Adik ketemu besar

"E-mi-ly? Apa itu namamu nak?"

Sofia membaca huruf-huruf yang membentuk tulisan EMILY pada kalung anak tersebut.

Anak perempuan itu hanya terdiam sembari memegang kepalanya yang mendadak sakit. Sekelebat bayangan tentang masa lalunya terlintas di ingatannya walau sekilas.

"Sudah Mah jangan di paksa, kasian dia"

Petter merangkul bahu Sofia dan mengajaknya untuk kembali pulang.

"Pah, bagaimana kalau anak itu ikut kita pulang ke rumah?"

Sofia menghentikan langkahnya dan kembali menatap ke arah gadis yang Sofia perkirakan bernama Emily itu.

Petter diam sejenak dan menatap ke arah istrinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

Brummm

Mobil yang di kendarai Petter melaju dengan cepat, hingga daun-daun kering yang terlindas mobil mewah itu berterbangan ke segala arah.

Senyum terus mengembang di wajah Sofia, wanita itu terus menatap ke arah Emily sembari membelai rambutnya yang lembut.

"Kamu cantik, rambut kamu juga bagus. Pasti orang tua kamu sudah merawat kamu dengan baik selama ini"

Ucap Sofia sembari membelai lembut rambut panjang Emily.

"Sebelum orang tua kamu di temukan, kamu tinggal bersama kami dulu ya"

Emily hanya tersenyum menanggapi ucapan Sofia tanpa berbicara sepatah katapun, gadis kecil itu bisa merasakan ketulusan hati Sofia.

Beberapa hari terakhir ini Emily sudah bertemu dengan beberapa orang yang memperlakukannya dengan sangat buruk. walaupun ingatannya terbatas, tapi Ia masih bisa mengingat jika dirinya di perlakukan dengan sangat kasar oleh komplotan mafia kejam yang akan menjual dirinya ke luar negri.

Dia juga diperlakukan dengan sangat buruk oleh seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya. Namun Emily tak yakin jika wanita itu benar-benar ibunya. Karna gadis itu benar-benar tak bisa mengingat apapun.

Barulah setelah bertemu dengan Sofia dia bisa merasa aman dan kembali mengulas senyumnya.

Demi membahagiakan istrinya, Petter menuruti keinginan Sofia untuk membawa gadis itu pulang ke rumah mereka.

Cek lek ngeeek

Sofia membimbing Emily masuk ke dalam rumah mewahnya.

"Mulai sekarang, anggap rumah ini sebagai rumah kamu sendiri ya" Ucap Sofia sambil terus merangkul bahu Emily.

Emily tampak biasa saja seolah dia sudah terbiasa tinggal di rumah mewah sebelumnya.

"Siapa dia Mah? Kenapa dia ada di sini?"

Tanya Edward dengan tatapan tajamnya, membuat Emily takut dan menyembunyikan tubuhnya di belakang Sofia. Tubuh Emily hanya lebih pendek sedikit saja dari Sofia, jadi Edward masih bisa melihat Emily dengan sangat jelas.

"Mulai sekarang dia akan menjadi putri kami dan tinggal di rumah ini, Emily adik kamu sekarang"

Jawab Petter yang baru saja masuk ke dalam rumah.

"Edward, mulai sekarang perlakukan Emily sebagai adik kamu sendiri ya. Jangan buat dia takut dengan berkata kasar atau berkata dengan nada yang tinggi seperti tadi" Sambung Sofia.

"Apa? Adik?"

Edward mengernyitkan dahinya. Dia memang sudah mempersiapkan dirinya menjadi seorang kakak sejak Ia tahu ibunya sedang mengandung. Tapi Edward tidak pernah mengira kalau adiknya akan langsung sebesar ini.

"Baiklah terserah Mama, asalkan Mama bahagia"

Ucap Edward sembari mengecup pipi Sofia, kemudian pemuda blasteran Asia Amerika itu berlalu pergi menuju pintu keluar. Sekedar informasi jika Nenek Edward adalah orang Amerika asli.

"Mau kemana lagi kamu?"

Cekal Petter sebelum putranya keluar dari rumah.

"Ada pertandingan basket Pah, Edward jadi salah satu perwakilan dari sekolah"

Jawab Edward apa adanya, karna memang itu tujuannya keluar rumah kali ini. Bahkan dia sudah siap dengan setelan jersey olah raganya.

"Baiklah. Tapi awas kalau kamu berani cari masalah lagi diluar sana, Papa tidak main-main untuk mengirim kamu sekolah di Amerika" Ancam Petter.

Edward memutar bola matanya dengan malas, dia bukanlah anak kecil lagi yang mempan dengan sebuah ancaman. Walaupun sebenarnya Edward sangat tidak menginginkan jika orang tuanya mengirim dia ke Amerika. Karna pasti di sana dia akan di kirim ke rumah Grandmanya yang menakutkan.

"Hem.." Edward hanya berdehem saja kemudian berlalu meninggalkan kedua orang tua juga adik angkatnya yang baru bertemu setelah mereka besar.

***

***

Edward... Edward....Edward

Para gadis yang duduk di tribun penonton itu hanya menyerukan nama Edward saja, padahal bukan hanya Edward yang bertanding kali ini, melainkan teman satu timnya juga.

"Hufh.. Cewek-cewek itu cuma nyebut nama lo doang. Berarti lo harus nyetak poin paling banyak hari ini"

Kata Julian setengah bergurau, walau terbersit rasa iri juga di hatinya pada teman satu timnya itu. Karna perhatian para suporter timnya hanya tertuju pada Edward saja.

Bukan hanya berparas tampan dan anak pejabat, nyatanya Edward sangat berbakat di lapangan. Walaupun dia terkenal nakal dan Arogan tapi tidak melunturkan pesonanya sedikitpun. Pantas saja kalau dia menjadi idola di sekolahnya.

"lo tenang aja, tim kita pasti menang seperti biasanya"

Jawab Edward penuh rasa percaya diri dan keyakinan.

***

Tak lama pertandingan basket antar sekolah pun di mulai. Edward bermain tidak fokus dalam pertandingan kali ini, padahal di awal pertandingan Ia begitu percaya diri.

Tim basket sekolah mereka menang tipis dengan poin 101-99. Tapi Edward tetap menyumbangkan poin paling banyak walau tak sebanyak biasanya.

Pikiran Edward sedang kacau saat ini, di tengah pertandingan tiba-tiba fokusnya teralihkan pada sosok anak perempuan yang dibawa pulang oleh orang tuanya ke rumah, apalagi orang tuanya bilang gadis bernama Emily itu akan menjadi adiknya mulai dari sekarang.

"Arrggh. Hampir saja tim kita kalah gara-gara lo ga Fokus"

Denny tiba-tiba datang dan melampiaskan kekesalannya pada Edward.

"Santai aja Bro, yang penting tim kita tetap menang"

Jawab Edward masih dengan nada santainya.

"Menang tipis doang bro. Cuma selisih 2 poin. gak ngerti gue sama lo! kenapa permainan lo buruk banget hari ini."

Edward mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Denny. Kesabarannya yang memang setipis tisu itu akhirnya habis juga.

"Ngomong apa lo barusan. Lo sendiri apa? lemparan bola lo juga banyak yang meleset. Seenggaknya gue masih menjadi penyumbang poin terbanyak di tim ini"

Edward tak terima dan mulai menyerang balik Denny. Yang semula hanya adu mulut saja, lama-lama berubah jadi adu jotos.

Lagi-lagi Edward membuat anak orang jadi babak belur dan masuk rumah sakit.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!