak lagi marahin anaknya" ucap Excel santai lalu beralih kemangkok berisi bakso didepannya yang hanya tinggal setengah ityuh.
"Mas mas mas excel itu mbak zeyaa nya kok dibiar in kesana!!" Teriak paklek bakso
"Kesana gimana wong orang nya ada di--"
"Loh? Ze.. zeya " excel panik setelah menyadari zeya sudah tidak ada ditempatnya lagi
"Zeyaaa balik woiii!!" Teriak excel setelah tau bahwa zeya berjalan menuju kerumunan didepan sana
Excel pun beranjak dari tempatnya dan menyusul zeya.
'Pukul aja disini'
'Udah nyuri masih ngelak lagi'
'Pukul pukul"
Dimata zeya nampak seorang kakek-kakek tengah terduduk ditengah-tengah kerumanan bapak-bapak dan ibuk-ibuk yang sepertinya tengah menghakimi kakek tersebut yang katanya 'mencuri?' Kondisi kakek tersebut begitu memperhatinkan baju lusuh nya koyak dibeberapa tempat, sudut bibirnya berdarah, lalu ia melihat kakek tersebut mendekap sepotong roti yang sudah tidak seperti baru lagi. Tubuh kakek itu bergemetar karna takut
'Kita pukul aja disini pencuri seperti dia tidak pantas tetap berada disini?'
'Ia benar sudah mencuri dagangan saya malah sok ketakutan'
'Iya benar itu'
"STOPP!!"
Zeya melangkah mendekati kakek-kakek tersebut.
"Hati kalian terbuat dari apa sampai tega menghakimi beliau?" Zeya menujuk satu persatu orang-orang disana dengan tatapan begitu tajam
"Tau apa kamu? bocah bau kencur gausah ikut-ikut" ucap seorang bapak-bapak
"Iya dia sudah berani mencuri ditempatku" timpal ibuk berbaju merah
Zeya mebantu kakek itu untuk berdiri ia tidak akan membiarkan kakek tersebut dihakimi seenaknya oleh-oleh orang gila disana
"Jangan takut kek ada saya. Saya janji akan membantu anda" ucap zeya lirih memeluk tubuh renta kakek itu
"Pergi kamu dasar bocah. orang kayak dia tidak pantas untuk dikasihani"
"Betull itu betull" timpal yang lain
"Saya tau kakek ini salah tapi apa pantas kalian semua memperlakukan beliau seperti ini ha?"
"Beliau ini sudah tua. dimana hati nurani kalian semua??" Ucap zeya lantang.
gadis itu sama sekali tidak takut pada orang-orang disana.
"Alah bocah ingusan kayak kamu gausah sok ceramah"
"Dia sudah mencuri diwarung ku sudah tidak mau bayar malah kabur kalau gak punya uang gausah makan" ucap ibu berdaster merah itu lagi.
"Oh hanya karna sepotong roti yang tidak berharga ini anda sampai setega itu sama kakek ini?"
"Intinya saya tetap saja rugi" ucap ibu itu lagi
Zeya tersenyum sinis menatap ibu berdaster merah itu lalu sebelah tangannya pun mengeluarkan beberapa uang disaku celananya "saya yang akan bayar roti itu anda tidak perlu bersikap seolah-olah anda rugi 1 miliyar"
Zeya menyodorkan 5 uang berwarna merah kearah ibu berdaster merah itu. Mata ibu itu melotot menatap uang merah itu "mentang-mentang anak orang kaya jadi seenaknya dasar anak muda zaman sekarang hanya bisa bergantung pada orang tua saja" cibir ibu itu lagi namun tanggan nya tetap menerima uang tersebut dari tangan zeya
Zeya hanya tersenyum sinis "saya memang masih bergantung pada orangtua saya tapi saya tidak munafik seperti anda. uang anda terima tapi anda malah mengatai saya setelah uang itu berhasil berada ditangan anda"
Ibu itu diam seribu bahasa setelah mendengar ucapan zeya yang begitu menusuk hati sampai ketulang
"Orang seperti anda sudah sering saya temui. Permisi" ucap zeya lalu mengandeng kakek tua itu melangkah pergi menjauhi kerumunan toxis itu menuju tempatnya makan tadi berada
"Lo ngapain anjay disana?? Lo tau gue sampek k--" cerocos Excel mendekati zeya yang tengah membantu kakek tadi berjalan
"Diem lo bantuin gue dulu baru ceramah" potong zeya
Excel menurut pemuda itu pun membopong tubuh tua kakek tersebut menuju meja mereka.
"Ya Allah gusti ini kenapa mbak, Mas?" Tanya paklek setelah excel dan zeya membantu kakek itu duduk dikursi mereka
"Habis dipukul ii katanya kakek ini habis nyuri tadi" jelas excel ia mendengar dari beberapa orang tdi, saat ia membantu kakek tersebut
"Ya allah tega banget sampek kayak gini" lirih paklek
"Saya boleh minta tolong gak paklek?" Tanya zeya
"Yo boleh mbak mau minta tolong apa?" Tanya paklek tersebut
"Bikinin teh anget sama bakso nya 1 ya paklek sekalian saya titip kakek ini sebentar saya mau ke apotik dulu beli obat" ucap zeya
Paklek itu mengaguk tanda setuju.
"Yo ues tak buatkan dulu sebentar" ucap paklek itu lalu menghampiri dagangan nya lagi
"Kakek tunggu sini ya? Saya mau beli obat dulu" zeya berpamitan pada kakek itu
"Terimakasih yo nduk sudah mau bantu kakek" ucapnya pelan namun masih bisa didengar zeya
Zeya tersenyum manis senyum yang sama sekali belum pernah ia tunjukan membuat excel yang berada disampingnya ikut terhipnotis.
"Baru kali ini gue lihat zeya senyum semanis dan setulus itu" batin excel
"Gue ikut" ucap exel saat zeya ingin beranjak pergi
"Lo disini aja"
"Gak gue harus ikut ntar kalau lo kenapa-kenapa gimana?" Ucap excel memaksa
Zeya mengalah akhirnya gadis itu membiarkan excel ikut. Kedua remaja itu berbocengan, excel yang menyetir
"Zee"
"Hm?"
"Gue suka lo"
"Lo ngomong apa? Gue gak denger" ucap zeya sedikit berteriak karna saat excel berbicara ada suara motor lain yang menghalangi pendengaran nya
"Kita langsung keapotik kan ini?" Tanya excel menganti kalimat yang tadi sempat ia ucapkan
"Iya lah kasihan kakeknya nunguin" jawab zeya
"Oke"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments