Menikah

cup

Edward membenamkan sebuah ciuman di kening Emily, saat gadis itu resmi menjadi istrinya.

Pernikahan Edward dan Emily benar-benar berlangsung dengan sederhana. Tak ada tamu undangan, tidak ada pesta yang meriah seperti pernikahan Emily dan William beberapa hari yang lalu. Pernikahan mereka hanya di hadiri oleh keluarga inti saja.

Tapi semua itu tidak mengurangi kebahagiaan di hati Emily dan Edward sedikitpun.

"Akhirnya kamu resmi jadi istriku Honey"

Bisik Edward parau di telinga gadis yang di cintainya itu.

"Lihat saja nanti malam, aku akan menyiksamu habis-habisan dengan kenikmatan yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya"

Bisikan-bisikan Edward sukses membuat seluruh bulu kuduk di tubuh Emily meremang.

Walaupun mereka sudah pernah bercinta sebelumnya, namun rasa berdebar itu tetap Emily rasakan. Apalagi lagi kakak angkatnya itu sungguh pandai membuat Emily melayang, yang tadinya tidak mau berubah jadi mau. Apalagi jika sudah sama-sama mau, terbayang seberapa panasnya seorang Edward di atas ranjang nanti.

"Akh..aku tidak bisa membayangkannya" Racau Emily dalam batinnya.

Gadis itu senyum-senyum sendiri sembari menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya yang mengepak.

"Hey honey, singkirkan pikiran kotor yang ada dalam pikiranmu itu , kau terlihat sangat menakutkan saat sedang berkhayal"

Goda Edward yang langsung mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Emily tepat di dadanya. Tentu saja pukukan itu sangat lembut dan tidak akan menyakiti dada bidang Edward sama sekali.

Wajah gadis itu sudah memerah seperti kepiting rebus, karna terus mendapat godaan dari Edward sedari tadi.

Grep

"Akhirnya kalian menikah juga, Mama sangat bahagia melihat kalian bisa bersama seperti sekarang"

Wanita paruh baya itu memeluk Edward dan Emily diiringi isak tangis bahagia. Hanya Sofia satu-satunya orang yang ikut merasakan kebahagiaan sepasang pengantin baru itu. Walaupun pada awalnya Sofia juga tidak merestui hubungan mereka berdua.

"Terima kasih Mah"

Jawab Edward dan Emily nyaris serentak.

"Ayo Honey, kemasi semua barang-barangmu. Sekarang juga aku akan membawamu tinggal di rumah kita"

Tanpa Emily ketahui, ternyata Edward sudah membangun sebuah rumah sederhana untuk tempat tinggal mereka setelah menikah nanti.

Rumah itu memang jauh lebih kecil dari rumah yang di tempati Emily saat ini. Tapi rumah kecil itu adalah rumah impian mereka, Emily sendiri yang merancangnya dan Edward yang mewujudkannya.

"Tapi Kak, kenapa kita tidak tinggal di rumah ini untuk beberapa hari lagi. Kasian Mama dan Papa kalau kita tinggal pergi. Mereka pasti kesepian"

Emily menatap wajah Sofia dengan lekat, kedua bola mata wanita paruh baya itu mulai berkaca-kaca saat Edward mengatakan akan membawa Emily pergi dari rumah mewah mereka.

Pasti Sofia akan merasa sangat kesepian tinggal di rumah sebesar ini hanya berdua saja dengan suaminya. Walaupun di rumah mereka ada banyak pelayan tetaplah rasanya tidak akan sama.

"Emily tidak akan pergi kemana-mana, dia akan tetap tinggal dirumah ini. Dia itu putri kami, kami tidak akan membiarkan dia hidup susah di luar sana"

Sentak Petter, rahang pria itu sudah mengeras seakan siap menghajar Edward lagi.

"Tapi dia istriku Pah, aku berhak membawa dia pergi bersamaku kemanapun aku mau"

"Aku tidak peduli. Emily tidak akan pergi dari rumah ini. Kalau kau ingin pergi, pergi saja sendiri !"

Tegas Petter lagi, keinginannya tidak bisa di bantah oleh siapapun.

"Sudahlah nak, yang penting kalian sudah menikah. Tinggal di sini saja dulu. Itu akan lebih baik untuk kalian. Emilykan sedang mengandung, tidak baik jika kalian tinggal berdua saja saat ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Emily saat kamu tidak ada dirumah, siapa yang akan menolongnya nanti"

Edward sedikit luluh saat mendengar ucapan Sofia, akhirnya pria itu mau mengalah dan menuruti permintaan Mamanya.

"Mau ke mana kalian?"

Tanya Petter dengan nadanya yang sinis, saat melihat Edward dan Emily berjalan beriringan menunjuk kamar Emily.

"Hanya Emily saja yang boleh tinggal di kamar itu, kamu tinggalah di kamarmu sendiri!"

Perintah pria paruh baya itu lagi.

"Tapi kami ini sudah menikah, Kami adalah sepasang suami istri sekarang. bagaimana mungkin kami bisa tidur di kamar yang terpisah?"

Edward tak habis pikir. Pria itu mulai kehilangan kesabarannya.

"Kenapa? Tidak suka dengan peraturanku di rumah ini? Kalau tidak suka pergi saja, tidak ada yang akan menahanmu!"

Brakk

Edward membanting pintu kamarnya dengan kasar.

Edward masuk ke kamarnya sendiri, ya kamarnya yang ada di rumah orang tuanya, kamar yang sudah bertahun-tahun tidak Ia tempati.

Karna beberapa tahun terakhir ini pria itu memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen pribadinya.

"Argggh, dasar tua bangka sialan. Bisa-bisanya dia melarang suami istri tinggal di satu kamar yang sama."

Prang

Edward melampiaskan kekesalannya pada barang-barang yang ada di kamar bernuansa putih hitam itu.

Emily dan Sofia yang mendengar kegaduhan yang bersumber dari kamar Edward hanya bisa mengelus dada.

"Sebenarnya ada masalah apa sih Mah di antara Papa dan Kak Edward? kenapa Papa dan Kak Edward tidak pernah bisa akur? Seingatku, sejak aku datang ke rumah ini sepuluh tahun yang lalu, mereka sudah sering bertengkar seperti sekarang"

Sofia hanya bisa mengulas senyumnya. Karna pertanyaan dari Emily, ingatan Sofia kembali mengingat kejadian pahit 10 tahun yang lalu, padahal Sofia sudah berusaha keras untuk melupakan kenangan pahit itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!