Mentari pagi kembali tiba. Alea baru bangun dari tempat tidurnya. Langkahnya berjalan menuju teras kamarnya. Matanya masih sembab karena menangis semalaman. Alea berdiri di teras kamarnya dan melihat ke bawah.
Pemandangannya di bawah sangat membuat hatinya terluka Bagaimana tidak jika terlihat Sandres, Monica dan Livia yang tertawa-tawa seperti keluarga yang penuh kebahagiaan. Alea benar-benar tidak dianggap di rumah itu.
"Kalian baru saja menyakiti hatiku dan sekarang kalian tertawa. Apa papa sudah tidak menganggapku seperti anak lagi, sehingga papa mengacuhkanku dan aku hanya bisa melihatnya kesenangan kalian yang tanpa memikirkan perasaanku," batin Alea dengan air matanya yang kembali menetes.
Sakit hati pasti melihat semua itu. Tapi apa boleh buat. Itu adalah takdir Alea.
********
Alea menuruni anak tangga yang menghampiri meja makan yang sekarang keluarga Alea sedang sarapan bersama dan juga ada Livia.
"Kamu ceria sekali Livia. Apa karena sebentar lagi kamu akan menikah. Makanya kamu seceria itu?" tanya Monica.
"Iya dong mah, menikah dengan kak Alvian itu impian Livia dan Livia sangat bahagia," sahut Livia.
"Mama juga bahagia dan kamu memang pantas untuk menikah dengan Alvian dan tidak semua orang pantas untuk menjadi istri Alvian termasuk...." Monica menjeda omongannya melirik ke arah Alea yang menghampiri meja makan dan ikut duduk bersama mereka.
"Kakak kamu," sindir Monica dan Alea hanya diam saja.
"Papa doakan yang terbaik untuk hubungan kamu dan juga Alvian," sahut Sandres.
"Makasih pah," sahut Livia.
"Ya sudah papa mau berangkat kekantor dulu," Sandres berdiri dari tempat duduknya.
"Biar aku antar mas," sahut Monica yang juga langsung berdiri.
"Livia, Alea papa pergi dulu," ucap Sandres pamit
"Hati-hati pah," sahut Livia tersenyum dan sementara Alea hanya diam saja tidak menjawab ia atau bahkan tidak mengatakan hati-hati seperti apa yang dikatakan Livia.
Sandres pun pergi bersama Monica meninggalkan meja makan yang hanya tinggal Livia dan juga Alea.
"Kak Alea mau buah tidak, biar aku ambilkan, aku kebetulan mau ambil buah?" tanya Livia.
"Tidak usah," jawab Alea dingin.
"Baiklah kalau begitu, aku mau anggur. Jadi aku ambil sebentar," sahut Livia yang berdiri dari tempat duduknya.
Livia yang menuju kulkas mengambil buah yang diinginkannya dan sementara Alea melanjutkan sarapannya dan tiba-tiba ponsel Livia hidup seperti masuk notif pesan. Mata Alea langsung melihat ke arah ponsel yang ada di sampingnya itu dan tidak tahu apa yang dilakukan Alea. Tiba-tiba Alea mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera belakangnya kepada layar ponsel Livia.
Alea buru-buru menyimpan ponselnya ketika mengetahui Livia akan datang.
Livia tersenyum yang sekarang menikmati anggur yang baru saja diambilnya dan sembari membuka ponselnya dan tersenyum membaca pesan yang masuk dan tidak tahu pesan siapa itu.
*********
Di sisi lain di keluarga Alvian yang juga sama melakukan sarapan Alvian, Arhan, Adara dan juga Fisya.
"Kamu kemarin menemui Livia?" tanya Adara.
"Iya. Aku memberikan hadiah yang di berikan mama Shandra kepadanya. Jadi aku mampir kerumahnya," jawab Alvian.
"Kalau begitu lain kali. Kamu bawa Livia kerumah ini. Jika hubungan kalian memang serius," sahut Arhan.
"Serius! Kak Alvian mau nikah," sahut Fisya yang langsung posesif.
"Dengan siapa?".
"Livia, siapa Livia, aku tidak pernah melihatnya?"
"Apa dia cantik, baik?" Fisya mulai posesif. Karena mendengar pembicaraan orang tuanya kepada kakaknya masalah hubungan serius yang artinya Alvian akan menikah.
"Kamu itu banyak tanya Fisya. Satu-satu bertanya. Jika banyak, kakak kamu akan bingung menjawabnya," sahut Adara.
"Pokoknya kalau kak Alvian mau menikah. Calon istrinya yang pertama harus sayang dulu kepadaku dan yang kedua dia tidak boleh melarang kak Alvian. Jika ingin membelikanku apapun yang aku inginkan dan yang ketiga wanita itu tidak boleh mengatur-ngatur kakakku," tegas Fisya yang memberikan syarat yang banyak.
Dia tidak ingin istri kakaknya orang sembarangan dan membuat hubungannya dan kakaknya tidak baik karena istrinya.
"Kamu itu banyak permintaan. Kakak kamu saja tidak seperti itu," sahut Adara dengan gelang-gelang kepala.
"Ya harus, iya kan kak Alvian," sahut Fisya bertanya pada Alvian.
"Terserah kamu. Bukannya semua itu sesuai dengan keinginan kamu. Karena kakak mu ini milikmu sesuai dengan apa yang kamu katakan," ucap Alvian pasrah dengan adiknya.
"Iya dong, makasih kak Alvian," sahut Fisya. Arhan dan Adara hanya tersenyum saja. Sangat maklum jika Fisya sangat posesif dengan calon istri Alvian
Ting.
Tiba-tiba notif pesan wa masuk pada ponsel Alvian.
..."Aku tau kau berselingkuh, dan Livia juga berselingkuh di belakangmu. Jadi batalkan pernikahanmu dengan Livia. Jika kau tidak membatalkannya aku akan mengatakan jika kau pernah tidur denganku," Alvian mengangkat kedua alisnya yang membaca pesan tersebut yang memberikannya ancamnya membuatnya mengendus kasar....
"Apa-apaan wanita ini. Dia mengancamku. Bukannya dia sendiri yang takut. Jika apa yang terjadi ketahuan keluarganya dan bahkan sepanik itu saat di kamar mandi yang takut ketahuan adiknya dan sekarang mengancamku. Apa dia berani mengatakannya," batin Alvian.
Tanpa dia tahu itu nomor siapa dan bahkan tidak ada mengatakan siapa yang mengirim pesan itu Alvian sudah tahu jika itu dari Alea.
Alvian sangat tidak menduga jika Alea bisa mengancamnya dengan kalimat seperti itu. Tidak ada hujan tidak angin, tiba-tiba saja Alea mengirim pesan.
"Kamu kenapa Alvian?" tanya Adara heran melihat Alvian sibuk menatap layar ponselnya.
"Tidak apa-apa mah, hanya ada hal lucu saja," sahut Alvian dengan tersenyum lebar. Adara, Fisya dan Arhan heran melihat Alvian yang tersenyum seperti ada sesuatu.
*********
Sementara Alea yang berada di kamarnya tangannya bergetar mengirim pesan itu kepada Alvian. Dia begitu takut mengirim pesan itu kepada Alvian. Tetapi sudah terkirim. Bahkan tidak bisa di hentikannya lagi. Alea mengambil nomor Alvian dari ponsel Livia setelah mendapatkan kesempatan.
Saat di meja makan tadi Alvian mengirim pesan pada Livia dan nomor yang di atas membuat Alea langsung bertindak dan tidak tahu apa yang dilakukannya.
Huhhhhhhh
"Aku berharap dia membatalkan pernikahannya dengan Livia, setelah membaca pesanku dan Livia mungkin bisa merasakan apa yang aku rasakan," batin Alea. Ternyata Alea begitu marah dengan apa yang terjadi kepadanya dan ingin Livia merasakan semua yang dirasakannya. Termasuk hubungan Alvian dan Livia yang harus berantakan.
Dratttt, Dratttt, Dratttt.
Ponsel Alea tiba-tiba bergetar dan membuat Alea kaget. Alea lebih kaget lagi ketika melihat panggilan masuk itu datang dari Alvian. Tangannya yang bergetar memegang ponselnya dan terlihat sangat panik. Namun memberanikan diri Alea mengangkat telepon tersebut.
"Apa maksud perkataan mu?" tanya Alvian yang langsung to the point.
"Aku sudah jelas mengatakannya, aku pernah melihatmu bersama dengan wanita lain dan kalian sangat mesra dan aku yakin dia adalah selingkuhanmu dan kau tidak salah. Karena Livia juga berselingkuh, dia berselingkuh dengan calon suamiku dia punya hubungan dengan calon suamiku," ucap Alea dengan suaranya bergetar menjelaskan kepada Alvian.
Alvian yang menghubungi Alea berada dalam mobilnya sembari menyetir yang hanya mendengarkan pengaduan dari Alea.
"Lalu?" tanya Alvian dengan alisnya yang terangkat.
"Lalu katamu. Kau tetap akan menikah dengan wanita yang punya hubungan dengan pria lain?" tanya Alea balik.
Bersambung
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments