"Edward darimana kamu? Tadi malam Papa lihat mobil kamu keluar. Jangan bilang kalau kamu habis minum-minum lagi di club"
Hardik Petter saat melihat Edward memasuki rumah.
"Dari rumah Garry pah. Mana mungkin aku minum-minum, jika pagi ini aku akan mulai bekerja di rumah sakit Medistra"
Dusta Edward, tidak mungkin Ia mengatakan yang sebenarnya. Kalau semalam dia memang berada di club, tapi untuk mengawasi Emily, bukan untuk bersenang-senang seperti yang dia lakukan saat remaja dulu.
Setelah itu dia berlalu begitu saja menuju kamarnya, dengan begitu Edward tidak akan mendapat pertanyaan lain lagi dari Petter maupun Sofia. Dia malas jika harus berbohong lagi, karna untuk menutup satu kebohongan pasti akan tercipta kebohongan lainnya.
"Ck. anak itu, bukannya meneruskan perusahaan keluarga kita. Tapi dia malah memilih menjadi seorang dokter, bekerja di rumah sakit kecil pula. Persis seperti Auntynya saat muda dulu"
Petter memang kecewa saat mengetahui sang putra memutuskan untuk menjadi seorang dokter daripada meneruskan perusahaan yang telah Petter dirikan dengan susah payah.
Padahal sebagian besar keluarga besar Anderson memang berprofesi sebagai dokter, hanya Petter saja yang berbeda sendiri.
"Tak apa Pah, yang penting Edward sudah berubah dan lebih bertanggung jawab sekarang. Mom Renata bilang selama di Amerika Edward tidak pernah macam-macam, Bahkan dia ikut bekerja di rumah sakit keluarga di sana di sela-sela kuliahnya"
Walaupun mereka terpisah jarak dengan Edward selama bertahun-tahun, tapi Petter maupun Sofia selalu memantau keadaan Edward dari jauh.
***
Jam sudah menunjukan pukul 7.00 pagi saat Emily tiba di kamarnya. Kepalanya masih sangat pusing karna epek minum semalam, jadi Ia bergegas untuk membersihkan dirinya dengan air dingin agar pusingnya mereda, kemudian memakai baju terbaiknya, berdandan tipis-tipis setelah itu bersiap untuk pergi ke kampus.
Ada jadwal kelas pagi di kampusnya hari ini, Emily tidak mau datang terlambat. Apalagi dosen mata kuliahnya hari ini mendapat julukan Dosen killer, bisa habis dia kalau sampai datang terlambat.
"Mah,Pah aku berangkat sekarang ya. Sudah hampir terlambat"
Pamit Emily setelah mencium pipi Sofia dan Petter secara bergantian, tangannya mengambil selembar roti bakar dengan selai coklat didalamnya sebelum ia beranjak pergi. Roti itu akan Ia makan di mobil sebagai sarapannya hari ini.
"Hem..kenapa buru-buru sekali sayang. Duduklah dulu habiskan sarapanmu"
Pinta Sofia, karna jujur saja Ia merasa bosan setiap hari hanya sarapan berdua saja dengan sang suami.
Emily selalu tergesa seperti itu setiap paginya, entah apa yang dilakukan gadis itu hingga Ia selalu bangun terlambat hampir setiap hari.
Dan hari inipun Ia masih terlambat walaupun tidak tidur di rumah seperti biasanya.
"Tidak akan sempat Mah, aku berangkat sekarang ya. By Mah by Pah"
Sofia pun hanya bisa menghembuskan napas berat, kemudian tersenyum kecut membiarkan putrinya pergi. Kekecewaan Sofia semakin bertambah saat Edward juga melakukan hal yang sama dengan Emily, Ia pergi begitu saja tanpa sarapan bersama terlebih dahulu.
"Aku tidak boleh terlambat di hari pertama bekerja"
Begitulah alasan yang di berikan Edward pada Sofia.
***
Setelah berpamitan Emily segera menuju halaman depan.
Mobil yang akan mengantarnya ke kampus sudah menunggu di halaman, beserta seorang supirnya yang sudah di siapkan Petter untuk mengantar Emily kemanapun dia mau.
"Berangkat sekarang pak"
Ucap Emily setelah masuk ke dalam mobil mewah itu, mobil miliknya sendiri sebagai kado ulang tahunnya yang ke 17 dari Petter dan Sofia satu tahun yang lalu.
Tapi walaupun begitu Petter belum mengizinkan Emily untuk mengemudikan kendaraannya sendiri, jadi Ia menggunakan jasa supir.
"Baik nona"
Mobil pun langsung melaju dengan kecepatan tinggi, karna Emily yang meminta supirnya yang bernama Harry itu untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kiiittt
Baru setengah perjalanan tiba-tiba mobil itu berhenti secara tiba-tiba.
"Kenapa berhenti pak?"
Tanya Emily dengan wajah panik karna 15 menit lagi kelasnya akan di mulai.
"Sepertinya ban mobilnya bocor nona, saya akan periksa dulu"
Harry segera keluar dari mobil untuk memeriksa masalah apa yang terjadi pada mobil mewah itu . Diikuti juga oleh Emily yang ingin menyaksikannya sendiri.
"Ban mobilnya pecah nona"
Ucap Supir itu dengan kikuk. Karna Ia juga lupa membawa ban cadangan yang biasanya selalu ready di bagian belakang.
Tapi di saat di butuhkan benda itu malah tidak ada. Kemarin Harry mencuci mobil Emily dan lupa meketakan ban cadangan ke tempatnya semula setelah mobilnya selesai di cuci.
"Huhf..iya pak saya bisa melihatnya sendiri"
Jawab Emily pasrah.
"Pasti kesialan ku hari ini karna aku sudah berani berbohong pada Mama dan Papa" batin Emily penuh rasa sesal.
Emily menyesali keputusannya untuk menerima tawaran Anya dan Maura tadi malam. Kalau saja tadi malam Ia tidak pergi ke club pasti hidupnya tidak akan resah seperti sekarang.
Apalagi Emily tidak tahu kabar kedua sahabatnya itu saat ini, karna ponsel mereka tidak dapat di hubungi.
Alasannya ingin segera sampai di kampus juga untuk mencari tahu kabar tentang mereka.
Tid Tid
Suara klakson mobil membuat Emily tersadar dari lamunannya.
"Ayo masuk!"
Titah Edward. mobil Edward sedari tadi berada di belakang mobil Emily, tentu saja ia tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
"Kak Edward...Kakak datang di saat yang tepat, kakak memang penolongku"
Ucap Emily berbinar, Ia langsung mengambil posisi duduk di samping sang kakak.
"Terima kasih ya Kak, lagi-lagi kakak menolongku"
Lirih Emily yang tiba-tiba menundukan kepalanya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Karna kakak telah menolongku tadi malam, kalau kakak tidak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi padaku"
Sedikit banyak Emily bisa mengingat tentang kejadian semalam.
Tentang Ia dan teman-temannya yang minum sampai mabuk berat, Tentang Diego yang nyaris melecehkannya, dan tentang Emily yang tiba-tiba mencium Edward karna menganggap pria itu adalah Leon mantan kekasihnya.
Tapi Emily akan berpura-pura lupa tentang kejadian yang terakhir itu.
"Satu lagi, Terima kasih juga karna kakak sudah mengantar aku ke kampus hari ini"
Ucap Emily dan bertepatan dengan mereka yang baru saja sampai di kampus tempat Emily kuliah.
"Kau itu terlalu banyak berterima kasih. Apa tidak ada cara lain untuk berterima kasih selain dengan ucapan saja"
Ucap Edward. Karna Ia sudah merasa jengah mendengar Emily yang selalu berkata terima kasih dan terima kasih saja.
"Emangnya ada cara lain untuk berterima kasih selain dengan mengucapkan kata terima kasih?"
Tanya Emily dengan dahi yang mengkerut.
"Tentu saja banyak salah satunya...."
Edward semakin mendekatkan wajahnya pada Emily.
"Diamlah"
Titah Edward saat Emily mencoba menghindar. Membuat gadis itu semakin resah sampai harus memejamkan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Putri rahmaniah
up lagi Thor
2024-01-03
1