"Baiklah biar saya cek sebentar," sahut pelayan tersebut.
"Tidak perlu. Kami akan ke hotel lain," sahut Alea yang membuat Livia semakin kaget dan merasa tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
"Baiklah kalau begitu! Saya cek " sahut pelayan itu yang langsung pergi.
"Apa ini maksudnya kak?" tanya Livia dengan napasnya yang naik turun dan suaranya yang bergetar.
Alea melihat ke arah Livia dengan Alea tersenyum merasa tidak berdosa kepada Alea.
"Maaf Livia kamu harus tahu semua ini begitu cepat. Sebenarnya aku dan Alvian punya hubungan tanpa kamu ketahui dan tadinya aku tidak ingin kamu tahu masalah ini. Akan tetapi ternyata sudah terlambat. Kamu sudah tau dan aku tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi," jawab Alea dengan tenang.
"Tidak mungkin! Kakak jangan bohong kakak tidak mungkin sama kak Alvian. Kak Alvian katakan sesuatu? katakan jika apa yang di katakan kak Alea tidak benar. Livia benar-benar bisa gila dengan apa yang didengarnya dan sangat tidak di duganya dengan pernyataan Alvian.
"Maaf. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya semuanya. Ayo kita pergi!" ajak Alvian yang berdiri dari tempat duduknya dan memegang tangan Alea, menggenggamnya begitu erat. Alvian bisa merasakan dinginnya tangan Alea. Seperti layaknya bersandiwara. Namun ada ketakutan bagi Alea. Alea mengikuti instruksi Alvian dan mereka pergi meninggalkan Livia.
"Kak Alea, apa yang kakak lakukan, kakak menusukku dari belakang! Kak Alea!" teriak Livia yang tidak terima dengan perlakuan yang didapatkannya.
Sementara Alea yang masih bergenggaman tangan dengan Alvian menghela nafasnya dengan wajahnya sendunya dan air matanya yang jatuh. Seakan Alea berkaca dengan apa yang terjadi pada Livia sekarang, seperti itulah dirinya yang hancur sakit hati karena telah dikhianati.
Alea memberanikan diri melakukan itu karena dia tidak ingin ditindas lagi oleh keluarganya sendiri.
Livia terus memanggil Alea dan Alea tidak meresponnya sama sekali yang tetap saja pergi meninggalkan Livia yang sendirian merengek dengan rasa sakitnya yang masih membutuhkan penjelasan.
**********
Alea dan Alvian berada di dalam mobil dan keduanya hanya diam saja dengan Alvian yang menyetir mobil dan Alea duduk di sampingnya yang kepala Alea melihat ke jendela mobil.
Jangan tanya wajah Alea seperti apa, wajahnya sangat sendu seperti wanita yang tidak punya tujuan hidup. Sesekali Alvian menoleh ke arah Alea yang memperhatikan ekspresi wajah wanita yang sangat menyedihkan itu.
Ehegg, ehegg,
Tiba-tiba Alea ingin muntah dengan menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Kau benar-benar hamil!" pekik Alvian yang melihat ke arah Alea.
"Sembarangan mengataiku hamil. Bagaimana aku tidak mual. Jika jalanan yang kau jalani tidak beres membuat perutku mual dan kepalaku sakit," protes Alea. Mungkin Alvian menyetir terlalu berbelok-belok, sehingga Alea mual dan Alvian berpikir Alea hamil.
"Bukannya kau ingin mengarang cerita. Jika kau hamil. Lalu mengapa mengatakan sembarangan. Bukankah itu keinginan mu," sahut Alvian.
"Diamlah. Kau menyetir saja dengan baik," ketus Alea.
"Kau itu hanya bisa protes saja," sahut Alvian.
"Makanya menyetir dengan baik dan jangan mengatakan ku hamil. Kau pikir aku sudi mengandung anakmu," kesal Alea dengan penuh penegasannya pada Alvian.
"Hey, bukannya tadi di hotel kamu mengatakan sendiri jika kau itu hamil dan sampai mengakui ingin hamil anakku," sahut Alvian mendengus kasar.
"Itu hanya senjataku saja," jawab Alea jujur
"Dasar wanita aneh," gumam Alvian geleng-geleng.
"Kita ke hotel mana?" tanya Alvian.
"Untuk apa?" tanya Alea dengan dahinya yang mengkerut.
"Tidak salah kau bertanya, bukannya harus melanjutkan tawaranmu supaya kita berdua impas," sahut Alvian.
Alea menelan salavinya, mendadak dirinya takut dan panik. Alea tidak tau bagaimana dengan nasibnya setelah ini. Karena membuat kesepakatan dengan Alvian dan juga membuat kegaduhan pada Livia dan pasti Livia akan mengadu kepada orang tuanya dan Alea yang sudah tidak tahu harus seperti apa lagi setelah ini.
"Kenapa diam? berubah pikiran?" tebak Alvian.
"Wanita memang seperti itu sudah selesai mendapatkan apa yang diinginkannya dan sekarang dia pura-pura lupa dengan janji yang diucapkan ya sebelumnya," sahut Alvian berdecak.
"Lalu bagaimana aku selanjutnya?" tanya Alea dengan suara seraknya yang seolah meminta pertolongan dari Alvian yang membuat Alvian menoleh ke arah Alea.
Mereka berdua saling menatap dengan dengan Alvian yang memperhatikan wajah menyedihkan Alea.
"Awas!" teriak Alea yang membuat Alvian kaget dan tanpa Alvian sadari ada mobil di depannya dan mereka hampir saja bertabrakan.
Untung saja Alvian dengan cepat membelokkan setir mobil dan menghindari kecelakaan. Namun mobil Alvian melaju tidak tentu arah membelok kesana, kemari dan Alvian menabrakkan ke sebuah pohon besar.
Brukkkk.
Terdengar tabrakan yang begitu kuat membuat kepala Alea terbentur ke depan mobil.
"Auhhhhh!" lirih Alea mengangkat kepalanya dan memegang dahi yang berdarah dengan suara lirihan yang merasakan perih.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alvian mendadak panik yang memegang dahi Alea.
Alea melihat wajah Alvian terlihat khawatir dan membuat keduanya kembali saling melihat. Namun mereka sama-sama sadar Alea mengalihkan pandangannya yang menepis tangan Alvian dari keduanya mendadak canggung berjamaah.
"Menyetir tidak bejus yang membuatku celaka. Malah bertanya tidak apa-apa," umpat Alea dengan kesal yang mengoceh.
"Selalu saja menyalahkan. Namanya juga kecelakaan. Makanya jangan mengajakku bicara. Jadi aku tidak melihat mobil di depan," sahut Alvian dengan menghela nafas.
Alea tidak menanggapi lagi dan hanya memegang dahinya yang memang nasib sial yang membuatnya celaka bersama dengan Alvian.
***********
Pertemuan Alvian dan Alea di hotel ternyata sangat panjang. Setelah membuat drama panjang dan membuat Livia sakit hati pertemuan mereka ternyata belum berakhir. Karena kecelakaan yang terjadi yang sangat tidak terduga membuat mobil Alvian jadi bermasalah.
Alvian dan Alea yang akhirnya berjalan di pinggir jalan untuk mencari tempat berisitirahat. Karena lokasi tempat mobil mereka yang sangat sepi dan mereka ingin mencari tempat pemukiman. Lokasi kecelakaan tidak jauh dari pantai dan pasti ada pemukiman yang akan mereka tuju. Makanya mereka berdua terus berjalan.
"Kita mau jalan sampai kapan?" keluh Alea yang kakinya sudah pegal karena berjalan terus.
"Diamlah kau itu jangan berisik. Dengan kau yang berisik. Tidak akan membuat sampai," tegas Alvian.
"Bagaimana tidak berisik. Jika kita terus berjalan seperti ini tanpa tujuan," tegas Alea dengan wajah kesalnya.
Alvian menghela nafasnya dan menghentikan langkanya dengan berkacak pinggang menghadap Alea yang sejak tadi mengomel saja.
"Apa kau tidak bisa diam. Semua ini karena mu!" Alvian kembali menyalahkan Alea.
"Menyalahkanku, apa salahku. Makanya kau itu pikirannya jangan mesum, jadi lihat kau itu kualat lihat mobilmu jadi rusak dan aku harus menjadi korbannya yang berjalan seperti ini," oceh Alea.
"Sekarang mengatakan ku mesum, kau itu memang paling pintar memanggilku dengan kata-kata ajaibmu itu," kesal Alvian sudah kenyang mendapatkan kata-kata baru dari Alea.
"Lalu bagaimana kita. Mau sampai kapan di sini?" tanya Alea.
"Makanya diam. Jika tidak aku akan meninggalkan mu di sini," ancam Alvian dan Alea mau tidak mau menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau lihat di ujung sana ada lampu, berarti ada pemukiman. Jadi bersabar dan jangan mengoceh!" tegas Alvian.
Alvian menghela nafasnya dan melanjutkan kembali berjalan.
"Issss, kenapa nasibku sial sekali," batin Alea yang mengumpat dengan penuh kekesalan.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments