Tok Tok Tok
Setelah terdiam cukup lama di depan pintu kamar sang kakak, akhirnya Emily memberanikan diri untuk mengetuk pintu berwarna coklat tua itu.
Cek lek ngeeek
Tak lama kemudian pintu kamar itupun terbuka setengahnya, seorang pria tampan bertubuh jangkung dengan matanya yang biru muncul di balik pintu itu.
"Ck. Mau apa lagi kamu? Hem!"
Tanya Edward dengan nada dinginnya, begitu melihat si gadis pengacau berdiri tepat di hadapannya.
"I-ini, aku bawakan pancake. Tadi kakak tidak turun untuk makan malamkan? Pasti Kakak lapar?"
Ucap Emily terbata. Tangan kanannya yang memegang piring berisi pancake itu sampai bergetar karna tremor, saat berhadapan dengan Edward yang masih memendam amarah terhadapnya.
Rasa bersalah akan kejadian tadi siang sungguh sangat menyiksa batin gadis itu.
Setelah sekian lama berpisah dengan sang kakak, bukannya memyambut kedatangan sang kakak dengan pelukan hangat. Emily malah menyambutnya dengan pukulan bertubi-tubi.
Apalagi Kakak angkatnya itu sampai tidak ikut makan malam bersama dengan alasan yang tak jelas.
Makanan yang dibawa oleh pelayan ke kamar Edward pun di bawa kembali dalam ke adaan utuh, tak tersentuh.
"Tuan muda bilang dia belum lapar"
Begitulah jawaban pelayan itu, saat Petter dan Sofia bertanya "Kenapa makanan itu di bawa kembali dalam ke adaan utuh?"
Mana mungkin tidak lapar, Edward belum makan apapun sejak pulang ke rumah ini tadi siang.
Karna itulah Emily berinisiatif untuk membawakan cemilan untuk sang kakak, sekalian ingin minta maaf juga.
"Masuklah!"
Titah Edward sembari memundurkan langkahnya agar pintu kamar itu terbuka lebih lebar.
"Hah! Apa? Kakak bilang apa?"
Emily tak menyangka akan di suruh masuk ke kamar Kakak angkatnya itu, padahal niatnya hanya untuk mengantar makan saja. Jadi ia pura-pura tidak dengar.
"Masuk!"
Sentak Edward dengan tatapan matanya yang tajam, membuat Emily tak berkutik dan menuruti perintah sang Kakak.
"Duduk!"
Titah Edward lagi saat mereka sudah ada di dalam kamar.
Emily pun menurut saja, daripada kakaknya lebih marah lagi nanti. Gadis itu duduk di sofa yang memang sudah ada di kamar sang kakak sedari dulu.
"Suapi aku, tanganku masih sakit karna ulahmu. Bahkan bukan hanya tangan? Tapi disini, disini, disini juga"
Ucap Edward sembari menunjukan beberapa titik di tubuhnya, yang terdapat luka lebam karna ulah Emily yang menghantamnya dengan teflon tanpa ampun.
"Manja, padahalkan tangannya tidak kenapa-napa hanya lebam saja"
Gerutu Emily dalam hati. Namun tangannya mulai memotong pancake dengan guyuran syrup maple diatasnya itu.
Emily sengaja memotong pancake itu dalam ukuran cukup besar mengingat itu suapan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sang Kakak.
"A"
Ucap Emily, sembari menyodorkan sendok berisi potongan pancake ke depan mulut Edward. Emily seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anak balitanya saja.
"Am"
Edward langsung melahapnya, matanya sampai terbelalak saat merasakan betapa nikmatnya pancake yang masuk ke mulutnya itu.
"Masakan chef Billy memang tidak pernah gagal"
Puji Edward pada seorang Chef yang sudah belasan tahun berkerja di rumahnya sebagai juru masak.
"Enak aja, ini aku yang bikin tau!"
Hardik Emily tak terima saat masakan buatannya di bilang buatan orang lain.
"Apa? Jadi kamu yang memasaknya? Memang bisa?"
Mata Edward semakin membelalak saja, karna tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Emily. Gadis yang dianggapnya, pengacau dan manja itu ternyata bisa memasak juga.
"Ternyata da juga hal berguna yang bisa dia lakukan, selain membuat masalah denganku?" batin Edward
"Iyalah, aku yang memasaknya sendiri. Kenapa? Kakak tidak percaya? Lain kali akan aku tunjukan pada kakak saat aku memasaknya"
Balas Emily sembari menyuapkan lagi makanan ke mulut Edward. Mereka terus saja berdebat hingga tanpa sadar 4 layer pancake di piring itu tandas tak bersisa.
"Maaf ya kak, gara-gara aku kakak jadi seperti ini"
Ucap Emily akhirnya, tangannya bahkan sampai menyentuh luka lebam di tangan Edward dengan jari telunjuknya. Kulit Edward yang putih, membuat luka lebam kemerahan itu terlihat sangat kontras dikulit pria itu.
"Hem, tapi jangan cuma minta maaf saja, obati juga"
Titah Edward lagi. Emily sampai menyesal berlama-lama di kamar sang kakak, Edward memperlakukannya dengan semena-mena. Harusnya tadi dia langsung pergi saja setelah mengantarkan pancake ke kamar kakaknya.
Membiarkan Edward memakan pancake itu sendiri tanpa harus disuapi, lagian kakaknya itu adalah pria dewasa bukan anak kecil lagi.
"Ayo lakukan!"
Titah Edward memaksa, sembari menyodorkan sebuah salep ke arah Emily.
"Ck.Iya-iya!"
Emily mengambil salep itu dengan kesal. Membuka tutup salep itu dan menaruh sedikit di ujung jarinya. Dengan hari-hati Emily mengoleskan salep itu di luka lebam yang terdapat di tubuh Edward. Sesekali Emily meniupi luka itu pula.
Saking seriusnya mengobati Edward, Emily sampai tidak sadar kalau kakak angkatnya itu sedang menatap intens ke arah dirinya.
"Hmm.. ternyata dia cantik juga kalau sedang diam seperti ini."
Batin Edward, senyuman simpul juga terukir di bibirnya.
Deg!
"Aduh, kenapa gue jadi deg degan gini ya"
Jatung Edward semakin berdetak tak karuan, saat Emily mulai menyibakkan kaosnya, karna luka lebamnya itu sedikit tersembunyi dibalik kaos yang di pakai Edward.
Edward segera mengusap wajahnya dengan kasar untuk menetralkan perasaannya sendiri. Mencoba untuk menstabilkan detak jantungnya agar kembali normal dengan cara menghirup udara dalam-dalam.
Namun aroma parfum Emily yang terhirup olehnya malah membuat Edward semakin kacau, desiran aneh semakin menjalar di sekujur tubuhnya.
"Sudah-sudah! keluarlah aku ingin tidur!"
Titah Edward lagi dengan nada dinginnya.
"Tapi ini belum selesai kak, tinggal sedikit lagi"
Jawab Emily karna memang belum semua luka lebam itu dia olesi salep.
"Tak apa aku bisa sendiri, Pergilah!"
"Huhf! Kalau bisa sendiri kenapa tidak melakukannya sendiri saja dari tadi! harus menyuruh aku! Merepotkan saja"
Gerutu Emily sembari beranjak pergi meninggalkan kamar kakak angkatnya.
Edward biarkan saja gadis itu terus memaki sambil berlalu, tak ada keinginan untuk membalasnya.
Karna ada satu hal yang lebih penting, yang harus segera Ia selamatkan, yaitu jantungnya sendiri yang semakin berdetak kencang tak terkendali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments