Melihat kondisinya seperti itu membuat Alea perlahan turun dari ranjang dan mengutip pakaiannya dan langsung berlari ke kamar mandi dengan pelan-pelan yang takut pria di sampingnya bangun.
Tidak berapa lama akhirnya area kembali keluar dari kamar mandi dan melihat pria itu masih tertidur seperti semula.
"Bagaimana ini, Aisss sial, kau bisa-bisanya sampai ceroboh seperti ini," Alea terus menyalahkan dirinya sendiri.
Alea mengambil tasnya dan membuka tasnya.
"Untung aku punya uang cas. Sudahlah semuanya juga sudah terjadi, mau bagaimana lagi. Yang penting aku membayarnya," gumam Alea mengeluarkan uangnya.
"Aku rasa ini cukup," Alea langsung menjatuhkan uang satu ikat di atas tempat tidur. Lalu kemudian Alea meninggalkan kamar tersebut dengan cepat-cepat sebelum pria itu bangun. Karena Alea tidak mau mendapatkan masalah.
Alea memiliki uang 10 juta uang pesangon yang diberikan pihak rumah sakit kepadanya. Gaji sebagai dokter di rumah sakit terbesar lebih dari itu hanya saja Alea melanggar peraturan dan juga dipecat dan tetap mendapatkan pesangon dan Alea memberikan semuanya kepada Alvian.
***********
Tidak lama setelah perginya Alea. Alvian akhirnya bangun dengan mengkerutkan matanya dan juga memijat kepalanya yang masih berat. Suara nafasnya juga tampak tidak beraturan. Perlahan Alfian membuka matanya dan menoleh ke sampingnya yang sudah tidak ada siapa-siapa.
"Kemana wanita itu!" gumamnya yang jelas mengingat Alea.
Alvian memang malam itu dipengaruhi oleh obat yang diberikan Jessi namun dia mengingat semua apa yang dilakukannya dan bahkan mengingat percintaannya yang panas bersama wanita yang dikenalnya itu.
"Apa dia sudah pergi," gumam Alvian.
Alvian langsung duduk dan kembali memijat kepalanya Alvian melihat di sekelilingnya dan memang tidak ada siapa-siapa sama sekali.
"Ternyata dia memang pergi begitu saja," Alvian mengehela napasnya dan tidak peduli juga. Pandangan Alvin tertuju pada dekat kakinya yang melihat 1 ikat uang yang membuat Alvian mengkerutkan dahinya dan mengambil uang tersebut.
"Cih!" Alvian berdecak dengan kesal.
"Apa yang di lakukannya! dia membayarku," desis Alvian. Alvian mengingat perkataan wanita itu sebelumnya yang mengatakan dirinya miskin dan akan memberinya ongkos jika dia dibawa ke surga dan ternyata benar wanita itu membayar Alvian dengan uang 10 juta yang membuat harga diri Alvian benar-benar hilang.
"Merendahkan ku dengan uang 10 juta. Benar-benar kurang ajar," umpat Alvian yang merasa terhina dengan perbuatan Alea. Tatapan mata Alvian menoleh kearah selimut lagi dan melihat ada bercak darah Hal itu membuat Alvian mendengus dengan mengeluarkan senyumnya.
"Dasar gadis gila!" umpat Alvian.
Sebenarnya tidak tahu apakah Alvian bahagia atau merasa bangga karena bisa tidur dengan seorang wanita yang masih virgin. Tetapi mungkin Alvian sangat kesal karena wanita itu bisa-bisanya membayarnya 10 juta ya tubuhnya dibayar 10 juta dan itu sangat merendahkan dirinya.
Kejadian itu memang sangat singkat dan Alvian yang ingin lari dari Jessie yang tidak ingin terjebak oleh kliennya. Tetapi malah terjebak bersama wanita yang baru dikenalnya bisa dikatakan wanita itu membayar ongkos Alvian karena membawanya ke surga yang diinginkannya.
Flashback of.
Sepanjang makan malam bisa-bisanya Alea dan Alfian mengingat malam panas mereka. Mereka berdua bahkan tidak mendengarkan percakapan orang-orang yang di meja makan itu yang sudah tidak tahu percakapannya sampai mana.
"Kenapa sih dunia sempit sekali. Bisa-bisanya aku bertemu kembali dengannya," batin Alea.
"Aku rasa dia tidak melupakannya, wanita yang merendahkan ku dengan bayaran 10 juta," batik Alvian.
"Hmmmm, Lucia apa kesibukan kamu sekarang?" tanya Shandra.
"Selain mengabdi di perusahaan papa. Lucia juga menjadi seorang desainer Tante," jawab Lucia.
"Wau kamu hebat sekali, wanita yang sangat berbakat Livia," puji Shandra.
"Terima kasih Tante," sahut Livia.
"Bukannya putri pertama tuan juga ahli dalam desain?" tanya Ramon.
Dia sedikit tau tentang Alea. Karena semasa sekolah Alea pernah mengirimkan desainnya ke perusahaan miliknya dan saat itu desain Alea menguntungkan perusahaannya. Awal mulanya perkenalan Sandres dan Ramon di mulai saat itu.
"Oh iya tuan benar. Alea juga bisa mendesain Tapi tidak seperti Livia yang tidak mengembangkan bakatnya. Jika Livia rajin maka Alea kebalikannya," sahut Sandres yang membuat Alea mendengar hal itu terdiam dengan menghela napasnya yang menunduk pada makanan.
Monica mendengar hal itu tersenyum sinis. Sama saja dia dan suaminya yang tidak tau tempat untuk membandingkan Alea dan Livia.
"Sayang sekali Alea. Kamu harus tau desain kamu juga sangat bagus," sahut Ramon memuji Alea.
"Papa tau dari mana?" tanya Shandra yang sebenarnya tidak banyak tau.
"Mah. Pertama kali papa bertemu dengan Tuan Sandres itu karena Alea. Saat itu Alea masih SMP dan Alea mengirimkan salah satu desain nya ke perusahaan kita dan Mama tahu desainnya sangat cantik. Jika desainer banyak membuat desain pakaian. Maka Alea membuat desain unik berupa hiasan rambut, pita rambut yang indah dan saat itu Alea masih SMP yang bersaing dengan orang-orang hebat," puji Ramon.
Tiba-tiba Alea tersenyum yang baru kali ini mendapatkan pujian dan membuatnya sangat gembira.
"Alea sayang sekali. Jika bakat kamu tidak di lanjutkan," sahut Ramon.
"Seperti apa yang di katakan suami saya. Alea anak yang malas dan tidak bisa berkembang. Hanya bisa di satu titik saja. Livia selain menjadi desainer untuk pakaian, untuk membuat hiasan rambut, pita rambut dan sejenisnya juga Livia bisa. Karena Livia mengembangkan keterampilannya dan tidak malas-malasan," sahut Monica yang menaikkan nama Livia dan merendahkan Alea yang membuat Alea kembali datar.
"Wau benarkah. Kalau begitu Tante nanti ingin di buatkan baju oleh kamu Livia," sahut Shandra.
"Pasti Tante!" sahut Livia tersenyum.
"Tapi kamu apa tidak sibuk Livia? kamu juga bekerja di perusahaan papa kamu dan juga membantu perusahaan Mama kamu dan kamu juga menjadi desainer. Apa tidak lelah dengan semua pekerjaan itu?" tanya Shandra.
"Jika sudah biasa dididik dengan tekun dan membiasakan diri maka tidak akan ada kata lelah Mbak," sahut Monica.
"Mamang begitulah Livia yang tidak bisa diam dan mempunyai banyak keterampilan dan pasti aku dan mas Sandres sangat bangga telah memiliki anak seperti Livia," sahut Monica yang membuat Alea menelan salavinya yang merasa sangat tidak di anggap di tempat itu.
Sementara Alvian sejak tadi selalu memperhatikan ekspresi Alea.
"Jadi ini Neraka yang di katakannya," batin Alvian yang sudah bisa menebak bagaimana kehidupan Alea di rumah itu.
"Lalu kamu sendiri bagaimana Alea. Apa kegiatan kamu?" tanya Ramon.
"Hmmm, saya seorang Dokter," jawab Alea.
"Wau hebat sekali itu," sahut Ramon yang terlihat bangga dan membuat Alea tersenyum kembali.
"Tapi tetap saja. Itu sangat melanggar aturan. Seharusnya, Alea membatu perusahaan dan lagian di keturunan kami tidak ada yang menjadi seorang Dokter atau profesi lainnya," sahut Monica.
"Ya ampun mbak Monica. Menjadi seorang Dokter adalah suatu kebanggaan dan menjadi seorang Dokter itu tidak mudah. Saya saja sangat ingin Alvian menjadi Dokter. Tapi Alvian tidak mau," sahut Ramon.
"Alea sukses untuk karir kamu dan pasti mendapatkan profesi seperti itu sangat tidak mudah dan kamu butuh perjuangan yang banyak kamu sangat hebat," ucap Ramon dengan tersenyum bangga yang membuat Alea mengangguk dan merasa sangat bahagia. Jika ada manusia yang di temuinya yang baik.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments