"Jadi Alea akan menikah dengan Galang?" tanya Erna yang berbicara di ruang tamu bersama dengan Monica.
"Iya, seperti biasa pernikahan untuk membantu Perusahaan ku," sahut Monica dengan santai.
Langkah Alea terhenti ketika mendengarkan pembicaraan tersebut.
"Apa untungnya sih menikahkan dia dengan Galang. Dan kenapa juga Galang harus mau menikah dengan wanita sepertinya. Sudah menjadi Dokter juga tidak ada gunanya dan sekarang pulang-pulang ingin di nikahkan dengan Galang. Bukannya lebih cocok Livia ya yang menikah dengan Galang," ucap Erna dengan sinis.
"Livia bukan hanya cocok dengan Galang. Tetapi Livia cocok dengan semua orang dan lagian. Livia juga akan menikah dengan pria yang lebih tampan lagi dan pasti anak seorang kolong merat yang kekayaannya tidak akan habis," sahut Monica.
"Benarkah! Dengan siapa?" tanya Erna yang penasaran.
"Kamu juga nanti akan tau. Yang penting wanita itu menikah itu dengan Galang. Agar dia berguna sedikit. Dan mendapatkan keuntungan untuk Perusahaan yang aku jalankan," sahut Monica dengan menyunggingkan senyumnya.
"Aku sudah menduga. Jika aku di suruh pulang, di cari, di paksa dan di suruh menikah dengan Galang hanya untuk bisnis mama dan papa tidak masalah akan hal itu. Seolah aku tidak boleh memilih pasangan ku sendiri," batin Alea yang pasti sangat kecewa mendengarkan pembicaraan tersebut.
"Kamu benar Monica. Jika masih ada yang bisa di lakukan untuk membantu perusahaan kamu. Kenapa tidak," sahut Erna yang tertawa dan Monica juga tertawa.
Ale menghela nafasnya dan melanjutkan langkahnya berjalan sampai akhirnya Monica dan Erna menyadari kehadiran Aliyah dan mereka langsung berhenti tertawa.
"Mau kemana kamu?" tanya Monica dengan ketus.
"Aku ada keperluan sebentar," jawab Alea.
"Keperluan apa?" tanya Monica dengan ketus.
"Hanya ke Supermarket saja," jawab Alea.
"Hmmm, saya dengar kamu akan menikah dengan Galang?" tanya Erna sinis.
"Memang Galang mau sama kamu. Tapi kamu pasti bahagia sekali bukan, jika disuruh menikah dengan dia. Kamu kan wanita yang tidak laku," hina Erna yang bicara tidak pernah memikirkan perasaan Alea.
"Jangan marah Alea dengan apa yang saya katakan karena yang saya katakan benar bukan. Lagian kamu itu juga wanita yang tidak berguna sudah menghilang selama 5 tahun dan kembali dengan profesi dokter yang sangat tidak berguna," sinis Erna lagi. Monica mendengar kata-kata tersebut hanya diam saja.
Dia dengan Erna sama saja dan tidak ada bedanya yang tidak pernah bicara jika tidak menyakiti hati Alea, selalu bicara dengan kata kasar dan penuh dengan sindiran. Alea menghela nafasnya mendengar kata-kata itu. dari pada Alea terus mendengarkan kata yang lebih kasar lagi lebih baik Alea langsung pergi meninggalkan dua orang wanita yang tidak punya perasaan itu.
"Hey! kami belum selesai bicara," sahut Erna dengan berteriak.
"Langsung pergi begitu saja. Sangat tidak punya sopan santu," desis Erna.
"Dia memang tidak pernah mempunyai sopan santu," sahut Monica.
"Mbak. Jangan lupa nanti saat keluarga calon suami Livia datang Mbak harus mengundangku karena aku ingin melihat besan Mbak yang Mbak katakan sangat kaya raya itu," ucap Erna.
"kamu jangan khawatir hal itu bisa dibicarakan yang terpenting sebentar lagi livia juga akan menikah dengan seseorang yang terbaik untuknya yang pasti Alea tidak akan pernah seperti Livia," sahut Monica dengan tersenyum miring.
"Saya setuju dengan apa yang mbak katakan!" sahut Erna.
*************
Kediaman Alvian.
Alvian terlihat penuh dengan pemikiran dengan kepalanya yang terasa sakit yang duduk di sofa.
"Kamu kenapa Alvian?" tanya Adara yang membawakan putarnya itu jus.
"Mama tau tidak bisa-bisanya mama Shandra menjodohkan ku dengan anak rekan bisnis keluarga " sahut Alvian dengan mengeluh.
"Perjodohan," sahut Arhan yang tiba-tiba datang dengan melipat lengan kemejanya.
"Iya pah!" sahut Alvian.
"Mama dan papa tidak di beritahu, masalah itu," sahut Arhan.
"Iya benar!" sahut Adara.
"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja menyuruhku menikah," sahut Alvian menghela napasnya.
"Memang dengan siapa?" tanya Adara.
"Aku mengenalnya cukup baik. Dan kita juga sudah kenal beberapa tahun belakangan ini," jawab Alvian.
"Jika kamu mengenal wanita itu dan juga mengenal baik. Berati itu bukan perjodohan namanya. Perjodohan itu. Jika kamu dan wanita itu tidak saling mengenal dan ini kalian saling mengenal. Berarti itu bukan perjodohan," sahut Arhan.
"Benar kata papa kamu. Mungkin saja mama Shandra tiba-tiba menyinggung masalah pernikahan. Karena melihat kalian dekat. Jadi tidak ada yang salah dengan hal itu," sahut Adara.
"Tapi tetap aja untuk menikah saat ini aku belum siap," sahut Alvian.
"Tidak ada yang menyuruh kamu menikah Alvian. Dan jika ini serius mama Shandra dan juga papa Ramon akan membicarakannya dengan kami dan ini tidak ada sama sekali," sahut Adara.
Alvian menghela napasnya, dia juga tidak bisa berpendapat apa-apa lagi.
"Jangan sok stres seperti itu. Sebentar lagi Fisya akan pulang sekolah dan melihat kamu seperti itu dia akan mengejek kamu," ucap Arhan mengingatkan kan.
"Papa kamu benar!" sahut Adara dengan tersenyum. Alvian hanya menghela napas dengan kebingungan yang di pikirkannya.
**********
Alea baru yang baru pulang kerumahnya malam-malam hari melihat ada mobil mewah yang parkir di depan rumahnya. Alea langsung keluar dari mobilnya dan heran melihat mobil tersebut.
"Apa ada tamu!" batinnya.
"Alea!" panggil Erna yang mengejutkan Alea.
"Tante!" sahut Alea. Eran langsung menghampiri Alea.
"Kamu ini benar-benar ya baru pulang sekarang. Sudah kamu masuk dan langsung mandi badan kamu itu bau dan jangan lewat dari ruang tamu di dalam ada tamu istimewa keluarga calon suami Livia. Jadi kamu jangan menunjukkan diri kamu dengan penampilan dan bau badan kamu seperti ini. Itu sama saja mempermalukan keluarga ini. Jadi kamu lewat belakang," cerocos Erna yang sejak tadi berbicara dan mengatai Alea dengan bau. Padahal dia tidak bau sama sekali dan penampilannya juga biasa saja.
"Issss malah bengong lagi, buruan sana kamu bersih-bersih!" Erna sampai mendorong Alea untuk masuk kedalam rumah lewat pintu belakang.
Alea jika berada di rumahnya memang sangat berbeda jika Alea yang bebas tanpa orang tuanya. Karena jika Alea kembali ke lingkungan keluarganya Alea hanya akan diam dan menunduk saja dengan apapun yang dikatakan.
Seperti tadi dia hanya diam saja dengan kata-kata Erna dan diam saja saat Erna mendorongnya.
"Bagaimana dia mau mendapatkan jodoh seperti Livia yang tampan dan kaya raya. Jika penampilannya saja seperti itu dan bahkan Galang saja lebih cocok menganggap dia seperti pembantu," oceh Eran dengan mengangkat kedua bahunya yang merasa jijik dengan Alea.
***********
Alea keluar dari kamar mandi setelah dirinya mandi. Dia mandi bukan karena di suruh Erna. Tetapi dia memang ingin mandi. Alea juga sudah mengganti pakaiannya dengan dress berwarna coklat yang sepanjang mata kakinya dengan aksen bagian ikat pinggang di depannya.
Alea yang berdiri di depan cermin memberi polesan make up sedikit di wajahnya agar tidak terlalu polos dan Alea juga menyempatkan menyisir rambutnya di biarkan di gerai.
"Kenapa mulut Tante Erna begitu pedas. Aku seakan tidak pantas untuk bertemu dengan tamu papa. Aku selalu di beda-bedakan. Aku padahal tidak bau. Tidak kumuh juga. Tapi Tante Erna sudah bicara kasar itu kepadaku yang mengataiku dengan sesukanya seolah aku ini wanita yang paling buruk. Wanita yang tidak pentas untuk mendapatkan kebahagian,"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments