"Lalau kamu bekerja di rumah sakit mana?" tanya Shandra.
Alea terdiam. Dia baru saja diberhentikan dari rumah sakit medical dan Alea juga tidak akan mendapatkan pekerjaan selama setahun ke depan karena perbuatannya. Pertanyaan Shandra membuatnya bingung harus menjawab apa dan sementara semua orang menunggu jawabannya termasuk Sandres yang juga sebenarnya penasaran selama ini area bekerja di Rumah sakit mana yang padahal dia tidak peduli.
"Untuk saat ini saya cuti menjadi Dokter. Karena akan menikah. Tapi sebelumnya saya bekerja di rumah sakit Jerman dan di pindahkan di rumah sakit Medikal," jawab Alea.
"Itu rumah sakit milik tuan Gavin bukan dan itu sangat terkenal sekali," sahut Ramon yang sangat mengetahui rumah sakit itu.
"Mama ingat tuan Davin. Beliau itu pernah menjadi tamu di rumah kita. Istrinya dan anaknya juga seorang Dokter dan dia juga pendiri rumah sakit. Orang-orang di rumah sakit itu tidak orang-orang sembarangan semuanya orang-orang hebat dan Alea bekerja di sana dan itu sangat hebat sekali," pujian Ramon terhadap Alea yang tidak hentinya.
"Iya mama ingat," sahut Shandra.
"Semoga saja Om Ramon tidak tau apa-apa, mengenai berita di rumah sakit tersebut yang aku sebabkan dan papa bisa marah,"batin Alea yang sebenarnya juga takut jika Apa yang dilakukan akan ketahuan oleh papanya dan itu akan menjadi masalah besar untuknya.
"Kamu sangat hebat Alea dan sayang sekali kamu cuti," sahut Ramon dengan bangga.
Raut wajah Monica terlihat tidak suka dengan cara Ramon yang sejak tadi hanya membicarakan dan membanggakan Alea saja dan melupakan Livia yang seharusnya menjadi topik utama dalam pembicaraan mereka karena Livia akan menjadi menantu mereka.
Namun bukan hanya Monica saja Bahkan wajah Livia juga terlihat resah seperti merasa tidak dianggap. Mungkin ini pertama kali Livia merasakan jika dirinya dibandingkan dan sementara Alea hal ini sudah biasa karena sejak kecil dia sudah dibandingkan dengan Livia.
"Hmmmm, ada sebaiknya kita lanjut saja makan," sahut Monica yang mengalihkan pembicaraan. Karena kupingnya sangat panas Mendengar pembicaraan tersebut.
"Iya mari makan di lanjutkan," sahut Sandres.
"Om Ramon, kelihatan sangat menyukai kak Alea. Sejak tadi dia selalu memujinya dan aku sama sekali tidak. Apa menjadi Dokter hal yang membanggakan," batin Livia yang merasa tersaingi oleh kakaknya.
"********
Makan malam itu berlanjut dengan mengobrol-ngobrol kembali di ruang tamu. Namun Alea tidak bergabung dengan mereka dan memilih untuk kekamarnya.
"Aku rasa pria itu pasti tidak mengingat siapa aku, dia mungkin hanya merasa samar-samar saja dan pasti tidak tau. Jika aku wanita yang bersamanya malam itu," gerutu Alea sembari berjalan menuju kamarnya.
Namun saat melewati kamar mandi tamu. Tangannya tiba-tiba di tarik yang membuatnya kaget dan di dirinya di tarik masuk kekamar mandi.
Alea lebih kaget lagi saat yang menariknya adalah Alvian dan Alvian langsung mendorong tubuhnya ke dinding dan menghimpit tubuh Alea dengan memegang pergelangan tangan Alea.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alea dengan matanya yang melotot dan menekan suaranya . Alea terlihat panik dengan Alvin yang berada di depannya itu.
"Alea Chatline Sandres," sinis Alvin.
"Lepaskan aku!" tegas Alea dengan panik.
"Aku rasa kau tidak lupa dengan siapa aku," ucap Alvin.
"Aku tidak tau siapa kau," jawab Alea yang pura-pura tidak mengenal Alvian.
"Yang aku tau. Kau itu adalah calon suami adikku. Jadi lepaskan aku sebelum ada yang melihat kita di sini," tegas Alea yang memberontak ingin di lepaskan.
"Jika kau tidak tau siapa aku. Lalu kenapa kau begitu panik Alea!" ucap Alvin yang berbicara menaikkan alisnya.
"Aku hanya takut akan ada yang melihat kita dan aku tidak mau mencari masalah Jadi sekarang lepaskan aku!" tegas Alea.
"Jadi kau tidak mengingatku gadis 10 juta," desisi Alvin.
"Apa maksudmu?" tanya Alea mengkerutkan dahinya.
"Jangan berpura-pura bodoh dan tidak tahu. Kau jelas mengingat siapa aku. Apa aku harus mengingatkanmu bagaimana permainan kita malam itu yang di mana kamu mohon dan meminta kepadaku untuk membawamu jalan-jalan ke surga yang seperti kau inginkan," bisik Alvian membuat Alea menelan salavinya mendengar kata-kata Alvian.
"Apa aku harus mengingatkan mu lagi dengan detail?" tanya Alvian.
"Cukup!" bentak Alea.
"Kau dengar aku, malam itu aku mabuk dan aku tidak ingat apa-apa dan terserah apa yang terjadi pada malam itu dan itu dengan siapa atau denganmu. Itu bukannya hal yang biasa terjadi dan kau adalah calon suami adikku jadi jangan mencari masalah denganku," tegas Alea mengingatkan Alvian.
"Tapi kau sudah menghinaku," sahut Alvian.
"Apa maksud mu?" tanya Alea
"Dengar ya. Dalam kejadian ini aku yang dirugikan seharusnya. Kau seharusnya bersyukur bisa tidur dengan wanita sepertiku dan aku juga tidak melakukannya gratis, aku juga membayar mu dengan....."
"10 juta," sahut Alvian melanjutkan kalimat yang ingin dilanjutkan Alea dan Alea terdiam mendengarnya.
"Setelah aku melakukan semua permintaanmu, kau menghargai diriku dengan 10 juta. Apa kehebatanku di atas ranjang cukup kau bayar dengan segitu. Alea kau sangat merendahkan diriku. Aku bisa membayar mu lebih dari 10 juta 100 kali lipat dari 10 juta yang kau berikan kepadamu. Kau juga tidak lupa dengan perkataanmu yang mengatakan aku miskin seorang sopir seorang pengecut," lanjut Alvian mengumpat semua apa yang di katakannya.
"Cukup!" tegas Alea.
"Percuma! Kau mengatakan ini dan itu aku juga tidak mengingat apa-apa dan aku sudah mengatakan aku hanya mengingat saat itu terjadi dan Aku mengingat wajahmu karena aku sudah bangun terlebih dahulu," jelas Alea menegaskan yang membuat Alvian mendengus kasar.
"Tapi aku tidak terima dengan kau yang membayarku 10 juta," sahut Alvin.
"Lalu maumu berapa?" tantang Alea.
"Kau punya uang banyak?" tanya Alvian dengan alisnya yang terangkat.
"Bagaimana jika aku yang membayar mu dan kita kembali melakukannya," sahut Alvian yang membuat mata Alea melotot dan geram melihat Pria yang di depannya itu.
"Kau jangan kurang ajar kepadaku!" teriak Alea dengan wajah kesalnya.
"Kak Alea!" tiba-tiba terdengar suara Livia karena Alea yang berbicara terlalu keras. Mendengar suara livia membuat Alea kaget. Namun Alvian hanya santai saja.
Alea langsung mendorong Alvian menjauh dari tubuhnya.
"Bagaimana ini?" batin Alea panik.
"Ini semua gara-gara kau!" Alea langsung menyalahkan Alvian dan Alvian hanya melipat tangannya di dadanya dan melihat kepanikan wanita di depannya itu.
"Kak Alea ada di dalam?" tanya Livia. Mendengar suara Livia hanya membuat Alea semakin panik.
"Kau jangan mencari masalah denganku Aku tidak mau ada masalah dalam hidupku di rumah ini gara-gara kau. Jadi kau tetap di sini dan jangan berani keluar sebelum aku pergi," tegas Alea memberikan peringatan kepada Alvian dengan menunjuk Alvian dan Alea langsung keluar dari kamar mandi dengan menghela napasnya.
"Berani sekali dia memerintahku," desis Alvian dengan mendengus kasar.
Alea langsung keluar dari kamar mandi dan berusaha untuk tenang menghadapi Livia yang berdiri di depannya.
"Kak Alea ngapain?" tanya Livia merasa curiga.
"Oh tidak apa-apa. Tadi buang air kecil saja," jawab Alea.
"Lalu kenapa teriak?" tanya Livia.
"Tidak apa-apa, tadi tanganku tiba-tiba terkena pinggir meja," jawab Alea dengan alasannya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments