"Bukan aku yang melakukannya, Mr... " Teriak gadis kecil kelas 6 sekolah dasar itu. Ia berkali-kali menyangkal keterlibatan dirinya atas kehilangan yang dialami Ruth.
"Nak, tenanglah." Carl memeluk sang putri yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu pada temanku, Ayah." Rengek anak perempuan itu pada ayahnya.
"Ayah tau, anak Ayah ini adalah anak yang baik. Kau tenanglah dulu, sayang."
Di hadapan Robert kini duduk dua orang siswi beserta dengan wali mereka, Betty Friedan dan ayahnya Carl Friedan serta Ruth Handler dengan Abraham Handler. Kedua orang tua siswi itu memang sengaja dipanggil Robert hari itu juga untuk menghadap ke ruang wali kelas, guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Robert harus bertindak cepat. Setelah ia mengecek kamera CCTV yang terhubung ke setiap sudut sekolah. Maka di sinilah ia sekarang, di ruang guru bersama dengan dua pihak yang disangkakan terlibat beserta dengan wali mereka masing-masing.
Sementara itu, Ruth memandang dingin ke arah Betty sambil menggenggam telapak tangan ayahnya.
"Mr. Robert, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Carl.
"Apa yang hendak aku perlihatkan sebentar lagi, akan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Ini rekaman kamera pengawas yang ada di setiap sudut sekolah beberapa menit sebelum kejadian. Silahkan anda sekalian menyaksikannya." Mr. Robert kemudian memperlihatkan video rekaman dari komputer jinjing miliknya. Adegan demi adegan yang berdurasi 15 menit 28 detik itu, memperlihatkan dengan jelas semua tuduhan yang dialamatkan pada Betty.
Berawal dari samping sekolah yang sepi, terlihat anak perempuan yang mirip dengan Betty sedang berbicara dengan seseorang. Tidak diketahui siapa orang itu, karena ia berdiri di tempat yang tak tertangkap kamera. 5 menit kemudian, anak perempuan itu menuju lantai dua di mana kelasnya berada. Berhenti sejenak di depan pintu kelas, ia terlihat mengamati situasi. Menoleh ke kiri dan ke kanan beberapa kali. Tak lama kemudian ia langsung menuju tempat duduk Ruth, mengambil benda yang menjadi incarannya dari dalam tas. Mengunci kembali tas itu dan meletakkan ke tempat semula. Kemudian tanpa ragu, ia langsung meninggalkan ruang kelas. Turun ke lantai satu menuju taman yang berada di belakang sekolah.
Di depan kolam ikan yang berukuran tidak terlalu besar, Betty menghentikan langkahnya. Selama beberapa saat ia berdiri mematung dengan ekspresi yang tidak terbaca. 30 detik kemudian, buku yang tadi ia bawa, dilempar ke arah kolam dan jatuh tepat di tengah-tengahnya. Buku itu sempat mengambang beberapa waktu. Keadaan itu bertahan beberapa saat. Perlahan namun pasti, tenggelam hingga ke dasar kolam. Dari tepi kolam ikan hias yang berair bening itu, dapat terlihat buku tenggelam dengan posisi terbuka.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Betty meninggalkan tempat itu. Ia kembali kelapangan olahraga bergabung dengan teman-temannya yang lain. Seolah-olah tidak terjadi apapun, ia langsung ikut melakukan pemanasan dan sesekali bersenda gurau dengan teman-teman yang lain, termasuk Ruth.
Betty menyaksikan itu seraya menggeleng-geleng tak percaya. Cairan bening turun perlahan dari kedua matanya.
"Tak mungkin. Tak mungkin. Itu bukan aku, Ayah." Betty memohon pada sang ayah, berharap pria itu akan membela dirinya. Carl Friedan memandang putrinya dengan perasaan iba. Tatapan mata Mr. Robert dan Abraham Handler meminta pengakuan jujurnya. Hunusan mata tajam Ruth yang terasa sangat menyakitkan bagi Betty. Ada perasaan kecewa, dikhianati, amarah, yang berkumpul menjadi satu.
"Dan ini, milik mu Ruth." Robert menyerahkan buku berwarna dasar hijau muda itu, dari laci bawah mejanya. Keadaan buku itu sangat memprihatinkan. Basah dan nyaris hancur.
"Bu Buku ku... " Lirih Ruth berujar sambil menyambut sodoran buku lengket dan lembab dari Mr. Robert. Tangannya bergetar menerima buku kesayangannya. Sambil memeluk lembaran tebal edisi terbatas itu, air mata Ruth mengucur dengan deras.
Abraham Handler hanya bisa mengusap lembut punggung putrinya untuk memberikan ketenangan.
