"Ada kecoa?" tanya Livia ragu.
"Iya benar," sahut Alea.
"Sudahlah kamu ke kamar mandi kamu di kamar kamu saja ayo!" ajak Alea yang memaksa Livia untuk pergi dari depan kamar mandi itu karena Alea tidak ingin Livia bertemu dengan Alvian dan pasti akan banyak pertanyaan dari Livia Kenapa Alvian ada di dalam kamar mandi itu.
Setelah Alea berhasil membawa Livia pergi Alea menghela nafasnya dan tidak lama Alvian pun keluar dari kamar mandi tersebut yang menuruti perintah dari Alea.
"Dasar wanita aneh. Tidak merasa bersalah dengan membayarku 10 juta," umpat Alvian.
Permasalahan Alvian hanya karena 10 juta yang diberikan Alea dia merasa harga dirinya sangat rendah dengan bayaran seperti itu. Padahal uang Alvian lebih banyak lagi daripada itu dan bahkan seperti apa yang dikatakannya bisa membayar 100 kali lipat. Hanya saja dibayar membuat harga dirinya rendah dan mungkin jika Alea tidak membayarnya dan pergi begitu saja mungkin hal itu tidak akan menjadi permasalahan bagi Alvian.
*********
Setelah pulang dari kediaman rumah Alea Alvian kembali ke rumah Adara dan juga Arhan dia tidak pulang ke rumah Shandra.
"Bagaimana Alvian pertemuan kamu dengan teman papa Ramon?" tanya Adara.
Huhhhhhh.
Alvian menghela nafasnya dan tidak menjawab pertanyaan mamanya.
"Kok Hela nafas. Ayo apa yang terjadi," sahut Fisya dengan menatap kakaknya itu penuh curiga.
"Tidak terjadi apa-apa Fisya," sahut Alvian.
"Lalu kenapa sampai menghela napas seperti itu?" tanya Fisya dengan dahinya mengkerut .
"Orang jika tidak menghela nafas itu artinya mati, pertanyaan kamu sangat tidak masuk akal dan tidak perlu dijawab," sahut Alvian.
"Ihhhhh, apaan sih kak. Nggak nyambung. Menghela napas dan bernafas itu berbeda," sahut Fisya.
"Sudah-sudah, kalian ini kenapa jadi berantem sih," sahut Adara yang geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya itu yang kalau bertemu tidak akur dan kalau tidak bertemu saling merindukan.
"Kak Alvian nih mah," sahut Fisya.
"Fisya kakak kamu itu mungkin cape. Kamu jangan mengganggunya," sahut Arhan.
"Ihhhh, papa kok jadi belaian kakak sih," sahut Fisya dengan wajah cemberutnya.
"Sudahlah, Alvian mau istirahat dulu. Cape. Besok aja Alvian cerita," sahut Alvian dengan tidak bersemangatnya dan langsung berdiri yang menuju kamarnya.
"Belum selesai juga bicara sudah main pergi aja. Kak Alvian benar-benar," kesal Fisya.
"Kamu jangan marah-marah terus nanti kamu cepat tuanya. Sudah kamu juga tidur sana ini sudah malam," ucap Adara.
"Iya mamah," sahut Fisya yang berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi kekamarnya.
"Kita juga sebaiknya istirahat sayang," ajak Arhan.
"Iya," sahut Adara dengan menganggukkan kepalanya.
***********
Alea yang malam-malam jalan-jalan di taman belakang mencari udara segar. Karena pertemuannya dengan Alvian membuat Alea merasa gelisah dan tidak bisa tidur sama sekali.
"Tapi menjadi topik utama dalam pertemuan ini justru kak Alea!" langkah Alea terhenti ketika mendengar suara Livia. Ternyata tidak jauh dari tempat Alea berdiri ada Livia dan Monica yang berbicara berdua.
"Mama bisa dengar sendiri! Bagaimana Om Ramon yang terus membanggakan kak Alea, memujinya dan bahkan tidak bertanya apa-apa kepadaku. Padahal aku ini calon menantunya," ucap Livia yang kesal dan mengeluarkan keluhannya pada namanya.
"Kamu tenang Livia. Mama juga tadi sudah mengalihkan pembicaraan. Tapi mas Ramon memang selalu membicarakannya dan mama juga turut tau kenapa anak itu yang menjadi pembahasan," sahut Monica.
"Malam ini sangat menyebalkan mah. Aku tidak bisa menerima perlakuan om Ramon kepadaku dengan aku yang tidak di anggap dan seharusnya kak Alea tidak ada di sana," ucap Livia yang ingin menangis.
Mendengar ucapan Livia yang iri dengan Alea membuat Alea mendengus kasar.
"Livia! Kamu yang mengajakku, memaksaku dan mendesak ku untuk menemui keluarga calon suamimu dan sekarang kau mengeluh dan ternyata kau tidak suka. Jika ada orang lain yang memujiku. Itu artinya kau merasa sangat bangga dan tidak merasa bersalah dengan dirimu yang selalu di bangga-banggakan dan bandingkan denganku. Aku pikir kau merasa tidak enak melihatku di bandingkan denganmu dan ternyata dan baru sekali saja orang tidak menganggapmu. Kau sudah sepanik itu. Lalu bagaimana aku Livia yang sudah puluhan tahun menerima semua itu," batin Alea.
Alea sangat tidak menyangka ketika mendengar omongan Livia yang berbicara dengan Monica. Selama ini Livia selalu dibanding-bandingkan dengan Alea. Livia yang paling hebat yang paling benar dan paling- paling segalanya. Tapi Alea pikir Livia merasa tidak enak saat kakaknya diperlakukan tidak baik dan ternyata salah justru baru sekali saja orang lain memuji dirinya dan membandingkan dirinya dengan Livia. Livia sudah iri.
*********
Mentari pagi kembali tiba. Alvian berdiri di depan cermin dengan siap-siap yang ingin kekantor di hari ini. Alvian membuka laci. Namun terlihat uang 1 ikat pemberian Alea.
Melihat uang itu hanya membuat Alvian menjadi kesal. Dia harus mengingat Alea terus-menerus.
"Bertemu kembali dengannya. Ternyata dia anak tuan Sandres dari istri pertamanya. Cih!".
"Dia akan menjadi kakak iparku. Aneh sekali aku tidur dengan wanita yang akan menjadi kakak iparku," Alvian mendengus dengan geleng-geleng mengingat hal tersebut. Sangat aneh rasanya jika hal itu terjadi di dalam hidupnya yang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Kak Alvian aku sudah siap!" tiba-tiba kamar Alvian di buka dan munculah Fisya ya' memakai seragam sekolah.
"Kamu ini ya Fisya kalau masuk kekamar kakak itu. Ketuk pintu dulu," ucap Alvian.
"Issss apaan sih kak, kenapa sih kakak ku yang sekarang ini sangat bawel sekali," sahut Fisya yanga memasuki kamar Alvian dan berdiri di depan Alvian dengan mengkerutkan dahinya.
"Kak Alvian itu benar-benar sangat bawel," tegas Fisya kembali dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kakak itu tidak bawel. Kakak hanya ingin kamu itu kalau masuk ke kamar Kakak ketuk pintu. Kamu juga kalau kakak masuk kamar kamu, kamu itu marah kan kalau kakak tidak ketuk pintu," tegas Alvian.
"Kenapa harus pakai ketuk pintu segala. Memang Kakak lagi ngapain kan nggak ngapa-ngapain juga. Kakak itu memang dasar suka memperpanjang masalah," oceh Fisya.
"Kamu ya di kasih tau," sahut Alvian dengan kesal menoyor kepala adiknya itu.
"Ihhh kak Alvian sakit tau!" protes Fisya.
"Kalian ini ada apa lagi, bertengkar seperti ini," sahut Adara yang memasuki kamar tersebut dan melihat Alvian dan Fisya bertengkar.
"Ini nih mah kak Alvian menyebalkan," umpat Fisya dengan kesal.
"Lihat mah dia malah menyalahkan Alvian," sahut Alvian menghela napasnya.
"Ya kan memang kesalahan kakak," sahut Fisya.
"Sudah-sudah, kalian sudah dewasa kenapa harus tiap hari bertengkar masih pagi juga sudah ribut-ribut," ucap Adara mengehela napasnya.
"Kak Alvian mah duluan," sahut Fisya.
"Jangan main tuduh ini, tuduh itu lagi, sekarang kalian berdua buruan turun dan sarapan bersama dan setelah itu Alvian kamu antar adik kamu ke sekolah," tegas Adara.
"Iya mah," sahut Alvian menghela napasnya.
"Dan nanti, jangan lupa pulang sekolah jemput fisya karena kakak harus membelikan Fisya hadiah karena visa sudah menang berenang," sahut Fisya.
"Masih aja di tagih," sahut Alvian.
"Ya harus dong," sahut Fisya dengan tersenyum pada Alvian sembari mengedipkan sebelah matanya dan Alvian harus banyak-banyak sabar mempunyai adik seperti Fisya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments