Sean Conley berada di dalam laboratoriumnya siang itu. Berkutat di depan mikroskopnya, selama berjam-jam. Mengamati objek sel berulang-ulang. Mungkin puluhan bahkan ratusan kali.
Otot-otot di wajahnya seketika bergerak. Ujung bibirnya tertarik sempurna. Rasa puas dan bangga memenuhi rongga dadanya. Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu di buka.
"Sayang, ada apa?"
Anna Howard masuk ke dalam laboratorium Conley dengan tergesa-gesa. Ia meletakkan sling bagnya di atas rak.
"Aku langsung ke sini begitu mendapatkan pesan darimu." Lanjutnya.
"Sayang kemarilah... " Panggil Conley. Ia memutar kursi kerjanya. Senyumnya semakin mengembang menyambut kedatangan kekasih hatinya.
"Ada apa sih.. ?"
"Cepat kemarilah. "
"Sebentar." Anna mengambil jas putih yang ada di dalam lemari, safety glasses, serta sarung tangan karet. Kemudian mengenakan perlengkapan wajib itu dengan sigap. Cepat ia menuju ke arah Conley berada.
"Sebenarnya ada apa? Kau membuatku penasaran."
"Coba lihat ini." Conley memundurkan kursi kerjanya, memberikan akses untuk Anna mendekat ke arah mikroskop.
Dengan wajah penuh tanda tanya, Anna mendekatkan matanya ke lensa okuler. Mengamati beberapa saat.
"Bandingkan dengan yang ini." Conley menunjuk pada mikroskop lain di sebelahnya.
Perhatian Anna pun berpindah pada teropong tuma yang lain. Mengamati untuk beberapa saat. Kemudian menatap Conley tak percaya. Ia mengulangi sekali lagi, untuk memastikan apa yang ia lihat benar adanya.
"Sayang... " Menatap Conley tak percaya.
Conley mengangguk sambil tersenyum.
"Aku berhasil sayang. " Ucap Conley penuh dengan rasa haru.
"Kau luar biasa sayang." Menghambur dalam pelukan Conley. Dorongan yang kuat dari tubuh Anna membuat kursi kerja Conley yang berkaki bintang, terdorong ke belakang. Refleks Anna duduk di pangkuan Conley dengan kedua tangan merangkul mesra di bahu Conley. Kedua tangan Conley memeluk pinggang Anna. Kursi beroda itu baru berhenti ketika membentur dinding.
Kedua pasang mata saling menatap. Wajah mereka yang begitu dekat membuat seluruh tubuh Conley meremang. Hembusan nafas Anna, wangi menerpa wajahnya. Hasrat kelelakiannya menatap lapar sepasang birai menggoda di hadapannya. Wajahnya perlahan mendekat
"Sebentar.." Anna menahan bibir Conley yang hanya berjarak setipis tisu dengan menggunakan telunjuknya.
"Ada apa sayang.. " Senyuman mendadak hilang dari wajahnya.
"Sel itu milik siapa?" Tanya Anna penasaran.
"Milik seseorang." Jawab Conley singkat, penuh teka-teki. Kemudian dia kembali mendekatkan wajahnya. Namun Anna menahannya kembali dengan telunjuknya.
"Sayang ayolah. Kenapa kau tidak ingin mengatakannya padaku? Kenapa kau merahasiakannya?" Nada suara mulai ditekan.
"Rahasia ? Aku tidak merahasiakan apapun darimu."
"Lantas, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya Anna merajuk.
"Pertanyaan yang mana? Semua pertanyaanmu telah aku jawab." Conley berkilah.
"Kau jangan berpura-pura. Ya sudah, kalau kau tidak ingin menjawab pertanyaanku, lebih baik aku pergi saja. Lepaskan tanganmu. !!" Anna menjauhkan tangan Conley yang merangkul erat pinggangnya.
"Jangan seperti itu sayang." Conley semakin mengeratkan pelukannya. "Baiklah. Aku akan menceritakan semua yang ingin kau ketahui." Conley mengalah.
"Janji? "
"Iya. Aku berjanji."
"Sekarang katakan padaku. Itu jaringan sel milik siapa? Manusia?"
"Iya. Itu jaringan sel rambut milik Daniella."
"Apa? Yang benar saja." Anna terkejut dengan penuturan Conley. Refleks ia menarik tubuhnya ke belakang. "Daniella itu masih di bawah umur. Kalau pihak yang berwenang mengetahui hal itu, kau akan berada dalam posisi yang tidak baik. Apakah kau tidak mengerti? "
"Sayang. Dengarkan aku terlebih dahulu. Mana mungkin aku melakukan uji coba obat yang belum pasti keamanannya pada manusia, apa lagi pada anak di bawah umur seperti Daniella. Kau pikir aku sudah tidak waras? "
"Lalu kenapa kau melakukannya pada Daniela yang notabenenya anakmu sendiri? "
"Itu Dani sendiri yang menenggak GenX tanpa sepengetahuanku. Kamu masih ingat dengan kejadian sewaktu Dani ditemukan pingsan di laboratoriumku ? "
"Saat kau meminta izin untuk tidak melanjutkan seminarmu waktu itu? "
"Iya yang waktu itu."
"Hmmm. Lalu? "
"Saat itu aku menemukannya tak sadarkan diri dengan botol GenX ditangannya. Dani telah menenggak abis cairan itu sebanyak 184,83 ml. Untungnya para dokter yang menangani Dani tidak mendeteksi kandungan GenX dalam darahnya. Sehingga aku tidak perlu kesulitan mengarang cerita untuk menjelaskan pada polisi yang menginterogasi ku. Setelah kejadian itu aku terus mengamati reaksi tubuh Dani terhadap cairan obat yang masuk. Mengamati jaringan sel setiap hari dari lembaran rambut yang tertinggal di kamarnya. Dari pengamatan-pengamatan, itu terlihat sel mengalami perlambatan dalam proses pematangan dan regenerasi dengan sel baru."
"Tetapi masih terlalu dini kau mengambil kesimpulan seperti itu, sayang. Diperlukan observasi secara terus menerus dan berkesinambungan. Sampai berapa lama batas efektifitas GenX di dalam tubuh."
"Ya. Apa yang kau katakan itu memang benar. Sejauh ini, GenX telah berhasil memperlambat proses itu. Kalaupun nanti tidak berlangsung lama, setidaknya aku sudah berhasil membuat prototypenya."
"Kau benar, sayang. Walaupun demikian, kau akan mendapatkan banyak uang jika ternyata GenX ini berhasil dikembangkan. Kau tinggal fokus dengan keberhasilanmu. Itu akan menjadikan motivasi untukmu lebih semangat lagi."
"Makanya aku sangat bahagia. Setelah bertahun-tahun, kerja kerasku akhirnya menemukan titik terang. Dan aku ingin kau orang pertama yang mengetahui awal keberhasilanku ini."
Anna tersenyum lebar. "Aku senang sekali, kau memilihku sebagai orang pertama yang mengetahui hal penting ini."
Kedua mata mereka yang bertemu, saling mengunci. Anna melepaskan safety glasses milik Conley, kemudian dilanjutkan miliknya. Membiarkan kacamata laboratorium itu tetap berada dalam genggaman tangannya yang menggantung di bahu Conley. Jarak yang begitu dekat. Mata kecoklatan milik Conley terasa menghitam. Napasnya yang terasa menyentuh kulit. Ada kilatan dalam tatapan pria itu. Matanya yang semakin lama semakin gelap. Mengandung sesuatu yang berapi-api dan lapar. Sesuatu yang membutuhkan pemuasan. Tanpa ragu Conley memiringkan kepalanya ke arah Anna. Kulit bibirnya menempel di bibir Anna yang lembut. Kemudian menggerakkan lembut mengecap bibir Anna yang terasa semanis madu dengan mata terpejam. Lagi, lagi dan lagi. Semakin lama semakin menginginkan lebih. Sesuatu yang lebih dalam. Conley melepaskan sarung tangan karet yang masih melekat. Melemparkan ke sembarang arah. Ia kemudian semakin mendekat, hingga tubuh mereka bersentuhan, lalu tangannya yang lain menyusup masuk ke dalam blouse Anna yang tertutup jas putih. Jemari hangatnya menggenggam kulit pinggang Anna, menarik semakin dekat lagi. Mereka tenggelam dalam ci um an yang teramat dalam. Sehingga tanpa mereka sadari, satu persatu kain penutup tubuh mereka telah terlepas dari tempat seharusnya. Kini raga-raga itu sudah tanpa sehelai benang pun. Mereka menembus batasan kewajaran, berbagi peluh dan saliva di dalam laboratorium. Erangan dan de sa han terasa begitu memekakkan telinga. Menggema di ruangan yang tertutup rapat.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
ramanda
kalau begitu, ada kemungkinan di usia dewasa, manusia yang bersangkutan masih terlihat seperti anak anak 🤔
2024-11-09
0
🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ
gila bener-bener gila, masa anak sendiri dijadikan kelinci percobaan😤
2024-02-10
4
lyani
duhhhh.....Ella jd org lain. pertumbuhan yg blm seharusnya berkembang. kesian
2024-01-10
0