"Tuan.... " Raut wajah Emma menunjukkan kekhawatiran. Ia yang berdiri di samping belakang Conley hanya bisa tertunduk sambil menggenggam erat saputangannya.
Conley yang mendengar panggilan lirih Emma melirik sesaat pembantunya itu, kemudian ia menepuk lembut punggung tangan Emma, mencoba memberikan ketenangan.
"Selamat sore Tuan Conley, aku Letnan Troy Oswald dan ini rekanku Letnan Andre Sayegh. Kami dari Kepolisian Minnesota ingin meminta keterangan Anda berdua terkait peristiwa yang menimpa putri Anda, Daniella Conley. Apakah saat ini Anda ada waktu?"
"Sore juga, Letnan. Tapi saat ini aku sedang menunggu kabar dari dokter terkait perkembangan penanganan putriku. Bisakah dilakukan lain kali saja?"
"Baiklah kalau begitu. Kami menunggu kedatangan Anda dan istri besok pagi di kantor kami."
"Mohon maaf Letnan. Dia bukan istriku. Tapi pengurus rumah tanggaku."
"Oh Maaf Tuan Conley, kami tidak mengetahuinya. Kalau begitu kami sangat menantikan kedatangan Anda berdua besok di kantor kami."
"Baik, Letnan. Besok kami berdua akan datang."
"Kalau begitu kami permisi dulu. Masih ada tugas lain yang harus kami kerjakan."
"Silahkan, Letnan."
Kedua perwira polisi itu pun meninggalkan Conley dan Emma yang sedari tadi hanya berdiri diam dengan jantung yang berdebar kencang. Begitu kedua perwira polisi itu pergi, Emma mendudukkan bo ko ngnya di kursi tunggu, sembari menghela nafas.
"Tuan.. "
Conley yang baru saja duduk di samping Emma, sembari mengambil ponsel dari saku celananya karena adanya pesan masuk, seketika mengalihkan perhatian begitu mendengar Emma memanggilnya.
"Ya Emma."
"Aku takut, Tuan." Ujarnya sambil memain-mainkan saputangan yang ada dalam genggamannya dengan wajah tertunduk.
"Takut kenapa?" Tanya Conley dengan lembut. Ia menangkap kekhawatiran yang dalam dari nada suara Emma.
"Apakah kita nanti akan dipenjara, Tuan?"
Conley menarik nafas dalam. "Tidak semudah itu kita akan dipenjara, Emma. Ada proses yang panjang untuk menuju ke sana."
"Tapi aku takut jika itu benar-benar terjadi pada kita, Tuan." Seketika Emma memalingkan wajahnya, menatap Conley dengan raut khawatir.
"Emma. Dengarkan aku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Percayalah padaku."
"Semua salahku, Tuan. Kenapa waktu itu aku membiarkan Nona sendirian di rumah. Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Seharusnya, aku memaksanya untuk pergi bersamaku." Emma tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ini semua bukan salahmu. Bukan salahku. Bukan juga salah Daniella. Bukan salah siapa-siapa. Ini murni kecelakaan. Kau dengar aku, Emma? Ini murni kecelakaan.. " Conley berusaha menenangkan Emma yang terlihat sedikit frustasi.
Emma hanya diam. Tak berselang lama, tubuhnya berguncang. Bersamaan dengan itu terdengar isak tangis tertahan, yang nyaris tidak terdengar. Melihat hal itu, Conley memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Ia mendekati Emma. Kemudian merangkul tubuh wanita paruh baya itu sembari menepuk-nepuk pundaknya, pelan.
"Tenanglah Emma. Aku janji, semua akan baik-baik saja. Yang penting sekarang kita ikuti semua prosesnya."
Percakapan mereka terhenti begitu kedatangan dokter bedah anak, Dr. Bradley M. Rodgers, yang keluar dari ruang IGD.
"Selamat sore, Tuan Conley."
"Selamat sore Dokter." Jawab Conley dan Emma bersamaan. Melihat kehadiran dokter, mereka spontan berdiri, dan memusatkan perhatian pada informasi yang akan dokter itu berikan. Emma cepat mengusap matanya yang basah dengan saputangan yang ada dalam genggamannya.
"Jadi begini."
"Iya bagaimana, Dok? "
"Tadi pasien Daniella sempat sadarkan diri sebentar. Tapi kemudian ia mengeluh sakit yang teramat sangat pada kepala bagian belakangnya. Kami telah memberikan obat penenang. Sehingga saat ini, pasien Daniella kondisinya sedang tertidur. Untuk itu, kami perlu persetujuan Anda untuk dilakukan CT Scan. Agar kami bisa mengetahui penyebab sakit kepala yang dirasakan oleh pasien."
"Ya Tuhan." Mendengar hal itu, Conley sempat sedikit panik. Kemudian ia cepat menguasai dirinya kembali. "Lakukan Dok. Lakukanlah yang terbaik untuk putriku."
"Baik. Tuan. Kami akan segera melakukannya. Kalau begitu aku permisi dulu."
"Silahkan, Dok."
Dokter Bradley pun segera masuk ke dalam ruang IGD. Emma dan Conley kembali duduk di ruang tunggu.
"Semoga ini tak akan lama, Emma."
'Iya, Tuan."
Untuk meredakan kekhawatirannya, Conley berniat untuk mencari sedikit udara segar. "Aku ingin membeli kopi, kau mau aku bawakan apa, Emma?"
"Terserah Tuan saja." Jawab Emma singkat.
"Ya sudah. Aku pergi sebentar. Kau tunggulah di sini. Aku janji tidak akan lama."
"Baik, Tuan."
Conley segera berlalu. Dengan langkah lebar menuju kantin yang berada di sisi lain rumah sakit. Sementara itu Emma menunggu dengan hati resah. Ia berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dalam dan menghembuskan berulang kali. Dengan kepasrahan yang dalam, ia menyerahkan semua yang telah terjadi saat ini pada sang pencipta. Lalu ia mengepalkan tangannya di dada, seraya berdoa.
"Tuhan, ada banyak hal yang telah kami lalui bersama, mulai dari suka, duka, hingga hal-hal yang mengejutkan. Semuanya atas berkat penyertaan-Mu mempertemukan kami dengannya. Kami sangat menyayanginya, aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Nona Daniella sungguh anak yang berhati baik dan ceria. Namun kali ini, dia mendapat pencobaan, sakit yang begitu parah, membuat kami sangat khawatir. Kami mohon mukjizat dari-Mu, hilangkan penyakitnya dan bawalah pada kesembuhan. Kami yakin Engkau mampu. Haleluya, Ameen."
15 menit kemudian, Conley datang dengan membawa 2 cup kopi panas dan dua bungkus roti lapis.
"Ini. Makanlah."
"Terimakasih, Tuan."
"Kita harus sehat, Emma. Agar kita bisa menjaga Dani bergantian." Lanjutnya.
"Ya kau benar, Tuan."
Mereka pun menikmati makan mereka dalam diam. Tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Satu jam berlalu. Seorang perawat mendatangi Conley dan Emma.
"Tuan Conley?"
"Ya..." Conley yang hampir tertidur di kursinya, langsung terkejut mendengar ada yang memangil namanya.
"Anda diminta ke ruangan dokter Bradley. Ada yang harus beliau jelaskan pada Anda."
"Baik, Sus." Conley bangkit dari duduknya. Kemudian melangkah dengan cepat mengikuti perawat itu.
"Aku boleh ikut ke ruangan, Dokter? " Tanya Emma tiba-tiba. Langkah mereka terhenti. Perawat itu pun terlihat berfikir sejenak.
"Nyonya siapanya pasien? "
"Dia pengasuh Daniella, Sus." Jawab Conley cepat.
"O Begitu. Ya sudah, boleh." Perawat muda itu pun melanjutkan langkahnya.
"Terimakasih, Sus."
Jawaban dari perawat itu membuat senyum Emma merekah. Segera ia bangkit dari duduknya dan dengan cepat mengikuti langkah Conley yang berjalan di belakang perawat berseragam hijau itu.
Tidak berapa jauh dari ruang IGD, dua ruangan setelahnya, perawat itu mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan nama Dr Bradley M. Rodgers.
Tok.. Tok.. Tok..
Kemudian ia membuka pintu dan hanya menyembul kepalanya ke dalam ruangan.
"Dok. Orang tua dari pasien Daniella ada di sini."
"Ohh iya. Suruh mereka masuk." Dokter Bradley yang sedang memperhatikan hasil CT Scan melalui layar komputer, menggeser tubuhnya ke meja konsultasi dengan kursi beroda yang ia duduki.
"Baik, Dok." Perawat itu kemudian mempersilahkan Conley dan Emma masuk ke ruangan dokter. "Silahkan masuk. Dokter Bradley sudah menunggu Anda."
"Terimakasih, Sus." Ujar Conley. Mereka pun masuk ke ruangan Dokter.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ
salahmu pak yang ngga peka sama anak sendiri 😒
2024-02-10
11
Riana
ikut deg deg an aku
jangan jangan berhasil obat awet muda ayahnya
2023-12-25
10
penasaran Sean Conley menikah blom yaak🤔
2023-12-23
10