"Itu pasti mah, aku sangat ingin mencoba masakan mama. Aku sudah lama sekali tidak memakannya. Makanan di Amerika sangat tidak enak dan tidak cocok di lidahku. Jadi masakan mama yang paling the beat," ucap Alvian dengan memuji namanya supaya mood sang mama kembali.
"Kamu jangan terus memuji mama," sahut Adara.
"Itu bukan sebuah pujian. Tapi itu adalah kenyataan," sahut Alvian.
"Ya sudah Alvian, mama siapkan dulu makan untuk kamu. Kamu mandilah dan langsung turun ke bawah," ucap Adara.
Alvian menganggukkan kepalanya.
"Iya mah," jawab Alvian dan Adara langsung keluar dari kamar putranya itu.
"Seharusnya aku tidak bohong pada mama dengan aku yang mengatakan berada di tempat mama Shandra. Padahal aku tidak pulang ke rumah mama Shandra. Aku menginap di hotel tadi malam. Pasti mama sangat kecewa denganku dan jangan apalagi jika tau aku bohongkan," ucap Alvian yang berdecak kesal dengan mengehela napasnya.
"Wanita itu!" Alvian mendengus dengan kasar dan kembali melihat dirinya di cermin dan mengingat wajah wanita bersamanya malam itu.
Alvian terbayang dengan dirinya dan Alea yang bermain panas malam itu. Meski dalam pengaruh obat dari rekan bisnisnya yang membuat dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya. Namun Alvian masih sadar dengan apa yang di lakukannya. Dia masih bisa merasakan malam itu yang penuh dengan kenikmatan dan panas itu.
Apa lagi melihat banyak tanda di lehernya yang pasti mana mungkin Alvian melupakannya. Jika dia saja mendapatkan kenang-kenangan dari wanita. Lalu bagaimana dengan wanita itu, Pasti lebih banyak lagi Karya yang di dapatkannya. Mengingat hal itu membuat Alvian mendengus kasar dan mengambil kemejanya yang sebelumnya di atas tempat tidur.
Alvian mengambil sesuatu dari sakunya. 1 ikat uang pecahan 100 ribu yang di nominalnya 10 juta.
"Berani sekali dia membayarku dengan nilai 10 juta. Apa menurutnya aku semurah itu. Jika malam itu kau begitu membuatku terkesan. Aku yang seharusnya yang membayar mu 100 kali lipat," desisi Alvian.
"Siapa namamu?" tanya Alvian saat dirinya mengakhiri permainan dan masih berada di atas tubuh wanita yang bersamanya. Permainan panas mereka yang berakhir dengan Alvian dan Alea yang di penuhi dengan keringat.
"Alea!" jawab Alea dengan napasnya yang putus-putus dan begitu sangat lelah.
"Alea. Namanya cukup bagus. Apa kita bisa bertemu kembali," desis Alvian yang sepertinya punya keinginan untuk bertemu Alea kembali.
*************
Akhirnya Alvian menuruni anak tangga dan menghampiri mamanya yang menghidangkan makanan untuknya.
"Aromanya sangat nikmat. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya," puji Alvian yang langsung duduk dengan mengendus setiap jenis makanan yang di siapkan sang mama.
"Maka dari itu kamu harus makan yang banyak," ucap Adara yang menyendokkan nasi kedalam piring Alvian.
"Itu pasti mah. Masakan mama itu sangat enak dan belum lagi mama itu sangat cepat memasak nya. Mama itu chef yang handal," puji Alvian.
"Yang chef handal itu papa kamu dan mama adalah muridnya," sahut Adara dengan merendah diri.
"Tapi sekarang murid papa. Jauh lebih pintar," puji Alvian yang terus menerus.
"Kamu itu terus saja memuji mama. Nanti mama besar kepala. Mending sekarang kamu itu makan dan kamu mau makan lauk apa?" tanya Adara.
"Hmmmm, semuanya. Karena tidak akan ada satupun masakan mama tidak akan aku makan. Jadi aku ingin memakan semuanya," jawab Alvian.
"Iya-iya asal aja habis," ucap Adara dengan geleng-geleng yang langsung menyiapkan makanan untuk anak kesayangannya itu.
"Ini kamu makan yang banyak dan ingat, harus habi," ucap Adara.
"Itu pasti mama. Mama itu jangan khawatir," sahut Alvian yang mulai makan.
Adara tersenyum melihat putranya yang sangat lahap makan dan Adara hanya duduk di depan Alvian yang menunggui Alvian makan.
"Mama tidak makan?" tanya Alvian
"Melihat kamu makan, sudah membuat mama sangat kenyang," jawab Adara.
"Mama itu bisa saja dengan melihat ku langsung kenyang," sahut Alvian sembari mengunyah makanannya.
"Oh iya mah aku tidak lihat papa dan Fisya. Di mana dia?" tanya Alvian.
"Papa kamu lagi temani adik kamu ke Mall. Kamu harus maklum aja, adik kamu yang manja itu menagih janjinya pada papa kamu," jawab Adara.
"Janji apa itu?" tanya Alvian dengan alisnya yang terangkat.
"Menang lomba berenang. Dan papa kamu menjanjikannya hadiah sepatu dan langsung menagih dan makanya mereka ke Mall," jawab Adara.
"Lalu apa mama tidak akan memberiku hadiah?" tanya Alvian.
"Kamu menang berenang juga?" tanya Adara.
"Menang di mana di kolam renang atau di laut?" tanya Adara.
"Bagaimana mau menang di laut. Air laut itu saja sangat mengerikan," jawab Alvian menggedikkan bahunya.
"Iya-iya mama bercanda. Kamu itu sangat takut dengan laut," sahut Adara.
"Lalu apa yang kamu menangkan?" tanya Adara yang masih menunggu jawaban putranya.
"Memang tender perusahaan mah," jawab Alvian.
"Benarkah?" tanya Adara dengan alisnya yang terangkat.
"Iya. Bagaimana apa mama bangga?" tanya Alvian.
"Mama sangat bangga dan kamu ingin hadiah apa?" tanya Adara.
"Mama harus memasakkan ku setiap hari seperti ini," jawab Alvian dengan singkat.
"Hanya itu?" tanya Adara dengan alisnya yang terangkat.
"Iya hanya itu saja," jawab Alvian.
"Kalau hanya itu mama pasti akan melakukannya," jawab Adara yang membuat Alvian tersenyum.
"Mama aku pulang," sahu Fisya dengan suara cemprengnya yang ternyata baru pulang dan langsing berteriak dengan hebohnya.
"Ihhhhhh ada kak Alvian! Kakak sudah pulang," sahut Fisya yang begitu terkejut dan langsung memeluk Alvian dari belakang dengan menciumi pipi Alvian yang kelihatan merindukan kakaknya itu.
"Fisya kamu apa-apaan sih, jangan seperti ini," Alvian benar-benar risih dengan Fisya yang menguasai Alvian sampai mengganggu makan Alvian. Adara dan Arhan hanya geleng-geleng melihat kakak dan adik itu.
"Namanya Fisya itu kangen tau," ucap Fisya dengan manja yang memeluk gemes kakaknya itu.
"Kakak akan mati tidak bernapas dengan kelakukan kamu seperti ini. Kamu minggir dulu Fisya!" tegas Alvian.
"Isssss!" kesal Fisya yang akhirnya melepas pelukannya dari Alvian dan Fisya yang berdiri tegak di samping Alvian.
Alvian menghela napasnya yang benar-benar baru selesai bernapas karena ulah Fisya.
"Kamu baru pulang Alvin," sahut Arhan
"Iya pah," sahut Alvian yang mencium punggung tangan arhan sementara wajah Fisya masih terlihat ngambek gara-gara Alvian memarahinya tidak memarahi hanya menegurnya saja.
"Percuma pulang, tidak rindu pada adiknya, baru di peluk aja sudah seperti kesetanan," oceh Fisya dengan wajah merengutnya. Alvian menghela napas dan langsung berdiri dari tempat duduknya dengan menghadap Fisya.
Alvian membuka kedua tangannya untuk memberikan ruang untuk memeluk adiknya.
"Tidak mau di peluk?" tanya Alvian dengan menaikkan alisnya dan Fisya tersenyum yang langsung memeluk Alvian yang membuat Adara dan Arhan tersenyum.
"Hmmmm, Fisya kangen tau sama kakak. Jadi jangan pergi-pergi lagi," ucap Fisya dengan suara manjanya.
"Kakak juga kangen sama kamu Fisya," sahut Alvian yang memeluk adiknya itu dengan erat. Fisya melonggarkan pelukannya dan mengangkat kepalanya melihat ke arah Alvian
"Kakak kangen sama Fisya?" tanya Fisya memastikan.
"Menurut kamu apa kakak tidak kangen sama kamu?" tanya Alvian.
"Kakak memang pasti kangen sama Fisya dan tidak mungkin tidak," jawab Fisya dengan tersenyum yang kembali memeluk Alvian
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments