"Kakak kangen sama Fisya?" tanya Fisya memastikan.
"Menurut kamu apa kakak tidak kangen sama kamu?" tanya Alvian balik.
"Kakak memang pasti kangen sama Fisya dan tidak mungkin tidak. Karena Fisya adik yang sangat di rindukan," jawab Fisya dengan tersenyum yang kembali memeluk Alvian dengan erat.
"Begini dong, jangan marah-marah, jangan ada yang ngambek seperti tadi. Kayak gini itu baru kakak adik namanya," sahut Adara.
"Ini nih mah, tukang ngambek yang tidak pernah berubah, manja," ejek Alvian pada Fisya sembari mengacak-acak pucuk kepala adiknya itu.
"Issss apaan sih, orang kakak tidak mau di peluk sama Fisya tadi," sahut Fisya dengan bibirnya yang kerucut.
"Kakak bukan tidak mau di peluk. Tapi Kakak lagi makan," tegas Alvian.
"Alasan aja bilang aja memang tidak mau di peluk adiknya sendiri," sahut Fisya dengan menatap sipit.
"Isss kamu itu kalau di bilangi ngeyel ya," sahut Alvian.
"Udah-udah jangan pada ribut. Ayo Alvian, kamu juga Fisya kamu ikut makan. Kamu sudah ganggu kakak kamu. Jadi mari kita makan sama-sama," sahut Adara tidak mau ada perdebatan lagi.
"Oke Fisya juga lapar. Papa tadi tidak kasih Fisya makan," sahut Fisya. Arhan hanya menghela nafas saja mendengar perkataan putrinya yang sekarang menyalahkan dirinya.
"Sayang kamu juga makan," sajak Adara pada suaminya itu.
Arhan menganggukkan kepalanya dan arahan pun mengambil tempat duduk yang ingin memakan masakan istrinya begitu juga dengan visa dan juga Alfian mereka duduk dan makan bersama.
Akhirnya mereka semua kembali makan bersama dan pasti sembari mengobrol-ngobrol. Karena memang mereka saling kangen. Alvian memang baru pulang dari Amerika. Karena pekerja yang banyak.
"Bagaimana Alvian pekerjaan kamu, perusahaan di Amerika aman?" tanya Arhan.
"Aman pah! Papa tenang aja. Jika masih aku yang memegangnya maka semuanya akan aman," sahut Alvian dengan percaya diri.
"Dasar sombong!" umpat Fisya dengan kesal.
"Kamu itu syirik aja," sahut Alvian membuat Fisya menaikkan ujung bibirnya.
"Sudah jangan bertengkar. Kalau bertemu kalian selalu saja bertengkar. Kalau berpisah aja saling kangen," sahut Adara.
"Namanya kak Alvian itu sangat menyebalkan!" tegas Fisya.
"Iya-iya. Adik yang tidak pernah menyebalkan," sahut Alvian yang lebih baik mengalah pada adiknya itu.
"Kak Alvian, Fisya menang berenang. Papa sudah memberikan Fisya hadiah dan sekarang tinggal kak Alvian sekarang giliran Fisya minta hadiah!" sahut Fisya dengan menagih janji pada kakaknya itu.
"Baiklah, kamu mau minta hadiah apa?" tanya Alvian dengan yang tidak masalah jika memberikan adiknya itu hadiah.
"Fisya mau nanti malam kita Dinner berdua," sahut Fisya yang permintaannya memang tidak banyak. Karena Fisya sudah memiliki semuanya.
"Jangan nanti malam Fisya. Kakak baru pulang dari Luar Negri. Kakak belum menemui mama Shandra. Jadi kakak harus kerumah mama Shandra dulu," sahut Alvian yang menolak tawaran adiknya itu.
"Isssss kakak, hanya sebentar saja kok," sahut Fisya mode manja.
"Fisya masih banyak hari esok. Lagian kakak kamu harus berkunjung kerumah mama Shandra dulu," sahut Arhan yang mendukung.
"Tuh dengar kata papa," sahut Alvian.
"Alvian bukannya kamu tadi malam menginap di sana. Dan kenapa kamu bilang belum bertemu dengan mama Shandra?" tanya Adara.
Alvian membuka matanya lebar dia baru menyadari jika dia sedang keceplosan bicara.
"Mampus!" batin Alvian yang gugup sendiri. Namun Adara masih melihat putranya itu dengan Adara yang kebingungan dengan apa yang di maksud oleh putranya itu.
Alvian tidak langsung pulang ke rumah karena beralasan langsung ke rumah Sandra dan menginap di rumah Sandra namun tiba-tiba Alvian mengatakan tidak bisa bersama adiknya karena harus menemui Sandra.
"Kamu sudah bertemu apa belum sebenarnya?" tanya Adara lagi.
"Sudah kok mah. Ya mama Shandra bilang nanti malam dia ingin memasak dan Alvian di suruh untuk datang," sahut Alvian bohong.
Namun wajah Adara terlihat kurang percaya dengan apa yang dikatakan putranya itu.
"Jadi Fisya Kakak malam ini tidak bisa. Jadi besok malam saja," sahut Alvian tersenyum yang menyimpan kepanikan.
"Ya sudahlah tidak apa-apa," sahut Fisya yang tidak masalah sama sekali.
"Ya ampun Alvian, begini kalau sudah memulai kebohongan akan tetap ada kebohongan selanjutnya. Gara-gara wanita itu. Bisa-bisanya aku menciptakan beribu kebohongan dalam waktu yang sangat singkat. Kamu bisa jadi anak durhaka Alvian. Di sumpahi 2 orang ibu akan membuatmu jadi batu," batin Alvian yang sebenarnya sangat merasa bersalah jika harus berbohong.
***********
Alea keluar dari kamarnya dengan menggunakan dres panjang di atas mata kakinya dengan lengan panjang dan juga rambutnya yang di ikat satu di bawa dengan Alea yang memakai poni yang terlihat begitu elegan dengan penampilan feminimnya dengan dress berwarna peach tersebut.
"Kak Alea mau kemana?" tanya Livia yang tiba-tiba datang.
"Hanya mau keluar sebentar," jawab Alea.
"Oh iya kak Alea. Kakak tidak menjadi Dokter lagi?" tanya Livia.
"Maksud kamu?" tanya Alea.
"Kakak seorang Dokter. Bukannya seharusnya kakak bekerja di salah satu rumah sakit gitu. Lalu kenapa sekarang tidak?" tanya Livia.
"Maaf Alea dengan berat hati rumah sakit ini harus mengeluarkan kamu dan maaf sekali dalam 1 tahun ini kamu mendapat cacat atas nama kamu, dengan begitu rumah sakit di Indonesia tidak bisa menerima kamu sebagai Dokter. Karena masalah yang kamu ciptakan sangat besar dan ini resiko dari perbuatan kamu," Alea mengingat bagaimana dia di keluarkan dari rumah sakit Medical yang sangat terkenal di Ibu kota.
Sejak saat itu Alea juga tidak bekerja lagi di rumah sakit itu dan kemungkinan tidak akan di terima di rumah sakit yang ada di Jakarta atau di manapun. Pihak rumah sakit harus mempertimbangkan Alea. Karena kesalahan fatal yang di lakukan Alea.
"Kak Alea?" tegur Livia yau melihat Alea bengong.
"Oh iya," sahut Alea gugup.
"Ada apa. Kenapa kakak bengong?" tanya Livia.
"Tidak apa-apa Livia. Untuk saat ini aku memang tidak ingin bekerja di rumah sakit. Lagian papa juga tidak suka dan mungkin setelah menikah nanti aku baru mulai untuk bekerja di rumah sakit," jawab Alea dengan memberikan alasannya.
"Begitu rupanya. Padahal sangat sayang sekali. Jika kakak tidak menjadi seorang Dokter. Karena bagaimanapun kakak sudah berusaha banyak untuk menjadi seorang Dokter," ucap Livia.
"Iya kamu benar," sahut Alea.
"Ya sudah kamu sendiri mau kemana?" tanya Alea.
"Aku mau ambil tas ke dalam. Soalnya mama menunggu di bawah bersama Tante Erna. Kita mau ke Perusahaan papa," jawab Livia.
"Tante Erna ada di bawah?" tanya Alea.
"Iya kak. Sebaiknya kakak kebawah saja dan sapa Tante Erna," ucap Livia.
"Iya nanti saja," sahut Alea yang hanya mengangguk saja. sepertinya Alea sangat malas jika bertemu dengan Tante Erna. Erna sendiri adalah adik dari Monica sama yang kurang menyukai Alea. Juga sebaliknya Alea juga kurang menyukai karena yang tahu jika Erna juga sama saja seperti Monika.
"Ya sudah kak. Kalau kalau begitu Livia ke kamar dulu," sahut Livia pamit. Alea hanya menganggukkan kepalanya.
Alea menghala nafasnya setelah kepergian Livia.
"Tetapi jika tidak menyapanya nanti menjadi masalah. Huhhhhh, ya sebaiknya aku menyapanya juga nanti masalahnya akan di besar-besara kan," batin Alea yang mau tidak mau harus menyapa Erna walau terpaksa.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments