"Oh iya aku lupa kau juga seperti itu dan pasti kalian berdua sama saja. Tidak akan mementingkan masalah hati. Tapi tetap saja kau tidak bisa menikah dengan Livia," ucap Alea.
"Kenapa?" tanya Alvian dengan santai.
"Tidak adil untukku," jawab Alea. Suara Alea terlihat berat dan menahan sesuatu yang terasa sesak dan Alvian biasa merasakan suara itu.
"Jangan menikah dengannya. Sekali ini saja. Biarkan dia gagal dan mereka tidak memujinya," suara Alea berubah seperti meminta permohonan.
Monica akan semakin besar kepala dan akan semakin melayang tinggi. Jika Livia memang menikah dengan orang yang tidak sembarangan dan jika Alea membatalkan pernikahannya dengan Galang karena Alea sudah tahu bagaimana Galang kepadanya dan itu hanya akan membuat Monica semakin merendahkan Alea.
Jadi Alea ingin posisi Livia sama dengannya supaya Monica tidak merendahkannya karena sama-sama gagal dengan Livia dengan tujuan pernikahan yang gagal.
"Jika kau tidak melakukannya. Aku akan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya," ancam Alea yang tidak mendapatkan respon dari Alea.
"Kau tau itu hanya akan merugikan mu dan aku tidak yakin kau akan mengatakan itu. Aku bisa melihat kau tidak punya keberanian itu," tebak Alvian.
Alvian sudah bisa menduganya dari pertama kali dia bertemu Alea di rumah Livia. Bagaimana Alea yang begitu panik jika sampai ketahuan dan bahkan menghindari dirinya. Dan sekarang Alea ingin mengatakan kepada keluarganya dan itu sangat tidak mungkin bagi Alvian.
Alea diam seolah apa yang di katakan Alvian benar. Dia tidak akan berani mengatakan apa-apa pada keluarganya.
"Apa yang harus aku lakukan agar dia mau mengakhiri hubungannya dengan Livia," tanya Alea di dalam hatinya.
"Kau masih di sana?" tanya Alvin yang tidak mendapat respon Alea.
"Bukannya kau ingin membayarku, 100 kali lipat. Ketika kembali melakukan hal itu. Maka ayo dan tidak perlu membayarku. Kau cukup membatalkan pernikahanmu dengan Livia," Alea tiba-tiba menawarkan negoisasi kepada Alvian dengan gampang mengatakan ayo.
Alvian mendengarnya mendengus kasar mendengar perkataan Alea yang semakin lama semakin melantur ke sana kemari yang membuat Alvian tidak menduga dan Alvian mungkin berpikiran. Jika Alea pasti mabuk. Makanya berkata begitu gampang.
Tut-tut-tut-tut-tut-tut-tut.
Tiba-tiba Alvian mematikan panggilan itu secara sepihak membuat Alea mengehela nafasnya dengan memejamkan matanya dan menyibak rambutnya ke belakang.
Alea bener-bener sangat frustasi dengan keadaannya sekarang dan dia bahkan merendahkan dirinya dan memberikan tawaran kepada Alvian hanya untuk hubungan adiknya dan Alvian yang harus berakhir sama seperti dirinya.
"Aku tidak tau harus melakukan apa lagi," gumamnya.
Ting.
Tiba-tiba notif pesan masuk.
"Temui aku di hotel Cakra 1 jam lagi. Telat 5 menit aku akan membatalkan tawaranmu," pesan itu masuk dari Alvian.
Napas Alea naik turun ketika mendapat pesan tersebut. Tidak tahu apa yang dipikirkan Alea. Alea langsung mengambil tasnya dan buru-buru keluar dari kamarnya.
Jalan pikiran Alea sudah buntu dan tidak bisa berpikir jernih dia hanya ingin Livia sama sepertinya agar tidak ada perbandingan lagi di antara mereka. Dan mungkin pesan dari Alvian yang mengajaknya bertemu di hotel. Sudah keputusan Alvian yang pasti menerima tawarannya.
********
Alea buru-buru keluar dari rumahnya dan bersamaan dengan Galang yang datang ke rumahnya dan bertabrakan dengannya di depan pintu.
"Alea!" ucap Galang. Alea melihat Galang rasanya ingin melayangkan tamparan ke pipi pria yang sok baik di depan nya itu. Sangat munafik wajahnya, menjijikan bagi Alea.
Umpatan dan makian untuk Galang hanya bisa di ucapkannya di dalam hatinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Galang.
"Dan iya apa kamu melihat......"
"Livia ada di dalam," sahut Alea yang menyambungkan kata-kata Galang.
"Hmmm, kamu tau saja aku mencarinya," sahut Galang dengan wajahnya yang tidak berdosa dengan mudahnya mengatakan hal itu.
"Oh iya, kamu sendiri mau kemana?" tanya Galang.
"Ada urusan," sahut Alea yang langsung pergi dari hadapan Galang dan tidak peduli dengan Galang. Alea hanya ingin mengurus pekerjaannya dengan Alvian dan agar masalahnya selesai.
"Mau kemana dia buru-buru sekali," batin Galang dengan bingung. Galang juga bingung sikap Alea yang dingin.
"Kak Galang!" sahut Livia yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah dan menyapa Galang.
"Hay Livia," sapa Galang dengan tersenyum lebar saat bertemu dengan Livia.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Livia.
"Ingin menemui kamu," jawab Galang.
"Menemuiku, untuk apa?" tanya Livia.
"Kita kekantor bersama dan juga sarapan bersama," jawab Galang.
"Maaf kak Galang. Aku tidak bisa aku ada janji dengan seseorang. Jadi maaf aku tidak bisa," jawab Livia menolak permintaan Galang.
"Bertemu dengan siapa?" tanya Galang penasaran. Livia diam dan tidak langsung menjawab.
"Ada Galang ternyata," tiba-tiba Monica datang dan melihat ada Galang.
"Tante!" sapa Galang. Monica hanya menganggukkan kepalanya dengan sapaan Galang.
"Livia kamu masih di sini. Bukannya kamu harus menemui Alvian?" tanya Monica. Apa yang dikatakan Monica sudah menjawab pertanyaan Galang jika Livia ingin menemui Alvian.
"Oh, iya mah," sahut Livia yang terlihat gugup yang merasa tidak enak pada Galang.
"Ya sudah sana pergi. Nanti kamu terlambat," ucap Monica.
"Baik mah, kalau begitu Livia pergi dulu. Kak Galang mari!" sahut Livia yang berpamitan dan Galang hanya menganggukkan kepalanya dengan mengehela napasnya.
"Galang kamu mau menemui Alea?" tanya Monica.
"Iya Tante!" jawab Galang bohong padahal dia datang ke rumah itu hanya untuk menemui Livia.
"Tapi Alea sudah pergi. Apa kamu tidak bertemu dengan-nya?" tanya Monica.
"Tidak Tante," jawab Galang.
"Anak itu memang seperti itu, tidak tahu aturan dan selalu ingin melakukan semua sesuai keinginannya. Galang kamu harus sabar-sabar ya jika menjadi suami dari wanita seperti itu. Anggap saja kamu sedang sial dan harus menikah dengan Alea," ucap Monica. Galang hanya menganggukkan kepalanya saja.
Suasana hatinya sudah tidak enak karena Livia yang pergi menemui calon suaminya. Bahkan apa yang dikatakan Monica sudah tidak masuk lagi ke dalam otaknya.
***********
Akhirnya mobil Alea sampai di hote tempat pertemuan dirinya dengan Alvian. Alea keluar dari mobilnya dengan langkahnya yang buru-buru. Alea menggunakan dress panjang di atas mata kakinya berwarna nude dengan lengan panjang, rambutnya di ikat satu di bagian bawah. Alea terlihat feminim dan langsung memasuki hotel.
Masih dari kejauhan Alea sudah melihat Alvian di bangku lobi hotel yang duduk sembari meneguk kopinya. Alea menghela nafasnya dan langsung menghampiri Alvian.
"Ehemmm!" Alea berdehem membuat Alvian mengangkat kepalanya dan melihat wanita itu sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangannya yang memegang kuat gagang tasnya terlihat Alea begitu deg-degan.
Alvian hanya melihatnya dengan alis terangkat. Mungkin Alvian tidak percaya jika Alea, benar-benar akan datang menemuinya. Tanpa ada yang menyuruh Alea duduk Alea langsung duduk di depan Alvian.
"Dia benar-benar nekat. Aku ingin melihat apa dia masih berani setelah ini," batin Alvian. Tidak tahu apa yang direncanakan Alvian.
"Langsung saja pada intinya," sahut Alea yang memulai pembicaraan yang berusaha untuk tenang.
"Kalau begitu katakan. Apa alasanmu menyuruhku untuk mengakhiri hubungan ku dengan adikmu. Itu seperti terlihat kau sangat iri kepada kebahagiaan adikku?" tanya Alvian basa-basi.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments