"Maafkan kami Tuan, Janin dalam kandungan ibu Sofia tidak bisa di selamatkan. Dan demi keselamatan nyonya Sofia terpaksa rahim nyonya sofia harus ikut di angkat juga"
Dunia Petter seperti jungkir balik saat mendengar perkataan dari pria ber jas putih itu.
Cukup lama Petter dan Sofia menanti kehadiran buah hati lagi di tengah keluarga kecil mereka. Setelah Edward lahir, Sofia mengalami kesulitan untuk mengandung lagi. Padahal Sofia sangat mendamba memiliki seorang anak perempuan.
Sudah banyak usaha yang mereka lakukan agar sofia bisa mengandung lagi, tapi belum juga membuahkan hasil.
Barulah saat Edward beranjak remaja dan saat usia Sofia tak muda lagi, dia berhasil hamil lewat proses bayi tabung.
Mengandung di usia menjelang 40 tahun, membuat kondisi kehamilan Sofia sangat rentan dan harus dijaga dengan baik-baik.
Namun semua usaha mereka selama ini, seakan sudah menemui takdirnya yaitu kegagalan. Petter tidak bisa membayangkan reaksi istrinya nanti, saat mengetahui bayi mereka yang telah lama mereka nantikan kehadirannya tidak akan pernah lahir kedunia.
Apalagi bayi yang belum lahir itu di prediksi berjenis kelamin perempuan, seperti harapan mereka selama ini.
"Gak. Gak. gak mungkin dokter, anda jangan main-main"
Petter tak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Dokter itu, padalah sudah jelas perut istrinya dalam kondisi rata saat ini, menandakan tidak ada lagi janin yang berkembang di dalamnya.
"Sabar Tuan, Anda harus kuat. Saat ini Ibu Sofia masih dalam keadaan kritis dia butuh dukungan dari orang terdekatnya"
Dokter itu menepuk pelan pundak Petter, mencoba memberi kekuatan pada pria itu.
***
***
"Pah, bagaimana keadaan Mama?"
Tanya Edward dengan napas terengah-engah, dia datang dengan tergesa menuju rumah sakit begitu mendengar kabar Mamanya mengalami kecelakaan.
Bugh
Bukannya mendapat jawaban, sebuah pukulan mendarat sempurna di wajah tampan blasteran Asia-Amerika milik Edward, ini adalah kali petama Ia mendapat pukulan dari dari ayah kandungnya sendiri.
Edward yang masih shock mendengar Mamanya kecelakaan, kini bertambah Shock karna menerima pukulan dari Petter.
"Dasar anak nakal, kalau saja kamu tidak membuat masalah di sekolah, Mama kamu tidak harus pergi kesekolah dan kecelakaan ini tidak akan terjadi!"
Sentak Petter dengan mata yang membelalak ke arah putranya. Edward belum pernah melihat ayahnya semarah ini dalam hidupnya.
Petter yang putus asa melampiaskan semua kekesalannya pada Edward. Petter menganggap Edward adalah penyebab dari kecelakaan yang menimpa istrinya.
Edward hanya bisa diam mematung sembari memegangi wajahnya yang mulai terasa perih akibat pukulan Petter.
"K-kami turut berduka atas musibah yang menimpa istri anda Tuan"
Ucap Arman, orang tua dari anak yang telah di buat babak belur oleh Edward. Petter hanya menanggapi dingin ucapan Arman.
Begitu mendengar kabar Jika Mama Edward mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju ke sekolah. Arman dan istrinya ikut merasa iba dan melupakan kasus Edward dan putra mereka untuk sejenak.
***
***
Arrrggghhh
Edward yang masih shock melihat kondisi Mamanya yang kritis di tambah lagi dengan Papanya yang menganggap dirinya penyebab dari masalah ini hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan berteriak sekeras-kerasnya.
Edward Saat ini sedang berada di balkon apartemen Garry teman sekolah sekaligus sahabatnya.
"Tenang Bro, santai aja. Semua manusia itu pasti punya masalah tergantung cara kita menyikapinya"
Ucap Garry pada Edward. Kamar Garry kini sudah tak berbentuk lagi karna menjadi korban kemarahan Edward. Edward juga melampiaskan kekesalannya karna mendapat pukulan dari Petter dengan cara membanting semua barang di kamar Garry.
Garry membiarkan saja tingkah sahabatnya itu, tentunya setelah dia mengamankan benda-benda berharga miliknya.
Apartemen itu adalah milik pribadi Garry sendiri, tidak akan ada orang tua yang akan memarahinya, Karna Garry memang tidak memilikinya lagi. Garry mendapat apartemen ini sebagai hadiah ulang tahun yang ke 17 dari pamannya beberapa bulan yang lalu.
"lo bisa ngomong gitu karna lo ga ada di posisi gue"
Ucap Edward penuh penekanan.
"Ck.Masalah lo itu justru gak ada apa-apanya jika di banding masalah hidup gue"
Garry berdecak kesal saat melihat Sahabatnya itu seolah menjadi manusia paling malang di dunia, padahal masalah yang di hadapi Edward saat ini tidak ada apa-apanya jika di banding masalah yang pernah Garry hadapi.
Edward menatap sekilas wajah Garry, pria itu hanya tersenyum getir.
Saat Garry masih kecil seluruh keluarganya menjadi korban pembunuhan dari rival bisnis Ayahnya. Satu keluarga di ban-tai habis.
Hanya Garrry satu-satu korban yang selamat, karna saat peristiwa berdarah itu terjadi, ibunya menyembunyikan Garry kecil di Plafon rumah mereka.
Berhari-hari Garry terjebak di plafon rumah itu, karna semua orang mengira tidak ada korban selamat di rumah itu. Setelah beberapa hari barulah pamannya berhasil menemukan Garry.
Pamannya itu merasa heran karna tak berhasil menemukan jasad Garry dimanan pun, hal itu membuat pamannya yakin kalau Garry masih hidup.
Setelah mencari ke segala sudut rumah, akhirnya Garry di temukan di plafon rumah oleh pamannya sendiri.
Tapi Garry masih bisa hidup dengan santai sekarang, seolah tidak ada beban dalam hidupnya.
"Ya lo bener, masalah gue gak ada apa-apanya di banding masalah hidup lo"
Edward tersenyum getir, walaupun Ia harus kehilangan calon adiknya, tapi setidaknya Mamanya masih selamat. Sedangkan Garry, dia kehilangan seluruh keluarganya.
"Sayang ayo, lama banget sih.."
Seorang wanita berpakain sexy memanggil Garry dari ambang pintu kamar sebelah, di apartemen Garry memang terdapat 2 kamar. Wanita itu adalah Vanessa teman sekolah mereka sekaligus kekasih Garry.
"Ok sayang aku datang, bersiaplah..."
Garry langsung menghampiri gadis itu dengan penuh semangat.
Acchhh Ssssshh mmmhhh
Suara-suara aneh terdengar sampai di telinga Edward saat pintu kamar yang di masuki Garry sudah tertutup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments