Pergi dan kembali

Dengan alasan akan menjaga Emily yang masih sakit, Sofia jadi tidak ikut serta mengantarkan keberangkatan Edward ke Amerika. Alhasil Edward hanya di antar oleh Petter saja di bandara.

"Selama di Amerika kamu akan tinggal di rumah Grandma Renata"

Ucap Petter sembari menepuk pundak Edward.

"Hmmm"

"Jangan sampai ada keluhan dari Grandma tentang kamu, selama kamu tinggal dengannya"

Petuah Petter lagi.

"Hmmm"

Dan Edward hanya menanggapinya dingin.

"Jangan buat masalah selama di Amerika, walaupun Papa tidak ada disana. Tapi Papa punya banyak mata-mata untuk mengawasi kamu, paham!"

Edward menatap sekilas wajah Papanya dengan muka yang di tekuk, sangat menyebalkan untuk jiwa seorang Edward yang bebas saat mendengar dirinya akan selalu di awasi.

"Hmmm. Terserah Papa saja"

Walaupun sangat keberatan tapi akhirnya Edward menurut saja. Ia tidak ingin ada perdebatan dengan sang Papa di detik-detik terakhirnya di negara ini.

Begitu banyak petuah yang di ucapkan Petter pada putra semata wayangnya itu. Namun ucapan Pria paruh baya itu hanya dianggap angin lalu saja oleh Edward. Masuk lewat kuping kanan, keluar lewat kuping kiri. Walaupun sesekali Edward akan mengangguk-anggukan kepalanya seakan benar-benar menyimak semua perkataan sang Papa.

"Jangan kecewakan Papa! pulanglah dengan gelar sarjana lulusan terbaik di Amerika!"

Ucap Petter sembari menepuk-nepuk bahu sang putra. Bukan tanpa alasan pria itu berharap tinggi pada putranya, Edward memang cerdas dalam hal pelajaran. Ia selalu jadi juara kelas.

Barulah sejak masuk bangku sekolah menengah, Edward mulai menjelma jadi Bad Boy dan hobby membuat masalah.

Setelah merasa cukup memberikan wejangan pada sang putra yang akan pergi jauh darinya dalam waktu yang sangat lama, kemudian Petter pun berlalu pergi.

Edward tersenyum getir menatap punggung sang Papa yang semakin jauh meninggalkannya, kemudian menghilang di antara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dibandara international tersebut.

Cukup lama Edward mematung di tempatnya semula, Edward tak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri setelah Petter pergi.

Edward masih berharap Mamanya akan muncul dan memberi pelukan perpisahan untuknya.

Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Cukup lama Edward menunggu sampai panggilan terakhir dari pesawat yang akan membawa Edward menuju ke negara asal Grandmanya itu kembali menggema.

"Ck. Dasar Emily! anak itu benar-benar sudah mencuri Mama dariku"

Dengan raut muka kecewa Edward pun melangkah maju untuk melakukan Boarding pass.

Wussss

Burung besi itupun membawa Edward pergi jauh meninggalkan negara kelahirannya, menuju negara Amerika tempatnya akan menimba ilmu.

***

***

A FEW MOMENT LATER

Dengan burung besi dari maskapai yang sama, akhirnya Edward kembali pulang setelah menyelesaikan pendidikannya di Amerika.

Pria yang kini telah tumbuh dewasa itu sengaja tidak memberi kabar tentang kepulangannya kepada siapapun, termasuk Sofia. Padahal beberapa waktu yang lalu Edward baru saja teleponan dengan Mamanya itu.

Edward ingin memberi kejutan pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.

"Hmmm...Ahhh...Akhirnya aku bisa menghirup udara ini lagi"

Aroma rempah yang kuat langsung menusuk hidung Edward ketika Ia baru tiba dibandara, seketika perutnya menjadi sangat lapar.

Dibandara itu ada sebuah restoran khas negara ini, aromanya yang kuat bisa tercium hingga sampai ke tempat Edward berdiri saat ini.

Edward ingin mampir ke restoran itu, tapi ia urungkan karna sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mamanya.

"Sudah lama aku tidak makan masakan Mama, masak apa ya Mama hari ini?"

Batin Edward sembari membayangkan masakan Sofia.

Edward mengedarkan pandangannya di area bandara, banyak yang berubah dari bandara tersebut setelah bertahun-tahun berlalu.

Selama di Amerika, Edward memang tak pernah sekalipun pulang ke negara asalnya. sekalipun dia sedang libur kuliah.

Karna bukan hanya kuliah saja, selama di Amerika nyatanya Edward juga bekerja di rumah sakit milik keluarga besarnya di sana sebagai seorang dokter.

Sebagai Dokter magang yang haus akan pengalaman dan wawasan, waktu libur kuliahnya Edward gunakan untuk bekerja di rumah sakit saja.

"Mau kemana Tuan?"

Tanya seorang pria paruh baya yang ternyata adalah seorang supir taksi.

Edward merogoh saku celananya, kemudian memberikan secarik kertas yang berisi alamat rumah yang di tempati keluarga Anderson sekarang.

Pria paruh baya itupun meraih kertas yang diberikan oleh Edward, kemudian Ia mengangguk paham.

Petter sudah tidak menjabat sebagai gubernur lagi sekarang, jadi Petter dan keluarganya sudah tidak tinggal di rumah dinas lagi. Melainkan di rumah utama mereka yang jauh lebih besar dan mewah dari rumah dinas tersebut.

"Yes sir"

Ucap supir taksi itu dalam bahasa inggris. Supir taksi itu mengira Edward adalah turis asing dan tidak bisa berbahasa indonesia. Edward hanya tersenyum saja, sudah biasa baginya di perlakukan seperti ini oleh orang-orang yang baru mengenalnya.

Bruummm

Mobil taksi itu melaju dalam kecepatan sedang sesuai permintaan Edward, Pria itu ingin menikmati suasana kampung halamannya dengan tenang.

"Mr. Where are you come from?"

Sesekali supir taksi itu mencoba mengajak Edward berbincang dalam bahasa inggrisnya yang ala kadarnya

"I am From Amerika"

Edward meladeni saja dan menjawab pertanyaan supir taksi itu dalam bahasa inggris juga.

"Stop..Disini pak, itu rumah saya"

Ucap Edward saat melihat rumah besar bercat putih dengan pagar besi yang menjulang tinggi sudah ada di depan matanya.

"Lah, bisa bahasa indonesia juga ternyata?"

Ujar Supir taksi itu keheranan saat mendengar Edward berbicara dalam bahasa indonesia.

"Ya bisalah Pak, saya kan lahir di negara ini juga"

Jawab Edward terkekeh, perbincangan dengan supir taksi yang ramah itu membawa hiburan tersendiri baginya.

Edward memberikan ongkos lebih pada supir taksi itu, bahkan hampir dua kali lipatnya. Membuat wajah bingung pria paruh baya itu berubah menjadi sumringah.

"Terima kasih MR"

Ucap supir taksi itu sebelum berlalu pergi. Edward hanya tersenyum dengan anggukan kecil.

Huhf

Edward menghembuskan napas lega, Ia tak langsung masuk ke dalam rumah masa kecilnya itu. Ia masih betah mematung di depan pintu gerbang rumah mewahnya.

"Akhirnya aku pulang juga"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!