"Lepas kak Galang. Jangan seperti ini kak Galang. Nanti ada yang melihat kita. Hubungan apa yang ada. Tidak ada hubungan apa-apa kak Galang. Kakak akan menikah sebentar lagi dengan kak Alea," ucap Livia yang menggerakkan badannya untuk melepaskan pelukannya dari Galang sampai akhirnya Galang melepasnya dan menghadap Livia dengan memegang kedua tangan Livia.
"Livia kamu tau aku tidak mencintai Alea. Dan kamu juga harus tau aku menikah dengan Alea itu supaya aku bisa lebih dekat dengan kamu. Hubungan kita yang semakin erat dan itu alasannya pernikahan itu. Aku ingin setiap waktu memantau kamu, bersama kamu dan makanya aku menerima pernikahan itu dengan Alea. Supaya aku bersama kamu dan bukan karena aku mencintai Alea," ucap Galang.
Deg.
Jantung Alea mau copot mendengar perkataan dari Galang yang sangat tidak diduganya yang ternyata selama ini Galang dan Livia mempunyai hubungan di belakangnya dan alasan Galang menikahinya telah di jelaskannya.
"Kamu tau aku sangat mencintaimu dan kamu tahu Livia sejak dulu aku mencintaimu dan bukan Alea. Aku tidak punya perasaan apapun kepada Alea sedikitpun tidak ada perasaan kepada Alea dan aku dekat dengan Alea sejak dulu itu karena hanya ingin dekat dengan kamu dan aku sudah mengatakan itu padamu Livia," tegas Galang.
"Sangat di sayangkan Livia. Jika orang tuamu malah menjodohkan ku dengan Alea dan itu hal yang tersial yang pernah terjadi dalam hidupku dan seharusnya orang tuamu menjodohkan kita berdua dan bukan aku bersama Alea," lanjut Galang yang sungguh mengejutkan Alea dengan rasa sakit yang di dapatkan Alea.
"Aku dan Alea kan menikah. Hal itu tidak akan pernah mengubah apapun. Hal itu tidak akan mengubah perasaanku kepada kamu dan aku menerima pernikahan itu karena aku dan kamu akan tinggal serumah dan kamu tahu Livia Bagaimana perasaanku kepadamu," lanjut Galang.
"Tapi aku juga akan menikah," sahut Livia.
"Aku tidak peduli, kamu mau menikah dengan siapa yang penting aku masih bisa mengawasimu dan bisa bersamamu," sahut Galang yang egois yang ternyata menikahi Alea hanya untuk bisa bersama Livia.
Mendengar hal itu membuat Alea mendengus kasar. Matanya berkaca-kaca namun terlihat tersenyum getir saat mendengar dua orang yang ternyata lebih menjijikkan dari apa yang dibayangkannya.
"Dia bahkan mengadu pada mama. Karena Om Ramon memujiku dan sangat takut. Jika calon suaminya berpaling. Tapi apa? dia justru melakukan hal yang lebih rendah. Kamu begitu menjadi orang yang paling semangat melihatku menikah dengan Galang dan ternyata apa kamu mendukungku menikah dengan Galang juga hanya untuk kepentinganmu sendiri. Aku tidak menduga Livia jika kau ternyata jauh lebih egois lebih naif. Kau menginginkan keduanya," batin Alea yang geleng-geleng kepala melihat Livia dan Galang yang sekarang mereka malah berpelukan.
"Aku mencintaimu Livia dan biarkan perasaan ini terus bersamaku dengan caraku sendiri," ucap Galang memeluk Livia begitu erat dan Livia hanya diam saja seperti merasa tidak berdosa sama sekali dengan calon suami kakaknya itu.
"Galang kau ingin menikah denganku hanya untuk rencanamu dan bukan karena mencintaiku. Kalian berdua orang yang sangat lugu dan polos. Tapi ternyata hati kalian berdua sangat busuk," batin Alea yang meneteskan air matanya dan langsung meninggalkan tempat tersebut dengan rasa sakit hatinya yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
*********
Alea kembali terluka dengan apa yang barusan di dengarnya sangat tidak pernah diduganya jika adiknya yang menurutnya menjadi orang satunya yang sangat mendukungnya selama ini justru menusuknya dari belakang.
Dengan langkahnya yang tidak semangat Alea berjalan di pinggir pantai dengan tangannya yang menggandeng paper bag kecil yang berisi kotak hadiah untuk Galang yang tidak sempat diberikannya.
Alea membuang beberapa kali nafasnya perlahan ke depan dengan wajah murungnya dan air matanya yang beberapa kali menetes sembari tangannya yang menyibak rambutnya ke belakang dengan frustasinya Alea dengan apa yang terjadi kepadanya.
"Yang satu menyuruh pulang untuk menyelamatkan bisnis istrinya, dan yang satu menyuruh menikah untuk kepentingannya, yang satu mendukung karena ada maksud dan tujuannya, dan satu menerima pernikahan karena hanya ingin lebih dekat dengan orang yang dicintainya dan aku harus menjadi korban atas keegoisan kalian semua," ucap Alea yang sangat terisak melihat nasibnya yang diperlakukan sangat tidak adil.
"Apa papa tidak bisa memberikan aku pilihan untuk menikah dengan yang aku mau. Baik pah. Papa boleh menjodohkan ku. Tapi apa boleh jika papa menjodohkan ku tanpa embel-embel untuk menyelamatkan perusahaan istri papa. Apa boleh papa menjodohkan ku paling tidak untuk alasan demi kebaikan dan masa depanku dan bukan karena istri papa,"
"Dan mama, apa bisa tidak memanfaatkan ku untuk kepentinganmu. Kenapa harus aku yang selalu saja kalian manfaatkan,"
"Livia. Aku juga tau dari dulu. Jika Galang menyukaimu. Jadi jika kau punya perasaan kepadanya. Kau tidak perlu pura-pura polos dan seolah meyakinkan ku untuk menikah dengannya. Kau seharusnya bilang sama mama dan papa. Jika kau ingin menikah dengannya. Kau tidak seharusnya egois yang kau juga akan menikah dengan orang lain. Tetapi kau masih bisa bisanya diam saat laki-laki akan menikahi kakak mu mempunyai rencana lain,"
"Kau jauh lebih munafik Livia, aku tidak menduga jika selama ini senyummu, kata-kata manis yang menyimpan maksud bahkan kau jauh lebih busuk dari ibu yang melahirkan mu,"
Alea hanya bisa mengumpat sendiri dengan apa yang dirasakannya yang kembali tidak mendapatkan keadilan dan mungkin ini yang paling tersakit dalam kehidupan Alea.
"Kalian semua benar-benar sangat jahat. Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan Galang, sementara aku tahu tujuan Galang menikah denganku untuk apa dan apa aku harus mengganguk, menurut dan pura-pura tidak tahu apa-apa dengan semua yang kalian lakukan kepadaku," ucap Alea.
"Argggghhh!" teriak Alea dengan sekencang-kencangnya dan juga membuangkan jam tangan yang sejak tadi dipegangnya.
Alea benar-benar merasa hancur sakit hati dan tidak bisa digambarkan dengan apapun dengan apa yang telah dihadapinya. Penghiyanatan dan penusukan yang di dapatkannya dari adiknya.
***********
Shandra dan Ramon berkunjung ke rumah Adara dan arhan dengan membicarakan masalah pernikahan Alvian dan juga Livia.
"Kenapa tiba-tiba ingin menikahkan Alvian dengan Putri dari tuan Sandres?" tanya Adara.
"Semakin baik bukannya semakin cepat Adara," sahut Sundara.
"Lalu apa Alvian setuju dengan semua ini?" tanya Adara.
"Sampai saat ini Alvian belum ada mengeluh atau menolak sama sekali yang itu artinya Alvian setuju setuju saja jika menikahi putri dari tuan Sandres," jawab Shandra.
"Tapi Alvian juga tidak ada membicarakan hal ini kepada kami. Dia hanya mengatakan jika kalian mengajaknya makan malam bersama keluarga tuan Sanders dan Alvian tidak ada mengatakan atau membicarakan proses berlanjutnya dari pertemuan itu," sahut Arhan.
"Kami juga tidak terlalu terburu-buru Arhan. Semuanya di serahkan kepada Alvian dan hal ini juga dinamakan bukan perjodohan Tetapi hanya mempersatukan mereka saja bukannya mereka juga dari dulu sudah mengenal dan tidak ada paksaan dalam hal ini," sahut Ramon.
"Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Alvian. Alvian juga berhak memilih pasangan untuk hidupnya yang terbaik untuk dirinya," sahut Adara.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Bivendra
perdebatan orang tua dmulai
jika hrus memililh pasti alvian ttp memilih adara n arhan yg melahirkan dan merawat, wlopun darah adara hny secuil dtubuh alvian
jgn lp itu sandra jgn bnyk nuntut
2023-12-09
2