"Diamlah"
Titah Edward saat Emily mencoba menghindar. Membuat gadis itu semakin resah sampai harus memejamkan matanya.
"Kak..kakak mau ngapain?"
Tanya Emily dengan nada yang bergetar. Tiba-tiba saja Ia terbayang dengan ciuman panas mereka semalam. "Mungkinkah Kak Edward akan mengulanginya lagi" Tanyanya dalam hati.
Gadis itu mulai merasakan desiran aneh saat kakak angkatnya itu mulai menyentuh wajahnya.
"Hem. Dasar gadis ceroboh, lihatlah ada sisa coklat menempel di bibirmu"
Edward Membersihkan sisa coklat yang menempel di sudut bibir Emily dengan ibu jarinya. Gadis itupun hanya bisa menunduk malu.
Malu karna begitu ceroboh hingga sisa makanan masih menempel di bibirnya dan juga malu karna sempat berpikir jika Kakak angkatnya itu akan berbuat hal yang tidak-tidak terhadapnya.
"Aahh dasar bodoh! kenapa aku bisa seceroboh ini sih? Malukan jadinya sama kak Edward"
Rutuki Emily pada dirinya sendiri, dan tentu saja hanya terucap dalam batinnya saja.
"kenapa?"
Tanya Edward yang merasa heran saat melihat perubahan di raut muka sang adik, Gadis itupun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"T-terima kasih Kak"
Namun hanya kata-kata itu saja yang lagi dan lagi terucap dari mulutnya, saking tergugupnya dengan perlakuan Edward, Emily yang periang berubah jadi gadis yang kaku.
Bukan hanya Emily saja, nyatanya Edward pun merasakan kegugupan yang sama, jantungnya berdetak begitu kencang setiap berada dekat adik angkatnya itu. Namun Edward berhasil menutupi rasa gugupnya itu lewat sikapnya yang dingin.
"Sudah cukup berterima kasihnya, apa kamu tidak bisa mengucapkan kata yang lain lagi. Aku bosan mendengarnya"
Hardik Edward yang sudah mulai muak mendengar kata terima kasih dari Emily. Namun tanpa sadar Edward berbicara dengan kata aku dan kamu pada gadis itu, bukan lagi lo gue seperti biasanya.
Konon katanya kita akan berbicara menggunakan kata aku dan kamu, hanya pada orang tertentu saja, salah satunya pada orang yang kita suka.
"Maaf" ucap Emily akhirnya. setidaknya bukan kata terima kasih lagi yang terucap dari lidahnya yang kelu.
"Nanti malam buatkan aku pancake seperti yang kemarin. Anggaplah itu sebagai ungkapan rasa terima kasihmu padaku"
Pinta Edward.
"Baiklah" Emily pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Aku masuk dulu ya, Te---eh Hati-hati Kak"
Setelah itu dia keluar dari mobil Edward tanpa mengucapkan kata terima kasih lagi, walaupun nyaris saja kata itu terucap lagi.
"Dasar gadis ceroboh!"
Cicit Edward namun sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat melihat Emily berlari menuju kelasnya dengan tergesa, hingga hampir menabrak seseorang.
deg
Edward memegang dadanya sendiri, yang masih saja berdebar kencang padahal Emily sudah pergi meninggalkan mobilnya. Setiap dekat dengan gadis itu jantungnya seakan berpacu menjadi lebih cepat.
"Ini tidak baik untuk kesehatan jantungku, sebenarnya aku kenapa sih?" Lirihnya sembari terus menatap punggung Emily yang semakin menjauh.
"Ya ampun sudah jam segini, gara-gara mengantar gadis ceroboh itu aku bisa terlambat di hari pertamaku bekerja"
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Edward pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit Medistra tempatnya bekerja, jam sudah menunjukan pukul 7.55. Ini hari pertamanya bekerja, Edward harus memberi kesan baik dengan tidak datang terlambat di hari pertamanya bekerja.
***
Emily terus berlari menuju kelasnya dengan tergesa-gesa. Melewati kerumunan orang dan kadang gadis itu bertabrakan dengan orang yang menghalangi langkahnya.
"Permisi..Permisi..awas!"
Teriaknya sambil berlari.
"EMily hati-hati"
Peringati seseorang temannya.
"Maaf..aku buru-buru"
Ucapnya tanpa menghentikan langkahnya, hanya menoleh sembari melempar senyum saja.
Ceklek ngeek
"Huhf Syukurlah...Miss Cristy belum datang"
Emily menghembuskan napas lega saat Ia tiba di kelasnya tepat waktu.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, mencari ke beradaan Anya dan Maura. Namun Emily hanya mendapati Maura saja, sedangkan bangku Anya terlihat kosong.
Emily bertanya "kemana Anya?" lewat sorot matanya pada Maura dan gadis itu menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Setelah itu memalingkan pandangannya dari Emily.
"Aneh, kenapa Maura bersikap seperti itu?"
Tanya Emily dalam hatinya. Tak seperti biasanya, karna biasanya Maura selalu menyapa Emily saat mereka bertemu. Tapi sekarang terkesan sedang menghindar.
Emily Ingin menghampiri Maura dan bicara secara langsung dengannya, namun hal itu urung Ia lakukan karna Miss Cristy keburu datang.
Dengan terpaksa Emily duduk di bangku miliknya. Sesekali Ia akan melihat ke arah belakang, tepatnya ke arah Maura. Namun gadis itu malah sibuk berbincang dengan temannya yang lain, tepatnya sengaja berbicara dengan orang lain agar terhindar dari tatapan Emily.
2 jam berlalu begitu lambat bagi Emily, Ia ingin kelas Miss Cristy segera berakhir agar ia bisa bicara dengan Maura secepatnya. Namun belum juga Emily merapihkan buku-bukunya, Maura sudah lebih dulu meninggalkan kelas.
"Maura tunggu!"
Teriak Emily memanggil Maura, namun yang di panggil jangankan berhenti menyahut saja tidak..
"Tuh kan gara-gara kak Edward sih. Maura jadi marah kan sama aku"
"Pasti karna kak Edward Nelepon orang tua Maura pake HP aku, makanya Maura marah dan menganggap aku tukang ngadu"
Gerutu Emily dalam hati dengan wajah yang di tekuk.
Drrd Drrd Drrd ponsel Emily bergetar, ada sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselnya.
"Maura? Kenapa dia mengirim pesan?"
Tanya Emily heran, tadi Maura pergi begitu saja saat di panggil dan sekarang malah mengirim pesan. Untuk menghilangkan rasa penasaran di hatinya, Emily pun membaca pesan dari Maura.
[Sorry ya Mil, gue buru-buru harus pulang. Mama gak ngizinin gue deket-deket lagi sama lo ataupun Anya. Kata Mama kalian membawa pengaruh yang tidak baik buat gue]
Isi pesan dari Maura, di akhiri dengan emoticon menangis dan tangan mengatup.
"Huhf..Bukannya pergi ke club malam itu idenya mereka berdua ya. Kok jadi gue yang di salahin sih?"
Sungut Emily tak terima. Kenapa dia yang jadi kambing hitam, padahal dia cuma ikut-ikutan ide Anya dan Maura saja. Itupun Emily lakukan dengan terpaksa atas nama persahabatan.
Tapi setelah itu Emily tersenyum simpul, Ia sedikit merasa lega setidaknya Maura baik-baik saja.
Lalu bagaimana dengan Anya? Gadis itu tidak ada kabarnya sama sekali. Mau bertanya pada Maura pun tidak mungkin karna jelas-jelas kini gadis itu menghindarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments