Sepeninggal Emma, Daniella segera menyelesaikan sarapannya. Ia meletakkan perlengkapan bekas makannya ke dalam kitchen sink di meja dapur. Pandangan matanya kemudian tertuju pada pintu berwarna coklat di sudut dapur. Ingatan Dani kembali pada malam itu, saat bersama ayahnya di laboratorium. Kata-kata Conley kembali terngiang-ngiang di benaknya.
"Ayah bermimpi suatu saat nanti, Ayah, kamu dan orang-orang yang ada di dunia ini tidak pernah menjadi tua seperti kakek Adolf itu."
Dalam pemikiran sederhana Dani, kenapa ayahnya tidak menguji cairan itu pada manusia? Alangkah beruntung tikus yang mendapat suntikan itu bisa awet muda selamanya.
Dani menuju pintu akses itu. Dengan langkah pasti ia memasuki lorong dibaliknya.
klotak.. klotak... klotak...
Bunyi sepatu pantofel putih beradu dengan lantai semen ekspose yang dikenakannya menggema di lorong sepi. Langkah itu semakin lama semakin cepat dan berhenti di depan pintu singel swing berwarna kelabu. Pintu hermetic berbahan metal stainless steel didorong Dani sekuat tenaga, terbuka sedikit seukuran tubuhnya. Dani menyelinap dengan cepat di celah pintu yang terbuka. Dani beruntung, sepertinya Conley lupa mengunci pintu, sehingga dengan leluasa ia bisa masuk ke dalamnya.
Di dalam laboratorium, Dani mencari kotak berwarna putih, tempat Conley meletakkan sisa cairan obat yang ia suntikkan pada tikus putih malam itu. Pandangan matanya memindai di setiap sudut laboratorium.
"Itu dia .. !! " Hati Dani bersorak.
Dengan langkah cepat dia menuju meja yang ada yg di sudut ruangan. Sebuah cool box elektrik tersimpan di sana. Dani menggapai-gapai benda itu. Tetapi tubuhnya terlalu rendah untuk meraihnya. Tak kehilangan akal Dani menarik kursi tanpa sandaran yang berada tak jauh dari tempat ia berada.
Kruuk.. Kruuuk..
Kursi diletakkan dekat dengan targetnya. Dengan sigap Dani naik ke atas kursi. Kemudian mendorong tubuhnya naik ke atas meja. Dengan mudah ia kemudian meraih Cool box dan membuka penutupnya. Asap putih mengepul begitu penutup box terbuka. Cairan bening tersimpan di dalam botol-botol vial kaca dengan penutup berwarna biru dan pink, tampak tersusun rapi begitu asap itu memudar. Dani mengambil salah satu botol vial dengan penutup warna biru yang bertuliskan GenX.
Daniella menatap nanar tabung kaca yang ada dalam genggamannya. Kemudian ia membuka penutupnya. "Plup" begitu tutup terbuka, serta merta aroma aneh keluar dari dalam botol.
"Ayah. Aku lakukan ini untukmu." Ujarnya. Dengan tangan sedikit gemetar, Daniella langsung memasukkan cairan itu ke dalam mulutnya sekali teguk. Rasa hangat menjalar dari kerongkongan hingga seluruh tubuh, begitu cairan yang terasa sedikit pahit itu meluncur ke saluran cerna.
Pandangan matanya mulai memudar, rasa sakit perlahan menjalar ke sekujur tubuh. Semakin lama semakin menguat.
Bruk...
Daniella yang saat itu duduk di tepi meja, oleng, dan jatuh ke lantai. Sebelum jatuh, kepala belakangnya sempat membentur kursi laboratorium. Gadis kecil itu tidak sadarkan diri dengan darah segar merembes dari kepalanya.
Sementara itu, Emma yang baru saja pulang berbelanja dari supermarket, kebingungan karena tidak mendapatkan Daniella di dalam rumah.
"Nona... Nona.. !!!" Emma mencari ke sekeliling rumah. Di setiap ruangan yang biasa gadis kecil itu tempuh. Karena tidak berhasil menemukan Daniella, dengan terpaksa akhirnya Emma menghubungi Conley.
Sean Conley yang saat itu sedang mengikuti seminar biologi di University of Minnesota, memutuskan kembali ke rumah, begitu mendapat kabar dari Emma.
30 menit kemudian sesampainya di rumah, Conley ikut mencari Dani bahkan sampai ke dalam lemari kamarnya.
"Bagaimana, Tuan? Apakah kita hubungi polisi saja?"
"Sebentar. Ada satu tempat yang belum kita periksa."
" Di mana, Tuan."
"Laboratoriumku."
"Iya benar, Tuan. Kalau begitu ayo kita segera ke sana."
Conley dan Emma segera menuju laboratorium biologi milik Conley. Setengah berlari mereka menyusuri lorong bawah tanah itu. Dengan terburu-buru Conley mendorong pintu lab begitu telah berada di depannya.
"Dani... !! Dani.. !! " Teriakan Conley menggema di ruangan kedap suara itu.
Mata Conley cepat memindai keseluruhan ruangan begitu ia tiba terlebih dahulu di lab. Tak lama kemudian, Emma menyusul di belakangnya.
"Tuan, itu Nona!!! " Emma berteriak histeris dengan tubuh terpaku di tempat ia berdiri, begitu matanya menemukan sosok Dani di bawah meja.
Conley mengikuti arah yang ditunjukkan Emma.
"Daniii !!!!" Dengan langkah lebar Conley menuju tempat Dani tergeletak tak bergerak.
"Astaga. Apa yang terjadi padamu, sayang...." Conley memindai sekujur tubuh Dani dan matanya menemukan genangan darah di bagian kepala Dani.
"Tuan periksa nadinya... " Ucap Emma yang telah berada di belakang Conley sambil me re mas-re mas kedua telapak tangannya di da da.
Menuruti perkataan pengurus rumah tangganya, Conley memeriksa tanda vital di tubuh Dani.
"Masih hidup. Tapi nadinya lemah. Cepat telepon ambulans."
"Baik, Tuan." Emma mengeluarkan ponsel dari saku dress yang dikenakannya. Sambil menghubungi paramedis, ia segera keluar dari sana.
Sepeninggal Emma, mata Conley menangkap sesuatu dalam genggaman Dani. Cepat dibukanya kepalan jemari tangan Dani, untuk mengetahui benda apakah itu. Betapa terkejutnya Conley, botol vial GenX dalam genggaman Dani telah kosong. Botol vial yang digunakan Conley berukuran dram 50 \= 6,25 ons cairan atau 184,83 ml. Hal itu menjelaskan bahwa gadis kecil itu telah menenggak ramuan yang masih dalam pengembangan itu sebanyak 184,83 ml. Dosis yang cukup besar untuk anak seusia Dani.
"Berapa banyak yang telah Dani minum?" Conley memeriksa cooler box miliknya yang telah terbuka.
"Syukurlah ia cuma menghabiskan satu botol vial. Tapi ramuan itu belum pernah diuji coba pada manusia, apalagi dengan dosis sebanyak itu." Gumam Conley. Hatinya diliputi rasa was-was sekaligus penasaran, efek apa yang akan terjadi? Ia juga diliputi tanda tanya apa yang menyebabkan putrinya itu melakukan hal yang berbahaya itu.
"Bertahanlah, Nak. Sebentar lagi pertolongan segera datang." Conley duduk di samping tubuh Dani sambil menggenggam erat tangan putrinya itu.
Tak lama kemudian, Emma datang dengan 2 orang paramedis yang tiba dengan membawa sebuah brankar. Mereka bergerak cepat, begitu melihat sesosok anak kecil terkapar tak sadarkan diri dengan luka parah di kepala. Paramedis itu kemudian memeriksa tanda-tanda vital tubuh yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, suhu, dan laju pernapasan Dani.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Tuan?" Tanya seorang paramedis pada Conley.
"Aku tidak tau. Aku dan pelayanku menemukan putriku sudah dalam kondisi seperti ini."
Tanpa banyak bertanya lagi petugas medis itu dengan sigap menaikkan tubuh Daniella ke atas brankar, dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Daniella langsung ditangani di Instalasi Gawat Darurat. Luka di kepala belakangnya telah dibersihkan dan diperban. Beruntung pendarahannya bisa di hentikan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Daniella mengalami geger otak berat, hal itu ditandai dengan keadaan Dani yang tidak sadarkan diri. Sedangkan cairan GenX yang terlanjur masuk ke tubuh Dani, Conley tidak melaporkannya pada dokter yang merawat, dengan berbagai pertimbangan. Salah satu faktor kerahasiaan penemuannya itu.
Salah seorang tim medis rupanya melaporkan kejadian yang menimpa Dani pada pihak kepolisian. Conley yang sedang menunggu Daniella di kursi depan IGD bersama dengan Emma, didatangi oleh dua orang petugas polisi.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
adi_nata
apakah penemuan itu lebih penting dari keselamatan anak ? haih
2024-11-26
0
ramanda
seharusnya tetap dilaporkan agar bisa dikuras isi lambungnya.
2024-11-09
1
ramanda
anak ini benar benar korban salah asuhan.
2024-11-09
0