Kehadiran Emily

Acchhh Sshh mmmhhh

Suara-suara aneh terdengar sampai di telinga Edward saat pintu kamar yang di masuki Garry sudah tertutup.

"Ck. Dasar manusia-manusia keji, temannya sedang kesusahan mereka malah bersenang-senang"

Gerutu Edward. Rasa panas mulai mengalir di sekujur tubuhnya karna ikut terangsang mendengar desa han dari kamar yang tertutup rapat itu.

"Arrghhh, mending gue cabut dari sini"

Pria itu bisa gila jika bertahan lebih lama lagi di tempat itu.

Edward merupakan Bad Boy sejati, Ia sama bejatnya dengan Garry. Pria itu bisa saja memanggil wanita bayaran atau menikmati tubuh gadis-gadis yang selama ini mengejar cintanya.

Dengan senang hati para wanita itu akan merelakan tubuh mereka untuk melayani seorang Edward yang merupakan anak orang kaya dan juga memiliki paras tampan khas Amerika latin seperti ayahnya. Selain menjabat sebagai Gubernur, Petter juga merupakan pengusaha sukses dalam bidang export import.

Tapi jangan harap mereka akan di jadikan kekasih oleh Edward. Pria itu tidak mau terikat dengan wanita manapun dengan menjadikan wanita itu kekasihnya. Edward tidak ingin ada satu wanita pun yang merasa di butuhkan olehnya.

Tapi Fokus Edward saat ini adalah kesembuhan sang Mama. Ia tidak tertarik sama sekali dengan urusan ranjang saat ini, walaupun sempat tergiur karna ulah Garry dan Vanessa.

***

***

"Bayi kita mana Pah?"

Sofia terus saja berteriak histeris menanyakan keberadaan bayinya, sejak wanita itu sadar dari tidur panjangnya Sofia terus saja menanyakan dimana bayinya.

"Jangan diam saja Pah, jawab!"

Teriak Sofia semakin histeris sembari memegang perutnya yang sudah rata, Petter hanya bisa diam tak tahu harus menjawab apa.

Edward hanya bisa menyaksikan penderitaan Mamanya dari jarak yang cukup jauh, tak berani mendekat. Padahal Ia sangat ingin memeluk Sofia dan memberi ketenangan pada wanita yang telah melahirkannya itu.

Tapi Edward tak berani mendekar ke arah Sofia, karna ada Petter disana.

***

***

"Mah, are you ok?"

Edward memeluk Sofia yang sedang termenung di kamar bayi bernuansa serba pink, sebuah kamar yang telah Sofia persiapkan untuk menyambut kelahiran bayinya.

"Kamu udah makan?"

Tanya balik Sofia tanpa menjawab pertanyaan Edward. Hati Edward sangat sakit melihat kondisi Mamanya saat ini.

Sejak pulang dari rumah sakit wanita itu terus saja merenung dan menyendiri. Padahal dulu Sofia adalah sosok yang Ceria dan selalu terlihat bahagia.

"Mah, Ayo ikut Papa sekarang"

Ajak Petter yang melewati Edward begitu saja.

Sikap Petter pada Edward juga telah berubah, Petter masih menganggap Edward adalah penyebab dari semua kedukaan yang menimpa keluarga mereka saat ini. Tak ada lagi pelukan hangat, tepukan di pundak dan elusan di kepala yang biasa Petter lakukan pada Edward di masa lalu.

"Kemana Pah?"

Jawab Sofia malas, Ia sedang tidak ingin pergi kemanapun sekarang.

"Ikut saja, daripada Mama terus di rumah seperti ini. Siapa tahu Mama bisa melupakan kesedihan Mama dengan pergi ke luar rumah"

Petter terus meyakinkan, akhirnya Sofia luluh juga dan mau menuruti ajakan suaminya.

Brum

Petter mulai melajukan mobil mewahnya, Ia mengajak Sofia ke tempat kerjanya.

"Lho kita ngapain kesini Pah?" Tanya Sofia heran.

Awalnya Ia mengira akan di ajak jalan-jalan ke tempat wisata atau tempat menarik lainnya, seperti yang biasa di lakukan orang-orang yang sedang bersedih lainnya.

"Hari ini kita berhasil menggagalkan kasus perdagangan anak yang akan di selundupkan keluar negri. Ada banyak anak yang terpisah dari orang tuanya bahkan sebagian dari mereka adalah anak-anak terlantar yang tidak memiliki orang tua."

Tujuan Petter mengajak Sofia hari ini adalah agar Sofia bisa bangkit dari kesedihannya. Membuka matanya lebar-lebar, jika banyak orang di luar sana yang mengalami duka yang lebih dalam dari pada duka yang mereka rasakan saat ini.

"Bagaimana semua anak itu sudah di data? Siapa nama mereka dan dari mana asalnya?"

"Sudah Tuan, sebagian dari mereka bahkan akan di jemput oleh orang tuanya masing-masing. Sebagian lagi berasal dari jalanan. Mereka akan di kembalikan ke panti sosial. Tapi ada satu anak perempuan yang belum di data tuan"

Jelas bawahan Petter dengan lugas.

"Kenapa dia belum di data? Apa dia tidak bisa mendengar atau berbicara?"

Tebak Petter.

"Bukan itu tuan. Anak itu sepertinya baru mengalami kecelakaan dan dia mengalami amnesia. Dia tidak ingat siapa namanya dan dari mana asalnya"

Jelas pria berbadan tegap itu lagi, yang terlihat gagah dengan seragam kebesarannya.

"Dimana anak itu sekarang?"

"Disana tuan"

Bawahan Petter itu menunjuk ke arah seorang anak perempuan yang sedang duduk di sebuah kursi dengan wajahnya yang bingung dan ketakutan, kepala anak itu juga di lilit perban dengan noda darah yang masih basah.

Petter dan Sofia menatap ke arah anak itu secara berbarengan.

"Anak itu cantik Pah, sepertinya dia berasal dari keluarga berada"

Sofia langsung terpesona dengan kecantikan anak perempuan sepuluh tahunan itu. Seakan terhipnotis tanpa sadar kakinya melangkah ke arah anak perempuan tersebut.

"Siapa namamu sayang?"

Tanya Sofia lembut. Anak perempuan itu hanya menggelengkan kepalnya tanpa bersuara.

sofia meraih sebuah kalung yang melingkar di leher anak perempuan itu.

"E-mi-ly? Apa itu namamu nak?"

Sofia membaca huruf-huruf yang membentuk tulisan EMILY pada kalung anak tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!