"Arrggghh!"
Pekik Edward yang mulai gusar. Sudah hampir satu jam pria itu mencoba untuk tidur, namun tak bisa juga. Bayang-bayang wajah cantik Emily semakin berani saja menggoda pria itu dalam benaknya.
"Gue kenapa sih? Kenapa dari tadi mikirin dia terus?"
Tanya Edward pada dirinya sendiri.
Edward yang tak pernah serius menjalin hubungan dengan wanita manapun, apalagi sampai melibatkan perasaannya. Mana tahu kalau saat ini virus cinta sudah mulai bersarang di hatinya.
***
[Milly cepetan dong, kita udah stand by nih di deket rumah lo]
Isi pesan Chat dari Anya, sahabat sekaligus teman kuliah Emily.
Saat ini Anya dan Maura sedang menjemput Emily karna mereka memiliki janji untuk menghabiskan malam bersama di sebuah club malam.
[Iya sabar, gue tadi sibuk ngurusin saudara gue yang baru pulang dari Amerika. Tunggu 15 menit lagi ya]
Balas Emily. Setelah itu Ia memasukan benda pipihnya kedalam tas mahalnya dan bersiap untuk pergi.
Kalau bukan atas nama persahabatan Emily mana berani keluar rumah larut malam seperti ini. Petter dan Sofia juga tidak akan pernah mengizinkan.
Namun hari ini adalah hari ulang tahun Anya yang ke 18 tahun, dia ingin merayakan hari pergantian usianya di sebuah club malam dengan para sahabatnya, yaitu Emily dan Maura. Jadi untuk malam ini, Emily terpaksa akan melanggar peraturan dari orang tuanya.
Sebelum Emily pergi, Ia memperhatikan penampilan dirinya di pantulan cermin.
"Cantik"
Ucapnya tak pernah sungkan untuk memuji dirinya sendiri, Sebuah dress mini berwarna hitam kini sudah membalut tubuh indahnya. Gadis itu juga tak lupa merias wajahnya tipis-tipis dan mengoles bibirnya dengan lipstik berwarna peach.
Cek lek
Dengan sangat hati-hati Emily membuka pintu kamarnya agar tak bersuara sedikitpun.
Setelah memastikan situasi aman, gadis itu mulai mengendap-endap menuju pintu samping. Sengaja tidak lewat pintu utama karna di sana selalu ada penjaga keamanan yang selalu berjaga 24 jam.
Hup
Dengan lihai Emily memanjat pagar di tepi kolam renangnya dan melompat keluar. Jangan tanya dari siapa Emily belajar semua itu, tentu saja dari Edward semasa remaja dulu, sebelum pria itu kuliah di Amerika.
Diam-diam Emily selalu memperhatikan Edward saat hendak kabur dari rumah.
"Wow.. keren.."
Ucap Edward yang sedari tadi sedang memperhatikan tingkah adik angkatnya itu dari balkon kamarnya.
Karna tak juga bisa tidur, Edward memutuskan untuk menikmati udara malam di balkon kamarnya. Menyesap sebatang rokok untuk sekedar menghilangkan penat.
Sejak menjadi seorang dokter Edward benar-benar menghindari rokok dan minuman beralkohol, hanya saat sedang gabut seperti sekarang saja ia akan melakukannya. Itu pun hanya satu batang, Edward sudah berjanji pada dirinya sendiri.
"Mau kemana dia malam-malam begini?"
***
***
"Lama!"
Pekik Anya dan Maura secara bersamaan saat Emily sudah masuk kedalam mobil mereka.
"Berisik! Segini juga butuh perjuangan keras untuk gue bisa ada disini. Dan ini semua demi lo!"
Ucap Emily. Jari lentiknya menunjuk tepat ke wajah Anya yang ada di balik kemudi, namun gadis itu sedang menoleh kebelakang tepatnya ke arah Emily.
"Hmmm. So sweet. Thank you ya. Kalian berdua emang bestie sejati gue"
Ungkap Anya pada kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga berhasil keluar dari rumah dengan caranya masing-masing, tentunya tanpa minta izin pada orang tua mereka terlebih dahulu. Sedangkan mobil itu Anya pinjam dari sepupunya.
"Udahlah ayo jalan!"
Ucap Maura yang sudah tak sabaran menikmati pesta ulang tahun sahabatnya yang tak biasa.
***
Ketiga gadis cantik yang baru saja memasuki area club malam itu, langsung menjadi pusat perhatian para pria hidung belang di sana.
Bahkan tanpa ragu dan sungkan beberapa dari mereka berani mendekati dan merayu mereka secara terang-terangan.
"Hi cantik, kita boleh gabung"
Kata seorang Pria sebaya mereka yang memiliki wajah cukup tampan, pria itu bersama seorang temannya yang terlihat sedikit lebih tua.
"Boleh kok, Silahan duduk."
Jawab Anya. Ia bahkan langsung memberi ruang pada dua pria itu untuk duduk dengan mereka, tanpa menanyakan pendapat Emily dan Maura terlebih dahulu. Emily dan Maura sudah memasang raut muka tak nyamannya atas ke hadiran 2 pria asing tersebut.
"Katanya cuma kita bertiga, kok lo biarin mereka gabung sih"
Bisik Emily di telinga Anya.
"Gak papa, justru makin rame makin seru"
Jawab Anya dengan nada santainya. Emily pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Ting Ting Ting
Suara denting gelas yang beradu terdengar sangat merdu di telinga Anya, Ia bahkan langsung meneguk minuman beralkohol itu dalam sekali teguk saja.
Berbeda dengan Emily dan Maura yang tampak ragu-ragu untuk menenggak minuman yang baru pertama kali mereka teguk itu.
"Ayo minum!"
Pinta Anya saat melihat kedua temannya itu hanya menatap gelas dalam genggaman mereka.
"I-iya"
Jawab Maura, akhirnya dia meneguk juga minuman beralkohol itu. Karna merasa tak enak dengan kedua sahabatnya Emily pun mengikuti Maura, meneguk minuman itu hingga tandas.
Kedua pria Asing yang ternyata bernama Martin dan Diego itu, terus saja memandang ketiga gadis dihadapan mereka dengan senyum smirknya.
Tatapan mereka lebih banyak tertuju pada Emily, karna gadis itu yang paling menonjol kecantikannya diantara dua sahabatnya yang lain.
"Yang baju hitam itu punya gue!"
Bisik Diego pada Martin. Walaupun sebenarnya Martin juga tertarik pada gadis berdress hitam itu, tapi Ia mengalah pada Diego. Karna sepertinya Diego lebih berkuasa dari Martin.
"Ayo sayang minum satu gelas lagi"
Ucap Diego sembari menuangkan minuman ke gelas Emily yang kosong.
"Teri ma kasih hee"
Jawab Emily yang sudah dalam keadaan setengah mabuk. Walaupun gadis itu baru minum satu gelas saja.
#Adegan tidak untuk di tiru
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments