Sembunyi

"Apa? Jadi si tua bangka itu akan menikahkan kamu dengan orang lain. Walaupun dia tahu kamu sedang mengandung anakku?"

Rahang Edward mengeras saat mendengar cerita dari Emily. Bagaimana pria itu tidak marah jika gadis yang di cintainya akan menikah dengan lelaki lain.

Prang

Edward membanting sebuah pas bunga yang ada di meja kamar Emily karna emosinya tak bisa terbendung lagi. Untung saja pas bunga itu terbuat dari batu kristal yang mahal jadi tidak gampang pecah.

"Apa kakak sudah gila? Jangan berisik! Nanti Mama sama Papa dengar!"

Sentak Emily pada pria di hadapannya, yang kesabarannya hanya setipis tisu toilet itu.

Dengan susah payah Edward berhasil mengendap-endap masuk ke kamar Emily, gadis itu tidak mau pertemuan mereka akan menjadi sia-sia.

Sudah beberapa hari ini Emily di kurung di dalam kamar oleh orang tuanya, rumah mereka juga di jaga dengan sangat ketat. Puluhan pengawal di tugaskan untuk berjaga di area rumah, agar tidak ada penyusup masuk ke rumah besar dan mewah itu.

Emily benar-benar menjadi tawanan di rumahnya sendiri. Semua itu Petter lakukan agar putrinya tidak nekat pergi dari rumah dan diam-diam bertemu dengan Edward.

"Aku memang sudah gila honey, bagaimana mungkin aku bisa melihatmu menikah dengan orang lain. Lebih baik aku mati saja"

"Sttt..Kakak tidak boleh bicara konyol seperti itu lagi. Aku tidak suka."

Emily menutup bibir Edward dengan satu jarinya, agar pria di hadapannya itu berhenti berbicara konyol.

"Honey? Apa kamu mencintaiku?"

Edward menangkup wajah cantik Emily dengan kedua tangannya.

"Pertanyaan bodoh macam apa itu Kak? Tentu saja aku mencintaimu"

Jawab Emily penuh keyakinan, membuat semangat dalam diri Edward yang hampir padam kembali berkobar.

"Kalau begitu pergilah bersamaku, kita akan menikah dan hidup bahagia. Membesarkan anak-anak kita dan menua bersama"

Hati Emily sedikit terenyuh mendengar kata-kata manis dari lelaki yang dicintainya itu.

Jika mengikuti egonya, seperti itu juga yang Emily harapkan. Tapi Emily tidak mau mengecewakan orang tuanya lagi. Sudah cukup sekali ia melakukan kebodohan dengan membiarkan Edward menyentuhnya hingga Ia mengandung benih dari pria itu.

Emily tidak mau mengecewakan orang tuanya lagi. Petter dan Sofia seperti malaikat dalam hidup Emily. disaat gadis itu tidak mengingat jati dirinya sendiri dan hidup terombang-ambing di dunia yang kejam ini, Petter dan Sofia adalah satu-satunya orang yang merentangkan tangannya dengan tulus untuk Emily.

"Kita akan menikah, tapi tidak dengan cara lari seperti itu Kak. Kita akan menikah dengan restu Mama dan Papa"

Emily menolak tawaran Edward untuk lari bersamanya dengan cara yang halus.

"Itu akan sangat sulit Honey. Mereka akan lebih memilih melihat aku mati dari pada melihat aku menikah denganmu!"

Dua titik cairan bening mengembang dari sudut mata pria yang semula tidak pernah takut dengan apapun itu. Emily mengusap Cairan bening di pipi pria yang dicintainya itu dengan tangannya yang lembut.

"Jangan menyerah semudah itu Kak, bukankah Kaka seorang yang pemberani. Kenapa sekarang jadi selemah ini?"

Kata-kata Emily berhasil menyentil perasaan Edward.

"Ya kamu memang benar. Tenang saja aku akan mencari cara agar pernikahanmu dengan lelaki itu di batalkan dan kita akan menikah dengan restu Mama dan tua bangka itu"

"Jangan menyebutnya seperti itu Kak, dia itu Papa ku"

Emily tak terima saat Edward memanggil Petter dengan sebutan tua bangka.

"Ya ambilah, dia memang Papamu. Aku tidak butuh orang itu. Yang aku inginkan saat ini hanyalah dirimu dan anak kita"

Edward menarik pinggang Emily hingga wanita itu kini ada dalam dekapannya. Tubuh mereka telah menyatu dalam sebuah pelukan, Nafas Edward yang hangat dan beraroma mint menyapu lembut wajah Emily.

Tok! Tok! Tok!

Sebuah ketukan pintu mengagalkan bibir mereka yang akan saling bertaut.

"Itu pasti Papa? Sembunyi kak sebelum ada yang melihatmu"

Wajah cantik Emily berubah jadi panik. Sedangkan Edward tetap tenang seakan tidak takut pada apapun.

"Sana sembunyi di kamar mandi saja"

Emily mendorong tubuh Edward masuk ke Kamar mandi. Namun belum lama masuk Emily menarik pria itu keluar lagi.

"Jangan-jangan sembunyi disitu! itu tidak aman Kak, Disana saja"

Emily menunjuk ke kolong tempat tidur, Pria itu menurut saja masuk ke kolong tempat tidur itu. Namun tubuh Edward yang jangkung kesulitan untuk masuk ke kolong tempat tidur Emily.

"Aduh jangan disitu juga kak, Kakak tidak akan muat dibawah sana!"

Emily semakin panik, wajahnya yang sedang gelisah begitu mempesona di mata Edward.

Cup

Edward mengecup singkat kening Emily yang sudah di banjiri keringat dingin.

"Tenanglah Honey, jaga dirimu baik-baik. Aku pergi dulu"

Edward berjalan santai ke arah balkon kamar Emily. Dan melemparkan senyumnya ke arah Emily sebelum akhirnya menutup pintu kaca itu kembali.

"Huhf! Kenapa tidak kepikiran dari tadi untuk bersembunyi di sana"

Emily menghembuskan nafas lega.

Tok Tok Tok

Ketukan pintu itu kembali terdengar namun kali ini dengan nada yang lebih keras. Emily mencoba mengatur nafasnya agar kembali tenang. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sebelum akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.

Cek lek

"Papa? Ada perlu apa Pah?"

Benar saja tebakan Emily sebelumnya, Ternyata Petter yang mengetuk pintu kamar Emily sedari tadi.

"Kenapa lama sekali membuka pintunya? Apa saja yang kamu lakukan di dalam kamar?"

Tanya Petter penuh curiga, matanya mengamati setiap sudut kamar putrinya.

"A-aku habis dari kamar mandi Pah. Jadi gak dengar kalau tadi Papa ketuk pintu"

Dusta Emily, entah untuk yang keberapa kalinya. Sejak berhubungan dengan Edward dirinya memang jadi lebih sering berdusta.

Tentu saja Petter tidak percaya begitu saja pada Emily, dia melangkahkan kakinya mengitari setiap sudut kamar Emily. Memastikan tidak ada orang lain lagi di kamar itu selain mereka.

Jantung Emily kembali berdegup kencang saat Petter melangkahkan Kakinya menuju ke arah balkon.

Cek lek

"Kenapa pintunya tidak di kunci?"

Pertanyaan Petter membuat jantung Emily semakin berdegup kencang. Emily berpikir keras, mencari alasan yang tepat agar Petter tak curiga.

"E- itu tadi aku merasa bosan jadi ingin menghirup udara segar di balkon" Ucap Emily terbata-bata.

"Lain kali kunci pintunya, takut ada penyusup masuk"

Emily menundukan kepalanya tak mampu menatap mata Petter yang penuh rasa curiga. Tentu saja Emily mengerti siapa penyusup yang di maksud oleh papanya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!