Hal itu pun tak luput dari perhatian Betty. Ada perasaan tidak nyaman menyaksikan kejadian itu. Apa lagi melihat wajah Ruth yang teramat sedih.
"Ruth aku ikut menyesal atas kejadian ini. Tapi sungguh itu bukan aku." Ucap Betty pelan.
"Bukan kamu bagaimana? Di sana jelas-jelas terlihat kau yang telah melakukan hal jahat itu. Mau menyangkal apa lagi Hah...!! " Tatapan tajam penuh kebencian terhunus dari mata Ruth yang sembab.
"Cukup... Mr harap kalian berdua bisa mengendalikan diri. " Robert menengahi kedua siswinya yang sedang beradu argumentasi.
"Jadi bagaimana ini penyelesaiannya, Mr Robert?" Tanya Abraham tidak sabar.
"Sebentar, Tuan Abraham." Jawab Mr. Robert. Pandangan matanya kemudian beralih pada Betty. "Betty, setelah melihat rekaman video tadi, kau masih tidak mengakui perbuatanmu ?"
Betty diam dengan kepala tertunduk.
"Hem. Atas nama putriku, aku minta maaf yang sebesar-besarnya untuk semua perbuatan yang telah ia lakukan. Betty ayo minta maaf pada temanmu." Perintah Carl.
"Aku tidak melakukannya, Ayah..." Tolak Betty dengan tatapan memohon.
"Minta maaf pada temanmu !! " Ulang Carl tegas.
Dengan terpaksa Betty mengikuti perintah ayahnya.
"Maafkan aku Ruth.. " Ucap Betty dengan kepala tertunduk.
Ruth hanya diam. Tatapannya penuh kebencian, mendengar permintaan maaf Betty yang terkesan dipaksakan.
"Ruth. Maukah kau memaafkan Betty? " Tanya Mr. Robert kemudian.
"Iya Mr. Aku memaafkan Betty. Tapi bagaimana dengan bukuku?"
"Bagaimana Tuan Carl? " Tanya Mr. Robert pada orang tua Betty.
"Aku akan bertanggung jawab. Berapapun harga buku itu, aku akan menggantinya." Carl mengambil dompet dari saku celananya.
"Aku tidak menginginkan uang. Aku ingin bukuku kembali." Ujar Ruth.
"Ohh. Baiklah. Kalau itu keinginanmu. Aku akan menggantikan dengan buku yang sama. Bisakah Tuan Abraham mengatakan padaku, di manakah aku bisa mendapatkannya ?"
Abraham mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Kau bisa membelinya di sini." Kemudian ia menyerahkannya pada Carl. "Di kartu ini sudah tertera alamat yang bisa Anda tuju, Tuan Carl."
Carl Friedan mengambil kartu warna putih, bertinta biru tua yang diserahkan Abraham.
"Toko buku Lutyens dan Rubinstein, 21 Kensington Park Road, London, W11 2EU." Baca Carl. "Apa? London, Inggris?" Tanya Carl tak percaya.
"Iya. Buku ini adalah oleh-oleh yang aku bawakan untuk putriku, saat bertugas ke luar negeri beberapa hari yang lalu. Jadi, Anda tentu memahami kenapa putriku begitu sedih atas kejadian ini. Buku ini salah satu dari 4 buku edisi spesial dari A. A Milne."
" Tentu, Tuan. Aku sangat mengerti. Secepatnya aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Begitu berhasil, aku akan segera menghubungi Anda."
"Aku terutama putriku sangat menantikan kabar baik dari Anda secepatnya, Tuan."
"Tentu Tuan. Aku berjanji." Ujar Carl tegas.
"Baiklah. Karena Anda sekalian telah menemui kata sepakat, Aku pikir pertemuan ini segera kita akhiri." Ucap Mr. Robert yang diamini oleh kedua wali siswa.
"Tuan Carl, kami sangat menantikan tindak lanjut dari ucapan Anda." Tutur Mr. Robert.
"Tentu, Mr. "
"Dan untuk kalian berdua. Mr. harap hal ini tidak terulang lagi di kemudian hari. Dan kalian bisa kembali berteman seperti sedia kala."
"Baik, Mr. " Jawab Betty dan Ruth bersamaan.
Pertemuan itu pun diakhiri dengan kata sepakat dari kedua belah pihak. Sepeninggal keempat orang itu, Mr. Robert masih duduk terdiam di kursinya. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Sesuatu yang ia sendiri sulit untuk memahaminya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ
apa jangan-jangan Dani yaa yang melakukannya 🤔 tapi wajah yang terlihat di kamera wajahnya Betty 🤔
2024-02-10
1
lyani
ada apa dgn Ella? bagaimana bs? apakah Ella bs berubah sesaat?
2024-01-10
0
໓աiɛ🌸
pasti orang lain ini pelakunya bukan Betty
2024-01-08
0