Alea berusaha untuk menenangkan dirinya di dalam kamar yang duduk di meja riasnya dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang sikunya menyanggah di atas meja.
"Semua orang tidak ada yang bisa dipercaya. Aku menggantungkan harapanku kepada Galang yang akan memberikanku kehidupan yang normal setelah menikah dengannya. Tapi tidak ternyata dia punya niat lain untuk menikahiku dan bukan karena dia mencintaiku tetapi mencintai dia dan dia mengetahui itu. Dengan wajah polos dan pura-pura tulus gitu yang mendukung ku dan padahal ada sesuatu,"
"Tidak hari yang tulus kepadaku semua orang di rumah hanya bisa membandingkan menyakiti perasaanku," Alea kembali meratapi nasibnya yang tidak mendapatkan kebahagiaan sejak dulu
Tok-tok-tok-tok.
Pintu kamar Alea di ketuk dengan kencang dan bukan seperti di ketuk melainkan seperti di pukul dengan kasar yang di dobrak dengan kuat.
"Alea buka pintunya!" suara Monica yang terlihat kuat yang terdengar yang membuat Alea langsung ciri dari tempat duduknya dan langsung menghampiri pintu yang membukanya.
Plakkk!
Alea langsung mendapatkan tamparan dari Monica. Alea begitu terkejut mendapatkan tamparan yang tiba-tiba dengan Alea yang memegang pipinya.
"Mah apa yang mama lakukan!" sahut Livia yang hampiri Monica yang marah pada Alea.
"Mama ingin memberi pelajaran pada wanita ini. Karena sudah berani membuat kamu dan calon suami kamu hampir mati di tabrak olehnya," bentak Monica.
Mendengar hal itu membuat Alea mendengus kasar yang pemegang pipinya dengan tertutupi rambutnya sedikit. Dia sudah tahu apa yang membuat Monica, kepanasan dan sampai menamparnya dan pasti Livia mengadu kepada Monica.
"Mah aku sudah mengatakan kepada Mama jika kak Alea pasti tidak sengaja melakukannya," ucap Livia memegang tangan Monica.
"Tidak sengaja bagaimana. Wanita ini pasti sengaja melakukannya. Dia itu sangat iri kepada kamu," tegas Monica menoyor kepala Alea dan Alea hanya bisa diam. Namun ada dendam di wajahnya yang sudah tidak tahan sebenarnya dengan perlakuan Monica.
"Kenapa?"
"Kamu itu dengan Livia yang hidupnya jauh lebih sempurna dibandingkan kamu. Punya karir yang bagus dan kehidupan enak dan bahkan akan menikah dengan anak orang yang tidak main-main dan orang yang berpengaruh di Indonesia. Kamu iri melihat kebahagiaan adik kamu sampai kamu ingin mencelakainya," ucap Monica.
"Alea sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa seperti Livia. Kamu itu sudah ditakdirkan untuk menjadi wanita yang hanya seperti. Kamu itu sadar diri mana ada pria yang hebat mau menikah wanita seperti kamu dan apa kamu tidak bersyukur dengan Galang yang menikahi kamu," tegas Monica
"Wanita seperti kamu yang hanya bisa membuat masalah. Sudah syukur jika Galang mau menikahi kamu. Kamu itu sama saja dengan wanita jalanan yang lebih pantas untuk menikah dengan orang rendahan. Kamu itu tidak seperti Livia. Kamu itu selalu membawa masalah dan Livi selalu menyelesaikan masalah membantu keluarga ini. Tidak seperti kamu yang tidak pernah tapi dan tidak bisa melakukan apa-apa. Papa kamu aja capek besarkan kamu yang tidak tahu diri," Monica terus mengeluarkan makiannya dengan kata-kata kasar yang pasti membuat perasaan Alea begitu sakit.
"Mah udah!" Livia berusaha untuk menghentikan kata-kata Monica pada Alea. Namun Alea hanya memperhatikan wajah Livia terlihat simpati kepadanya namun hatinya sangat busuk. Jika Livia benar-benar tulus kepada Alea maka Livia tidak perlu melaporkan masalah itu kepada Monica.
"Ada apa ini?" tiba-tiba Sandres datang dan melihat keributan.
"Mas apalagi. Jika bukan Alea yang membuat masalah. Mas harus tau. Jika Alea sengaja ingin menabrak Livia dan Alvian," sahut Monica yang langsung mengadu kepada suaminya.
"Apa itu benar Alea?" tanya Sandres. Mulut ada yang gatal ingin mengatakan Iya namun.
"Tidak seperti itu pah," sahut Livia yang tidak jadi membuat Alea mengeluarkan suaranya.
"Ini hanya salah paham. Livia sudah mengatakan kepada Mama jika kalian tidak sengaja melakukan itu. Rem mobil kak Aliya blong dan makanya hampir menabrak aku dan Alvian," jelas Livia.
"Itu sama saja Livia," tegas Monica.
"Sudahlah mah, jangan membuat masalah semakin banyak," ucap Livia.
"Sudah hentikan. Alea kamu itu lain kali hati-hati, ini masalah nyawa seseorang yang kamu hampir menghilangkan nyawa dua orang akibat kecerobohan kamu dan kamu seharusnya malu dengan adik kamu. Adik kamu yang hampir menjadi korban dan lihat dia membela kamu. Kamu kamu itu hanya namanya saja seperti kakak tapi kelakuan kamu seperti anak kecil dan adik kamu jauh lebih dewasa daripada kamu," Sandres malah ikut-ikutan menyalahkan Alea.
Sandres membandingkan dirinya dengan Livia dan jika tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati ayah maka dua orang tua itu tidak akan pernah puas mau itu orang tua kandungnya ataupun orang tua dirinya bahagia melihat dua-duanya sama dan termasuk adiknya yang dicari perhatian sehingga mendapatkan pujian dari ayahnya.
"Kamu dengar itu Alea apa kata papa kamu. Jadilah wanita seperti Livia!" sahut Monica. Alea yang sejak tadi hanya diam saja sekarang mengepal tangannya. Dia benar-benar membenci semua orang yang telah bicara kepadanya, semua orang munafik.
"Sudah-sudah cukup. Hentikan semua ini. Kalian sebaiknya istirahat dan kamu Alea belajar lebih dewasa dan belajarlah dari adik kamu. Apa lagi Livia dan kamu juga akan menikah. Jadi dewasa lah," tegas Sandres yang meninggalkan tempat itu.
"Dasar wanita tidak berguna dan tidak pernah membanggakan, kamu dengar belajar dari Livia," tambah Monica dengan sinis dan langsung pergi.
Livia menghala nafasnya ke depan dan langsung menghampiri Alea dengan memegang tangan Alea.
"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Livia dengan wajahnya yang penuh simpatik pada Alea. Namun Alea langsung melepaskan tangannya dari Livia.
"Kamu mengatakan kepada mama semuanya?" tanya Alea menatap tajam Livia sorot mata Alea seakan ingin tahu seperti apa sebenarnya adiknya itu.
"Livia, Livia!" Livia tampak ragu menjawab.
"Tidak apa-apa. Kamu memang tidak boleh berbohong dan harus jujur jika terjadi sesuatu kepada kamu dan apalagi aku yang menyebabkannya dan wajar kamu mengatakannya kepada Mama," sahut Alea dengan tersenyum getir
"Kak Alea!" Alea mengangkat tangannya menyuruh Livia untuk tidak bicara lagi.
"Aku ingin istirahat, dan ingin merenungi perkataan mama dan papa. Mereka baru saja menyuruhku untuk menjadi orang dewasa dan harus belajar darimu. Jadi aku harus menyerap semuanya dan melihat apa yang salah dengan diriku dan apa yang bisa aku lakukan supaya aku bisa seperti dirimu," ucap Alea dengan santai.
"Kak!" Alea tidak mendengarkan Devia lagi dan area langsung memasuki kamarnya tidak peduli kepada Livia.
**********
Alea yang bersandar pada pintu kamarnya dan perlahan turun dan berjongkok memeluk tubuhnya yang menangis.
Alea mengingat bagaimana dia dan kecil bersama Livia. Banyak yang terjadi dan bahkan banyak yang dilakukan Alea yang sebenarnya tidak sengaja kepada Livia. Tiba-tiba mamanya tahu dan memarahinya habis-habisan dan pasti semua karena Livia mengadu di belakangnya. Hal itu baru disadari Alea sekarang.
Karena apapun Alea menyadari tiba-tiba kesalahannya di ketahui orang tuanya dan pasti karena Livia sudah mengadu terlebih dahulu dan betapa liciknya adiknya itu. Wajahnya sangat polos. Namun terlihat sangat jahat dan sangat busuk hatinya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rossida Sity
Alexa jgn mw ditindas trz
2024-08-20
0