Tersingkirkan

"Mau sampai kapan kamu seperti ini, hem?"

Sentak Petter pada Edward putranya. Urat-urat di lehernya terlihat menegang, menandakan betapa emosinya pria itu sekarang.

"Kamu itu anak seorang Pejabat, keluarga kita akan selalu menjadi sorotan media dan masyarakat. Jadi jaga sikapmu itu"

Petter sudah kehabisan kata-kata lagi, dadanya mulai terasa sesak. Pria itu terduduk di atas Sofa sembari memegang bagian dadanya yang sakit.

"Sabar Pah, jangan terlalu Emosi"

Sofia mencoba menenangkan suaminya, tangan lembutnya mengusap dada sang suami untuk meredakan rasa sakitnya.

Untuk kesekian kalinya Edward menghajar teman sekolahnya hingga babak belur dan masuk rumah sakit.

Jika dulu Edward dan Sofia selalu menanggapi kenakalan Edward dengan santai dan menganggapnya sebagai kenakalan remaja biasa. Lain halnya dengan saat ini.

Setelah tragedi kecelakaan yang menimpa sofia sampai dia kehilangan calon bayinya. Sikap Petter pada Edward mulai berubah.

Petter tak bisa lagi menoleransi kesalahan apapun yang dibuat putra semata wayangnya itu.

"Lulus sekolah nanti bersiaplah untuk pergi ke Amerika. lanjutkan kuliahmu disana"

Perintah Petter dengan nada tegas.

Edward yang sebenarnya tak menginginkan hal itu terjadi hanya bisa diam, Ia tak kuasa melakukan perlawanan sedikitpun.

Terlebih kali ini Ia tidak mendapat pembelaan dari Sofia, Sang Ibu yang selalu membelanya dalam situasi apapun.

Entah kenapa Sofia hanya diam saja kali ini, padahal dulu Sofia adalah orang yang paling menentang keras keinginan Petter untuk mengirim Edward ke Amerika dan melanjutkan pendidikannya di negara asal mertuanya itu.

"Pasti Mama udah gak peduli lagi sama gue karna kehadiran anak itu" Gumam Edward dalam hati.

Pandangan Edward lurus ke depan, tepatnya ke arah seorang anak perempuan bernama Emily yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka dari balik pilar besar.

Dulu keinginan Petter mengirim putranya sekolah di luar negri dengan tujuan agar Edward bisa menjadi orang hebat dan pantas jadi penerus dari segala usahanya di masa depan.

Tapi sekarang lebih ke arah untuk menyelamatkan nama baiknya. Karna beberapa kali kasus Edward yang hobi membuat anak orang babak belur sampai masuk rumah sakit itu terendus oleh media.

Pemberitaan buruk itu tentu tidak baik untuk karir Petter di masa depan terutama untuk karirnya di dunia politik.

"Baiklah kalau itu mau Papa, aku akan pergi ke Amerika. Tidak perlu menunggu sampai lulus sekolah kalau perlu hari ini juga aku akan pergi"

Ucap Edward dengan penuh emosi dan penekanan. Hatinya terasa sakit saat mengucapkan kata-kata itu.

"Tidak perlu sekarang nak, tunggu sampai kamu lulus sekolah dulu"

Kali ini Sofia ikut bicara, namun bukan itu yang Edward harapkan dari wanita yang paling disayanginya itu. Edward berharap Mamanya itu akan menahannya untuk pergi seperti dulu.

"Huhf" Edward menghembuskan nafas berat.

"Terserah kalian saja"

Remaja 17 tahun itu bangkit dari duduknya di sofa yang nyaman, namun terasa seperti Sofa berduri selama ia mendudukinya. Edward kemudian berjalan ke arah kamarnya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu pada kedua orang tuanya.

Petter hanya bisa menggelengkan kepalanya, rasa sesal mulai menjalar di hatinya karna terlalu memanjakan Putra semata wayangnya itu, hingga Edward tumbuh menjadi remaja yang nakal dan hobi mencari masalah.

Edward menghentikan langkahnya sejenak saat berjalan melewati Emily. Mendapat tatapan tajam dari Kakak angkatnya Emily hanya bisa menundukan kepalanya dengan wajah yang ketakutan.

***

***

Beberapa bulan berlalu. Kini Edward sudah lulus dari sekolahnya. Itu tandanya hari-harinya berada di rumah ini sudah sangat menipis.

Namun tak ada gurat kesedihan sedikitpun dari wajah kedua orang tuanya. Petter dan Sofia kini menjadi semakin dekat dengan Emily hingga lupa dengan anak kandungnya sendiri.

Emily juga jauh lebih ceria sekarang, tidak sependiam saat Ia pertama datang ke rumah Petter dan Sofia beberapa bulan yang lalu.

"Cih, kayaknya mereka udah bener-bener gak peduli sama gue"

Edward memperhatikan keakraban Petter, Sofia dan Emily yang sedang asik bergurau di sofa living room dari kejauhan.

Sejak kehadiran Emily di rumah ini, Edward merasa tersingkirkan dan kehilangan sosok orang tuanya sendiri.

Ting Tong

Suara Bell berbunyi padahal jam hampir menunjukan pukul 22.00 malam.

"Siapa yang bertamu malam-malam begini?"

Sofia yang sedang asik memilih pakaian yang akan di belinya untuk Emily di sebuah aplikasi online, mengalihkan pandangannya ke arah pintu utama.

"Biar papa saja yang buka, kalian lanjutkan saja kegiatan kalian"

Petter mengelus puncak kepala Emily sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu.

Memiliki seorang anak perempuan yang manis, jauh lebih menyenangkan daripada memiliki seorang anak laki-laki yang hobinya hanya bikin masalah saja. Seperti itulah yang Petter rasakan saat ini. Petter dan Sofia sudah menganggap Emily sebagai putri kandungnya sendiri.

"Biar saya saja"

Kata Petter pada seorang pelayan yang juga sedang berjalan ke arah pintu utama.

"Baik Tuan"

Pelayan itu menundukan kepalanya sesaat, sebelum akhirnya kembali ke kamarnya. Petter memperlakukan semua pekerjanya dengan sangat baik. Jam kerja mereka sudah selesai usai keluarga Petter makan malam, Jadi Petter membiarkan mereka untuk istirahat sekarang.

Kecuali jika ada acara tertentu di rumahnya, barulah para pelayan itu bekerja hingga larut. Tapi Petter pasti akan memberikan mereka bonus keesokan harinya.

Cek lek Ngeek

Pintu besar berwarna coklat itu kini terbuka dengan lebar.

"Selamat malam tuan"

Ucap seorang bawahan Petter dengan seragam kebesarannya.

"Ada apa?"

Tanya Petter tanpa basa-basi. Karna Pria itu sudah paham jika sampai anak buahnya datang kerumah pasti ada hal penting yang akan Ia sampaikan.

"Ada Keluarga yang sedang mencari seorang anak Perempuan bernama Emily tuan"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!