Flashback.
Alea yang frustasi menghadapi masalah yang di hadapinya. Alea menghilangkan semua kejenuhannya di dalam sebuah Club di Jakarta. Alea duduk di salah satu meja bar dan beberapa kali meneguk vodka yang di minumnya.
Padahal sebagai seorang Dokter ada peraturan sendiri baginya untuk tidak minum. Namun karena isi kepalanya yang begitu banyak masalah yang menjalar kesana kemari membuatnya minum-minum untuk menghilangkan stres.
Bagaimana tidak stress. Dia sudah di pecat dari rumah sakit dan bahkan dalam setahun ke depan Alea tidak akan bisa menjadi seorang Dokter lagi. Semua adalah resiko dari perbuatannya sendiri. Bukan hanya kepercayaan tapi juga Alea kehilangan pekerjaannya. Itu akibat dari apa yang di lakukannya yang membuatnya. Karena kesalahannya memang sangat fatal.
Menurut Alea Club tempat satu-satunya untuk membuatnya tenang. Dengan mendengar suara musik yang kencang membuatnya bisa tenang dan di tambah dengan berkali-kali meneguk Vodka yang membuatnya lupa akan masalahnya dan semakin lama hilang kesadaran.
"Jika kau memang mencintai Naomi. Lalu kenapa tidak mengatakannya dari awal kepadaku. Kenapa membuatku menunggu Brian, aku harus berjuang tidak pasti dan lihat aku melakukan semua hal nekat ini dan sekarang aku menderita,"
"Brian selama ini aku pikir kamu akan menjadi laki-laki yang mengakhiri semua penderitaan ku. Tapi ternyata tidak. Aku lari dari rumah dan mengejar impianku menjadi seorang Dokter dan kenyataannya apa aku mendapatkan masalah besar dan sekarang orang-orang papa sedang mencariku dan menyuruhku pulang.
"Seharusnya kamu menyelamatkan ku Brian dari kehidupanku yang penuh dengan Neraka. Tapi ternyata tidak, kamu membiarkanku seperti ini dan sekarang aku akan semakin menderita dan tidak akan punya tempat lagi untuk bisa bahagia,"
Alea berbicara sendiri dengan semua keluhannya yang terjadi di dalam hidupnya. Sangat sial nasibnya dia tidak mempunyai banyak teman untuk bercerita dan Alea berusaha untuk mengubah kehidupannya menjadi yang lebih baik dan bisa menemukan cinta sejatinya yang Alea pikir cinta sejatinya adalah Brian.
Ternyata pria yang dikejarnya dan diperjuangkannya malah membuatnya semakin terpuruk. Membuatnya memiliki ambisi kuat dan salah jalan yang melenyapkan nyawa orang lain dengan kecerobohannya dan akhirnya membuatnya kehilangan pekerjaannya dan profesi Dokternya yang tidak ada gunanya.
Sekarang Alea juga mendapatkan perintah untuk kembali pulang ke rumahnya dan kehidupan di rumahnya jauh lebih buruk daripada kehidupan yang dialaminya karena kehidupan di rumahnya seperti Neraka yang bertahun-tahun di jalaninya.
Sembari protes dengan keadaannya Alea terus minum yang menghilangkan kesadaran yang membuat kepalanya mulai sakit.
Sementara di meja ruangan lain di Club yang sama. Namun di ruang VVIP. Ada meeting dengan pembahasan bisnis 2 orang yang sedang duduk saling berhadapan dan ada seorang pria yang berdiri di antara pria dan wanita itu yang sepertinya pria itu adalah pengawal salah satu dari orang tersebut.
"Bagaimana tuan Alvian tawaran yang saya berikan bukannya sangat menguntungkan bagi Perusahaan tuan?" tanya wanita yang berambut pendek itu dengan pakaiannya yang sedikit terbuka.
"Saya bisa memikirkannya nanti. Nona Jessie terlalu terburu-buru mengajak saya untuk bertemu. Jadi saya tidak mempersiapkan apa-apa," jawab Alvian santai.
"Maaf tuan Alvian, saya tidak tau. Jika tuan Alvian baru kembali pulang dari Luar Negri," sahut Jessi.
"Its, oke tidak masalah," sahut Alvian.
Tiba-tiba di tengah pembicaraan itu Alvian memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Alvian juga merasa aneh pada tubuhnya dan tidak tau apa yang terjadi. Namun wanita di depannya yang memperhatikan gerak-gerik Alvian menyunggingkan senyumnya yang seperti ada sesuatu.
"Obat itu sepertinya sudah bereaksi dan ini kesempatan yang terbaik untukku," batin Jessie yang seperti memasukkan sesuatu kedalam minuman Alvian.
"Tuan Alvian baik-baik saja?" tanya Jessi.
"Iya saya baik-baik saja," jawab Alvian dengan tersenyum datar.
"Hmmm, saya mau ke toilet sebentar," ucap Alvian yang berdiri dari tempat duduknya.
"Biar saya bantu!" sahut Jessie ketika melihat Alvian kesulitan.
"Tidak usah! saya bisa sendiri," jawab Alvian yang langsung pergi.
"Kamu ikuti dia dan begitu kesadarannya mulai hilang kamu bawa langsung ke Apartemen saya dan jangan sampai dia pergi!" titah Jessi pada pria yang sejak tadi ada di sana yang ternyata pria itu adalah pengawalnya.
"Baik Nona," sahut pria itu yang langsung pergi.
"Kamu akan jadi milikku setelah ini Alvian," batin Jessi dengan menyunggingkan senyumnya yang merasa sangat puas dan bahagia.
*********
Alvian keluar dari ruangan itu dan berjalan di koridor yang melewati pintu pintu kamar yang memang disediakan penginapan di dalam Club terbesar di Jakarta tersebut. Alvian semakin merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya dan Alvian terus memijat kepalanya yang sangat berat.
"Sial apa yang di masukkannya kedalam minuman ku," umpat Alvian yang ternyata tidak bodoh dan tahu jika dia mengalami hal seperti ini tiba-tiba karena ada sesuatu yang dicampurkan ke dalam minumannya.
Alvin juga merasa ada yang mengikutinya dan Alvian melihat dengan ekor matanya yang mengetahui ternyata dia diikuti oleh pengawal dari klien yang barusan ditemuinya.
"Untuk apa dia mengikutiku, apa lagi yang di inginkannya," umpat Alvian yang menyadari hal itu.
Alvian bukanlah pria yang bodoh, dia tau dirinya di ikuti. Namun Alvian berhasil melarikan diri dari pria tersebut dengan Alvian yang mengalihkan pandangan pria tersebut. Alvian sengaja memasuki toilet dengan cepat-cepat Namun ternyata Alvian bersembunyi di balik pintu dan pengawal dari Jessi memasuki toilet dan tidak melihat Alvian sama sekali.
Alvian menggunakan kesempatan langsung keluar dari toilet. Alvian berhasil mengecoh pria tersebut dan Alvian berhasil lolos dari pria itu. Alvian menuruni anak tangga yang ingin cepat-cepat keluar dari Club tersebut.
Alvian harus melewati dasar Club. Di mana banyak orang-orang yang menari-nari dengan musik DJ yang terdengar begitu kencang. Bau alkohol yang menyengat yang pasti setiap orang datang ke dalam Club untuk menghilangkan penat di pikirannya sembari minum Vodka. Belum lagi asap rokok yang berada di ruangan tersebut.
Alvian harus melewati orang-orang yang menari-nari dengan kesenangan mereka masing-masing. Sampai akhirnya Alvian melewati meja bar yang ada Alea di sana dan Alea yang masih memegang minumannya berdiri dan bertabrakan dengan Avian yang membuat minuman yang di pegangnya tumpah sendiri ke bajunya.
"Oh my God," geram Alea dengan melihat bajunya yang basah terkena alkohol.
"Kau!" tunjuk Alea yang sudah semakin kehilangan kesadaran menunjuk Alvian. Alvian mengkerutkan dahinya.
"Makanya kalau berjalan, jangan sembari minum. Lihat apa yang terjadi minum itu tumpah semua ke bajuku dan itu karena kecerobohanmu," Alea marah-marah dengan Alvian yang menyalahkan Alvian padahal dia yang memegang gelas yang berisi alkohol. Tapi malah Alvian yang disalahkan dan Alvian hanya geleng-geleng melihat wanita yang sedikit kehilangan kesadarannya itu.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan. Lihat perbuatan mu!" tegas Alea dengan menunjuk dada Alvian dengan jarinya.
"Aku bisa gila menghadapi wanita ini. Aku tidak punya waktu. Jika aku meladeni orang mabuk sama saja aku yang gila," batin Alvian yang merasa percuma. Jika harus meladeni Alea.
Alvian tidak merespon sama sekali dengan apa yang dikatakan Alea dan Alvian memilih untuk pergi dari hadapan Alea.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments