Mulai Membaik

"Ada Keluarga yang sedang mencari seorang anak Perempuan bernama Emily Tuan"

Ucap anak buah Petter dengan nada lugas. Seperti seorang prajurit yang memberi laporan pada komandannya.

Deg

Jantung Petter seakan berhenti untuk sesaat, apa yang Ia takutkan selama ini benar-benar terjadi.

"Bagaimana kau yakin, kalau Emily yang mereka cari adalah Emilyku? Mungkin saja anak perempuan lain? Ada jutaan manusia di dunia ini yang memiliki nama yang sama"

Petter berharap Emily yang mereka cari, bukanlah Emily yang kini berada di rumahnya.

Petter dan Sofia benar-benar sudah jatuh hati pada Emily, Petter tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada istrinya kalau Emily pergi dari kehidupan mereka saat ini.

Sofia bisa terguncang dan kembali depresi, seperti saat dia kehilangan calon bayinya beberapa bulan yang lalu.

"Lihat ini Tuan, mereka membawa foto putri mereka"

Keyakinan Petter terpatahkan saat melihat Foto yang di tunjukan anak buahnya itu, karna memang benar Emily yang mereka cari adalah Emily yang sama dengan Emily yang sudah di anggap anak oleh Petter dan Sofia selama ini.

"Ikut aku, kita bicara di sana saja!"

Petter berjalan menuju ke arah Gazebo yang terletak cukup jauh dari rumah utama, anak buahnya mengikuti langkah Petter dari belakang.

"Terserah bagaimana caranya, yang jelas jangan sampai ada seorangpun yang memberi tahu mereka kalau Emily yang mereka cari ada di bersamaku sekarang!"

Petter mengucapkan kalimat itu dengan nada mengancam, namun sedikit berbisik. Hal itu Petter lakukan agar perbincangan mereka tidak di dengar oleh orang lain. Anak buah Petter pun mengangguk paham.

"Siap Tuan"

Kemudian pria itu pergi meninggalkan Petter yang masih tampak gelisah.

"Ck. Aneh, apa yang mereka bicarakan di tempat gelap seperti itu?" Tanya Edward heran.

Sedari tadi Edward memperhatikan tingkah laku Papa dan anak buahnya itu dari balkon kamarnya.

Namun rasa ingin tahu Edward hanya sebatas itu saja, tak ada keinginan untuk mencari tahu lebih jauh lagi. Edward tak begitu peduli dengan urusan Papanya dan Iapun kembali masuk ke dalam kamarnya.

***

"Uhhh..Kenapa susah banget sih?"

Edward memasukan baju-baju miliknya dengan asal ke dalam koper. Namun Edward kesulitan saat hendak menutup koper itu, karna isinya yang tak beraturan.

Besok Edward akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya, jadi Ia mempersiapkan segala kebutuhan yang akan Ia bawa ke Amerika dari sekarang.

Biasanya Edward akan di bantu oleh Sofia dalam urusan seperti ini, namun Mamanya itu tidak punya waktu untuknya lagi. Sofia selalu sibuk menemani Emily saja akhir-akhir ini.

"Kak Edward, mau aku bantu?"

Suara lembut seorang anak perempuan mengalihkan atensi Edward yang sedang kebingungan mencari cara menutup koper hitam miliknya itu.

"Tidak usah, pergi sana!"

Sentak Edward sembari menepis kasar tangan Emily yang akan menyentuh barang-barang miliknya.

"Hiks..Hiks"

Isak Emily mulai terdengar karna merasa takut dengan sikap kasar kakak angkatnya itu.

Emily yang merasa ngantuk memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun di perjalanan menuju kamar, Emily melihat Edward sedang kesulitan memuat barang-barang miliknya ke dalam koper.

Timbulah niat baik Emily untuk sekedar membantu kakak angkatnya itu, namun Emily malah mendapat perlakuan kasar dari Edward. Hati Emily memang lembut dan tak biasa mendapat bentakan seperti itu. Hingga kini ia mulai menangis.

"Ck. Dasar cengeng. Ya sudah sini bantu"

Ucap Edward akhirnya, tak tega juga dia melihat adik angkatnya menangis. Apalagi adiknya itu seorang perempuan.

"Ok" Senyum kembali mengembang di wajah Emily, dengan cekatan Ia mengeluarkan semua barang milik Edward yang berantakan di dalam koper itu.

Menyusunnya kembali pakaian dan barang-barang milik kakak angkatnya ke dalam koper tersebut dengan rapih, dan tak sampai 10 menit Packing barang sudah selesai.

"Wah hebat juga lo"

Puji Edward membuat senyum di wajah Emily semakin mengembang.

Ingatannya Emily memang hilang, namun sikap manja dan suka menolong. Juga kebiasaan-kebiasaannya di masa lalu masih tersimpan dalam memori alam bawah sadarnya.

Saat masih tinggal bersama orang tua kandungnya, Emily sudah terbiasa packing barang miliknya sendiri saat hendak liburan ke luar kota atau luar negri.

"Akhhh. Sakit"

Pekik Emily sembari memegang kepalanya yang sakit.

Kepingan-kepingan memori tentang masa lalunya muncul dalam ingatan Emily, namun ketika ingatan itu muncul Emily akan merasa sakit kepala hebat seperti sekarang.

"Emily, lo kenapa?"

Tanya Edward panik, Ia merangkul bahu Emily dan memastikan keadaan gadis itu dari jarak yang lebih dekat.

"Edward! Apa yang kamu lakukan pada Emily"

Sofia memasuki kamar Edward dengan panik saat melihat Emily merintih kesakitan.

"Gak aku apa-apain mah, sumpah!"

Ucap Edward yang memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adik angkatnya itu.

"Sebaiknya kita bawa Emily kerumah sakit sekarang"

Petter yang sedari tadi berdiri di samping Sofia kini mulai ikut bicara.

***

***

Sekitar 30 menit di perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Emily masih merintih ke sakitan walau sakitnya mulai sedikit mereda.

"Mari nona Emily"

Seorang perawat membimbing Emily masuk ke ruang dokter.

Petter sudah menghubungi pihak rumah sakit terlebih dahulu tentang kondisi Emily saat ini, jadi begitu sampai di rumah sakit Emily langsung mendapat penanganan.

"Apa yang terjadi Emily? Apa kamu mulai mengingat sesuatu?"

Tanya dokter Aerin yang sudah sangat paham dengan kondisi Emily, karna dokter Aerinlah yang menangani Emily sedari awal. Sejak Ia datang bersama Petter dalam keadaan kepala di balut perban.

Emily menceritakan semua yang terjadi padanya pada dokter Aerin tanpa terlewat sedikitpun. Dokter Aerin mengangguk paham.

"Sepertinya kondisi Emily mulai membaik. Dia sudah mengingat sedikit demi sedikit tentang masa lalunya"

Dokter Aerin berbicara pada Petter dan Sofia yang juga ikut masuk ke ruang praktek dokter Aerin untuk memdampingi Emily.

"Tapi sebaiknya jangan terlalu di paksakan, biarkan Emily mengingat masa lalunya secara perlahan"

#Hallo-Hallo...ada yang baca ga nih karya ini? tinggalkan like n komennya ya. Happy Reading 💕

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!