7 Tahun berlalu. Daniella Conley saat ini telah berusia 12 tahun. Hari ini Dani berdiri di depan gerbang sekolahnya sambil bersandar di dinding pagar sekolah. Tangan kanannya mengepal, pergelangan dipegang erat tangan kiri, punggung tangan kanan diatas telapak tangan kiri, disimpan tepat di bawah ikat pinggang belakang.
Sesekali genggamannya terlepas untuk memandang jam yang melingkar di tangan kanan. Arloji digital itu telah menunjukkan pukul 4 sore, yang berarti ia telah menunggu kedatangan ayahnya selama 45 menit lebih. Dengan hati resah, Daniella memain-mainkan sepatunya ke pavling block trotoar.
Ini bukan pertama kalinya Sean Conley sang ayah, terlambat menjemput. Sejak ia masuk sekolah dasar, ayahnya pernah berjanji akan menyediakan waktu untuk mengantar dan menjemputnya sekolah. Janji itu memang ditepati. Namun, setahun belakangan, semua mulai berubah. Seingat Dani, sejak Conley berhubungan intens dengan seorang peneliti wanita yang bernama Anna Howard, ia kerap menunggu dan ayahnya selalu datang terlambat. Hal itu entah mengapa membuat Dani tidak suka.
"Sayang.... " Sean Conley menundukkan tubuhnya, dengan nafas yang terdengar memburu. "Maafkan Ayah, sayang. Ayah terlambat lagi menjemputmu."
Lamunan Dani buyar. Wajahnya yang tertunduk refleks terangkat. Matanya membulat dengan sejumput senyum menghiasi wajah cantiknya.
"Tidak apa-apa, Yah."
"Apakan kau telah lama menunggu?"
"Tidak, Yah."
"Benarkah begitu? "
"Benar Ayah. Aku baru saja keluar kelas. Tadi Mrs. Williams memberikan tugas tambahan." Dusta Daniella.
"Oh. Begitu. Sebelum pulang, ayo kita mampir dahulu ke kedai es krim. Apa kau mau?"
"Mau Ayah."
"Ayo..."
Conley mengulurkan tangannya, meminta Dani memberikan tangannya. Tanpa ragu Daniella merentangkan tangan, meraih jemari Conley ke dalam genggamannya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kedai es krim yang terletak di ujung block. Sepanjang jalan, senyum Dani tidak henti mengembang. Genggaman tangan Conley terasa menghangat hingga ke hati Dani. Kegundahan hati yang disebabkan menunggu kedatangan ayahnya seakan sirna dalam sekejap.
Tidak perlu waktu lama, hanya 15 menit berjalan kaki, mereka telah sampai di kedai es krim. Memilih kursi yang ada di pojok ruangan, Daniella dan Conley, duduk saling berhadapan. Setelah memesan es krim coklat stroberi favorit Dani, semangkuk es krim menggoda dengan toping meses warna warni kini telah ada di hadapan Dani. Sedikit ragu, gadis kecil itu menyendok pelan es krim ke dalam mulutnya sambil menatap sendu sang ayah yang sedang sibuk mengutak-atik ponsel di tangannya.
"Ayah.. " Dani memecah kesunyian di antara mereka.
"Iya sayang. Sebentar sayang." Ucap Conley tanpa sedikit pun matanya beralih dari ponselnya. Entah sudah berapa kali, Daniella memanggil-manggil ayahnya meminta sedikit perhatian dari pria itu. Namun lelaki itu tidak sedikit pun menunjukkan akan mengakhiri aktifitasnya.
Daniella Conley, gadis kecil berusia 12 tahun itu, dipaksa belajar dan memahami keadaan. Ia harus menerima dengan lapang da da bahwa ia tidak memiliki dan mengingat satu pun memori tentang ibunya. Ia juga harus menerima keadaan ayahnya lebih menomor duakan dirinya dari apapun. Walaupun sebenarnya keadaan saat ini sedikit lebih baik, karena Conley sang ayah bersedia menyisihkan sedikit waktu untuk bersamanya, namun hanya raga yang sering Dani dapatkan. Sedangkan hati dan pikiran pria itu entah berada di mana.
"Dani, ayo habiskan es krim mu. Ayah ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan." Ucap Conley tak lama kemudian.
"Iya Ayah."
Sambil menghabiskan sisa es krim ke dalam mulut, wajah Daniella tertunduk. Ia menahan kristal bening yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata agar tidak jatuh.
Mereka pun segera meninggalkan tempat itu begitu sendokkan es krim terakhir mendarat ke dalam mulut Daniella. 15 menit kemudian, mereka tiba di rumah. Dengan taksi yang masih menunggu, Conley mengantarkan Daniella hingga depan pintu masuk.
"Masuklah. Emma telah menyediakan makan malam. Kau makanlah terlebih dahulu. Tidak usah menungguku." Conley mengecup pipi mungil Dani, kemudian mengacak pelan pucuk kepala anak gadisnya itu. "Ayah pergi dulu." Tanpa menunggu persetujuan dari Daniella, Conley melangkah cepat menyusuri halaman berumput rumahnya menuju taksi yang menunggu di tepi jalan dengan pintu penumpang yang sedari tadi dibiarkan terbuka. Tak berapa lama kemudian terdengar suara mesin mobil menjauh menyisakan kesunyian. Sesunyi hati gadis kecil yang masih merindukan kasih sayang ayahnya. Dani memandang sisi jalan yang telah kosong. Sisa pembakaran taksi tadi masih tercium menusuk hingga ke dalam hati. Sakit. Sedih. Sepi. Sunyi menjadi satu. Tak terasa cairan bening meluncur pelan di sudut matanya.
"Nona.. " Sebuah tangan lembut menyentuh pundak Dani. Dengan punggung tangannya, Dani cepat menghapus kristal bening yang telah tiba dipipinya. "Ayo kita masuk. Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kau mandi." Ajak Emma.
Tanpa mengucap sepatah katapun, Dani mengikuti Emma yang membimbingnya masuk ke dalam rumah.
.
.
Pukul 11 malam, suara tawa cekikikan tertahan dari seorang lelaki dan wanita, begitu anak kunci berhasil membuka pintu. Langkah-langkah kaki terseok dan tertatih melewati ruang tamu, terus menuju lantai dua. Satu demi satu anak tangga dengan susah payah mereka tapaki.
" Sttt.. Tutup mulut mu dan pelankan langkah kaki mu. Aku tidak mau Dani bangun." Bisik Conley.
Wanita dalam rangkulannya mengangguk mengerti sambil memberi tanda mengunci mulutnya dengan telunjuk dan ibu jarinya. Ketika telah berada di lantai dua, mau tidak mau mereka harus melangkah dengan berjinjit. Karena kamar Conley berada di pojok dan harus melewati kamar Daniella terlebih dahulu.
Cek lek...
Pintu kamar dibuka pelan. Dua sejoli yang sedang dibawah pengaruh alkohol itu masuk ke dalam kamar yang temaram. Tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu, wanita yang bersama Conley, mendesak pria itu ke dinding, dan menyerang bi bir Conley dengan rakus.
"Ow ow... sabar sayang. Apa tidak sebaiknya kita membersihkan diri dahulu?"
"Tidak usah sayang. Nanti saja." Jawab wanita itu dengan tidak sabar. Tangannya bergerak cepat. Menarik semua pakaian yang melekat di tubuh Conley, dan melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian mendorong tubuh Conley ke tempat tidur yang berada tak jauh dari sana. Begitu tubuh Conley terhempas ke atas ranjang, wanita itu segera mengungkungnya. Dengan gerakan sensual, ia kemudian melepaskan satu persatu pakaian yang membungkus tubuhnya.
"Oh sayang, kau begitu indah." Dengan pantulan sinar rembulan, tatapan liar Conley menyapu tubuh molek yang ada di atasnya. Tangan bergerilya di setiap tonjolan yang ada di hadapannya. Perut mulus dan rata hingga buah pepaya yang menggantung sempurna di tempatnya. Kates mungil itu teras pas di genggaman, begitu Conley me re masnya. De sa han ke nik ma tan tertahan mengalun dari bibir wanita itu.
"Lakukanlah sayang. Tunggu apa lagi." Bisik Conley dengan tidak sabar.
"Sebentar sayang." Wanita itu mendekatkan wajahnya ke arah Conley. "Aku minta dibayar di muka." Ujarnya kemudian.
"Apa yang kau inginkan, sayang? "
" Ki ss me first. "
Tanpa ragu Conley meraup wajah wanita itu. Melahap bibirnya dengan rakus. Lumba-lumba ikut menjelajah, mengabsen tiap jengkal rongga mulut. Saling me lu mat dengan lahap.
"Oh Anna, aku mencintaimu.. " Erangan Conley begitu wanita itu meliuk-liuk di atas tubuhnya. Ke nik ma tan tiada tara dirasakan Conley, begitu ularnya berhasil memuntahkan semua isinya. Dua orang dewasa berlainan jenis itu mereguk surga dunia dengan peluh membasahi tubuh.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati aktivitas yang mereka lakukan di sela pintu yang terbuka. Tetesan kristal bening bergulir di pipi menggambarkan gejolak dalam dada menyaksikan kejadian itu. Tanpa disadari jari jemari kecil itu mencengkram kayu penyangga pintu dengan keras, hingga meninggalkan bekas di sana. Hatinya bergemuruh menerima kenyataan ayahnya lebih mencintai orang lain dibandingkan dirinya. Apakah ia harus melakukan hal yang sama agar Conley sang ayah bersedia melihat ke arahnya?
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
adi_nata
kalau Daniella masuk sekolah dasar di usia 5 tahun, seharusnya di usia 12 tahun dia sudah duduk di bangku Junior High School. 🤔
2024-11-24
0
adi_nata
weh .. ya jangan ya, Nduk /Facepalm/
2024-11-24
0
🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ
waduuhh waduuhh bahaya ini, jangan sampai Daniella berbuat yang tidak-tidak untuk bisa mendapatkan perhatian ayahnya 😩
2024-02-08
12