Deg
Edward merasakan jantungnya semakin berdegup kencang saat berciuman dengan Emily, pria itupun segera melepaskan tautan bibir diantara mereka agar bisa menetralkan detak jantungnya kembali.
Emily yang masih dalam pengaruh minuman beralkohol hanya bisa tersenyum saja dan kembali tertidur, sembari membayangkan wajah mantan kekasihnya.
"Dasar cewek bar-bar"
Rutuki Edward pada gadis cantik dihadapannya. Kemudian pria itu mengulas senyumnya sembari membayangkan ciuman panas dari sang adik angkat beberapa saat yang lalu.
"Kenapa jantung gue jadi deg degan mulu ya kalau deket sama dia? Kenapa juga dia harus secantik dan semenggemaskan ini?"
Edward menatap kagum pada setiap inci wajah Emily yang terpahat nyaris sempurna, kalau saja Emily bukan adik angkatnya pasti Edward akan menjadikan Emily sebagai teman kencannya.
***
Emhhh
Emily mengerjapkan mata seraya meregangkan otot-otot tanganya, saat cahaya mentari pagi mulai menembus kaca mobil Edward hingga terasa menyilaukan.
"Kak Edward?"
Gadis itu langsung menegakkan duduknya saat mendapat tatapan tajam dari sang Kakak.
"Kenapa aku ada disini sama kakak?"
Tanya Emily heran, karan seingatnya ia sedang merayakan pesta ulang tahun Anya di sebuah Club malam.
"Anya? Maura? Dimana mereka?"
Tanya Emily sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar. Mencari keberadaan dua sahabatnya itu.
"Sssttt..udah jangan berisik. Nih minum dulu"
Edward memberikan sebotol air mineral yang telah di buka tutupnya untuk Emily. Emily yang memang merasa kehausan langsung menenggak air mineral itu hingga habis setengahnya.
"Anya, sama Maura mana kak?"
Tanya Emily sekali lagi dan Edward masih menanggapinya dengan dingin, padahal Emily sudah terlihat sangat panik. Mengingat mereka bertiga mabuk berat semalam.
"Tenang aja, Gue udah hubungin orang tua mereka"
Ucapan Edward berhasil mengembalikan senyum di wajah Emily. "Syukurlah" Ucap Emily dalam hati.
"Pake HP lo"
Baru juga bisa bernapas lega kini Emily kembali dibuat resah.
"Apa?! Kenapa pake Hp aku sih kak? Kalau Emily sama Maura marah gimana?"
Pekik Emily seakan tak percaya dengan ucapan Edward. Bisa mati dia jika Anya dan Maura sampai marah dan menganggap dia yang telah menghubungi orang tua mereka. Sedangkan kepergian mereka bertiga ke club tadi malam adalah rahasia diantara mereka saja.
"Kenapa? Itu hukuman buat kalian. Apalagi mereka sudah membawa lo ke jalan yang salah"
Hardik Edward dengan nada dinginnya. Emily pun hanya bisa diam, karna ucapan Edward ada benarnya. Ya mereka bertiga memang bersalah.
"Mama sama Papa?"
Tiba-tiba Emily teringat pada Petter dan Sofia. Entah apa reaksi mereka jika sampai tahu perbuatan Emily semalam.
"Tenang aja mereka gak tahu apa-apa. Mereka gak tahu kalau anak gadis kesayangan mereka pergi secara diam-diam dari rumah dengan cara manjat pagar. Mereka juga gak Tahu kalau anak gadis kesayangan mereka minum-minum sampai mabuk tadi malam"
Ucap Edward penuh dengan nada sindiran. Emily pun semakin menundukan kepalanya.
"Nih ganti pakean lo sama ini, bersikaplah seolah-olah lo habis lari pagi"
Edward memberikan jersey basketnya semasa sekolah dulu kepada Emily. Jersey basket itu masih tersimpan rapih di mobilnya, walaupun sudah bertahun-tahun berlalu.
"Tapi kenapa?"
Tanya Emily lagi yang belum mengerti dengan maksud sang kakak.
"Emang lo mau, pulang ke rumah dengan pakaian seperti itu?"
Tanya Edward sembari menatap penampilan adiknya yang hanya memakai dress mini di atas lutut, bahkan bagian dada dress itu sedikit terbuka, hingga gundukan kembar di dada Emily sedikit terexplore.
Emily sampai menyilangkan tangannya di depan dada karna malu dengan penampilannya sendiri. Terlebih saat menyadari sang kakak terus saja menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Tunggu apalagi ayo ganti!"
Titah Edward karna adiknya itu terus saja diam seperti patung.
"Ganti bajunya dimana kak? Disini? Di depan Kakak? Gak mau, aku malu."
