Dokter Bradley menyambut kedatangan tamunya dengan senyuman di wajahnya.
"Silahkan duduk, Tuan."
"Terimakasih, Dok." Conley menarik kursi di sisi dalam ruangan dokter, Emma menyusul kemudian duduk di sebelah Conley.
"Langsung saja,Tuan." Dokter Bradley kemudian memperlihatkan hasil CT Scan Daniella melalui layar komputer yang ada di belakangnya.
"Jadi, ini hasil CT Scan bagian kepala dari pasien Daniella. Pada gambar ini, terlihat yang warna putih terang pada belakang kepala, ini adalah darah yang menggumpal. Hal itu kemungkinan timbul karena adanya benturan keras pada bagian belakang kepala. Gumpalan darah ini yang menimbulkan rasa sakit teramat sangat yang dirasakan oleh pasien."
"Jadi, bagaimana Dok, cara untuk mengeluarkan darah yang ada di kepala putriku?" Tanya Conley dengan ekspresi khawatir.
"Kita akan mencoba dengan memberikan cairan obat untuk mengencerkan darah yang menggumpal. Selama proses ini, pasien kita berikan obat bius agar tidak merasakan sakit terus menerus."
"Jadi, maksudnya Daniella akan dibuat tidak sadarkan diri untuk sementara waktu, sembari diberikan cairan obat untuk mengencerkan darah yang menggumpal di kepalanya?" Conley mengulang perkataan dokter menurut pemahamannya.
"Ya tepat sekali."
"Seandainya cara itu tidak berhasil, apa yang akan dilakukan selanjutnya, Dok?"
"Jika itu tidak berhasil, langkah selanjutnya adalah melakukan trombektomi untuk mengisap gumpalan darah yang terbentuk di otak. Prosedur medis ini, minim luka sayatan. Yaitu dengan menggunakan kateter atau pipa kecil yang terhubung ke pembuluh darah otak yang tersumbat. Untuk itu, kami membutuhkan izin dari Anda agar segera bisa dilakukan tindakan."
"Baik, Dok. Lakukanlah semua yang terbaik untuk putriku. Aku percayakan semuanya pada Anda."
"Kami akan segera melakukannya setelah Anda menandatangani berkas persetujuan tindakan medis."
"Tentu, Dok. Aku akan menandatangani berkas itu."
"Baik. Tunggu sebentar." Dokter Bradley kemudian menekan interkom yang ada di atas meja kerjanya.
"Sofia, segera bawa berkas persetujuan tindakan medis atas nama Nona Daniella ke ruanganku. Segera."
"Baik, Dok." Jawab seorang perawat wanita dari seberang telepon.
Tak berselang lama,bseorang perawat datang dengan membawa berkas yang diminta oleh dokter Bradley.
" Ini, Dok. Berkas yang Anda minta."
"Silahkan berikan pada Tuan Conley selaku wali dari pasien Daniella." Dokter menunjuk dengan isyarat tangannya. Perawat itupun mengikuti instruksi dari atasannya.
"Ini Tuan. Silahkan dibaca dengan teliti. Dan bubuhkan tanda tangan Anda di sini." Ujar perawat itu.
Conley pun membaca sebentar berkas itu. Tanpa ragu ia menandatangani di tempat yang telah di tentukan. Setelah Conley menandatangani berkas itu, Dokter Bradley pun segera melakukan tugasnya.
.
.
Keesokan harinya, seperti yang telah dijanjikan, dengan menumpang sebuah taksi, Conley dan Emma mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait kejadian yang menimpa Daniella. Di dalam taksi, jelas terlihat kegelisahan yang menaungi hati dan pikiran Emma.
"Emma tenanglah. Tidak ada yang perlu kau takutkan." Conley menepuk lembut punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Nanti setibanya di sana, apa yang harus aku lakukan, Tuan?"
"Kau hanya tinggal menjawab semua pertanyaan yang polisi ajukan. Jawablah dengan sejujur-jujurnya berdasarkan apa yang kau ketahui dan alami."
"Aku sangat gugup, Tuan. Ini adalah pengalaman pertamaku berurusan dengan pihak kepolisian."
"Semua orang pasti punya pengalaman pertama terhadap sesuatu, Emma. Jadi, anggap saja para polisi itu sedang melakukan tugasnya. Dulu waktu pertama kali kau bekerja sebagai Nanny, apakah tidak merasakan gugup?"
"Tentu saja rasa khawatir itu ada, Tuan. Gugup waktu pertama kali bekerja sebagai Nanny tentu saja berbeda dengan gugup yang aku alami saat ini."
"Kenapa berbeda. Menurutku sama saja. Memang bedanya di mana? "
"Gugup saat pertama bekerja itu, lebih ke rasa khawatir berbuat salah dalam bekerja. Kalau gugup pada saat ini, lebih ke rasa takut menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Menurut informasi yang pernah aku dengar, polisi itu pada saat menginterogasi sering memberikan pertanyaan jebakan. Orang yang tidak bersalah bisa menjadi tersangka."
"Sekarang aku mau tanya. Bagaimana cara mengatasi saat kau gugup ketika memulai pekerjaan? "
"Bersikap tenang, Tuan. Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya berlahan."
"Nah itu maksudku. Sama saja kan? Pada saat polisi mengajukan pertanyaan, kau harus menjawabnya dengan tenang. Kalau kau merasa tidak bersalah, kenapa harus takut? Polisi-polisi itu hanya melaksanakan tugasnya. Kau juga melaksanakan tugas mu menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Lakukan lah yang terbaik. Aku yakin kau pasti bisa. Sisanya serahkan padaku. Kau mengerti, Emma?"
"Aku mengerti, Tuan."
"Good girl 😎."
.
.
Setibanya di kantor polisi, mereka disambut dengan ramah oleh Letnan Troy Oswald dan Letnan Andre Sayegh. Conley dan Emma dimintai keterangan secara terpisah. Kemudian keterangan mereka itu akan dicocokan satu dengan yang lain. Sean Conley diinterogasi oleh Letnan Troy Oswald dan Emma di interogasi oleh Letnan Andre Sayegh ditemani oleh seorang polisi wanita yang bernama Maegan Hall.
Mereka dimintai keterangan seputar kronologi kejadian yang menimpa Daniella. Bagaimana sikap Conley sebagai ayah dan Emma sebagai Nanny terhadap korban Daniella. Jika terbukti luka berat yang dialami Daniella akibat kelalaian, mereka bisa dipidana dengan ancaman penjara paling lama 2 tahun beserta denda.
Namun, Conley cukup percaya diri menghadapi petugas yang menginterogasinya. Karena Daniella telah ia delegasikan perawatan dan penjagaan Daniella pada Emma selaku pengurus rumah sekaligus pengasuh putrinya. Ia juga telah melakukan pengaturan sedemikian rupa di dalam rumah dan hal-hal lain yang dianggap perlu untuk memastikan gadis kecil itu tidak berada dalam bahaya. Sehingga Conley yakin, dirinya dan Emma tidak dapat dikenai pasal kelalaian terhadap anak.
Polisi juga telah memeriksa kediaman milik Conley. Melihat tempat kejadian perkara untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian yang ia sengaja sebagai orang tua, sehingga Daniella berada dalam bahaya.
Setelah menerima semua keterangan yang diberikan oleh Conley selaku orang tua Daniella dan kesaksian yang diberikan oleh Emma selaku pengurus rumah serta Nanny bagi Daniella, serta bukti yang ada di lokasi kejadian, akhirnya polisi memutuskan untuk tidak melanjutkan kasus itu sebagai tindakan kelalaian karena tidak cukupnya bukti. Sehingga kejadian yang menimpa Daniella hanya dianggap sebagai kecelakaan.
.
.
Sementara itu, setelah selama empat hari menjalani perawatan di rumah sakit dengan pemberian obat pengencer darah, gumpalan darah yang ada di kepala Dani sudah tidak terlihat lagi. Dokter pun menghentikan pemberian obat bius. Selama beberapa hari Daniella tetap berada di rumah sakit untuk diobservasi pasca dilakukannya tindakan medis. Seminggu berlalu, kesehatan Daniella berangsur membaik. Setelah memastikan tidak adanya komplikasi yang timbul kemudian, dan telah memastikan kondisi Dani memungkinkan untuk rawat jalan, dokter memperbolehkan Daniella untuk pulang ke rumah.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
adi_nata
lalai mengunci pintu Lab apakah tidak masuk pasal kelalaian. lagipula polisi seharusnya melakukan penyelidikan ke tkp terjatuhnya Dani kan ?
2024-11-26
0
adi_nata
agak janggal sih kalau polisi sudah melakukan olah tkp tapi tidak menemukan 'bukti apapun'.
2024-11-26
0
Riana
belum ada kaitan antara Antony dengan conley 🤔apa aku yang belum paham
2023-12-25
10