Emily bingung harus ganti baju dimana, tidak mungkin di depan Kakaknya.
"Iya-iya gue keluar. Dasar munafik, Tadi malam aja di ajak one stand night sama cowok asing mau-mau aja. Ganti baju di depan kakak sendiri malu"
Rutuki Edward seraya keluar dari mobil, Emily pun hanya bisa mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Edward, karna tak paham dengan apa yang diucapkan Kakaknya itu.
"Udah belom?"
Teriak Edward karna sudah 10 menit lamanya dia menunggu Emily berganti pakaian.
"Udah..Bawel!"
Ucap Emily sembari membuka sedikit kaca mobilnya. Kini dia sudah berganti pakaian dengan jersey basket yang di berikan Edward. rambut panjangnya pun sudah di kuncir kuda agar lebih meyakinkan kalau dia habis lari pagi.
***
"Turun!"
Edward menghentikan mobilnya 500 meter dari rumah, dan menyuruh Emily turun disana.
"Jauh banget kak? Kenapa gak lebih depan sedikit"
Protes Emily. Karna jangankan lari pagi berjalan dalam jarak yang jauh saja ia tak pernah melakukannya.
"Lo harus berkeringet supaya kelihatan habis olahraga"
"Hmmm.iya iya"
Jawab Emily sembari mengerucutkan bibirnya, membuat Edward gemas saja apalagi jika mengingat ciuman panas Emily tadi malam.
"T-tapi" Emily yang hampir keluar dari mobil Edward malah masuk lagi kedalam mobil itu.
"Ck Apa lagi?"
"Sepatunya?"
Emily mengangkat sedikit bagian kakinya. Memperlihatkan kaki jenjang itu masih menggunakan heels. mana ada orang lari pagi paki heels coba.
"Hmmm. pake ini aja"
Edward memberikan sandal jepit yang memang selalu tersedia di mobilnya. Karna tak ada pilihan lain, Emily pun memakai sandal yang diberikan kakaknya. Daripada harus lari pagi menggunakan heels lebih baik sandal jepitkan.
setelah semuanya siap Emily pun mulai berlari kecil menuju rumahnya, Edward hanya bisa nenahan tawanya melihat adiknya yang konyol itu.
"Nona muda? Anda dari mana pagi-pagi seperti ini?"
Tanya seorang penjaga di gerbang utama. Penjaga itu bahkan langsung membukakan pintu gerbang yang masih terkunci saat melihat nona mudanya datang.
"Habis lari pagi pak Arya"
Jawab Emily sambil menyeka keringatnya yang mulai bercucuran. Lari 500 meter saja sudah cukup membuat gadis itu berkeringat.
"Tapi anda keluar lewat mana nona? Tadi saya tidak melihat anda keluar"
Tanya penjaga itu karna seingatnya pintu gerbang itu masih tergembok, tidak ada yang keluar lagi setelah tuan muda Edward yang keluar dengan mobilnya tadi malam.
"E- I itu..."
Tid..Tid..
Suara klakson mobil Edward menyelamatkan Emily dari pertanyaan penjaga keamanan itu. Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah begitu memiliki kesempatan.
"Huhf..ditanya Pak Arya aja udah deg degan begini. Apalagi kalau di tanya sama Mama atau Papa?"
Gumam Emily sambil terus masuk ke dalam rumah dengan tergesa.
"Sayang kamu dari mana nak?"
Tanya sofia, ia begitu panik saat tak menemukan putrinya ada di dalam kamar saat hendak membangunkan putrinya itu.
"Ha-habis lari pagi Mah"
Jawab Emily berdusta, dan ini untuk pertama kalinya ia berdusta pada sang Mama, hingga rasa bersalah begitu menguasai hatinya.
"Oh Ya ampun. Lain kali bilang dulu sama mama ya kalau kamu mau lari pagi. Mamakan bisa temenin kamu"
Ucap Sofia sembari membelai lembut wajah cantik Emily yang berkeringat.
"Iya sayang, jangan buat kami khawatir lagi ya. Mama kamu tadi sangat khawatir saat kamu tidak ada di kamar"
Petter ikut menasehati membuat Emily semakin merasa bersalah saja setelah mendengar ucapan Petter.
"Maaf ya mah udah bikin Mama khawatir"
"Gak papa sayang, kamu mau sarapan atau mau mandi dulu?"
"Mandi dulu aja Mah"
Sofia pun menganggukan kepalanya diiringi dengan senyuman.
Emily bisa bernapas lega karna Petter dan Sofia sepertinya tidak curiga sama sekali dengan kepergiannya tadi malam.
"Edward darimana kamu? Tadi malam Papa lihat mobil kamu keluar. Jangan bilang kalau kamu habis minum-minum lagi di club"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments